ANULIKA EIRA

ANULIKA EIRA
Attention..~07~


__ADS_3

Tak memperdulikan sikap Aneh Fathur. Gavin langsung beranjak masuk ke dalam kamarnya utuk melihat keadaan gadisnya.


"hah' syukurlah kamu gak papa" ucap nya pelan dengan tangan yang membelai lembut pipi putih Eira.


"Vin! maaf ganggu lu, gue mau izin untuk ke markas" ucap Darrel di depan pintu.


"pergilah..." sahut Gavin. setelah nya Darrel kembali menutup pintu tersebut dan meninggalkan Masion tersebut.


setelah memastikan bahwa Darrel benar benar keluar dari kamarnya. Gavin beranjak dari pinggir kasur tersebut dan berjalan ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubunya yang terasa lengket. dan sebentar lagi akan menjelang malam.


sekitar 20 menit ia menghabiskan waktu nya dikamar mandi . akhirnya ia keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang hanya melilit pinggang nya saja.


ia menatap Eira yang masih setia memejamkan matanya dengan damai disana. ia menghela nafas pelan. merasakan ada getaran aneh dalam dirinya yang tak bisa untuk tak jatuh hati kepada gadis yang sekarang meniduri kasurnya.


kasur yang belum terjamah oleh siapapun bahkan kedua sahabatnya saja tidak pernah. dan Eira adalah sosk pertama uang berhasil menguasai kasur itu terlebih dia adalah seorang wanita. kaum yang terus dihindari oleh Gavin kecuali 3 wanita yang memang mempunyai tempat pribadi di hatinya.


setelah memakai kaos oblong dan celana selutut ia kembali berjalan mendekati panjang dan duduk tepat di samping Eira melelapkan tubuhnya. bahkan ia sangat mengagumi kecantikan Eira yang tampak alami di wajahnya.


rasa rasanya ia ingin sekali mengecupi bibir mungil itu. dan merasakan betapa manis nya itu. tapi ia cukup sadar umur mereka terlalu dini untuk melakukan hal hal yang dilakukan oleh orang orang dewasa. walau ia tahu negara nya termasuk negara yang bebas tapi tetap saja ia akan menghormati privasi Eira.


"hey.. gue- bosan lihat lu tidur terus! bangun napa sih? kalau gak gue cium nih" ancam Gavin yang sama sekali tak mendapat respon dari Eira.


"hah'..."


tok...tok..tok...


ketukan di pintu kamarnya membuat ia bertanya singkat tanpa berniat membuka pintunya.


"tuan makan malam sudah selesai" ujar seorang maid diluar sana.


"simpan saja makanannya, aku tidak berniat makan untuk malam ini" sahut Gavin dan menidurkan tubuhnya di samping Eira.


"tapi tuan, nanti anda sakit!" bujuk maid itu membuat Gavin kesal dan beranjak berdii untuk membuka pintu.


"kau membantahku!" tukas Gavin cukup dingin.

__ADS_1


"tidak tuan, saya tidak berani!" sahut nya takut.


"bawakan aku segelas kopi saja" setelah mengatakan itu Gavin segera membanting pintu tersebut tanpa mendengar jawaban maid yang berada di depan kamarnya.


ia berjalan ke arah ranjang dan mengecupi pelipis Eira dengan sayang sebelum ia kembali beranjak mengambil laptop di atas meja belajarnya dan membawanya ke sofa.


ia pun mulai mengerjakan tugas tugasnya dengan serius disana. meskipun ia berandalan di sekolah tetap saja ia pewaris tunggal keluarga Haydar yang akan memegam segala Saham keluarga Haydar yang sudah bercabang cabang.


tak lama maid yang tadi pun kembali membawa secangkir kopi dan memberikan kepadanya.


tak terasa, waktu terus belalu begitu cepat, berjam jam Gavin menghabiskan waktu nya di depan laptop sampai jam menunjukkan pukul 3 malam, dan Tanpa terasa Gavin tertidur di atas sofa dengan masih memangku laptop nya.


tanpa disadari pun Eira membuka kelopak matanya dengan perlahan. ia merasakan pusing yang mendera kepalanya. namun ia merasa aneh dengan suasana kamar ini, setelah memeperjelas penglihatannya.


ia kaget saat berada di kamar asing yang sama sekali tak ia kenali. namun dengan reflek ia memeriksa pakaian nya dan disana ia bernafas lega saat melihat pakaian nya masih utuh bahkan ikatan rambutnya pun masih sama.


namun matanya terpaku akan sosok yang ia kenali tertidur di atas sofa dengan posisi terduduk. dan matanya melirik jam weker yang berada di atas nakas. dan disana sudah menunjukkan pukul 03.15 artinya sudah sangat larut sekarang.


tanpa terasa ia turun dari ranjang dan mendekati Gavin di sofa sana. ia menggelengkan kepalanya melihat sifat berbeda dari sosok Gavin.


"kata Jessika lu sosok yang berandalan dan gak tau aturan, kenapa sekarang lu bisa kerja sampai tertidur disini" bisik Eira memandang lekat wajah tampan Gavin.


ia mengambil laptop tersebut dan meletakkan di atas meja setelah ia menutupnya. ia pun mencoba menidurkan Gavin di atas sofa, agar lehernya tak terasa sakit karena tidur terduduk.


setelah selesai menidurkan Gavin dengan pas ia kembali ke arah ranjang untuk mengambil selimut.


"eh' ini obat untuk gue yah? baiklah akan gue ambil dari pada terbuang sia sia" setelah mengantongi obat tersebut kedalam saku Hoodienya ia menyeret selimut tersebut dan menyelimuti tubuh Gavin dengan benar.


"terimakasih udah ngerawat gue, dan maaf kalau gue nyusahin elu" cup~


setelah mengatakn ucapan terimakasih Eira mengecup singkat dahi Gavin dan beranjak keluar dengan hati hati.


meninggalkan Gavin yang tersenyum di dalam mimpinya.


__ADS_1



seperti seorang maling ia berjalan mengendap endap di dalam Masion besar itu. dengan tangan kanan yang menenteng sepatu nya dan tangan kiri yang memegang ponsel menghidupi senter untuk memperjelas jalannya.


baru saja ia ingin keluar tampak bergitu banyak Bodyguard yang menjaga pintu keluar nya.


"sial! udah gue pastiin kalau gue lewat sekalipun mereka gak akan ngebiarin gue lewat " gerutunya pelan dan berusaha memutar otaknya agar bisa keluar dari Masion ini.


sekitar 15 menit ia berkeliling di masion tersebut, akhirnya ia dapat menemukan jalan pintas yaitu pintu belakang.


namun ia meneguk kasar ludah nya melihat dinding tinggi yang melingkupi taman belakang dan sebuah pagar besar yang menjulang tinggi.


"kalau sempat ini bener bener Masion bisa mati nih gue. gue jamin setelah loncat dari pagar ini gue pasti akan berjalan berpuluh puluh meter untuk keluar dari halaman Masion ini" gerutunya kesal.


namun karena merasa tak ada pilihan lain Eira pun nekat utuk memanjat Pagar tersebut. dan berakhir dengan telapak telapak kakinya yang lecet dan berdarah. karena ia masing menenteng sepatunya belum memakainya.


dan seperti dugaannya setengah jam lebih ia baru bisa keluar dari halaman Masion yang begitu besar tersebut menggunakan kaki nya yang terasa sakit.


"gue gak akan lagi kesini hosh.. hoshh..." lirih nya merasa lelah, sampai ia terduduk lemas di atas rerumputan.


"butuh bantuan?"


...*****...


sedangkan di Masion Bara dan Darrel di buat kalang kabut oleh Gavin yang mengamuk akibat hilang nya Eira dari ranjang. bahkan gadis itu tidak ditemukan dimana mana.


"jika kalian tidak menemukannya, anggaplah hari ini hari terakhir kalian menghirup nafas di bumi" ancam Gavin dengan amarah nya.


...Bersambung...


...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...


...°...


...°...

__ADS_1


...°...


...°...


__ADS_2