
siang itu, tepat pelajaran terakhir Eira merasakan tubuh nya terasa terbakar oleh sesuatu. panas, gerah, pedih bercampur aduk di dalam kulitnya. bahkan pulpen yang ia pegang bergetar hebat. membuat Jessika yang duduk di sampingnya mengernyit bingung.
"shittt. sakitttt..." lirihnya.
"Ra! lu ga-"
kreetttt...
Belum sempat Jessika menghabiskan perkataannya, Eira terlebih dahulu berlari keluar, tanpa memperdulikan teriakan guru di kelasnya. bahkan teman temannya menatap aneh ke arahnya.
Jessika yang kebingungan langsung menoleh ke arah Jihan yang duduk bersebrangan dengannya. "kenapa?" tanya Jihan berbisik. yang di jawab gelengan oleh Jessika.
namun saat mereka ingin beranjak keluar menyusul Eira, suara notiv ponsel Jessika menghentikan gerakan keduanya.
^^^Rara D^^^
^^^Jess gak usah nyariin gue, gue cuma gak enak badan. gue pulang ke apartement. jangan kasih tau nyokap bokap . sorry gue tadi kebelet ke toilet.^^^
Jessika yang mendepat pesan seperti itu pun sedikit khawatir. namun setidaknya ia merasa lega karena tau bahwa Eira menuju ke apartementnya.
ia pun melirik ke arah Jihan yang masih menatapnya. "gimana?" tanya jihan membuat ia membentukkan tangannya membentuk oke. Jihan pun bisa bernafas lega mendengar itu.
...*****...
Disisi lain, tampak Eira yang berlari keluar dari kamar mandi setelah mengirim pesan kepada Jessika. dengan tubuh yang bergetar hebat ia terus berlari tanpa melihat keadaan.
namun kesialan menimpanya sehingga menabrak seseorang yang sangat ia kenali. Bruk.."
"sial ! " gumamnya kesal, saat tubuhnya sudah terduduk di atas lantai koridor.
"lu gak papa?" tanya sosok tersebut dengan dingin. namun tangannya terjulur kedepan berniat membantu Eira. namun Eira hanya menatap benci tangan tersebut.
dengan cepat ia menepisnya dan bangkit meninggalkan sosok tersebut dengan penuh kebencian. sehingga sosok tersebut menatapnya dengan tatapan sulit di artikan.
"lu kenapa Vin?" tanya Bara yang baru saja muncul.
"Eira benci sama gue..." sahutnya lirih. "itu salah lu sendiri yang jadi pengecut bro..." sahut Darrel yang sudah berada di antara mereka.
"lu ngatain gue!" sentak Gavin membuat Darrel tersenyum miring. "gue nasihatin lu bukan sebagai bawahan atau asisten. tapi sebagai sahabat!" setelah mengatakan itu Darrel pergi meninggalkan keduanya untuk menikamti rokoknya.
"inget bro, meskipun Eira minta lu jauhin dia, bukan berarti itu keinginan dia. dan satu hal lagi, eira seorang cewe, dia punya perasaan. gak ada cewe yang mau langsung diduakan setelah mereka sayang sayangan, intinya. lu jangan nyesel!" peringat Bara, dan pergi menyusul Darrel setelah menepuk pundak sahabatnya itu.
__ADS_1
"apa maksud perkataan Bara dan Darrel?" tanya lirih dengan tubuh yang mematung.
...*****...
Akhhhh.....
Eira berteriak kencang di salah satu hutan lebat yang berada di dekat taman kota. ia tidak tau ini taman apa. ia juga belum pernah kesini.
"sakittt..." rintihnya pelan memegang kepala dan dadanya yang terasa rapuh dan ingin meledak. "siaaalll..." makinya kasar.
"shaakhiittt..." jeritnya tertahan.
"apa apaan ini...." gumamnya pelan melihat warna rambutnya mulai berubah dan ia merasakan warna mata nya yang terus berubah ubah membuat kepala pusing.
"jangan jangan! saat aku berubah saat itu, itu hal yang nyata. apakah itu akan terjadi lagi. shittt sakittt...." rintihan pelan menahan rasa tulang nya yang seakan retak.
Namun bukan ia sendirian yang merasakan itu disisi lain tampak seorang pria tampan dengan rambut pirangnya. meringis kesakitan disebuah ruangan gelap tanpa sedikitpun cahaya yang masuk. ia memegang kedua kepalanya yang terasa sakit dan berdenyut.
"Shittt. lagi lagi ini terjadi, kenapa kali ini lebih sakit. dan kenapa harus siang hari..." desisnya pelan.
"Zikon sayang, kau tidak apa apa?" tanya seorang wanita di balik pintu.
namun setelah nya ia menjerit kesakitan merasakan tulang nya seperti retak secara bersamaan.
"aku tak akan bisa berubah sebelum bulan purnama muncul. apakah aku harus menahan rasa sakit ini? adik? dimana kamu..." lirihnya masih menahan sakit.
kembali disisi Eira, ia masih sama dengan keadaan yang tadi masih menahan sakit di sekujur tubuhnya tanpa perubahan apa apa, kecuali rambut dan matanya. ia pun bingung di dalam kesakitannya. menagapa tak terjadi sesuatu.
karena kebisingan yang ia buat berhasil mengganggu penghuni hutan ini, yang memang sebenarnya satu alur dengan hutan Flauria, yang pernah menyesatkan Eira.
"SIAPA DISANA?" teriakan menggelegar tersebut berhasil membuat Eira tersentak namun ia tidak beranjak dari sana karena tubuhnya yang sakit.
"eh seorang manusia kah?" tanya seseorang di balik Eira membuat Eira dengan perlahan menoleh. dan betapa terkejutnya sosok di belakang Eira saat menatap manik mata milik Eira yang bewarna Violet di sebelah kanan dan ungu gelap di sebelah kiri.
"Demon-elf " gumamnya dalam hati merasa terkejut.
"kau ikut dengan ku!" titah sosok tersebut yang di tolak mentah mentah oleh Eira.
"lu siapa nyuruh nyuruh gue, sorry gue bukan babu lu" cetus nya yang berhasil membuat kening sosok di depannya menernyit. "kau berbicara apa?" sahutnya tak mengerti. "dasar kulot" makinya kesal.
dari pada menunggu lama, sosok tersebut pun mengambil jalan pintas. dengan menggendong Eira ala karung beras dan membawanya pergi secepat kilat, walau Eira terus memberontak.
__ADS_1
sampai akhirnya Eira merasakan sakit di punggung dan di bahunya saat sosok tersebut melemparnya ke atas lantai, membuat marmer lantai sedikit retak akibat ulahnya.
"apa yang kau bawa louis?" tanya seorang pria paruh baya yang bertubuh tegap, dengan memakai jubah hitam dan gigi taring yang membuat Sekejur tubuh Eira merasa takut.
"dimana ini, shttt... kenapa sedikit sekali cahaya yang masuk ? " gumamnya dalam hati, sambil menatap pria pria yang mengelilinginya. "sial! kenapa laki laki semua sih," ringis menahan sakit dan takut.
"hormat" ujar sosok yang membawanya tadi sambil menedang keras tubuhnya. "shit tubuhku..."
"ayahanda aku menemuinya tepat di jantung hutan!" sahut sosok yang bernama Louis itu dengan dingin. tanpa melihat Eira dapat merasakan bahwa sosok yang di panggil ayahanda itu sedang menatap nya dengan intens.
"siapa orang tuamu?" tanya sosok yang beribawa tersebut. membuat Eira menatapnya. "apa perlu mu mengetahui keluargaku" sahut Eira tak takut sedikit pun.
Bukhh..." jagalah kesopananmu wanita! " tegas Louis menatap tajam Eira.
"tcih! aku tak akan pernah mau bersikap sopan jika orang yang menindasku tidak berlaku sopan" tandas Eira membalas tatapan itu dengan sengit juga. "Kau"
dengan kesal Louis melayangkan kaki nya hendak menedang Eira. namun ternayata ia salah dugaan, Eira tak selemah yang ia kira. buktinya wanita dihadapannya mampu melawannya dengan tangan kosong.
"heh ternyata kau ingin berduel denganku" tantang Louis sambil membasahi bibirnya yang kering dan bersiap siap mengambil ancang ancang.
"lu pikir gue takut sama bocah sok jagoan kayak lu" sarkasnya dan siap mengambil ancang ancang.
mereka pun berkelahi saling mengajukan kekuatan dengan tangan kosong. banyak luka yang didapati keduanya, namun itu sama sekali tak memberhentikan keduanya dalam bertarung. sedangkan Kaisar yang di panggil ayahanda itu tampak menatap Eira dengan intens.
"aku seperti mengenal sikap itu " gumamnya pelan.
"BERHENTI!" teriaknya. membuat keduanya berhenti bertarung dengan nafas yang tersenggal. "pengawal bawa gadis itu dan ikat dia disana. sedangkan kau pangeran Louis kembalilah kekamarmu" perintah Kaisar membuat orang yang disuruhnya mengangguk patuh, kecuali Eira.
"lepasin Sialan! jangan coba coba nyentuh gue, ihh lepass gobl*k" makinya kasar dan terus berontak. "ikat ia dengan kuat setelah nya kalian semua pergi dari sini, sebab nanti malam adalah malam purnama kita akan melakukan ritual kita. jadi bersiap siaplah"
...Bersambung...
...<☆>☆<☆>☆<☆>☆<☆>...
...•...
...•...
...•...
...•...
__ADS_1