ANULIKA EIRA

ANULIKA EIRA
What else is this..~20~


__ADS_3

sudah sekitar 2 jam Bara berkeliling di laut selatan, karena memang tempat itulah, tempat yang paling di sukai dan sering di kunjungi Gavin saat ia merasa sedih dan khawatir.


dari perawalan pertemanan mereka di umur 10 tahun, disana mereka saling mengenal satu sama lain dan kesukaan atau sesuatu yang mereka benci.


Bara pun dapat menebak kesini, karena Darrel pernah mengatakan bahwa Eira mirip dengan seseorang yang sangat Gavin sayangi dan rindui, dan semua kenangan itu berawal dari hutan terbengkalai di dekat laut ini.


Ia kesal kenapa semua nya harus menjadi serumit ini, jika memang benar Eira anak sosok yang Gavin ceritakan maka, terbukti sudah bahwa Eira benar benar bukan lah anak dari pasangan Dion dan Abella.


ia meneguk kasar salivanya, berharap semoga tuhan memberikan petunjuk lebih terhadap mereka.


ia ingin marah saat ini, tapi ia tidak tau ia ingin marah kepada siapa? jika kepada Eira karena telah menyakiti Gavin ia tidak bisa, ia tahu Eira memiliki alasan sendiri, terlebih saat saat ia mengetahui Eira bukanlah putri dari keluarga Damian, otomatis ia tidak akan bisa bersanding dengan pewaris keluar Haydar yang selalu memandang derajat.


jika ia ingin marah kepada Gavin yang telah membuat nya lelah begini, ia pun tak bisa, ia dapat merasakan bagaimana rasanya ditolak dan patah hati, sungguh! itu sakit, sebab itu ia tidak tau ingin marah kepada siapa.


"sialan! mereka yang bermasalah gue yang cape! kalau sampe om Slent tau, bahaya nih! gue jamin keluarga Haydar dan kekuarga Damian gak bakalan akur lagi" gerutunya dengan menendang nendang pasir dengan kasar.


"hais lu disini, cape gue nyari lu dodol!" ucap seseorang membuat Bara reflek melakukan tendangan berbalik. untung saja sosok tersebut gesit dalam menghindari serangannya.


"LU GILA! MAU BUAT GUE K.O" teriaknya membuat Bara menggaruk tengkuknya kaku saat menyadari siapa sosok di belakangnya.


"ya maap, lu juga ngapain tiba tiba muncul di belakang gue rel" sahut Bara sambil mengalihkan pandangannya.


" gue cari lu, ngapain lu disini?" tanya Darrel menepuk nepuk baju nya yang agak kotor.


"gue nyari si Gavin, belum ketemu juga" jawab Bara.


"memang tu anak kenapa?" tanya Darrel dengan melihat kanan kiri merasa ada yang mengawasi mereka.


"biasa! patah hati.." sahut Bara sekenanya.


"Bar! kenapa orang bokap lu ada disini?" bisik Darrel membuat Bara terbelalak.

__ADS_1


mata tajamnya pun menelisik setiap arah, dan benar apa yang dikatakan Darrel ada beberapa suruhan ayah nya yang sedang mengintainya, ia mengenalinya dari tato elang dan pistol yang ada di lengan lengan mereka.


"lu ikut gue!" Bara pun langsung menarik pergelangan Darrel utuk pergi dari sana.


sampai mereka berhenti di sebuah pondok kecil yang tampak suram dan mengerikan, tanpa memperdulikan itu Mereka berdua duduk dengan mata yang masih menelisik tajam.


"sialan si tua bangka itu kayaknya sengaja nih, mastiin gue kalau gue buat masalah atau engga.


gue tau kenapa dia minta gue untuk nemuin ade gue, karena Ade gue bukanlah manusia jadi dia mau membuat ade gue sebagai boneka pertarungan yang bisa mengalahkan musuh musuh dia..." jelas Bara membuat Darrel terbelalak.


"bukan manusia? maksud lu?" tanya Darrel dengan penasaran yang cukup menyiksanya.


"adik gue terlahir dari rahim seorang Fairy, yang otomatis dia memiliki darah manusia dan Fairy dengan sekaligus." ujar nya membuat Darrel menggeleng tak percaya.


"gak usah bercanda lu, Fairy itu makhluk mitologi. mana ada di jaman manusia" delik Darrel membuat Bara memutar matanya malas.


"gue gak suka bercanda di situasi genting begini Rel! gue serius, karena itu abang gue dari ibu yang sama dengan adik gue saat ini tengah berusaha menemukan dia, agar si tua bangka itu gak nyakitin adik dia"


"lu punya abang?" tanya Darrel heran.


"abang lu makhluk itu juga?" tanya Darrel dan dijawab gelengan oleh Bara.


"soal itu gue gak tau, karena sekalipun gue belum pernah bertemu dengan sosok abang gue itu" jelas Bara membuat Darrel mangut mangut.


"biar gue dan Gavin bantu lu untuk nyelamatin hidup adek lu, bagaimana pun saat ini, ia adalah adik kita semua" tutur Darrel menepuk pundak sahabatnya berniat memberikan semangat.


"thanks bro.."


"no problem brother..."


"kalian ngapain disini?" suara itu membuat kedua pria itu menoleh.

__ADS_1


"OMG Gavin..." Seru Bara dan mengahambur memeluk Gavin yang seketika membuat Gavin menampilkan ekspresi busuk dan tampang jijik dan kaku.


"jijik gue sumpah, lepasin dodol" kesal Gavin dan berusaha melepaskan pelukan itu namun tidak dibiarkan dengan Bara


"astaga! ga ada yang lebih waras gitu" gumam Darrel menatap jengah kedua manusia itu.


"lepas atau gue tendang burung lu" ancam Gavin membuat Bara maupun Darrel bergidik ngeri.


"lu kan cowo juga man, kenapa harus pake cara itu, lu kan tau sakitnya tuh sampe ke ubun ubun" protes Bara setelah melepaskan pelukan itu.


"biar lu terbiasa saat ada cewe cewe kaya Jessika nendang burung lu" sarkas Gavin dengan cuek tanpa melihat Bara yang telah mendelik ke arahnya.


disana juga Darrel tertawa terbahak bahak, saat menyadari apa yang dikatakan Gavin ada benarnya, tak bisa di pastikan kalau gadis seperti Jessika jika sudah marah tidak menendang burung orang.


"gue setuju sama lu"


"sialan lu berdua..." gerutu Bara dengan kesal.


"bar !" panggil Gavin yang di sahut deheman malas dari Bara.


"orang orang ayah lu kenapa ada disini semua, bahkan sempe ke dalam hutan" ujar Gavin dengan nada tidak suka membuat Darrel dan Bara melongo.


"HAH!"


...Bersambung...


...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...


...•...


...•...

__ADS_1


...•...


...•...


__ADS_2