ANULIKA EIRA

ANULIKA EIRA
A sudden hug..~17~


__ADS_3

Bara mengangkat kepalanya dan menoleh kesamping saat merasakan sofa disampingnya nya berdecit pelan.


"ngapain lu disini? bukannya lu lagi belajar?" tanya Bara membuat gadis disampingnya tersenyum tipis dan kembali melihat langit langit yang membuatnya takjub.


"gue tanya dijawab dodol!" sentak Bara yang sama sekali tidak membuat sosok Jessika takut.


"lu tau gak? kalau kehidupan manusia itu layaknya awan..." ucap Jessika tanpa memperdulikan pertanya bodoh Sosok Bara.


Bara pun beralih menatap langit yang menjadi objek utama pandangan Jessika saat ini. "awan! terkadang bisa berwarna putih dan suci terkadang bisa berwarna hitam pekat yang menakutkan..."


"kenapa?" tanya Bara menoleh memperhatikan wajah cantik itu yang berseri berseri bahkan rambutnya melambai lambai pelan menyapu pipi putih itu.


"karena dia layaknya kehidupan manusia! tidak akan pernah mulus selamanya dan tak akan pernah terpuruk selamanya!" jelasnya membuat pandangan Bara tak berkedip ke arahnya.


"lu tahu! manusia punya jalan masing masing yang sudah di tetapkan sang pencipta, tergantung diri kita sendiri untuk melanjutkannya bagaimana..."


"dan lagi gue paling benci saat orang mengatakan, tuhan gak adil sama gue, tuhan jahat sama gue dan semacamnya... Tcih memalukan!"


"bukan tuhan yang tidak adil, tapi diri lu sendiri yang gak pandai bersyukur, disatu sisi jika kehidupan lu selalu terpuruk hanya satu jawaban nya, tuhan hanya ingin lihat seberapa mampu lu melewati itu"


"karena tuhan kita gak akan memberikan sesuatu yang sulit melebihi kemampuan kita, karena sesuatu yang buruk tidak akan selamanya dan sesuatu yang bahagia juga tidak akan kekal"


"terpuruk! bahagia! adalah satu pasangan yang tak ada yang nampu memisahkan dan menghilangkannya. tuhan hanya ingin melihat makhluk nya merasakan kedua rasa itu untuk membuat nya lebih mengerti makna kehidupan! jika memang lu belum bisa menemukan titik terang"


"lu gak usah panik! segala sesuatu ada jalan keluarnya, karena setiap manusia punya rahasia masing masing, bukan hanya elu! gue, Darrel, Gavin, dan Eira! kami memiliki rahasia masing masing yang harus kami simpan rapat rapat..." terang nya membuat Bara nenatap sendu langit biru di atasnya.


"kalian semua gak bakalan ngerti kesakitan yang gue rasain" lirihnya membuat Jessika melirik kearahnya.


"benar! gue gak bisa rasain, tapi gue hanya bisa mengingatkan! lu gak bisa terpuruk begitu terus, lu masih mempunyai teman teman yang betul betul sayang sama lu"


"Darrel! Gavin! mereka memang cuek, gue dapat rasain itu! tapi di diri mereka, mereka turut mengkhawatirkan keadaan lu yang kaya begini Bar..." ujarnya membuat Bara menutup wajahnya menggunakan telapak tangan nya.

__ADS_1


dan disaat itu Jessika kaget saat melihat tubuh bergetar Bara yang membuat nya menyadari bahwa lawan ngobrol nya kini tengah menangis tanpa suara.


ia baru menyadari bahwa sosok Bara pun dapat menangis, sosok yang begitu keren, gagah dan selalu menebarkan pesona dan tersenyum dengan sifat angkuhnya. ternyata memiliki sisi rapuh yang mampu melelehkan dinding kedinginan sosok Jessika.


Ia beranjak dan berdiri tepat di hadapan Bara mengahalangi matahari yang mengenai Wajah Bara yang tertutup itu menggunakan punggung mungilnya.


"gue gak akan maksa lu buat nyeriatain semua masalah sama gue ataupun sama sahabat sahabat lu, karena gue maupun Eira pernah diposisi ini! dan saat dimana gue mau cerita gue pasti cerita, dan gue yakin lu punya alasan yang kuat tentang ini semua!" ujar Jessika mengelus rambut tersebut dengan lembut.


grep


Jessika tersentak kaget saat tangan yang menyentuh rambut Bara di tangkap oleh tangan besar milik Bara. Bara menatap tangan itu dengan seksama sampai akhirnya ia beralih menatap Jessika yang menampilkan raut anehnya.


Jessika pun ingin sekali terawa melihat wajah tampan Bara dihadapannya kini tampak sangat imut. kulit putih Bara dengan mudah menampilkan warna merah yang tercetak jelas di pipi dan ujung hidung Bara usai menangis.


ia menggulum bibirnya menahan tawa yang ingin meledak itu.


namun ia kaget saat Bara manarik pinggang nya dan memeluknya begitu erat, membenamkan kepala itu di perut Jessika. ia menelan kasar ludah nya tanpa membalas pelukan itu, bahkan tangannya menggantung di udara merasa gugup dengan keadaan begini.


"elus...." pinta Bara membuat Jessika cengo.


"Hah?"


"ishh... elussss..." rengek Bara sambil meletakkan tangan Jessika yang tergantung di udara ke atas kepalanya.


Jessika mengerjabkan matanya berkali kali menyesuaikan pendengarannya yang tak salah dengar tentang apa yang Bara ucapkan.


"haaa... elusss..." rengek Bara sambil menampilkan mata yang berkaca kaca itu membuat Jessika meneguk kasar salivanya. "sialan nih cowo! " makinya dalam hati.


akhirnya dengan berat hati ia mengiyakan permintaan itu, tangan mungilnya mengelus pelan rambut yang terasa lembut di tangannya. ia merapikan rambut tersebut yang tampak berantakan. namun matanya menoleh kesamping saat masih ada sebatang rokok hidup di atas kotak rokoknya.


"pantesan dari tadi hidung gue nyium bau kagak enak, ternyata nih bau rokok! " desisnya pelan dan beralih mengambil rokok tersebut dan membuangnya sembarang.

__ADS_1


"Bar!" panggilnya yang sama sekali tak di tanggapi oleh Bara.


namun ia mendengar dengkuran halus yang terasa terembus teratur di seragamnya.


"nih cowo tidur ya?" ia pun mengangkat sekilas wajah Bara, dan seperti dugaan nya lelaki tersebut sudah tertidur tenang layaknya bayi polos tanpa dosa.


"dasar nih cowo aneh banget kelakuannya!" Jessika pun membantu Bara untuk tidur dengan tenang diatas Sofa lapuk tersebut dengan benar sampai akhirnya bunyi pintu terbuka mengalihkan pandangan Jessika.


"gimana?" tanya Darrel yang baru memasuki ruangan tersebut.


"dia udah baik baik aja, jadi kalau dia bangun nanti, jangan tanya apapun yang membuatnya mengingat masalahnya, karena gue juga gak tau masalahnya apa!" sahut Jessika menghadap ke arah Darrel.


"oke kerja bagus!"


"gue gak perlu pujian dari lu! anggap aja ini sebagai tanda terimakasih dan simpati gue" setelah mengatakan itu Jessika meninggalkan Rooftop.


meninggalkan senyum miring di bibir Darrel dan senyum tipis di bibir Bara yang tertidur itu


"udah bangun lu! ngapain coba acting pura pura tidur, basi tau gak!" celetuk Darrel dan menghidupkan batang rokoknya.


"Tcih ... bukan urusan lu, and btw thanks udah undang tuh cewe kesini!" ujar Bara dan kembali berbaring membuat Darrel diam diam tersenyum tipis.


...Bersambung...


...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆ ...


...•...


...•...


...•...

__ADS_1


...•...


__ADS_2