ANULIKA EIRA

ANULIKA EIRA
Hate that?..~28~


__ADS_3

Tak terasa setengah jam sudah waktu bermain basket itu berlalu. dan pertandingan itu dimenangkan oleh tim Eira dengan perolehan nilai 5 - 0 tanpa memberikan celah sedikit pun bagi kelompok Lily untuk merebut permainan mereka.


Lily yang saat itu merasa kesal dan sangat marah, langsung tersenyum licik saat menyadari Gavin menyaksikan pertandingan mereka. ia pun berlari dan mengadu sambil menangis menggunakan air mata palsunya di depan Gavin, dan menuduh Eira yang sengaja mempermalukannya, karena ia tak sengaja mengganggu Eira.


semua disana melotot mendengar pernyataan Lily kecuali Darrel yang tak mengetahuinya dan Teman teman Lily yang tersenyum licik.


"tuh cewe apa apaan? " Gumam Bara jengah.


namun tanpa disangkanya Gavin bangkit dari duduknya dan memeluk Lily di dalam dekapan nya sambil menatap tajam ke arah Eira. "cukup kali ini lu gangguin pacar gue, jangan salahin gue kalau bersikap kasar, meskipun lu cewe" ujar Gavin dengan lantang membuat kehebohan baru di sekolah mereka.


pasalnya mereka tau, akhir akhir ini Eira maupun Gavin sedang di kabarkan dekat. namun mereka tak menyangka bahwa Gavin dan Lily kembali balikan.


setelah mengatakan itu Gavin pergi membawa lily disisinya tanpa memperdulikan tatapan bingung dari orang orang sekitarnya, sedangkan lily tersenyum miring di balik dekapan Gavin.


"Gavin gila!" maki Bara dan Darrel tak menyangka Gavin akan balikan dengan gadis busuk itu.


dengan cepat Bara turun dari lapangan dan menghampiri Eira disusul dengan Darrel disampingnya.


"ra lu gak papa?" tanya Bara khawatir melihat Eira menatap ke kursi penonton dengan tatapan kosong.


"Eira!" panggil Jihan dan Jessika yang membuat Eira tersadar.


"eh- eh ada apa?" tanya nya kaget.


"lu gak papa?" tanya Darrel yang di balas tatapan khawatir dari Bara dan lain lain.


Eira sempat terharu melihat teman temannya begitu khawatir akan keadaan nya. ia pun tertawa dengan keras untuk mencairkan situasi canggung itu walaupun ia masih menahan sakit hatinya yang seakan hancur.


"kalian kenapa si hahahah... gue gak papa kali, udah ah gak usah dipikirin gue mau balik ke kelas! bye..." ucap Eira yang berusaha menahan air matanya. ia melempar bola basket ke arah Bara membuat Bara menangkapnya dengan cepat.


"thankk udah minjemin..." teriak nya dan berlalu pergi.


"ini memang salah gue..." batinnya berkecamuk. sedangkan Bara ia hanya termenung menatap bola di tangannya.


"ini untuk terakhir kali Bar! gue gak bakalan bisa terima sahabat gue dihina kayak tadi! dan lu berdua ingat gue bisa membalasnya semua dengan lebih sadis" Jessika pun meninggalkan mereka termasuk Jihan yang masih merasa bingung.


tapi ia pun tak ingin ambil pusing dan berjalan mengikuti Jessika. namun ia mendengar salah satu tim lawannya berbisik buruk Tentang Eira membuat darahnya mendidih.

__ADS_1


"tcihh udah di buat malu masih aja belagu.."


bukhh..


Jihan menendang tulang kering gadis itu dan menendang belakang lututnya membuat gadis itu berlutut dihadapan Jihan.


"jangan sekali sekali mulut busuk lu ngehina dan nyebarin gosip gak baik tentang sahabat gue, karena gue gak bakal tinggal diam, dan jangan berharap lu pada ngeliat matahari terbit esoknya kalau kalian masih melakukan hal yang sama" ujar Jihan dengan lantang dan berlalu meninggalkan tempat tersebut membuat mereka semua melongo.


"yaampun tuh anak baru keren bangett...." puji salah satu anak basket yang merupakan teman Sekumpulan Bara cs.


"sisi!" panggil Jihan melihat Jessika seperti orang kelimpungan.


"lu kenapa?" tanya Jihan membuat Jessika menatapnya takut.


"Eira! Eira hilang ji... " pekik Jessika dengan panik membuat Jihan mematung.


"Rara hilang? kok bisa" pekik Jihan membuat Jessika mengacak acak rambutnya frustasi.


"kita keparkiran, kita susul Eira, gue yakin dia masih dijalan" putus Jessika membuat Jihan mengangguk pasrah.


"yaelah baru juga gue masuk kesekolah ini, udah mau bolos aja! hah demi raranya gue, gue rela deh!" ia pun berlari mengikuti Jessika yang berlari. sesampai dikelas tanpa permisi mereka mengambil tas mereka tak lupa tas Eira bersama mereka dan kembali berlari keluar.


"kenapa sama mereka?" tanya Darrel terhadap Bara yang terdiam disisinya. Jangankan mereka lily dan Gavin pun menyaksikan hal itu. dan entah kenapa ia merasakan perasaan yang tidak enak saat melihat kedua gadis itu berlari.


BRUUMM..


BRUMMM....


suara deruman mobil menjadi saksi. saat dengan kilat cepat, mobil kedua gadis itu melesat keluar dari pagar sekolah yang sudah terbuka karena ancaman mereka yang akan menumbangkan pagar sekolah tersebut jika tidak dibuka.


"sial diamana si?" gerutu Jessika meringis takut. tanpa memperdulikan ponsel nya yang terus bergetar sendirinya.


"rara, lu gak boleh kenapa kenapa?" gumam Jihan menatap tajam jalanan di depannya.


...*****...


malam pun tiba Jihan maupun Jessika sudah seperti mayat hidup berjalan dengan menggunakan seragam olahraga sekolah mereka. sudah berjam jam mereka menghabiskan waktu untuk mencari Eira di berbagai tempat. dan akhirnya kereka memutuskan untuk kembali ke kediaman besar Damian memberitahu berita yang lagi lagi akan membuat semua orang shok .

__ADS_1


setelah bertemu, Abel maupun Dion kaget akan keberadaan Jihan namun, Jihan menjelaskan keberadaan nya disini, namun setelah nya Jessika langsung memotong perakapan mereka dengan mengabarkan sesuatu yang membuat mereka takut.


mendengar itu Abel lagi lagi merasakan takut. ia sudah menduga ini terjadi putrinya tidak pernah pulang selarut ini. Dion pun beranjak marah karena Jihan dan Jessika baru mengatakan sekarang pada mereka.


"maaf om... kami minta maaf" cicit mereka membungkuk dengan hormat.


"pulang lah" titah Dion membuat mereka mendongak.


"tapi om-"


"pulang!" tegas Dion tak terbantahkan membuat mereka mengangguk kecil.


"baik! kita permisi om, tant!" ujar mereka bersamaan dan meninggalkan Kediaman Damian dengan langkah berat.


...***** ...


Disisi lain Tampak seorang gadis duduk di atas pasir putih masih menggunakan sepatu dan baju olah raga sekolahnya, rambutnya yang di gerai melambai lambai lembut di terpa angin malam.


ia menekuk lututnya, dan memeluk lutut itu, untuk menahan hawa dingin yang menusuk kulit putihnya. namun bukan nya pergi ia malah menatap lautan di depannya dengan tatapan sendu.


ia menatap lautan dengan tatapan kosong, membayangkan perkataan Gavin yang cukup membuat nya terluka. sebenci itukah Gavin terhadapnya. "ma.. kenapa aku gak bisa dekat dengan Gavin?" lirihnya menggepal erat kedua tangannya yang memeluk lutut.


puk...


ia menoleh saat merasakan seseorang menepuk pundaknya. Dan sungguh ia terkejut saat mendapati seseorang memakai gaun hijau tua, dengan jubah hitam yang besar. namun ia dapat melihat rambut violet dan mata coklat madu layaknya matanya. dan yang ia kaget wanita itu sangat mirip dengannya.


"anda siapa?" tanya nya dingin membuat wanita didepannya tersenyum dan mengajak nya mengikutinya.


Eira yang merasa penasaran pun bangkit dan mngikuti langkah wanita itu menusuri arah berlawanan dengan hutan Florya. hutan yang pernah menyekap Eira.


...Bersambung...


...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...


...•...


...•...

__ADS_1


...•...


...• ...


__ADS_2