
"Innalillahi waina ilaihi raji'un" ujar semua orang yang kini berada di dalam ruang IGD tempat Bu Retno meninggal dunia.
Suara isak tangis terdengar dalam ruangan tersebut, bahkan Bu Mirna sampai pingsan karena tidak kuasa menahan kesedihannya menghadapi kematian Adik tercinta.
"Bapak yang sabar ya, semoga amal ibadah Ibu diterima oleh Allah SWT," ucap Melati.
"Iya Amin Nak, terimakasih banyak ya," ucap Pak Bejo.
"Saya turut berduka cita Pak," ujar Gilang dengan memeluk Pak Bejo.
"Terimakasih atas semua kebaikan Nak Melati dan Nak Gilang ya, Bapak juga mau minta tolong buat jagain Mirna yang saat ini masih pingsan, karena Bapak akan mengurus administrasi kepulangan jenazah Ibu," ucap Pak Bejo.
"Iya Pak, kami pasti akan selalu menjaga Bu Mirna, kalau Bapak tidak keberatan biar saya saja yang mengurus administrasinya," ujar Gilang.
"Terimakasih Nak Gilang, Bapak sudah cukup merepotkan kalian, sebaiknya Nak Gilang di sini saja, kasihan juga Nak Melati pasti saat ini dia membutuhkan keberadaan Nak Gilang di sampingnya," ujar Pak Bejo yang kemudian berlalu untuk mengurus administrasi kepulangan jenazah Bu Retno.
"Meskipun Melati baru mengenal Bu Retno dan Pak Bejo belum lama ini, tapi Melati sudah merasa dekat dengan mereka Kak," ujar Melati dengan meneteskan airmata.
"Melati yang sabar ya, mungkin ini yang terbaik untuk Bu Retno, kasihan juga jika beliau terus merasa tersiksa dengan penyakit yang dideritanya," ujar Gilang dengan memeluk erat tubuh Melati.
"Iya Kak, Kasihan juga Bu Mirna, pasti beliau merasa bersalah karena baru mengetahui semuanya ketika Bu Retno hendak menghembuskan nafas terakhirnya, mudah-mudahan saja Bu Mirna diberikan ketabahan juga ya," ujar Melati.
"Iya sayang, kita jangan pernah berhenti mendo'akan semua orang yang telah terlebih dahulu meninggalkan kita ya, dan kita juga sebisa mungkin harus selalu mensupport Bu Mirna dan Pak Bejo, serta selalu menyayangi mereka," ujar Gilang dengan mengelus lembut kepala kekasihnya.
Entah kenapa saat ini hati Kak Gilang merasa takut jika sampai kehilangan kamu sayang, semoga saja Melati tidak akan berubah pikiran jika sudah mengingat kejadian buruk yang menimpanya, batin Gilang.
__ADS_1
......................
Melati dan Gilang kini mendampingi Bu Mirna menuju kediaman Pak Bejo dan Almarhumah Bu Retno, karena Pak Bejo sudah terlebih dahulu ikut pulang bersama mobil Ambulance yang membawa Jenazah Bu Retno.
Semoga saja aku sanggup melangkahkan kaki menuju rumah yang menyimpan banyak kenangan untukku bersama mas Bejo, aku harus berusaha mengikhlaskan semuanya supaya Retno nanti tenang di alam sana, batin Bu Mirna.
Setengah jam kemudian mereka bertiga pun sampai di halaman rumah kediaman Pak Bejo, di sana sudah terlihat banyak pelayat yang berdatangan.
Bu Mirna nampak ragu untuk turun dari mobil, sehingga Melati dan Gilang membopong tubuh Bu Mirna serta menggenggam erat tangannya untuk memberikan kekuatan.
"Melati yakin Ibu pasti kuat, karena selama ini Ibu yang selalu mengajarkan Melati untuk ikhlas menerima takdir hidup meskipun sepahit apa pun itu," ujar Melati.
"Terimakasih ya sayang karena sudah mengingatkan Ibu, terimakasih juga karena kalian berdua selalu ada untuk memberikan kekuatan kepada Ibu," ucap bu Mirna dengan meneteskan airmata.
"Sudah seharusnya kami berdua melakukan semua itu Bu, karena Gilang dan Melati tidak akan mungkin bisa bertahan hidup di dunia ini tanpa bantuan dari Ibu," ujar Gilang.
"Mirna, Alhamdulillah akhirnya kamu sudah sadar, maaf tadi aku tidak menunggu kamu sampai siuman karena harus mengurus administrasi kepulangan Jenazah Retno," ujar Pak Bejo.
"Iya gak apa-apa mas, maaf aku juga tidak bisa membantu mengurus semuanya, dan baru bisa datang ke sini sekarang," jawab Bu Mirna.
"Iya gak apa-apa Mir, mas justru tidak menyangka jika kamu masih bersedia untuk menginjakan kaki ke rumah kita yang menyimpan banyak kenangan dan menorehkan luka untuk hatimu, terimakasih banyak ya," ujar Pak Bejo yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Bu Mirna.
"Aku hanya mencoba untuk memenuhi keinginan terakhir mendiang Adikku mas," ujar Bu Mirna yang masih tidak hentinya meneteskan airmata, sehingga reflek Pak Bejo mengelap pipi Bu Mirna yang terlihat basah.
Bu Mirna dan Pak Bejo saling memandang dengan tatapan penuh kerinduan, mereka berdua terbayang masalalu indah ketika masih bersama, sehingga secara tidak sadar mereka saling berpelukan dengan erat.
__ADS_1
Melati dan Gilang yang melihat Bu Mirna dan Pak Bejo berpelukan pun kini secara perlahan meninggalkan mereka berdua dan kembali ke ruang tamu tempat keberadaan Jenazah Bu Retno.
"Pasti sangat sakit ya Kak menahan rindu selama berpuluh-puluh tahun," bisik Melati.
"Iya sayang, jangankan sampai berpuluh-puluh tahun lamanya, baru beberapa bulan aja Kak Gilang pisah sama Melati rasanya Kak Gilang hampir gila mencari Melati kemana-mana," ujar Gilang tertunduk sedih.
"Maaf ya Kak, karena Melati sudah membuat Kak Gilang sedih, semoga saja kita tidak akan pernah berpisah lagi, dan hanya maut yang dapat memisahkan kita berdua," ujar Melati.
"Iya sayang, Kak Gilang jadi gak sabar ingin segera menikahi Melati," ujar Gilang dengan cengengesan, sehingga Melati memutar bola matanya secara malas.
Beberapa saat kemudian Bu Mirna terlihat menghampiri Melati den Gilang dengan memperlihatkan senyum yang merekah di bibirnya.
"Sepertinya ada yang sedang bahagia nih Mel, gimana Bu udah puas peluk-pelukannya? kelepasan apa keenakan?" sindir Gilang sehingga membuat Bu Mirna tersipu malu.
"Kak Gilang gak sopan banget sih sama Ibu kok ngomong gitu, tapi Melati juga penasaran Ibu sama Bapak habis ngapain, soalnya Ibu sama Bapak lama banget ya di ruang keluarganya," goda Melati sehingga wajah Bu Mirna semakin merah.
"tuh kan Melati godain Ibu lebih parah dari Kak Gilang," ujar Gilang.
"Tapi itu yang Retno mau, karena Retno ingin secepatnya Bapak dan Ibu bersatu, terimakasih banyak ya Retno, mas pasti akan menjaga Mbak kesayangan kamu ini," ujar Pak Bejo yang kini tiba-tiba berada di belakang mereka bertiga.
"Sebaiknya sekarang kita segera mengantarkan Retno ke tempat peristirahatan terakhirnya, Ibu sama Bapak ikut mobil Ambulance saja ya menemani Retno," ujar Bu Mirna.
"Iya Bu, Melati juga ngerti kok pasti Ibu mau deket-deket sama Bapak juga kan?" goda Melati.
"Udah Mel kasihan Ibu jangan digodain terus, nanti Bapak repot kalau Ibu kamu marah lagi," ucap Pak Bejo.
__ADS_1
Akhirnya mereka semua mengantarkan Jenazah Bu Retno menuju pemakaman, isak tangis masih terdengar mewarnai pemakaman tersebut. Setelah Bu Retno selesai dimakamkan, mereka berempat pun langsung membaca surah Yasin di makam sebelum akhirnya kembali ke rumah Pak Bejo.
Terimakasih banyak Retno, karena selama 20 tahun kamu telah menemani hari-hariku dan memberikan cinta yang tulus, maaf jika selama itu mas hanya menganggap kamu sebagai Adik, batin Pak Bejo.