
Dinginnya malam. hembusan angin yang menggetarkan tubuh serta salju yang dapat membekukan tubuh. namun hal itu tak di perdulikan oleh seorang wanita yang terus berlari menembus dinginnya malam dengan seorang bayi cantik di dalam gendongannya.
wajah cantiknya tampak lelah karena terus berlari tanpa menggunakan alas kaki.
menerjal jalan jalan yang sudah di penuhi butiran putih yang dingin dan berair.
walaupun lelah ia tetap berlari berharap malam ini ia bisa menyelamatkan putrinya dari maut yang sebentar lagi menjemput mereka.
bruk...
tubuhnya jatuh di atas salju akibat jalan yang licin. dengan kaki yang bergetar ia terus berusaha bangkit untuk segera kembali berlari dari sana tanpa menghiraukan rasa sakit kaki nya yang sudah mati rasa dan lecet.
...*****...
tak lama ia berlari, akhirnya ia berhenti di tepi laut yang luas di dalam keheningan malam yang menemani.
ia masih berusaha mengatur nafasnya dan terus memeluk putrinya memberikan kehangatan yang tersisa dalam tubuhnya.
"ABELLA...."
Ia berteriak di pinggir laut dengan sisa suara yang ia miliki berharap sosok yang ia panggil dapat mendengar teriakan nya.
"ABELLA... HELP ME PLEASE...!" teriaknya kembali sampai terbatuk batuk menahan perih di tenggorokannya.
"ABELLA..." teriak nya dengan suara yang mulai melirih.
"tolong datanglah abella! aku membutuhkan bantuan mu. kumohon" pinta nya lirih dengan air mata yang mulai jatuh membasahi pipinya yang putih.
ia melirik putrinya yang masih terlelap di dalam pelukannya. pipi nya yang merah itu tampak menggemaskan di mata siapa pun.
"tenang lah sayang ibu akan menyelamatkan mu apapun yang terjadi! ibu tidak akan membiarkan mereka merebutmu dan menjadikan mu sebagai budak disuatu saat nanti!"
"cukup ibu saja yang mereka perlakukan dengan demikian, semoga kamu tidak!" bisik nya pelan dan mencium pipi putri mungilnya itu dengan sayang.
"kakak!" panggilan itu membuat Wanita tersebut menoleh ke depan.
di hadapannya ia dapat melihat seorang gadis yang berbeda 3 tahun darinya. gadis yang masih sangat muda bahkan umurnya masih menginjak 23 tahun. dan dia bukanlah seorang manusia. melainkan seorang duyung kerajaan. putri bungsu dari 10 bersaudara.
"Abella..." lirihnya menatap gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik nya itu dengan sendu.
"ada apa kakak mengapa kau menangis?" tanya Abella dengan khawatir.
"tolonglah aku Abel!" pinta nya membuat Abella mengernyit.
__ADS_1
"kakak butuh bantuan apa?" tanya nya heran.
"jagalah putri ku!" tukasnya sambil menunjukkan putri kecilnya kehadapan Abella yang tampak terkejut dan shok.
"ka- kakak, kau... kau telah melahirkan?" tanya Abella dengan kaget yang dijawab anggukan pelan dari Wanita di hadapannya.
"tolong lah jaga dia! suamiku tidak menginginkan keberadaannya, dan karena aku telah melanggar aturannya. cepat atau lambat pasti aku akan dibunuh. ku mohon jagalah putri ku abella..." pinta nya memohon membuat Abella menatap kakak nya itu sendu.
"kak Viola apa yang kau katakan? kak Zayn tidak mungkin sekejam itu..." elak Abella membuat Wanita bernama Viola itu menggeleng cepat.
"kau tidak mengenalnya Viola! dia iblisnya wanita" sahut Viola dengan amarah yang menguasainya.
"tap-"
shuttt
"kumohon bawa dia pergi dari sini secepatnya! aku tidak mau putri ku dibunuh oleh orang bejat itu Abel!" pinta Viola dengan memohon pilu.
merasa tidak ada pilihan lain, Abella pun akhirnya pasrah akan keputusannya untuk menjaga putri dari sosok kakak yang selalu menjaga nya saat ia berada didunia manusia.
walau ia tahu kehadiran putri kecil Viola kedalam kehidupannya. akan di tolak keras dengan keluarga besarnya. karena ia begitu paham bagaimana benci nya kaum duyung kepada kaum manusia. sebab itu ia akan menanggung segala akibat yang akan menderanya nanti.
"siapa namanya?" tanya Abella mengambil alih tubuh mungil itu dari gendongan Viola.
"yang artinya kebahagian yang terbaik di musim dingin" ujar Viola dengan bahagia. tak lupa ia menecupi dahi dan pipi putrinya dengan linangan air mata.
Abella sendiri terus menahan air matanya, menahan sesak di lubuk hatinya menerima kenyataan takdir kehidupan kakaknya tersebut.
"maaf aku tidak bisa berbuat banyak kakak" ucap Abella lirih dengan kepala yang menunduk.
"abel! dengan kau menjaga putriku seperti kau menjaga nyawamu sendiri, itu sudah seperti balas jasamu yang sangat berarti dalam hidupku" sahut Viola mengelus pipi Abella dengan sayang dan terus mencoba tersenyum.
"tunggulah sebentar" ucap Viola sebelum telapak tangan nya ia tempelkan pada dahi putri kecil nya, entah apa yang ia lakukan. namun Abella dapat melihat bahwa Viola sedang menahan sakit dan begitu juga Abella merasakan putri Viola bergetar di dalam gendongannya.
tak lama Viola melepaskan telapak tangannya dari dahi putri nya yang cantik itu.
"pergilah!" titah Viola membuat Abella mengangguk.
ia meletakkan Putri Viola di atas pasir dan mencoba fokus untuk membuat gelembung air dan memasukkan bayi tersebut kedalam gelembung tersebut. agar saat ia memasuki nya ke dalam air bayi tersebut tetap bisa bernafas.
"semoga kakak baik baik saja" ucap nya pelan dan disambut senyum lembut dari Viola.
ia pun menyaksikan kepergian Abella dan putrinya dengan haru. sampai bayangan kedua orang itu menghilang di tengah kegelapan malam dan dalam nya laut.
__ADS_1
citt..krek...
Viola tersentak kaget saat sesuatu yang keras dan dingin menyentuh permukaan pelipisnya. ia mencoba melihat dengan ujung mata nya. namun ia tidak kaget melihat keberadaan Zyan suaminya.
dan dia mengerti apa yang sedang menempel Di pelipisnya itu. sebuah pistol.
"dimana putri mu?" tanya Zyan dengan dingin.
"aku tidak akan memberitahukannya dan membiarkan mu membuat nya menjadi budak mu" sarkas Viola tersenyum remeh.
"heh... ternyata kau masih bisa meremehkanku Viola" tantang Zyan dan menekan semakin dalam pistol tersebut.
"sekalipun aku tidak pernah takut kepadamu..." sahut Viola membuat amarah Zyan memuncak.
"sial, berarti kau memang siap jika ajal menjemputmu" tantang Zyan kembali dengan simrik di bibirnya.
"dan jika hal itu terjadi aku sangat bersyukur" sahut Viola tak kalah sinis.
"sialan!" tak menunggu lama Zyan menarik pelatuk pistol tersebut dan...
Dor...dor..
dua tembakan melesat masuk kedalam otak Viola membuat Viola menghembuskan nafas terakhirnya di tempat dengan senyum kebahagian di bibirnya.
"kalian lanjutkan pencarian, dan sisanya bawa gadis ini dan awetkan ia didalam markas kita" ujar Zyan yang sedang membersihkan darah yang menempel di wajahnya.
...*****...
Disisi lain, Abella sedang berdebat hebat dengan keluarga besar nya akibat kehadiran bayi manusia yang ia bawa. dan seperti dugaan nya ini semua akan terjadi.
"jika kau masih mau mempertahankan bayi itu! maka pergilah dari sini dan jangan pernah menganggap keluarga ini, adalah keluarga mu" bentak Ayahanda nya menatap tajam sang putri bungsu.
Abella menghembuskan nafasnya kasar. "baiklah jika itu mau nya ayahanda! makan aku akan pergi dari kerajaan ini, dan dimalam ini aku mengumumkan aku bukan lagi putri dari kerajaan laut Selatan!" setelah mengatakan itu Abella pun pergi meninggalkan kerajaan nya dengan gelembung bayi Viola yang setia bersamanya.
...Bersambung...
...<☆>☆<☆>☆<☆>☆<☆>...
...°...
...°...
...°...
__ADS_1
...°...