
Sampai nya di rumah sakit, dengan tergesa gesa Gavin berlari ke arah taman untuk memastikan apa yang ia lihat tidaklah nyata.
namun betapa mendidihnya ia melihat gadisnya sedang berbicara ria dan tertawa indah dengan pria asing, yang bahkan menurutnya ketampanan pria tersebut tidak dapat melebihinya.
"siapa sih tu cowo!" tanya nya kesal sebelum ia memutuskan untuk mendekati pasangan itu.
srettt...
Hampir saja Eira terseret jatuh jika Gavin tidak dengan sigap memeluk tubuhnya.
"eh busyeett... sejak kapan kak Gavin ada di sana kok aku gak liat ya?" tanya Felix bergumam pelan melihat antraksi menakjubkan di depan sana.
"widih... baru kali ini nih aku liat kak eira di rebutin cowo, biasanya juga belum deket sama dia, para abang abang itu udah pada lari" celetuk Dian yang diangguki Felix.
"aku setuju..."
•
•
"lu apa apaan si!" marah Eira yang tak digubris oleh Gavin.
"ngapain kalian berduaan ditaman sepi begini?" tanya Gavin dengan wajah memerah.
sedangkan Zikon tersenyum sinis melihat adanya kemarahan didiri Gavin.
"kita lagi duduk bareng, lagi ngobrol ngobrol ringan!" sahut Zikon yang langsung ditatap tajam oleh Gavin.
"gue gak nanya sama lu, setan!" teriak Gavin membuat Eira menolak nya sehingga pelukan itu terlepas.
"bisa gak sih lu gak usah teriak teriak! ngapain juga lu harus ngebentak tamu gue" sarkas Eira tak kalah kesal.
"lu bela dia?" tanya Gavin dengan marah.
"jelas dong gue bela dia, orang dia gak salah apa apa" sahut Eira dengan suara tak kalah tinggi.
"udah lika! lu jangan marah marah terus, lu baru juga sembuh" tegur Zikon mengusap lembut bahu Eira membuat Gavin semakin mendidih namun, ia penasaran akan satu hal.
__ADS_1
"lika?" tanya nya memastikan.
"panggilan khusus gue buat lika" ujar Zikon menatap Gavin dengan tenang.
"tcih... bahkan lu ngizinin orang asing manggil lu dengan nama khusus" sindir Gavin tertawa garing.
"terus apa beda nya sama lu!" cukup! kali Eira melewati batas kesabarannya.
"jangan lewati batasan lu eira!" tekan Gavin yang sudah merasa amarah nya di puncak.
"apa! kita berdua tuh ga ada hubungan apa apa vin! kita hanya sepasang orang asing yang baru ketemu dan baru kenal! mungkin kita udah saling kenal, tapi itu hanya sebatas kenal antara keluarga aja, gak lebih!"
"jadi jangan harap kita bisa ngejalani hubungan yang lebih lanjut!" teriak Eira membuat Gavin mematung.
"tcih... jadi beberapa hari ini lu cuma permainin hati gue?" tanya Gavin dengan gelengan tak percaya.
"sekalipun gue gak pernah mainin persaan lu, tapi gue Eira! gak pernah suka hutang budi sama orang lain, jadi segala sesuatu perhatian lebih yang gue kasih itu hanya sebatas ucapan terimakasih doang!" tekan Eira membuat Gavin menatapnya nanar.
"oke! ini putusan lu, gue bisa terima. permisi! tolong jangan buat dia nangis!" pesan Gavin sebelum benar benar meninggalkan tempat tersebut.
dan di saat itu juga air mata Eira mengalir sempurna dipipinya. namun dengan segera ia menghapusnya. karena ia juga tidak terbiasa menangis dihadapan orang lain.
"udah! kalau lu mau nangis nangis aja, maaf gara gara gue kalian harus berantam kaya gini..." pinta maaf Zikon dengan lirih.
tanpa menjawab Eira membalikkan tubuhnya dan memeluk Zikon dengan erat, sehingga empunya merasa kaget namun tidak menolak pelukan itu, bahkan ia membalasnya.
nyaman!
yah! Zikon merasa nyaman dengan pelukan ini, serasa ini adalah pelukan yang paling ia cari belasan tahun ini, pelukan yang lama hilang dan paling ia nanti nanti, tapi ia tidak tahu rasa nyaman dari mana berasalnya ini.
namun ia merasakan, perasaan ini bukan perasaan cinta antara sepasang kekasih, namun rasa cinta yang sulit di jelaskan dan bahkan akan sulit di lupakan meski ingatannya berubah sekalipun.
"hiks..hikss.. hikss.. kenapa disini di tarok bawang sih, pedih banget mata aku huk. huk.. hikss.. bunda.. kak Eira udah gede huk... bahkan sampe nyakitin perasaan cowo.. aduh kasian banget kak Gavin..." tangis Dian sampai sesugukan sedangkan Felix menepuk nepuk bahunya dengan memasang wajah dramatis.
"iya nangis aja yang banyak, aku bawa kotak tisu lengkap sama tisunya kok..." ujar Felix mengangguk angguk dramatis.
"aku rela kok jadi pengganti nya kak Eira kalau kak Gavin nya mau" celetuk Dian yang seketika menadapat toyoran dari sang sepupu laknatnya.
__ADS_1
"apaan sih fel, aku tuh lagi ngebayangin kalau aku jadi pacarnya kak Gavin" protes Dian tidak terima.
"heh! bocil kayak lu mau pacaran, belajar dulu sono! muka burik begini mau jadi pacarnya kak Gavin ngimpi lu malu maluin" tandas Felix membuat Dian melotot tak terima.
"kamu ngomongnya gak sopan banget! aku aduin ke kak Eira ya!" ancam Dian membuat Felix tertawa garing. bisa gawat kalau kak Eira nya tahu, bisa habis dia di ruang pelatihan nanti.
"aduh... jangan dong sepupuku yang cantik, cabut yok! aku traktir ice cream deh!" tawar Felix yang langsung di angguki Dian dengan dengan antusias.
"haiss, syukurlah..." akhirnya ia bisa bernafas lega.
...***** ...
diperjalanan Gavin mengemudi mobilnya asal asalan, bahkan tanpa ia sadari air mata perlahan membasahi pipinya, ia tidak tahu mengapa, namun yang jelas hatinya serasa remuk mendengar semua penjelasan Eira.
"akhhh... gue pingin banget ngerobek mulut dia" geram Gavin memukul stir mobilnya dengan kencang.
Cittt....
ia mengehentikan mobilnya di lautan selatan yang konon banyak yang mengatakan bahwa Lautan selatan adalah lautan terkutuk, yang dihuni makhluk makhluk mitologi yang sulit di percaya akal sehat.
bukannya merasa takut, Gavin bahkan merasa aman di sekitaran pinggiran laut ini, jika ia berjalan ke arah timur lebih dalam. ia dapat menjumpai hutan belantara yang sangat dihindari orang orang.
namun tidak bagi Gavin, disini ia bertemu dengan sosok yang sangat berarti baginya, sosok pengganti ibu yang selama ini ia cari, yah kedua orang tua Gavin masihlah lengkap namun karena provesi ibunya sebagai model dan ayahnya pengusaha besar, membuat waktu keduanya terkurang untuk dirinya sebab itu lah ia bisa tersesat di tempat seperti ini, tapi walau begitu ia tetap menyayangi ibunya, sampai sebulan lama nya ia ditemukan oleh orang orang ayahnya.
"tempat ini, tempat yang menjadi favorite gue, bahkan jika orang orang tau, saat jatuhnya salju tempat ini akan sangat indah" gumam nya pelan mengambil beberapa ranting yang berserakan .
"bibi Viola aku rindu..." lirihnya pelan menerawang jauh ke masalalu.
...Bersambung...
...<☆>☆<☆>☆<☆>☆<☆>...
...•...
...•...
...•...
__ADS_1
...•...