ANULIKA EIRA

ANULIKA EIRA
A painful reality..~15~


__ADS_3

malam ini mampu membuat seorang Bara tidak bisa tidur dengan nyenyak. kepala nya sibuk memikirkan siapa Viola? siapa Eira? dan yang lain lain...


meskipun ia ingin sekali tidur karena merasa tubuhnya yang sudah terlanjur lelah, namun mata nya seolah tidak ingin tertutup dan ingin tetap terjaga.


"akhh... sial! kenapa gue harus mikirin hal hal yang gak terlalu penting itu sih.... hah" Bara mendesah malas di atas kasurnya untuk mempercepat rasa kantuknya.


akhirnya ia memutuskan untuk ke balkon menikmati angin malam yang akan menyejukkan nya. Disana ia dapat melihat bintang bintang seolah berbicara kepadanya.


"bunda kita gak pernah ketemu bukan? bahkan setelah bunda lahirin adik aku, bunda gak izinin aku untuk lihat adik aku... apa sebegitunya bunda benci sama aku, karena mama selalu ngucilin bunda disaat bunda hidup" lirihnya berbicara pelan sampai ketukan pintu membuat ia kaget dan berdecak kesal.


"sialan! gak bisa apa liat gue tenang dikit" gerutu nya sebelum membuka pintu kamarnya dengan kasar.


"ada apa?" tanya nya kepada seorang pengawal yang menundukkan kepalanya.


"tuan muda! tuan besar ingin menemui anda!" ujarnya membuat Bara memutar matanya malas.


"ada apa lagi dengan si tua itu! tcih .. apa yang dia inginkan sampai maksa gue untuk pulang kerumah utama?" gumamnya dalam hati.


tanpa menjawab Bara langsung beranjak pergi meninggalkan pengawal itu untuk segera kehadapan ayahnya.


sampai diruangan itu dapat ia lihat ayah nya sedang berkutat dengan kertas kertas laknat yang paling ia benci untuk ia lihat.


"ada apa?" tanya nya malas sambil menjatuhkan tubuhnya di salah satu sofa yang tersedia disana.


tampak Ayahnya berhenti menulis di atas kertas kertas itu dan beralih menatapnya.


"ayah butuh bantuan mu!" ujar sang ayah membuatnya mengernyit.


"bantuan? tumben sekali kau memerlukan bantuanku, bukannya selama ini kau bisa melakukan segalanya sesuka mu?" tanya Bara tersenyum remeh.


"tolong bantu kakak mu untuk mencari adik mu bara!" pinta sang ayah yang membuat Bara menfokuskan pendengarannya.


"kakak?" beo nya merasa asing.


"iya!" ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju dinding kaca yang tembus pandang itu.

__ADS_1


"kau mempunyai seorang kakak laki laki dari istri pertamaku, bisa di bilang dia kakak kandung dari adikmu yang memiliki satu ibu, tapi saat itu kesalahfahaman di antara aku dan bundamu, membuat aku ingin sekali membunuh Kakak mu itu"


"tapi karena bibimu Claudia sangat menyayangi kakakmu itu, ia mengancamku dan mengambil alih hak asuh untuk kakakmu, dan akhirnya ia dirawat oleh bibimu hingga kini. bahkan ia tidak pernah menginjak kan kakinya di rumah ini"


"ayah tahu! semenjak ia menginjak umur 15 tahun, disitulah ia mulai mencari keberadaan adikmu dan adiknya, dan satu hal kalian memiliki selisih umur 5 tahun" jelas sang ayah yang mampu membuat Bara terhantam akan kenyataan yang baru ia dengar.


"kalian semua gila! aku benci kau dan aku membenci ibuku!" setelah mengatakan itu dengan penuh penekanan, ia beranjak keluar dan membanting pintu itu membuat semua pengawal yang berjaga menunduk takut.


disisi sang ayah! ia hanya bisa menggepal kan tangan nya menatap bintang bintang di balik kaca transparan ini. berharap ada keajaiban yang akan memaafkan kesalahan fatal nya di masalalu.


"maafkan aku... "


...*****...


Didalam kamar, Bara mengacak rambut nya frustasi dan berteriak sejadi jadinya, ia menghancurkan segala barang yang ada di kamarnya sehingga luka luka gores memenuhi tubuhnya.


"Ihr seid alle verrückt! Verdammt! Unmoralische Menschen, ich hasse euch alle " teriaknya marah tanpa berhenti membanting semua barang barang itu.


sampai akhirnya tubuh itu merosot jatuh ke lantai yang sudah penuh dengan pecahan kaca dan vas vas mahal.


"bunda! mengapa bunda membawa adik, dan tak mengizinkan aku melihatnya! kenapa, bunda tahu aku sangat menantikan kelahirannya. tapi kenapa... apa bunda membenci ku karena aku tidak pernah menolong dan membela bunda..." lirihnya sendu dengan air mata yang menghiasi wajah tampan itu.


...*****...


Pagi itu menjadi pagi yang sunyi bagi Eira, dimana kedua orang tuanya sudah kembali kerumah untuk membersihkan tubuh mereka, begitu juga Gavin yang telah ia paksa untuk menuju ke sekolah.


akhirnya ia disini. di taman duduk sendiri di temani selang infusnya. dan angin sepoi sepoi yang menerbangkan rambut rambut kecilnya. sebelumnya Jessika sudah menjenguknya sebelum ia memutuskan untuk duduk di taman.


"ia menerawang jauh dengan bayang bayang asing yang selalu tumbuh di benaknya saat masa masa tertentu. jelas itu mampu membuatnya penasaran. ia ingin menceritakan kepada bundanya bahwa ia memimpikan itu.


namun ia takut bundanya khawatir dan semakin memperumit keadaan. ia kenal bundanya itu, jadi kali ini ia memutuskan untuk menyimpan rapat masalah ini.


"hay!" Eira menoleh saat sapaan itu terasa dekat dengannya.


wajahnya langsung mengernyit saat melihat sosok tampan di depannya tidaklah asing.

__ADS_1


"lu..."


"gue Zikon! Zikon Devano William orang yang ngasih lu tumpangan di hari itu" ujar Pria bernama Zikon itu sambil mengulurkan tangannya.


"ah ya! gue ingat! makasih soal kemarin itu udah ngasih gue tumpangan..." ujar Eira tulus dan tersenyum tipis.


"sans aja kali! jadi nih tangan gue di anggurin?" tanya Zikon sambil melirik tangannya yang masih terulur.


"ah... hahahahaha... gue lupa, gue Anulika Eira" ujarnya sambil membalas uluran itu.


"jadi gue panggilnya, Lika aja ya?" ujar nya membuat Eira menaikkan sebelah alisnya.


"panggilan khusus..." tawar Zikon membuat Eira tertawa renyah.


"baiklah terserah lu aja" sahut Eira membuat Zikon tersenyum tipis.


"gue duduk ya?" tanya Zikon membuat Eira menatapnya dan mengangguk.


"duduk aja!" suruh nya yang dibalas senyuman oleh Zikon.


mereka pun berbincang banyak hal di taman tersebut, dengan tawa dan candaan yang tiada henti hentinya. dan ini juga menjadi salah satu hal yang mustahil bagi Seorang Eira yang sulit bergaul. sekarang dengan mudah tertawa dengan orang asing.


"yan! kak Eira kejedot ya? kok bisa ketawa sama orang asing"


"ya mana aku tau lix! aku juga baru liat pemandangan yang kayak begini, sama kita aja kak Eira jarang banget ketawa..."


"mencurigakan! kita harus kasih tau tante!" seru Felix kepada Dian yang berdiri tak telalu jauh dari taman.


...BERSAMBUNG...


...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...


...•...


...•...

__ADS_1


...•...


...•...


__ADS_2