
mata Eira langsung terbelalak menyadari siapa sosok di hadapannya sosok yang ia kenali, walau tidak terlalu dekat.
"zi- zikon!" panggilnya terbata, sedangkan sosok yang di panggil Zikon tersebut tampak menegang di samping sebuah pohon bahkan tampak rasa sakit pun tak ia rasakan lagi.
"Ika?" lirihnya khawatir.
"SIAPA DISANA!" Teriakan dari luar hutan, dan tak jauh dari letak Eira berdiri, mampu mengagetkan keduanya. dalam keadaan panik Eira kembali menatap Zikon dengan lamat.
sampai tiba tiba ia berlari kencang ke arah Zikon dan menariknya pergi meninggalkan tempat tersebut. tampak bola matanya berubah berubah seiring waktu ia berlari.
sampai Eira tersungkur mengakibatkan kedua nya terjatuh di atas tanah yang di penuhi ranting berduri. "lu gak papa?" tanya Zikon dengan tubuh yang bergerak cepat mendekati Eira yang tengah terlungkup.
dengan sisa sisa tenaganya, ia berusaha bangkit dan duduk di bantu Zikon. dengan nafas yang tersenggal senggal. "hei? lu gak papa kan?" tanya Zikon kembali.
dan seperdetik kemudian, Eira terperangah menatap wajah Zikon yang ketampanannya berkali kali lipat dari yang biasanya. bahkan ketampanan sosok Gavin pun di luruhlantaskan oleh sosok Zikon yang sangat berkarisma.
mata yang tajam, bulu mata yang lentik, kulit putih pucat, mata bewarna violet dengan rambut bewarna violet, pakaian rumit dengan ukiran yang membingungkan. pakaian yang di lapisi dengan balutan emas murni, di tambah dengan sedikit pernak pernik mewah yang berasal dari emas putih yang menyilaukan mata.
tubuhnya dan rahangnya yang gagah dan tegas menambah kesan luar biasa terhadap Zikon. "astaga... ganteng banget sumpah..." bisik nya di dalam hati dengan mata tak berkedip.
setelah menyadari arti tatapan Eira Zikon terkekeh kecil, ia tau bahwa sosok Eira sedang menganggumi ketampanannya, dan ia mengakui itu.
"gue tau gue ganteng, gak usah lama lama juga kali natapnya! nanti jatuh cinta" celetuk Zikon membuat Eira mendelik ke arahnya "dih Narsis!" sahutnya malas.
dengan gerakan cepat ia berdiri berhadapan dengan Zikon yang tampak gelisah. "lu liatin apa?" tanya Zikon membuat Eira kembali menatapnya.
"lu elf campuran ibliskan?" tebak Eira takut takut membuat Zikon tekejut. "dari mana lu bisa nebak itu gue?" tanya Zikon bersikap tenang.
Eira kembali menelisik penampilan Zikon dari atas sampai kebawah. membuat Zikon semakin risih "taring, mata dan rambut lu, dan sayap lu" sahut Eira pelan dengan menunjuk sayap hitam di balik punggung Zikon.
tampak Zikon menghela nafasnya pasrah! "gue memang elf, tapi dari mana lu tau kalau gue juga seorang iblis?" tanya Zikon penasaran.
__ADS_1
"seorang Elf tak memiliki taring sepanjang itu, tak memiliki sayap tebal dan bewarna hitam seperti itu, dan juga manik mata seorang elf bewarna hijau dengan rambut nya bewarna coklat"
"dan memang hanya seorang bangsawan elf yang matanya bewarna Violet rambutnya bewarna coklat. jadi bisa gue tebak lu seorang bangsawan keturunan iblis dan elf ? benar bukan?" tanya Eira menatap lekat manik mata Zikon yang membeku.
"ternyata lu tau semua! apa lu gak takut?" tanya Zikon membuat Eira tersenyum sinis. "gue malah senang bertemu makhluk kayak lu karena gue ingin menanyakan sesuatu!" ucap Eira membuat Zikon tampak berfikir.
"baiklah tanyailah apapun yang lu inginkan" ujar Zikon membuat Eira mengangguk antusias. "Lu kenal wanita bernama Viola"
Bhomm!
bagai di terpa petir di siang hari, dengan cepat Zikon mencengkram pergelangan Eira dan membawanya sampai terhantuk dengan sebuah pohon besar.
Zikon menahan sebelah tangan Eira diatas kepala, dan satunya lagi tepat di samping kepala Eira dengan tangannya yang menahan. "siapa lu? kenapa lu kenal dia?" tanya Zikon dengan suara dingin nya.
"Zikon... ta- tangan... guee... sa-sakitt..." lirih Eira menahan perih yang menjalar di kedua pergelangan tangannya.
"jawab gue, siapa Viola yang lu maksud!" tekan Zikon membuat Eira meringis sakit. "baiklah! yapi plis lepasin tangan gue dulu ... akhh" rintihnya lagi saat tangannya semakin di cengkram erat.
"gue gak tau siapa Viola, tapi gue pernah bermimpi menemukan sebuah mayat yang diawetkan di sebuah laboratorium kotor dan menjijikkan! didalam nya ada seorang wanita mirip dengan gue, mempunyai mata Coklat dan rambut bergelombang coklat!" deg
mendengar penjelasan tersebut Zikon tampak tersentak kaget. kenapa ia baru menyadari bahwa wajah Eira sangat mirip dengan sosok yang selama ini ia rindukan. sosok paling berharga di dalam hidupnya. "jangan jangan..."
"jangan bilang sama gue, kalau lu bukan manusia" Eira langsung tersentak kaget mendengar penuturan tersebut.
"gue manusia!" sahut Eira mencoba menutupi rasa gugupnya. tampak kernyitan ragu tercetak jelas Di wajah tampan Zikon.
"lu gak bohong?" tanya Zikon dan Eira mengangguk. walaupun begitu Zikon mencoba mengangguk meskipun hatinya tetap terselip rasa ragu. "selain itu apalagi yang pernah lu mimpiin?" tanya Zikon dengan dingin, namun mata nya telah kembali bewarna Violet.
"emm..."
"ah ya! laboratorium tersebut masih ada, dan mayat yang di awetkan tersebut juga masih utuh, dan itu berada di suatu tempat" seketika Eira langsung merasa hawa dingin melingkupi tubuhnya.
__ADS_1
"katakan dimana?" tanya Zikon penuh penekanan.
dengan perasaan takut yang kentara. Eira mencoba menatap manik Zikon yang mampu membuat nya terpesona. "di sebuah Masion besar, milik mafia terkuat. dan letaknya berada di ruang bawah tanah!" Zikon langsung tersentak kaget mendengar keterangan tersebut.
"tua bangka sialan!..." lirihnya dengan rahang yang mengeras. saat ia ingin pergi dari sana, dengan cepat Eira mencekal lengannya membuat langkah nya terhenti. dengan tajam ia melihat Eira yang menghalanginya.
"lu mau kemana?" tanya Eira takut. "mau ketempat yang lu sebut!" sahut Zikon dengan ketus.
"NO! lu gak bisa kesana dengan keadaan lu yang seperti ini, lu bakal di tangkap oleh manusia manusia itu!" tolak Eira mentah mentah "apa hak lu ngehalangin gue hah!" bentak Zikon membuat Eira reflek memejamkan matanya.
"hak gue adalah sebagai teman lu, yang gak mau lu kenapa napa" sahutnya lantang. tampak raut Zikon yang melembut mendengar pernyataan itu.
"tapi gue harus kesana..." lirih Zikon dengan wajah sendunya. hal itu mampu membuat Eira kasihan terhadap sosok laki laki di hadapannya itu.
tampa mengucapkan apa apa, Eira meletakkan tangannya tepat di dahi Zikon dengan mulut Bergerak gerak layaknya membaca mantra.
"Cura, hoc cataracta virtutis. clausum est et ad tempus, et tempora usque ad set, non ordines sequi omnibus meis viribus usus tuos: et post hæc non evanescet abire in animo est. Haec ordines meus es tu !"
mulainya kata kata tersebut, angin disekitar mulai bergemuruh, menggoyangkan pohon pohon disekitar mereka, tampak juga manik mata Eira yang berubah menjadi hijau. karena ia menggunakan kekuatan sihirnya.
setelah nya Zikon membuka mata nya dan menatap Eira dengan pandangan kosong "maafin gue zi! gue harus lakuin ini"
...Bersambung...
...☆°☆°☆°☆°☆°☆...
...•...
...•...
...•...
__ADS_1
...•...