
Lily yang saat ini berada di kelas Gavin mulai terheran heran. saat melihat sikap Gavin yang kembali cuek terhadapnya. padahal ia sudah mengancam dengan berbagai cara. tetapi Gavin tetap tak bergeming.
Hal itu mampu membuat hati nya panas dan merasa kesal. dengan langkah cepat ia meninggalkan kelas Gavin dan pergi menuju kelas Eira berada.
dan Disana ia melihat Eira dengan kedua sahabatnga sedang tertawa dengan bahagia, dan kelasnya pun tampak ribut. seperti tak ada guru di ruangan itu.
dengan cepat ia masuk dan menarik Eira dengan keras serta menghentaknya ke tembok. tangan cantiknya mencengkram erat leher Eira. namun Eira tampak tenang dengan apa yang Lily lakukan terhadapnya.
sedangkan kedua sahabatnya sudah terlebih dulu berteriak ingin menolong, namun ketiga teman Lily langsung mencegah mereka membuat mereka hanya bisa meronta.
sedangkan murid yang lain hanya diam menonton drama apa yang akan terjadi lagi di antara primodona sekolah itu.
"bajingan sialan! apa yang lu lakuin sampe Gavin ngejahuin gue!" sentak Lily mencengkram lebih erat lagi leher Eira.
"gue gak ngelakuin apa apa" sahut Eira dengan tenangnya.
"lu kira gue bodoh ha! lu rebut Gavin dari gue kan, ngaku lu" teriaknya lagi membuat Eira terkekeh remeh.
"gak salah lu? bukannya lu ya yang rebut Gavin dari gue. Tcih gak tau diri" tukas Eira tersenyum miring.
"sialan! jauhin Gavin setan!" bentak Lily membuat Eira meringis merasa ia harus ke dokter tht setelah ini.
tangan Eira terangkat mencengkram lembut pergelangan Lily yang mencengkram lehernya, namun perlahan cengkraman lembut itu menjadi cengkraman dalam membuat Lily terbelalak merasa panas beserta pedih dengan sekali rasa di pergelangannya.
"lu ngatain gue setan lu sendiri apa cuy.." tantang Eira dengan suara rendah. "lu pikir lu bisa ngalahin gue?" tantang Eira lagi membuat Lily menggeram marah.
namun belum sempat Lily membalas, Eira terlebih dahulu menepis kasar pergelangan Lily sehingga ia tersungkur di atas lantai dengan tak layak.
Eira berjalan mendekat ke arah Lily yang masih tersungkur. dan ia berjongkok tepat di samping tubuh Lily. "jadi iblis buatan aja bangga! gue tunggu lu di hutan floria nanti malam!" setelah membisikkan itu, Eira mengajak kedua temannya untuk menuju ke kantin.
sesampai di kantin Jihan terus saja menggurutu tidak terima saat mereka dengan seenaknya menyerang mereka tanpa aba aba. sedangkan Jessika tengah panik melihat ruam merah akibat bekasan cengkraman tangan Lily di leher Eira.
"ra! leher lu gak papa?"
"gak papa, nanti gue pakein fondation aja hilang kok!" sahutnya tenang sambil menyesap teh manisnya.
__ADS_1
sampai mata nya tak sengaja menangkap Bara yang sedang datang menuju ke arah meja mereka.
"hay cewe cewe cantik, ngapain kalian disini di jam pelajaran, cabut ya lu pada ya" tanya Barra dengan curiga yang baru mendudukkan tubuhnua di samping Jihan.
"ngapain lu duduk di samping gue" risih Jihan membuat Bara menoleh ke arahnya. "ini bukan meja punya lu kali, suka suka gue lah" sahut Barra tak peduli
"eh! bentar leher lu kenapa ra?" tanya Bara yang baru melihat bekas merah di leher Eira.
"lu ngapain di kantin waktu jam pelajaran begini? tumben sendiri?" tanya Eira mengalihkan pembicaraan.
"jangan alihin pembicaraan gue Eira!" tekan Bara membuat ketiganya menatapnya.
"lu kenapa Bar? sakit? tumbenan muka lu serius begitu?" tanya Jessika membuat Bara menatapnya tajam. "gue gak suka Eira kenapa napa"
mendengar penuturan itu Jessika dan Jihan langsung melongo sedangkan Eira tersedak air minumnya sendiri.
"lu sinting bar! jangan ngomong yang aneh aneh lah" tutur Eira kesal sambil sesekali melirik wajah Jessika yang tampak masam.
"gue serius! siapa yang ngelakuin hal itu sama lu?" tanya Bara tanpa mengerti kode yang Eira berikan.
"eumm, Ji! temenin gue ketoilet ayo..." ajak Eira dan langsung menarik Jihan dari sana meninggalkan Jessika dan Bara yang terdiam karena situasi canggung tersebut.
"gak papa sih"
"gue gak tau, tapi... gue rasa ini bukan rasa suka, tapi rasa ingin ngelindungi yang besar. gue takut dia kenapa napa, gue takut dia terluka, tapi gue gak cemburu dia deket sama siapa aja"
"seperti seorang abang yang ingin melindungi adiknya, itulah yang gue rasakan!" Jessika mengernyit saat mendengar penjelasan Bara. hal tersebut juga tidak masuk akal baginya.
secara Eira adalah anak pertama, bagaimana ia memiliki seorang kakak, terlebih keluarga mereka sangatlah berbeda.
"kenapa lu bisa ngerasain itu?" tanya Jessika yang di jawab gelengan dari Bara. "gue gak tau Jess!"
"atau mungkin lu punya ikatan darah lagi sama Eira, coba deh lu ingat ingat terkadang lu pernah ngehutang nyawa sama Eira?" tanya Jessika membuat Bara terdiam.
"ikatan darah?" gumam Bara dalam hati.
__ADS_1
"tunggu! jika bener kalau Eira bukanlah anak kandung dari keluarga Damian, besar kemungkinan dia adalah adek gue"
"astaga kenapa! kenapa gue gak kepikiran sampe situ sih..." gumamnya lagi, sesaat terbit senyum tipis di bibirnya.
"gue pamit dulu ya Jess, ada yang mau gue selesain." Jessika mengangguk saat Bara pergi meninggalkan nya secara terburu buru.
"kenapa hati gue sakit ya? disaat Bara ngucapin kata kata perhatian untuk Eira. yaampun amit amit deh kalau gue suka sama dia, bisa makan ati tiap hari gue kalau sempat suka sama spesies playboy macam dia. ihhh amit amit dah!" Jessika pun bangkit dari kursi nya dan menyusul kedua temannya ke kamar mandi.
dikelas seorang Gavin, murid perempuan masuk dengan tergesa gesa sampai mendobrak pintu. hal tersebut membuat penghuni kelas tersebut terkejut. "untung pak Imbran belum masuk" gerutu salah satu murid disana.
"Gavin!" pekiknya membuat Gavin menatapnya dengan heran. "apa?"
"ada berita buat lu" ujarnya dengan nafas tersenggal senggal.
"minum dulu Devi!" ujar Darrel sambil menyodorkan aqua gelas. "thanks"
"berita apa Dev?" tanya Gavin kembali fokus dengan ponsel nya.
"itu, si Lily tadi datang ke ruangan ade kelas, dan dia ngelabrak salah satu adek kelas yang kalau gak salah cewe yang pernah deket sama lu deh Vin! siapa ya? oh iya Eira!" ujar gadis bernama Devi itu membuat Gavin terkaget.
"terus gimana keadaannya sekarang?" tanya Gavin tergesa gesa. "siapa?" tanya nya bingung.
"ah kelamaan lu! minggir"
Devi menggerutu di depan pintu menatap kepergian Gavin "kan gue gak tau yang mana yang lu khawatirin, Apa itu Eira maupun Lily untung ganteng, eh tapi gak papa deh ini pertama kalinya Gavin ngomong sama gue walaupun singkat aaa astagaa, jantung gue baru nyadar"
teman sekelas yang melihat nya seperti itu, langsung menandainya gila.
...Bersambung...
...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...
...•...
...•...
__ADS_1
...•...
...•...