Antara Cinta Dan Luka

Antara Cinta Dan Luka
Bab 48 ( Malam tak terlupakan )


__ADS_3

Melati dan Gilang masih enggan untuk melepaskan pelukannya, tapi Melati tiba-tiba teringat dengan kejadian ketika Yuda menodainya sehingga Melati kini menangis dalam pelukan Suaminya.


"Sayang, kenapa kamu menangis?" tanya Gilang.


"Aku kotor Kak, aku gak pantas untuk Kak Gilang, seharusnya Kak Gilang mendapatkan perempuan yang masih suci, supaya Kak Gilang dapat mengenang malam pertama Kakak," ujar Melati.


"Kenapa kamu masih saja memikirkan semua itu? suci atau tidak itu tidak penting untuk Kak Gilang, karena niat Kakak menikahi Melati adalah ibadah," ucap Gilang dengan mengelus kepala lembut Melati.


"Sebaiknya Kak Gilang buktikan sendiri saat ini juga perkataan Yuda benar atau tidaknya," ucap Gilang yang kemudian membuka jilbab yang masih dikenakan oleh Melati.


"Kak Gilang mau apa?" tanya Melati yang terlihat panik, tapi Gilang tidak menjawab pertanyaan Melati dan dia dengan lembut melucuti semua pakaian yang Melati kenakan.


"Kak, Melati belum siap...hmmmpt" belum juga Melati selesai berbicara, Gilang sudah terlebih dahulu membungkamnya dengan ciuman.


Gilang melepas pagutannya ketika mereka berdua kehabisan napas.


"Mel, kamu selalu berkata jika kamu kotor dan jijik, tapi saat ini aku adalah Suami kamu, dan aku tidak rela jika kamu berkata seperti itu lagi. Apapun yang pernah dilakukan oleh Yuda kepada kamu, Sekarang aku akan menghapus jejak Yuda di tubuhmu untuk selamanya," ujar Gilang dengan mengangkat tubuh Melati ke atas ranjang.


Akhirnya Gilang pun memberikan nafkah batin kepada Melati untuk pertama kalinya, dan betapa terkejutnya Gilang dan melati karena ternyata Melati masih perawan.


"Terimakasih atas malam indah ini yang tidak akan pernah Kak Gilang lupakan untuk selamanya." ucap Gilang dengan membawa Melati ke dalam pelukannya untuk menuju alam mimpi.


Beberapa jam kemudian, Adzan subuh terdengar berkumandang, sehingga Gilang dan Melati sama-sama terbangun.


Betapa bahagianya Gilang, karena ketika dia membuka matanya, yang pertama kali Gilang lihat adalah wajah perempuan yang begitu dia cintai.


"Rasanya semua ini seperti mimpi sayang, Alhamdulillah karena sekarang kita sudah sah menjadi Suami-Istri," ujar Gilang dengan mencium kening Melati yang masih tiduran di lengan Gilang.


"Iya Kak, Melati sekarang sudah lega karena ternyata Kak Yuda tidak sampai menodai Melati," ucap Melati yang kini bersembunyi di dada bidang Gilang.


"Ya sudah sekarang kita mandi dulu ya, takutnya waktu Shalat subuh nanti keburu habis," ajak Gilang.


Melati mencoba menggerakan tubuhnya untuk bangun, tapi dia merasakan sakit di bagian bawahnya.


Gilang yang melihat Melati meringis kesakitan pun tidak tinggal diam, kemudian dia membantu Melati untuk ke kamar mandi dengan menggendongnya.


"Makasih ya Kak," ucap melati yang tampak malu dengan perlakuan Gilang.


"Maaf ya karena perbuatan Kak Gilang, Melati jadi kesakitan," ujar Gilang.


"Mungkin semua perempuan juga merasakan hal yang sama jika itu untuk pertama kalinya," ujar Melati dengan tersipu malu.

__ADS_1


Setelah selesai Membersihkan diri, Melati dan Gilang pun melaksanakan Shalat Subuh berjamaah untuk pertama kalinya sebagai sepasang Suami-istri.


Melati kini mencium punggung tangan Suaminya secara hidmat, dan Gilang pun mencium kening Istrinya dengan penuh kasih sayang.


Setelah selesai Shalat, Melati membereskan tempat tidur dan berniat untuk mengganti sprei yang telah terdapat bercak darah nya.


Gilang kini memeluk tubuh Melati dari belakang dan kemudian mengambil sprei itu.


"Kak jangan dipegang, itu ada darahnya," ujar Melati.


"Sprei nya jangan di cuci ya sayang, biar ini menjadi saksi malam pertama kita yang akan selalu kita kenang," ujar Gilang dengan tersenyum, dan Melati hanya menganggukkan kepalanya karena masih merasa malu.


Melati pun kini melipat rapi sprei nya dan kemudian memasukannya ke dalam lemari.


"Apa Melati masih kesakitan?" tanya Gilang.


"Masih Kak, tapi tinggal sedikit," jawab Melati dengan suara yang pelan.


"Kalau begitu Melati tunggu di kamar saja ya, biar Kak Gilang bawa sarapan nya ke sini," ujar Gilang.


"Tapi Melati malu kalau gak keluar kamar Kak," ucap Melati.


Melati pun kini menimpuk Gilang dengan bantal.


"Kak Gilang kenapa sih pake ngomong begitu segala, Melati kan jadi malu," ucap Melati dengan cemberut.


"Udah gak usah cemberut, mau Kak Gilang tambahin lagi," goda Gilang.


"Gak mau," ujar Melati dengan langsung bersembunyi di bawah selimut.


Gilang pun malah iseng dengan ikut-ikutan masuk ke dalam selimut.


"Kak Gilang kenapa malah ikutan masuk?" tanya Melati.


"Kirain ngajak bobo lagi," goda Gilang, sehingga Melati yang kesal pun kini mengeluarkan jurus andalannya dengan menggelitik pinggang Gilang, karena kelemahan Gilang adalah tidak kuat jika dikelitik.


"Ampun sayang ampun, Kak Gilang gak bakalan iseng lagi, berhenti dong, Kak Gilang keluar sekarang deh," ujar Gilang dengan bergegas keluar dari kamar.


Bu Shintya, Bu Mirna dan Pak Bejo pun sudah terlihat berkumpul di ruang makan ketika Gilang keluar dari kamar.


"Pengantin baru kayaknya baru bangun, baru juga mau dipanggil," ujar Bu Mirna yang melihat Gilang menghampiri mereka bertiga.

__ADS_1


"Ibu sama Bapak kan sama pengantin baru juga," jawab Gilang dengan cengengesan.


"Gilang, Melati nya mana?" tanya Bu Shintya.


"Melati lagi sakit Bu, jadi gak bisa ikutan makan di sini, makanya Gilang ambil makanannya buat makan di kamar saja," jawab Gilang.


Bu Shintya yang mendengar Melati sakit pun langsung berdiri dari tempat duduknya dan memutuskan untuk melihat keadaan Melati.


"Ibu mau kemana?" tanya Gilang.


"Ibu mau memeriksa keadaan Melati dulu ya," ujar Bu Shintya yang terlihat cemas.


"Jangan dilihat Bu, nanti Melati malu sama Ibu," cegah Gilang dengan cengengesan.


"Kamu bilang tadi Melati sakit kan?" tanya Bu Shintya.


"Maksud Gilang bukan sakit beneran, tapi sakit yang lain," jawab Gilang ambigu.


"Mungkin Melati sakit akibat ulah Gilang Bu Shintya," jelas Bu Mirna.


"Jadi perkataan Yuda selama ini bohong ya?" tanya Bu Shintya.


"Iya Bu, ternyata selama ini Melati masih suci," jelas Gilang dengan tersenyum malu.


"Alhamdulillah kalau begitu," ucap Semuanya.


"Ya sudah Ibu gak jadi lihat," ucap Bu Shintya dengan tersenyum.


"Kok Gilang bawa piringnya cuma satu?" tanya Bu Mirna.


"Makannya sepiring berdua aja Bu biar romantis," jawab Gilang dengan cengengesan.


"Dasar bucin," celetuk Pak Bejo.


"Ah kayak Bapak enggak aja sama Ibu," sindir Gilang.


"Kalau Bapak bukan bucin Nak, tapi bucin akut, ya kan Bu," ucap Pak Bejo dengan memeluk tubuh Bu Mirna.


"Bapak apa-apaan sih, malu sama yang lain Pak, masih pagi-pagi gini udah peluk-peluk aja," ucap Bu Mirna.


"Ya sudah kalau begitu Gilang ke kamar dulu ya, nanti ganggu Ibu sama Bapak yang mau suap-suapan," sindir Gilang, sehingga mereka semua tertawa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2