
setelah memarahi Jessika tadi, Gavin bergegas kembali kegedung sekolahnya untuk mencari sosok yang sangat ia khawatirkan kini.
ia membuka satu persatu pintu yang belum di kunci itu. walaupun waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. namun ia tidak berhenti mencari keberadaan Eira.
begitu juga dengan Bara, Jessika dan Darrel. mereka pun turut mencari keberadaan Eira yang sudah hampir sejam itu menghilang.
"isshh.. lu dimana sih Ra!" gerutu Jessika yang tak bisa menghentikan tangisnya.
"udah! lu gak usah bawel..." sahut Bara tanpa menoleh.
"tunggu! tunggu gue punya firasat kalau dia sekarang ada di fakultas sebelah" celetuk Jessika membuat keduanya menoleh ke arahnya.
"ngapain tuh bocah main kesana?" tanya Bara dengan heran.
"bener kata Bara, Jessi! gak mungkin Eira main ke fakultas samping, kurang kerjaan banget..." sahut Darrel yang langsung mendapat gelengan dari Jessika.
"kalian gak tau, Eira gak pernah kayak gini, gue curiga dia di culik" tangis Jessika semakin pecah saat ia menuturkan itu.
"astaga! yaudah kita coba cek disana, tapi kita hubungi Gavin dulu biar kita bareng bareng kesana!" ujar Darrel yang langsung di angguki oleh Jessika.
"ribet banget jadi cewe" perkataan itu sontak Bara mendapatkan pijakan maut dari Jessika di kakinya.
"lu gak pernah huk rasain jadi huk cewe... hiks hiks hikss..." tangis Jessika dengan sesugukan.
"Bar! jangan buat dia nangis lagi deh, cape gue denger..." protes Darrel menatap tajam temannya itu.
"yaelah..." tanpa menunggu lama, Bara menarik tubuh Jessika dan membawanya kedalam dekapan hangat nya.
ia dapat merasakan seragamnya basah. ia juga tau Jessika menggenggam seragamnya dengan erat. ia pun hanya bisa mengelus punggung dan rambut gadis dipelukannya ini, untuk menenangkannya.
...*****...
"eghh...." perlahan mata cantik itu terbuka menampilkan manik coklat madu itu yang menatap aneh sekelilingnya yang tampak gelap.
"dimana ini?" tanya nya takut.
ia tidak takut kegelapan, hanya saja! kegelapan selalu membawanya kedalam mimpi aneh yang selalu ia usahakan untuk melupakannya.
"mama! Eira takuttt..." lirihnya menatap takut sekelilingnya, dan dalam beberapa detik pening merundungi kepalanya. ia merasakan kepalanya berat namun ia tetap berusaha untuk sadar.
Disisi lain Abel yang baru saja pulang dari kantor bersama suaminya itu tiba tiba saja merasakan sesak didadanya. ia merasakan ada sesuatu yang aneh. dan ia dapat mendengar suara putrinya memanggil namanya.
Dion yang saat itu berdiri di samping nya lansung menahan tubuh istrinya yang hampir ambruk itu.
"sayang ada apa?" tanyanya kepada wanitanya itu.
"kita harus pulang hari ini" ujar nya dengan kekhawatiran yang tercetak jelas diwajah cantik yang sedikit keriput itu.
"ada apa?" tanya Dion merasa aneh .
__ADS_1
"aku merasakan sesuatu yang aneh terjadi kepada Eira, aku dapat mendengar suara nya yang memanggilku mas..." adunya membuat Dion tiba tiba merasa khawatir.
"baiklah kita akan berangkat malam ini ke Jerman!" ujarnya yang langsung di angguki oleh istri tercinta.
Back...
Braakkk...
Eira terjengkal kaget saat mendengar suara benda jatuh itu, dengan perlahan ia berjalan ke arah pintu yang menjadi sumber suara jatuh itu. dengan pencahayaan remang ia berusaha mencari sumber yang ia cari.
dapat ia melihat sebuah toples bulat dan ia juga melihat benda benda panjang yang berserakan banyak di lantai.
ia pun berinisiatif mengutip benda benda tersebut. namun saat jari jari nya menyentuh permukaan benda tersebut ia melotot kaget saat merasakan benda tersebut bergerak gerak di ujung jarinya.
dan saat menyadari sesuatu... "mama...! tolonggg...." teriaknya dan jatuh terduduk.
ia mulai menangis dan meringsut menjauh saat melihat ulat ulat itu semakin banyak dan semakin mendekatinya.
"hikss.. pergi... hkkss... pergiii!" teriak nya takut bahkan tubuhnya bergetar hebat.
ponselnya? jangan tanyakan dimana ia sudah kehilangan ponsel nya saat ia sadar dari pingsannya.
"mama.... Jessii... tolongg... PAPA..." teriaknya semakin panik dan takut saat melihat ulat ulat tersebut terseok seok di hadapannya.
sttt...
sudah ia duga memori itu datang kembali, ia tidak tau mengapa ia selalu dapat melihat memori memori aneh saat ia tidak dapat mengontrol emosinya dengan baik.
namun bukan hanya itu. ia juga dapat melihat seorang wanita cantik memakai pakaian putih polos dengan rambut ikal kecoklatannya, mata coklat dan kulit seputih susu itu, mengingatkan Eira bahwa sosok itu sangat mirip dengannya.
dan terkahir bayangan Seorang lelaki tampan berpakaian jas formal dengan gaya yang arogan dan angkuh, pistol selalu di tangannya. dan yang membuatnya heran, laut...! di bayangan itu juga menampilkan Laut yang sangat indah namun Auranya sangat mencekam.
"mama..." lirihnya saat tubuhnya mentok di pojok. bahkan ia memejamkan matanya menahan pusing, sesak dan ketakutan yang menyerangnya sekaligus.
"tolong...." lirinya dengan pandangan yang mulai redup.
BRAK....
ia menyipitkan matanya saat ia mendengar dobrakan pintu yang sangat kencang, ia juga melihat bayang seorang laki laki mendekat ke arahnya.
"sayang bangun..." bisik sosok itu yang terus menepuk pipi nya pelan. bahkan ia dapat merasakan ciuman yang terus di berikan sosok itu di keningnya.
"bangunn... please jangan nutup mata kamu, aku disini aku disini..." bujuk nya.
"ulat..." sahut Eira sambil menunjuk ulat ulat yang sudah di pijaki oleh sosok itu.
"kamu takut ulat?" tanya sosok tersebut saat menyadari banyak nya ulat di sekitarnya.
Eira mengangguk dengan lemah mendengar pernyataan itu, sosok itu pun menggeram marah, setelahnya ia pun menggendong Eira dan segera membawanya keluar dari ruangan laknat itu.
__ADS_1
"makasih Gavin" ucapnya sebelum mata itu tertutup.
Gavin pov~
setelah mendapat kabar dari Darrel bahwa mereka curiga bahwa Eira berada di fakultas sebelah, Aku pun berlari sekencang mungkin ke arah Fakultas untuk memastikan dugaan mereka. walaupun sebenarnya aku kurang yakin.
sepi...
seperti dugaan pertama, Fakultas ini tampak sepi dan tak berpenghuni. walaupun sebenarnya aku tahu tak mungkin ada orang yang masih berada di fakultas ini..
srttt..srtt..
aku langsung menoleh ke arah 3 tong minyak yang ku yakini tidak terisi itu dengan curiga. aku rasa ada orang di salah satu tong tersebut.
dan benar dugaan ku setelah aku membuka tong tersebut tampak seseorang sedang bersembunyi disana.
"bapak ngapain?" tanya ku datar.
"adek siapa?" tanya bapak tersebut takut.
"saya murid di SMA sebelah pak!" sahutku datar.
"kamu tidak jahat kan seperti anak anak tadi?" tanya bapak tersebut membuat ku mengernyit.
"pak keluar dulu!" titahku dan membantu pria paruh baya yang aku yakini pembersih kampus ini untuk keluar.
"maksud bapak apa ngomong gitu?" tanya ku setelah membantu bapak tersebut keluar.
"tadi saya melihat seorang gadis SMA memakai seragam seperti kamu bersama dengan tiga pria memakai pakaian gelap, dan membully seorang gadis berambut ikal yang berseragam seperti kamu juga" ujarnya membuat ku melotot.
"bapak tau mereka membully gadis itu dimana?" tanya ku panik.
"itu! mereka mengunci gadis yang sudah pingsan itu ke dalam lab bekas percobaan mayat di lantai atas" ujar Bapak tersebut membuat ku semakin takut.
"bisa bapak antar saya kesana, dia pacar saya pak!" ujar ku panik membuat pria paruh baya tersebut mengangguk.
mereka pun berlari menuju ketempat kejadian, sampai disana aku menatap pintu tersebut dengan marah, bagaimana bisa gadisku di sembunyikan di tempat seperti ini.
"ini tempatnya dek!" tanpa menunggu lama aku langsung mendobrak pintu tersebut dengan sekali tendangan.
BRAK...
...Bersambung...
...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...
...•...
...•...
__ADS_1
...•...
...•...