ANULIKA EIRA

ANULIKA EIRA
Unplug...~45~


__ADS_3

Brak!


kedua teman Eira tersentak kaget saat Eira melemparkan tasnya ke atas meja, lalu duduk dengan menyembunyikan kepala nya di dalam lipatan tangannya.


Jessika dan Jihan tentu saja penasaran dengan apa yang terjadi pada sahabat mereka itu.


"ra? lu kenapa?" tanya Jessika sambil mengelus punggung Eira.


"...."


sunyi tak ada jawaban dari Eira, keduanya sontak saling pandang dan mengode lewat mata mereka, untuk sama sama membujuk Eira. mereka yakin ada sesuatu yang terjadi kepada sahabatnya itu.


awalnya mereka ingin menggosipkan perihal Lily yang sedang trending topic di sosial media. namun melihat keadaan sahabat mereka yang seperti nya sedang tak baik baik saja, membuat keduanya lupa akan perbincangan awal mereka.


"Ra! lu kenapa sih" tanya Jihan sudah mulai kesal.


"ke apartement" setelah mengatakan itu, Eira langsung bangkit dari duduknya smabil menggunakan kaca mata hitam yang entah dari mana ia dapatkan.


Jihan dan Jessika tersentak saat tak sengaja melihat mata sembab Eira. dan itu semakin membuat keduanya penasaran.


"ra tunggu!" dengan sepakat keduanya mengambil tas mereka untuk menuju ke parkiran menyusul Eira.


dan sepertinya hari ini dewi fortuna tak memihak dengannya sehingga ia harus bertemu dengan pasangan yang benar benar membuat nya jengah, melebihi kejengahannya saat melihat kedekatan Gavin dan Lily.


"mau kemana lu?" pertanyaan dengan suara dingin itu, langsung membuat Eira mengusap telinganya.


"minggir lu!" tekan nya menatap sang ketua osis yang menghalangi langkahnya. siapa lagi jika bukan Bryan.


"lu mau kemana bawa tas begitu Ra? bentar lagi masuk loh" tanya amel membuat Eira berdecak.


"kepo banget lu berdua, gue bilang minggir!" tekan nya sekali lagi membuat keduanya memasang sikap was was.


"tcih merepotkan!" Bukh*


satu bogeman mentah melayang di perut Bryan dari Eira, kaki jenjang nya ia gunakan menedang tulang kering Bryan membuat Bryan jatuh tersungkur di koridor.


semua murid menatap hal tersebut dengan takjub, bagaimana tidak? meskipun Eira anak yang nakal, namun ia tidak pernah menggunakan kekerasan. namun hari ini ia melihat sendiri bagaimana Eira membuat Bryan tersungkur.


"LU APA APAAN SIH RA!" bentak Amel yang sama sekali tak di pedulikan oleh Eira. "gue udah bilang minggir kan salah kalian sendiri yang gak mau minggir" setelah mengatakan itu Eira beralih melewati Bryan dan Amel sambil memebenarkan kaca matanya.


disaat murid murid tengan sibuk memperhatikan perkelahian itu, Jihan dan Jessika menggunakan waktu secepatnya kabur dari sana.


sedangkan tanpa keduanya sadari, Darrel menatap kedua teman Eira yang berusaha kabur sambil membawa ransel masing. "cabut kuy" ajak Darrel membuat Gavin dan Bara mengangguk menyetujui. sudah lama mereka tidak merasakan cabut cabutan.

__ADS_1


"seperti nya kali ini akan seru."


...*****...


"lu kenapa bar?" tanya Gavin yang saat itu tengah mengendarai mobilnya.


"engga!" Gavin mengernyit saat Bara menjawab pertanyaannya dengan acuh. "lu ada masalah bar?" tanya Gavin lagi.


dan lagi lagi Bara menggeleng sambil menfokuskan dirinya terhadap ponsel yang ia pegang.


Melihat respon Bara yang bukan seperti biasannya, membuat Gavin melirik ke arah teman di belakangnya, berbeda seperti Gavin, Darrel berusaha beracting seolah olah ia tak tahu masalah apa yang sedang melanda sahabatnya.


"dengan mata mereka berdua saling mengode satu sama lain, sampai suara Bara menyadarkan keduanya "Vin! bawa mobil jangan liat kebelakang" gerutu Bara tanpa menoleh ke arah pelaku.


seakan mengerti Gavin pun mengangguk, dan kembali Fokus terhadap mengendarai mobilnya. "Bar! gimana.. lu udah nemuin keberadaan adek lu?" pancing Darrel, Gavin pun turut menoleh.


"ohiya yah? giman bar?" tanya Gavin seolah membantu Darrel, padahal ia tak tahu apa apa.


Darrel melihat sendiri bagaimana Bara meremas ponsel nya, walaupun tak terlalu terlihat, tetap saja Darrel dapat melihat tangan Bara yang bergetar walau sedikit.


sunyi...


"bar?" panggil Darrel.


"belum!"sahutnya singkat.


Gavin pun mengangguk mengerti. seolah ia mengerti apa yang Bara rasakan, namun salah! semua tak semudah fikiran Gavin. hal yang tejadi kali ini pada hubungan persaudaraan Bara semakin memburuk.


namun disaat kegalauan itu, ia teringat sebuah insiden yang sudah lama ingin ia bahas kepada Gavin dan Darrel.


"Vin!" panggil Bara membuat Gavin maupun Darrel menoleh.


hemm.. dehem Gavin dan kembali fokus kepada menyetirnya.


"gue tahu ini kejadian udah lama, kalau gue gak salah kejadian ini saat turun salju pertama 3 bulan yang lalu" tukas Bara membuat keduanya mengernyit.


"kejadian apa?" tanya Gavin membuat Bara menghela nafas.


"saat itu tepatnya saat malam. ada penyerangan tiba tiba di masion utama, dan yang aneh nya mereka ngebunuh semua pengawal yang ada disana termasuk para pelayan. namun saat papa sampai, dia masih melihat seorang pelayan yang sedang sekarat.


"dan yah! pelayan itu mengatakan bahwa yang menyerang mereka hanya dua orang, satu laki laki dan satu perempuan, dan yang aneh nya mereka mirip dengan iblis" jelas nya dan semakin membuat bingung kedua temannya.


"kenapa lu gak pernah cerita?" tanya Gavin kesal.

__ADS_1


"haish gue lupa Vin! dan yah mereka meninggalkan sebuah surat bertulisan darah, yang tertulis... ini masih lah permulaan" jelas Bara kembali sambil mengingat ingat.


mereka lagi lagi mengernyit.


"masa iya ada siluman di jaman sekarang gak percaya gue" celetuk Darrel membuat Bara mendelik.


"ade gue juga bukan sepenuhnya manusia, jangan sebut dia seolah dia najis buat lu." Sarkas Bara membuat Darrel menyengir.


"sorry sorry bercanda elah..."


"udahlah, nanti gue bantu selediki masalah itu, nanti malam datang kerumah rel! ada yang ingkn gue bahas" sahut Gavin membuat keduanya mengangguk. "Thanks" singkat Bara yang disahut deheman oleh Gavin.


"yaelah, kalau mereka berdua udah kumat, datar nya sama samaan mulu. heran kenapa gue bisa dapet temen kayak mereka sih" gerutu Darrel dengan pelan, namun masih bisa terdengar oleh kedua manusia didepannya.


cittt


Setelah memarkirkan mobil tepat di parkiran apartement Eira. Jihan maupun Jessika langsung beranjak masuk kedalam menyusul sang teman yang sudah terlebih dahulu sampai.


tanpa ingin menekan bel, keduanya langsung memasukkan kode. memang seperti itu mereka. selalu masuk menerobos tanpa permisi, namun aslakan kalian tahu! Apartement Eira merupakan tempat rahasia mereka bertiga, dari kecil hingga dewasa kini. tak ada satu pun yang berani masuk kecuali hanya sekedar duduk di sofa.


Diam diam dalam selimut, sosok Jessika adalah seorang Hacker yang handal, hanya saja ia malas untuk melakukan hal hal yang tak terlalu penting baginya. Diantara kedua sahabatnya hanya dia yang memiliki tahan tarung yang paling lemah. namun memiliki otak yang cemerlang.


"Ra! lu kenapa?" tanya kedua nya, membuat Eira yang sedang meringkuk di atas Sofa, langsung memeluk Jessika yang duduk di sebelahnya.


"eh? lu nangis? ada apa Ra. bilang sama gue, atau jangan jangan Gavin nyakitin lu lagi iya?" tanya Jessika dengan gemertak gigi. Dengan cepat Eira menggeleng berusaha meyakinkan kedua sahabatnya bahwa bukan Gavin lah pelakunya.


"Jika hukan Gavin, siapa lagi ra?" tanya Jihan berusaha lembut sambil mengusap kepala Eira.


"gue mau cerita sesuatu, tapi gue harap setelah gue ungkapin ini, kalian.. jangan jauhin gue ya! tapi jika kalian ngejauhin gue juga, gak papa gue gak maksa" pinta Eira membuat keduanya lagi lagi mengernyit.


"Eira cerita!"


...Bersambung...


...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...


...•...


...•...


...•...


...•...

__ADS_1


__ADS_2