Antara Cinta Dan Luka

Antara Cinta Dan Luka
Bab 47 ( Pernikahan Melati dan Gilang )


__ADS_3

Melati kini sudah masuk ke dalam kamarnya, dia merasa terkejut karena kamarnya telah disulap menjadi kamar pengantin yang begitu indah.


"Bagus ya kamarnya, Kak Gilang jadi gak sabar pengen cepat-cepat besok," celetuk Gilang dengan cengengesan.


"Eh ngapain Gilang ikut masuk ke kamar Melati segala, ayo cepetan keluar," usir Bu Shintya.


"Iya..iya..Gilang keluar sekarang," ucap Gilang dengan cemberut.


"Ibu tidur di sini ya temenin Melati," ajak Melati.


"Iya sayang, mungkin malam ini adalah malam pertama dan terakhir Ibu tidur dengan Melati, karena besok Melati sudah menjadi Istri Gilang," ucap Bu Shintya dengan mengelus lembut kepala Melati.


"Meskipun kita baru mengetahui kenyataannya sekarang, tapi Melati sangat bahagia Bu," ucap Melati dengan memeluk tubuh Ibunya.


"Apalagi Ibu Nak, kita dipisahkan ketika Ibu baru satu kali menggendong Melati," ucap Bu Shintya dengan menangis.


"Yang penting sekarang Allah SWT sudah mempertemukan kita Bu, dan orang-orang yang sudah memisahkan kita juga sudah mendapatkan balasannya," ucap Melati.


"Iya sayang, tadi juga Ibu dapat telpon dari Kantor Polisi, mereka mengabarkan jika Ratna dimasukan ke Rumah Sakit Jiwa karena terus saja berteriak dan membenturkan kepalanya ke tembok," cerita Bu Shintya.


"Astagfirulloh, Melati sebenarnya kasihan kepada Bu Ratna, tapi apa yang kita tanam itu juga yang akan kita tuai, dan mungkin itu adalah balasan atas perbuatannya selama ini," ujar Melati.


"Iya sayang, makanya sebisa mungkin kita tidak boleh menyakiti hati oranglain, apalagi berbuat jahat," nasehat Bu Shintya.


"Iya Bu, semoga saja ya kita di jauhkan dari sifat iri hati dan dengki, supaya kita tidak mempunyai ambisi untuk menyakiti oranglain," jawab Melati.


"Amin, Ya sudah sebaiknya sekarang kita tidur, sebentar lagi subuh lho, calon pengantin juga harus tidur supaya besok wajahnya terlihat fresh," ucap Bu Shintya dengan memeluk tubuh Melati, sehingga mereka berdua terlelap menuju alam mimpi.


Lain halnya dengan Gilang yang saat ini sama sekali belum bisa memejamkan matanya karena terus saja membayangkan wajah Melati.


"Rasanya manis sekali," gumam Gilang yang membayangkan ketika dirinya menci*um bibir Melati sehingga Gilang senyum-senyum sendiri.


"Kenapa sih waktu sepertinya berjalan dengan lambat, padahal kan aku ingin segera besok," gumam Gilang, sampai akhirnya Gilang tertidur dan beberapa jam kemudian dibangunkan oleh Bu Mirna karena kesiangan.


"Astagfirulloh, Gilang ayo cepetan bangun Nak, kamu mau tidur sampai jam berapa? Pak Penghulu sudah daritadi nungguin kamu," teriak Bu Mirna.

__ADS_1


"Melati," teriak Gilang yang langsung terbangun dan duduk.


"Ayo cepat mandi, sebelum Melati di nikahin sama oranglain," ucap Bu Mirna, sehingga Gilang lari pontang panting menuju kamar mandi.


"Ada-ada aja anak itu, sepertinya Gilang semalaman tidak tidur karena menunggu hari ini, eh pas hari yang ditunggu-tunggu datang, dia malah asik tidur," ujar Bu Mirna dengan geleng-geleng kepala melihat kelakuan Gilang.


Gilang pun akhirnya menyelesaikan mandinya secara kilat, dan dia bergegas memakai pakaian yang sudah disiapkan untuk acara ijab kabul.


Kini Gilang melangkahkan kaki nya menuju tempat acara ijab kabul, dan dia berkali-kali menghembuskan nafas untuk mengurangi grogi yang tengah ia rasakan.


Setelah Gilang duduk di depan penghulu, Melati pun datang dengan di apit oleh Bu Shintya dan Bu Mirna.


"Subhanallah kamu cantik sekali sayang," gumam Gilang dengan tiada berhenti menatap Melati sampai tidak berkedip.


"Nak Gilang, apakah Anda sudah siap?" tanya Pak penghulu, tapi Gilang terus saja menatap wajah Melati dan tidak mendengar perkataan penghulu.


"Kak itu ditanya sama Pak Penghulu," ujar Melati.


Sehingga Gilang spontan mengucapkan ijab kabul.


"Saya terima nikahnya Melati.." perkataan Gilang terhenti karena dia mendengar semua orang di sana tertawa.


Gilang pun tersenyum malu karena dia sudah terburu-buru mengucapkan ijab kabul sebelum menjabat tangan Pak Penghulu.


"Maaf Nak Gilang sebaiknya Nak Gilang menjabat tangan saya dulu sebelum melakukan ijab kabul," ujar Pak Penghulu, sampai akhirnya Gilang menjabat tangan Pak Penghulu.


"Bismillahirrahmanirrahim, Ananda Gilang Dirgantara saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Adinda Melati Bin Almarhum Bapak Bagas, dengan seperangkat alat Solat dan uang tunai sebanyak 1 Milyar rupiah dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Melati Bin Almarhum Bapak Bagas dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Gilang dengan lantang.


"Bagaimana para saksi Sah?"


"Sah..sah..sah.."


"Alhamdulillah, akhirnya Melati sekarang menjadi istrinya Kak Gilang," ucap Gilang dengan mencium kening Melati.

__ADS_1


"Aduh, udah main sosor aja Nak," goda Pak Bejo sehingga membuat Melati dan Gilang malu.


"Bapak, jangan di godain terus pengantin baru nya, nanti mereka jadi pengen cepet-cepet masuk kamar," ledek Bu Mirna, sehingga terdengar gelak tawa di acara Pernikahan Gilang dan Melati.


Gilang dan Melati hanya mengadakan acara ijab kabul saja karena acaranya dilaksanakan secara mendadak, sehingga tidak banyak yang hadir di acara tersebut, dan rencananya mereka baru akan mengadakan resepsi bulan depan.


Della dan Sinta, kini menghampiri Melati dan Gilang yang berada di atas pelaminan untuk mengucapkan selamat.


"Selamat ya Kak, semoga pernikahannya langgeng serta menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah," ujar Sinta dan Bella.


"Makasih ya kalian berdua sudah berkenan hadir ke acara pernikahan Kakak," ucap Melati.


"Iya Kak sama-sama, sudah seharusnya sebagai Adik kami datang ke pesta pernikahan Kakaknya. Tapi maaf banget ya Kak, karena Kak Yuda belum dapat menerima kenyataan jika Kak Gilang dan Kak Melati menikah sehingga Kak Yuda tidak mau hadir ke sini," ujar Sinta dan Della.


"Iya Kakak juga ngerti kok, mungkin Kak Yuda butuh waktu untuk menerima semuanya," ucap Melati.


"Bagus deh Yuda gak datang, daripada Yuda datang ke sini nanti malah berantem sama Suami kamu yang tampan ini," ujar Gilang dengan cengengesan sehingga Melati memutar bola matanya secara malas.


Acara pun kini telah selesai, Melati dan Gilang kini sudah turun dari pelaminan menuju kamar pengantin mereka.


"Kak Gilang ngapain ikut masuk," ujar Melati yang lupa jika Gilang sudah menjadi Suaminya.


"Kamu lupa ya sayang kalau sekarang kamu itu udah jadi Istri aku?" tanya Gilang.


"Maaf Kak, Melati lupa," ujar Melati dengan cengengesan.


"Sini Kak Gilang bantu bukain," ujar Gilang dengan membantu membuka baju Melati.


"Kak, Melati malu," ucap Melati.


"Kenapa harus malu, sekarang Melati kan sudah sah menjadi Istri Kak Gilang. Melati tau jika Istri adalah baju bagi Suaminya, dan Suami adalah baju bagi Istrinya," ujar Gilang.


"Maksud Kakak apa? Melati gak ngerti." tanya Melati.


"Seorang Suami berhak melihat aurat istrinya, begitupun sebaliknya. Dan Istri harus menutupi aib Suaminya begitu juga dengan Suami yang harus menutupi aib Istrinya karena sejatinya tidak ada rumah tangga yang sempurna dan selamanya harmonis, dan kita berdua harus saling melengkapi kekurangan yang kita miliki dalam membina rumah tangga," ucap Gilang sehingga membuat Melati tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Terimakasih ya Kak, karena Kak Gilang sudah menerima Melati apa adanya, Melati sangat bahagia karena bisa menikah dengan Pangeran impian Melati," ucap Melati dengan memeluk tubuh Gilang.


"Sebaiknya kita berdua lupakan masalalu yang menyakitkan ya sayang, mulai sekarang kita buka lembaran baru," ujar Gilang dengan mengecup kening Melati.


__ADS_2