
Pukul delapan malam. Eira berdiri menampilkan tubuhnya di hadapan cermin. Malam ini ia akan membuka identitasnya dan kedok jahat Lilyana. Ia sesekali tertawa kecil saat dimana tadi siang Gavin mengkhawatirkannya seperti orang kesetanan.
Namun Eira suka hal tersebut.
"kita lihat semana kemampuan iblis yang lu punya, sekalian gue akan lihat klan iblis apa yang berani sekali bersekutu dengan manusia serendah lu Lilyana?" cercanya dengan senyum manis.
dengan Jeans kulit dan kaos polos benar benar membuat pesona sosok Eira bertambah berkali lipat.
Bunyi peraduan sepatu dengan keramik lantai membuat semua alihan mata menuju terhadapnya.
"sayang ingin kemana malam malam begini?"Tanya Abel yang sedang menyiapkan malamnya.
"aku akan ke apartement ma.. kalian makan malam duluan saja! aku akan malam diluar" ujarnya sambil berjalan mendekati gantungan mantel.
ia memakai sebuah mantel malam yang tak terlalu tebal, agar sedikit menyesuaikan tubuhnya dengan angin malam.
"sayang? bisakah kau makan malam dirumah! nenek dan kakek baru saja pulang loh!" bujuk Sang nenek membuat ia tersenyum.
"ada sebuah janji yang aku lakukan nenek, aku akan bertemu dengan nya terlebih dahulu, dan aku hanya akan melewati waktu makan malam ini, janji!" ujarnya berjalan mendekat kearah neneknya.
"tumben sekali kak Eira pergi malam malam begini, kakak ingin berkencan ya..." tuduh Dian membuat Eira mendelik terhadapnya.
"jangan memikirkan hal hal yang kotor dengan otak mu yang sempit itu" sarkas Eira membuat Dian menggerutu atas ketajaman lidah sang kakak.
"baiklah aku pamit" setelah menyalami Ibu, ayah, nenek dan kakeknya ia pun pergi.
"apakah ia memiliki seorang kekasih?" tanya Dion yang sedari tadi memperhatikan percakapan sang anak sulung.
"entahlah! ku doakan sih iya" sahut Abel membuat Dion mendelik.
"Eira masih sekolah! aku tak ingin ia berpacaran dengan lelaki manapun. jika mereka berani datangi aku" Abel mengerutu pelan melihat ke- posesifan suaminya.
"dia tumbuh sangat cantik Abel! apakah ia sangat mirip dengam Viola?" tanya sang ayah mertua memhuat ia tersenyum pahit.
"ia ayah! ia seperti cetakan ibunya, sanga mirip. mata, hidung, rambut, kulit dan bentuk badan semuanya sama ayah! bahkan setiap melihat nya aku selalu teringat akan kak Viola" Semua turut bersedih mengingat kisah Abel yang lama. hanya Dian saja yang tampak bingung, namun ia memutuskan untuk diam.
"apa kau sudah menemukan ayah kandungnya Sayang" tanya sang ibu mertua membuat Abel menoleh sekilas ke arah suaminya lalu ia menggeleng.
__ADS_1
"keberadaan kak Zyan sangat sulit untuk di lacak ibu, kami sudah melalukan segela cara" ujar Abel.
"tunggu! apakah kaliah akan melepaskannnya kepada ayah kandungnya?" tanya sang ayah mertua membuat Abel menggeleng cepat.
"sampai titik darah penghabisan pun aku tak akan menyerahkan putri Kak Viola bersama dengan kak Zyan. aku tak akan membiarkan itu!" tegasnya dengan buliran air mata yang masih mengalir.
"ma... Jelaskan pada Dian apa maksud semua pembicaraan kalian?" tanya Dian yang tak mampu menahan rasa penasarannya lagi. seluruh keluarga bungkam mendengar suaranya. mereka hampir melupakan keberadaan gadis itu.
"anak pintar tak perlu ikut campur dengan urusan orang dewasa" ujar sang nenek membuat Dian mengangguk saja.
"kak Viola kau memiliki anak gadis yang sangat cantik! namun kenapa kau menyerahkan seluruh kekuatanmu kepada Eira! aku tahu anak kedua darah campuran hanya akan mendepat sedikit dari kekuatan yang dimiliki keluargamu"
"tapi kenapa kau harus menyalurkan semuanya, pernahkah kau berfikir kan jika di umur 20 tahun ia tak bisa menekan aura nya, akan banyak makhluk yang mengetahui identitasnya, dan akan terjadi perebutan lagi antar Klan iblis dan Klan elf kakak "
"dan terlebih parah, Aku hanya seorang Putri dari kerajaan duyung, kekuaatan ku tak akan begitu kuat dengan Sihir, hanya bangsamu lah yang bisa. apa yang harus ku lakukan?"
Disisi lain.
Tampak Ia mulai sampai di tempat tujuan, dengan senyum tipis ia keluar dari mobil nya menggunakan kaca mata hitam yang semakin menggelapkan pandangan, namun secercah cahaya hijau muncul di kedua kelopak mata Eira, dan ternyata mata nya sudah berubah.
"ucapkan selamat tinggal untuk malam ini lily!"gumam nya sambil terkekeh kecil.
"ternyata kalian yang ingin bemain main dengan ku" ucapnya dalam hati sambil tersneyum miring.
"apa kau sudah siap mengucapkan selamat tinggal pada dunia Eira?" tanya Gadis itu dengan sedikit angkuh.
"seharusnya kata kata itu lebih cocok untuk mu Lily" balas Eira dengan cuek. "Tcih memalukan!" sadisnya ia langsung menggenggam telapak nya erat saat tubuhnya mulai bereaksi.
Eira hanya diam melihat perubahan Lily yang menrutnya sangat mengerikan.
Lily menggunakan Jubah hitam panjang, dengan rambut di sanggul anggun, gigi taring mencuat keluar menampil gusi nya tampak memerah. matanya menyala nyala seperti api, kukunya panjang panjang. serta sebuah tanduk besar di atas kepalanya menambah kesan Lily seperti seorang nenek lampir.
"ku rasa kau cocok dengan seragam itu" celetuk Eira dengan nada menyindir.
"jangan banyak bicaa bedebah!" dengan segera Eira menghindar melihat sebuah cahaya melewatinya, jika saja tadi mengenai dirinya sudah dipastikan ini adalah malam terakhirnya seperti apa yang dikatakan oleh Lily.
kau mengajakku bermain main.
__ADS_1
Blush ~
Secara reflek tubuh Lily mundur kebelakang melihat peubahan Eira dengan jelas, ia tak menyangka bahwa Eira juga sama dengan nya.
namun perubahan Eira berkali lipat lebih baik dari nya dan lebih cepat bahkan dalam hitungan detik.
sebuah gaun 5 centi di atas lutut, dengan menampil bahu putih mulusnya, rambutnya di cepol setengah dengan sebuah tiara api di kepala sebelah kanannya. taring juga tampak keluar dari bibirnya. dan yang membuat Lily takjub Eira memiliki sebuah sayap Api layak nya pheonix.
dan ia melihat seakan seluruh tubuh Eira di selilingi Api.
"Tcih, kau mengatakan aku menjijikkan karena aku seorang iblis lalu apa bedanya denganmu" sarkas Liky membuat Eira tersenyum. senyum yang mengerikan.
"jangan sama kan aku dengan dirimu rendahan, bahkan kau tak pantas disamakan dengan jariku" ujarnya lembut namun penuh aura intimidasi.
"apa maksudmu!" teriak Lily sampai sebuah cahaya merah mengenai dadanya secara tiba tiba. dan ia kaget saat merasakan ia terbatuk batuk sehingga mengelurkan darah.
mata Eira tampak sekelam malam tanpa adanya bintang dan bulan disana. sangat mengerikan, layaknya lautan luas tanpa arah.
"si-siapa k kau se-benar nya uhuk uhuk" ia kembali terbatuk di saat Eira menginjak perutnya.
"Tcih, Padahal aku hanya menyerang mu 2 kali, mengapa kau selemah ini, yaampun tidak seru sekali..." gerutunya sambil memainkan kakinya di perut Lily
"kau siapa Eira?" teriak Lily membuat Eira tersenyum miring.
"aku ada seorang iblis berdarah murni, kau puas! SETELAH AKU BERSENANG SENANG DENGAN MU BARU AKU MELEPASKANMU HAHAHAHA...." mata Lilu terbalalak akan setiap kata yang keluar dari bibir sexi milik Eira.
"tidak mungkin..." gumamnya tak percaya.
...Bersambung...
...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...
...•...
...•...
...•...
__ADS_1
...•...