
Flashback~
"dingin..." rintihan seorang bocah laki laki berumur 5 tahun dibawah guyuran salju. entah bagaimana caranya ia bisa tersesat kehutan ini, ia pun tak tau.
"bundaa... dingin..."rintih nya berjalan tertatih di atas butiran salju itu.
bruk...
tubuh mungilnya ambruk di atas tumbukan salju yang sudah menjadi dataran itu.
"bundaa... dingin...." saat mata mungil itu ingin tertutup ia sempat melihat sosok perempuan bertudung hitam dan berkulit putih menepuk pelan pipinya.
"hey nak? bangunlah..." suara itu masih terdengar samar di telingannya.
"bunda..." lirihnya sebelum ia tenggelam didalam kegelapan yang menghilangkan penglihatannya.
•
•
pagi nya bocah laki laki tersebut terbangun dari tidurnya, namun ia bingung saat ia merasa bukan berada di kamarnya.
"bi lily!" teriaknya, namun tak ada satu pun yang menyahut.
"bi lily...!" teriaknya sekali lagi, namun kali ini matanya sudah berkaca kaca siap untuk menangis.
"bi..."
ceklek...
bunyi pintu terbukan menghentikan tangis bocah tersebut yang hampir pecah.
"hey kenapa?" tanya sosok perempuan dihadapannya dengan lembut.
ia menatap wanita di depannya dengan tatapan bertanya. "bibi siapa?" tanya nya bingung.
"nama bibi Viola, kalau kamu siapa?" tanya Viola dengan senyum manisnya.
"a- avin..." sahutnya lirih.
"avin kah baiklah, ohya kenapa semalam kamu dihutan ini?" tanya Viola sambil memberikan susu hangat terhadap Gavin kecil.
"emhh... avin bosen dilumah, bunda sama papa kelja mulu, jadi avin kabul dali lumah..." celetuk Gavin kecil menggembungkan pipinya.
"kamu kabur? kamu gak tau seharusnya semalam adalah salju pertama turun. dan kamu pernah dengar tidak jika di laut selatan, salju pertama turun akan berubah menjadi badai salju" jelas Viola membuat Gavin menggeleng cepat.
"yasudah! kamu tau di mana rumah kamu?" dan lagi lagi Gavin kecil pun hanya menggeleng membuat Viola menghela nafasnya.
__ADS_1
"yaudah sebelum kamu ditemuin sama keluarga kamu, kamu tinggal dulu di rumah bibi oke" ajak Viola dengan senyum cerianya membuat Gavin turut tersenyum.
"boleh kah?" tanya nya.
"boleh dong" sahut Viola membuat Gavin kecil tertawa riang.
"emhh... bibi! di dalam sini ada adik bayi ya?" tanya Gavin kecil menunjuk perut Viola yang membuncit.
"kok kamu tau?" tanya Viola sambil mengelus surai Gavin dengan lembut.
"Avin seling liat di toko toko, perut bibi bibi itu sama kayak bibi, terus kata bi Lily didalam sana ada adik bayi yang akan lahil..." jelasnya membuat Viola tersenyum lembut.
"iya! gak lama lagi adik bayinya akan lahir" ujar Viola membuat Gavin bertepuk tangan dengan riang.
"wahhh... Avin janji kalau adik bayinya laki laki, Avin akan ajak dia main baleng di lumah, tapi kalau adik bayinya pelempuan Avin akan jagain dia kalau dia di ganggu anak anak nakal" celetuknya dengan semangat membuat Viola tersenyum lembut namun menatap Gavin dengan sendu. entah apa yang dipikirnya.
Flashback off~
Gavin memejamkan matanya menahan cairan bening keluar dari kedua kelopak matanya. ia rindu, rinduu... sekali dengan sosok pemilik senyum lembut yang dapat menenangkan hatinya itu, suara lembut yang selalu membuat dirinya nyaman, dan sikap sabarnya dalam menyikapi sikap nakalnya yang berlebihan. ia rindu itu semua.
ia bertanya kenapa bundanya tidak dapat seperti itu.
ia ingin sekali mendapatkan perhatian seperti itu, namun belum ia dapatkan. namun ia sudah menemukan tempat ternyaman baru yang membuat nya betah dan selalu saja membuat nya khawatir akan kehilangan tempat tersebut.
namun hari ini, tempat itu mengusirnya secara terang terangan dan menolak untuk kehadirannya. kenapa kehidupan selalu menolaknya, kenapa kehidupan terus saja memojokkannya dan meninggalkan nya sendiri.
kenapa kehidupan harus serumit ini, tapi tanpa adanya rumit di sebuah kehidupan, maka itu bukanlah kehidupan.
"gue sakittt..." lirihnya meremas dadanya yang terasa sakit.
ia terjatuh terlutut di atas pasir pasir yang di penuhi ranting pohon yang berguguran.
"lu tega ra..." lirihnya kembali.
...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...
Disisi lain tampak Eira berdiri di depan jendela rumah sakit yang langsung menghadapkannya kepada halaman luas rumah sakit, tempat dimana ia bertengkar hebat dengan Gavin.
ia kembali melirik bintang yang tampak berkelap kelip merdu seirama. "maafin gue..." lirihnya dengan air mata yang lagi lagi berjatuhan.
"maafin gue Vin! gue gak maksud setega itu sama lu, tapi gue cuma mau buat lu jauh dari gue, karena kehidupan yang gue alami gak semudah yang lu lihat..." ucap nya pelan.
tanpa sadar sepasang manusia sedang mengupingnya di depan pintu inap.
"Jess! lu masuk duluan aja, gue akan cari Gavin dulu, gue yakin tuh anak sekarang pasti kenapa napa!" ucap Bara yang langsung di angguki oleh Jessika.
"hati hati!" ucapnya membuat Bara menganguk dan beranjak pergi.
__ADS_1
"Ra!" panggil Jessika membuat Eira dengan segera menghapus air matanya.
"lu udah pulang sekolah?" tanya Eira membalikkan badannya.
tanpa menjawab Eira merasa aneh saat menyadari Jessika menatapnya dengan lekat. "apa?" tanyanya penasaran.
bruk!
Eira tersentak kaget saat tiba tiba Jessika menghambur kedalam pelukannya. "lu kenapa si?" tanya Eira merasa aneh.
"seharusnya gue yang nanyak, sejak kapan lu ngekhianati perasaan lu sendiri bahwa lu suka sama Gavin!" kesal Jessika dengan melepas pelukan itu dengan kasar.
Eira memalingkan wajahnya dari Jessika saat menyadari tatapan introgasi itu kini menatapnya dengan selidik.
"gue gak suka sama dia!" sahut Eira berusaha tenang.
"seberapa pun lu ngelak, gue gak akan percaya, karena gue denger sendiri gumaman lu tadi" ketus Jessika bersedekap dada, namun Eira terkejut mendengar penuturan Jessika.
"lu-"
"iya gue nguping" sahut Jessika sebelum Eira menghabiskan kata katanya.
"sejak kapan lu jadi gak sopan begitu" kesal Eira tanpa memperdulikan topik yang sedang mereka bahas.
"plis deh ya! kita tuh lagi bicarain soal lu dan Gavin, gak usah motong motong" tandas Jessika membuat Eira beranjak pergi menghindari Jessika.
"kenapa lu gak perjuangin gubungan lu sama Gavin. bukan seharusnya lu berdua gak ada penghalang di bidang sosial" tanya Jessika berbalik menatap Eira yang menghindarinya.
"gue belum siap cerita sekarang, gue juga masih bingung, lain kali aja gue mau istirahat" ucap Eira dan beralih menaiki brankarnya dan tidur memunggungi Jessika.
"gue cuma mau ngasih tau Ra! perjuangin jika lu cinta sama dia, jangan nanti lu menyesal disaat perhatian dia benar benar lenyap di telan kekecewaan yang lu beri" jelas Jessika dengan serius dan beranjak kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
namun diatas brankar, Eira menggengam erat selimutnya menahan isak tangis yang lagi lagi ingin keluar.
"gue bingung..." lirihnya takut, yang tanpa di sadari di dengar oleh Jessika yang bersandar di balik pintu kamar mandi.
"gue bahagia lu dapatin cowo yang lu cinta, tapi gue sedih ngelihat lu gak mau cerita masalah yang lu alami ke gue.." lirihnya meremas rok sekolahnya dengan kuat.
...Bersambung...
...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...
...•...
...•...
...•...
__ADS_1
...•...