ANULIKA EIRA

ANULIKA EIRA
Meet and leave.. ~36~


__ADS_3

setelah berhasil keluar dari Masion yang berhasil membuat nya sesak dan emosi, ia langsung mencari keberadaan Zikon dan bundanya, yang sudah terlebih dahulu berlalu, berkat sayapnya ia dapat lebih mudah menggeledah sekitaran tersebut dari atas langit.


"nah itu mereka!" dengan segera Eira meluncur kebawah untuk menemui dua orang tersebut.


"apakah dia baik baik saja Zikon?" tanya Eira tanpa mengalihkan pandagannya dari bundanya tersebut.


dan Zikon pun hanya mengangguk. "kayaknya gue harus segera musnahin raga bunda dengan kekuatan suci kaum elf, agar raga bunda bisa bertemu lagi dengan jiwanya yang sudah duluan pergi." baru saja ingin mengarahkan tangannya kearah bundanya.


ia tersadar akan sesuatu, matanya langsung menangkap wajah Zikon yang masih terkontrol olehnya "sepertinya, Dia punya hubungan yang baik sama bunda, apa gue izinin dia aja yang ngemusnahin raga bunda? lagi pula dia juga seorang elf" gumam Eira menatap serius wajah Zikon.


merasa tidak ada pilihan lain, Eira dengan segera melenyapkan sayapnya dan membuang jauh jauh topeng mata nya. tangannya kembali bergerak menyentuh dahi Zikon dengan berusaha mengucapkan beberapa mantra yang secara spontan keluar dari mulut nya.


eghhtt..


Dengan Cepat Eira menormalkan warna manik matanya untuk berubah seperti sedia kala saat melihat Zikon telah sadar dan memegang erat kepalanya. pasti pusing.


gumam Eira.


"dimana gue?" tanyanya dengan geraman marah.


"emhh Zikon maafin gue..." lirih Eira merasa bersalah.


"apa yang lu la-" ucapan Zikon langsung tergantung saat matanya terpaku melihat raga yang sudah terbaring kaku di tanah.


"BUNDA!" teriaknya nyaring. sehingga Eira yang memejamkan matanya karena takut dengan bentakan Zikon langsung membuka matanya.


"bunda..?" beo Eira merasa bingung.


"kenapa bunda gue ada disini?" tanya Zikon tanpa mengalihkan pandangannya.


"bentar! kenapa lu manggil dia bunda lu?" tanya Eira merasa bingung.


"dia nyokap gue o'on!" teriak Zikon membuat Eira reflek memundurkan langkahnya.


"bunda Zikon?" beonya lirih.


"kalau dia bunda lu, berarti lu abang gue" lirih Eira yang mampu di dengar cepat oleh pendengaran tajam Zikon.


"maksud lu?"

__ADS_1


whuss


Zikon terjungkal kaget saat Eira menunjukkan jati dirinya sendiri, mata dan rambut bergelombang bewarna Violet, gaun berlapis emas, dengan sayap di belakangnya mampu membuat Zikon terpaku.


"bunda!" beonya tak percaya melihat kembaran bunda tepat berada di depan nya, walaupun itu bisa di katakan versi muda bundanya.


ngelag*


"tunggu sebentar, maksud lu gue abang lu apa?" tanya Zikon yang masih belum mengerti maksud Eira.


"gue, gue Anulika Eira, adik perempuan lu yang hilang 17 tahun yang lalu, dan gue selama ini di adopsi oleh mama Abella seorang putri dari bangsa duyung" jelas Eira dengan air mata berlinang.


Nyess, seperti di tusuk jarum, hati Zikon terasa mencelos mendengar penyataan itu, ia sangat kenal dengan tante Abella yang sangat dekat dengan ibunya, walau ia tak pernah bertemu langsung dengan wanita itu, namun ia sering mengintip bundanya saat bersama wanita itu.


dan kini terjawab sudah hal hal yang aneh terjadi padanya. ia mengerti mengapa hatinya sakit saat melihat Eira bersedih, mengapa hati nya begitu hangat saat ia bisa dekat dengan gadis dihadapannya ini, mengapa ia begitu mudah dekat dengan orang yang baru ia kenali, dan terakhir... sudah terjawab mengapa Eira sanga mirip dengan bunda nya.


"adik..." panggil Zikon lemah dengan linangan air mata.


hikss...


dengan Cepat Zikon berdiri dengan sempoyongan dan memeluk erat tubuh adiknya itu, dan disitulah sayap dan taring yang ada mulai memudar seiring dengan pelukan hangat dari mereka ciptakan.


"kakak..." panggil nya dengan sesugukan.


"jangan! jangan pergi lagi. udah cukup kakak berjuang untuk dapat nemuin lu, pliss jengan pergi lagi..." pinta lirih Zikon, membuat Eira mengelus kepala abang nya yang bersadar di bahu sempitnya.


tak lama ia melepas paksa pelukan abangnya tersebut menatap lekat mata dan hidung abangnya yang memerah akibat menangis.


"shutt, lu gak boleh nangis lagi, kita kan udah ketemu! yang perlu kita lakukan sekarang musnahin raga bunda kak!" tutur Eira menghapus lembut sisa sisa air mata kakaknya.


"kenapa? huk" tanya Zikon sesugukan, namun tersirat nada tak suka di dalamnya.


"kakak! jika kita membiarkan Raga bunda terus didunia, raga ini akan perlahan membusuk seiring waktu walaupun menggunakan pengawet, itu akan membuat jiwa bunda yang sudah hilang akan merasa sakit."


"jalan terbaiknya adalah, kita harus memusnahkan raga bunda menggunakan Sihir (kekuatan) suci bangsa elf, agar raga hunda dapat menemukan jiwanya, agar jiwa bunda tenang kakak" jelas nya lembut, mengusap pelan lengan kakaknya memberi pengertian pada kakanya itu.


"tapi-"


"kakak gak ada tapi tapian, kita gak banyak waktu, raga bunda akan segera membusuk, jika kita tidak segera melakukannya" ujar Eira menatap tegas kakaknya itu.

__ADS_1


"baiklah!" Zikon lantas berbalik, dan berjongkok mengambil telapak tangan bundanya yang sangat dingin itu dan meletakkannya tepat di dahinya.


"bunda! maafkan Zio, yang sempat membenci bunda akibat sebuah kesalahpahaman besar, maafkan Zio yang gak bisa melakukan apa apa disaat bunda menghadapi maut itu, maafkan Zio yang baru menemui Eira di umur nya yang sudah sebesar ini bunda, maafkan Zio!" gumam Zikon, dan kembali tersadar saat Eira menepuk pundaknya.


Zikon pun kembali mengangguk mengatakan pada adiknya bahwa ia baik baik saja, dan siap melakukannya.


setelah Zikon bangkit kini giliran Eira yang berjongkok dan mengecup singkat dahi pucat bundanya.


"bunda makasih udah selalu berusaha ngelindungi Eira dari kandungan bahkan sampai Eira lahir, terimakasih sudah membuat Eira bisa melihat keindahan dunia, terimakasih telah menitipkan Eira pada orang yang tepat, dan terimakasih untuk segala-galanya bunda" bisik Eira dengan mata berkaca kaca.


setelah berbicara sekilas, Eira duduk tegap seperti sediakala, menempelkan telapaknya tepat di dahi sang bunda. ia memejamkan matanya merapal matra yang terlintas di kepalanya.


disisi lain, tampak Zikon yang bingung melihat perubahannya. sejak kapan ia bisa berubah menjadi manusia secepatnya ini, walau matanya masih tetap bewarna hijau, tapi ia kagum akan perubahan itu.


karena disaat bulan purnama, ia akan kembali ke wujud manusia tepat di pagi hari. namun...


kembali ia melirik adik perempuannya itu, dan berfikir bahwa perubahannya ini ada sangkut pautnya dengan adiknya itu, ia juga merasa bingung sejak kapan adiknya belajar mantra mantra itu. bukankah ia baru saja berubah ke wujud aslinya di umur ke 17 tahun.


kenapa ia sudah dapat mengontrol dirinya dalam perubahan yang alami.


"kakak!" ia langsung tersentak saat Eira mendongakkan kepalanya menatapnya dengan senyuman.


"lakukan!" titahnya membuat Zikon menarik nafas ragu.


perlahan muncul genangan api ungu di sekeliling tubuhnya, tangannya bergerak mengucap satu mantra yang tak asing di telinga telinga para elf. dalam kedipan mata, Raga tersebut terpecah dan menjadi kunang kunang kecil yang bertebangan meninggalkan kedua makhluk yang menatap kepergiannya.


"semoga bunda bahagia / tenang disana " Zikon - Eira.


...Bersambung...


...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...


...•...


...•...


...•...


...•...

__ADS_1


__ADS_2