ANULIKA EIRA

ANULIKA EIRA
An invisible bond...~22~


__ADS_3

"Bara!" panggilan itu seketika membuat Bara menoleh ke arah suara.


"Rel? kenapa lu disini?" tanya Bara yang melihat sahabatnya itu tepat berada di belakangnya.


"emhh.. itu .. Jes- Jessi Hilang..." ucap Darrel terbata.


namun jauh berbeda dengan respon yang Bara tunjukkan.


"HAH! kenapa?" teriaknya membuat pengawal disana terjengit kanget.


"eghh.. gue gak bisa jelasin disini, lebih baik kita nyusul Gavin aja" usul Darrel dengan kaku.


"kenapa Gavin ikut nyari?" tanya Bara merasa aneh.


"eira juga ikut ngilang bar" sahutnya membuat Bara lagi lagi mengerang frustasi.


"aku harap engkau singkirkan semua orang mu yang ada di hutan selatan, sebelum aku menggerakkan orang ku untuk mengahabisi mereka semua" ancam Bara dengan aura gelap yang ia pancarkan membuat bulu kuduk mereka berdiri, kecuali sang ayah.


setelah mengatakan itu Bara maupun Darrel berlari meninggalkan tempat tersebut untuk menyelsaikan masalah gadis yang sedang mereka perbincangkan.


"Roy suruh orang orang mu pergi dari sana sebelum nyawa mereka lepas akibat perbuatan anak itu nanti" suruh Ayah Bara dengan aura keangungannya.


"baiklah! akan saya lakukan segera tuan!" sahutnya hormat.


"dan satu lagi, selidiki siapa yang mereka cari dan asal usul kedua gadis yang sempat mereka sebut tadi" ujar nya kembali membuat Roy lagi lagi menunduk hormat


"baiklah, tuan!"


...*****...


Disisi lain, tampak Eira maupun Jessika berada di perdalaman hutan dengan keadaan terikat di sebuah batang kayu yang di kelilingi arang hitam dan daun daun kering.


sedari tadi mata keduanya menatap tajam seorang wanita yang berdiri di hadapan mereka yang menjadi dalang utama dalam penculikan mereka.


"gimana? enak gue giniin?" tanya Gadis itu membuat Jessika maupun Eira menggeram marah.


"sinting lu, keadaan gini lu bilang enak" maki Jessika membuat tawa gadis didepannya menggelenggar.


"haiss disaat saat kayak gini pun, kalian bisa bisanya sombong di hadapan gue" sahut Gadis dihadapannya dengan duduk tenang di hadapan mereka.


"brengsek sialan, mati aja sana lu... gila!" maki Jessika membuat Gadis dihadapannya menatap tajam kearahnya.

__ADS_1


"Jessi, gue punya kesabaran, mulut cantik lu itu gak pantas buat ngemaki orang" tegas gadis licik di hadapannya.


"Lily! apa maksud lu ngelakuin ini?" Tanya Eira yang berusaha tenang dengan keadaan terikat seperti itu.


gadis bernama lengkap lilyana itu tersenyum miris di hadapan mereka. "selama ini lu nyinggung gue dan lu masih pura pura gak tau, tcih gak tau malu" tandasnya membuat Eira mengernyit.


"lu kalau ngomong itu yang lengkap tol*l jangan setengah setengah!" makinya Jessika karena muak dengan sikap aneh Lily.


"tcih! lu tau apa? semenjak kehadiran lu di sekolah itu semua yang gue miliki lu ambil Ra! dari kepintaran , kecantikan, kepopurelan dan kasih sayang guru guru! lu datang dengan mudah ngambil gelar primoda sekolah dari gue, lu pikir semua itu gue kejar dengan mudah, engga Ra! itu alasan kenapa gue benci banget sama lu"


"dan alasan utama gue benci sama lu adalah, lu udah bisa ngerebut Gavin disaat pertemuan pertama kalian, dan gue nyaksiin sendiri kalian berduaan dikelas dan lu juga ngegoda Gavin dengan mudah"


"dan seharusnya yang ada diposisi itu tuh gue bukan lu!" teriak Lily dengan air mata yang mulai mengalir.


Eira tertegun mendengar itu semua.


"lu ngerusak harapan gue Eira..." lirihnya membuat Jessika menaikkan sebelah alisnya.


"keren banget akting lu bro, tcih muka topeng kayak lu gak wajib di percaya" celetuk Jessika membuat semua nya beralih menatapnya.


"gue tau lu mantan tunangan Gavin yang dibatalkan sepihak oleh Gavin di hari pertama kali ketemu, dan lu masih berharap untuk ngejar ngejar Gavin, dan sekarang lu nyalahin eira karena dekatin Gavin!"


"permainan murahan lu ini udah ketebak sama otak cantik gue! Kalau Gavin lebih tertarik dengan Eira gue rasa itu pantas, karena Eira gak kecentilan kayak lu, dan lagi ya, masalah primadona sekolah emhh" Jessika tersenyum miring menatap Lily dengan tatapan sulit di artikan.


"Lily lepasin Jessika!" pinta Eira tiba tiba membuat kedua gadis itu menoleh ke arahnya.


"lu apa apa-" Eira mengisyaratkan tangannya, untuk menghentikan perkataan Jessika.


"kenapa tiba tiba lu minta kayak gitu?" tanya lily


"permasalahan ini hanya di antara kita, ga ada sangkut pautnya dengan Jessika, jadi kita selesaikan dengan cara kita tanpa melibatkan orang lain" tegas Eira membuat Jessika melotot.


"ra! lu-"


"DIAM!" bentak eira yang memberi isyarat ia tidak ingin mendengar bantahan apapun.


"Eira.. eira.. lu pikir gue bodoh, kalau gue lepasin Eira gak mungkin dia gak ngelapor kejadian ini kepada orang orang, tapi.. gak masalah juga sih, karna gue udah ngasih kalian ramuan transparan yang otomatis kalian gak akan bisa berubah menjadi manusia utuh kembali kalau kalian gak minum penawarnya dari gue" ujar Lily dan berbisik agak kencang di telinga Eira.


"hah!" Jessika membelalakkan matanya mendengar kata kata itu, begitu juga dengan Eira yang kaget dengan kenyataan bahwa dirinya menjadi transparan.


"tapi lu -"

__ADS_1


"gue memang bisa lihat kalian, gue dan seluruh anak buah gue bisa lihat keberadaan lu berdua, tetapi engga untuk orang luar, bagaimana?" ujar Lily membuat Eira menggepalkan tangannya mencari cara.


"hah! iya mama bilang di pernah belajar ilmu sihir kayak gitu, pasti mama bisa lihat kami.. ya gue akan suruh Jessika kabur dan minta pertolongan mama dan gue akan ngulur waktu disisini " bisik batinnya dengan raut wajah ceria.


"oke ! gue udah putuskan, gue akan biarin Jessika kabur setidaknya dia selamat" sahut Eira membuat Jessika melotot, namun Eira mengedipkan sebelah matanya untuk meyakinkan Jessika yang bingung di depannya.


"baiklah, gue akan anggap ini sebagai permintaan terakhir lu sebelum lu mati!" ucap lily dan menyuruh anak buah nya membebaskan Jessika.


saat sudah di lepaskan Jessika berontak didalam pegangan Kedua pengawal Lily yang memegangnya. untuk mengikuti lily keluar dari sana.


dan sebelum itu, samar samar Jessika melihat Eira berbisik. "temui bunda, bilang gue disini " Jessika pun akhirnya mengerti apa yang di rencanakan Eira, ia pun mengangguk patuh sebagai jawaban.


"heh! syukurlah semoga gue bisa tetap bertahan, dan bantuan segera datang karena gue..." ia menatap langit hutan yang tampak sebentar lagi akan menjelang malam, karena tampak kabut yang menyelimuti hutan.


"takut gelap.." lirihnya pelan.


...*****...


"gimana rel? lu udah ketemu?" tanya Darrel yang baru saja sampai dengan Bara.


"jejak mereka hilang disini, dan gue gak bisa nemuin apa apa lagi" sahut langit yang masih berusaha mengotak atik ponsel tersebut.


"kita kembali kerumah sakit untuk ngecek cctv" usul Bara yang di angguki Darrel.


"kalian pergi duluan, gue akan coba untuk cari disekitar sini" sahut Gavin yang merasa tidak beres di dalam hutan.


"lu yakin?" tanya Bara yang di angguki Gavin.


"yaudah kalau gitu kita duluan, kalau ada apa apa telepon vin!" ujar Bara yang diangguk singkat oleh Gavin.


"gue ngerasa ada ikatan batin aneh yang nyuruh gue untuk masuk ke dalam hutan " bisik hatinya Gavin menatap bingung hutan di hadapannya.


...Bersambung...


...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...


...•...


...•...


...•...

__ADS_1


...• ...


__ADS_2