ANULIKA EIRA

ANULIKA EIRA
Debate..~16~


__ADS_3

"gimana udah ketemu pelakunya?" tanya Gavin kepada Darrel yang baru saja memasuki Rooftop.


"belum vin! pelakunya pintar, gak ada satu jejak pun yang tinggal!" sahut Darrel membuat Gavin kembali menggeram marah.


ting...


detingan ponsel Gavin membuat ia segera merogoh saku kemejanya.


+**0967.......


💌**Gambar


Gavin mengernyit melihat pesan yang terkirim di ponsel nya. ia pun mencoba membuka gambar tesebut. awalnya ia sama sekali tidak tertarik melihat gambar pasangan yang sedang berbincang itu.


namun! ketika ia sadar, mata nya melotot sempurna saat mengenali bentuk tubuh dan tempat mereka berada. rahangnya dan urat nya menegang keras sampai urat urat biru itu menonjol keluar.


"sialan! siapa bajingan ini" pernyataan Gavin dengan suara dinginnya mampu membuat sosok Darrel kaget dan ketakutan.


"BRAAK!"


pintu yang di dobrak kencang membuat atensi Darrel maupun Gavin menoleh ke arah seorang laki laki yang berjalan santai ke arah mereka.


namun satu yang mereka aneh kan, tampang itu tidak seperti biasanya, tampang itu tampak dingin dan kaku sekarang. bahkan sosok yang begitu mereka kenal dengan kecerewetannya itu kini tampak pendiam dan aneh.


dan pemikiran mereka terjawab saat melihat teman mereka yang satu itu menghisap rokok dengan santuynya.


siapa lagi jika bukan Bara! namun yang mereka anehkan seorang Bara tak akan mengosumsi Rokok jika dia tidak memiliki masalah, dan itu pun berlaku kepada Gavin.


berbeda dengan Darrel yang sudah menjadi candu tersendiri baginya, jadi jangan heran jika Darrel sering mengosumsi rokok secara berlebihan.


"kenapa lu?" tanya Darrel bersandar pada pembatas Rooftop.


"gak papa!" sahutnya datar.


"lu ada masalah?" tanya Gavin seakan lupa dengan masalah awalnya.


"engga!" sahut Bara singkat.


"lu kenapa sih? aneh banget lu hari ini!" celetuk Darrel merasa kesal.


Gavin pun memutuskan untuk pamit dan mengurus masalah gadisnya. namun sebelum ia meninggalkan tempat tersebut ia terlebih dahulu berpesan sesuatu kepada Darrel membuat Darrel mengangguk.


"Bar! gue ke bawah dulu nanti gue balik lagi" ujar Darrel yang membuat Bara mengangguk singkat.


"emm.." dehemnya.


...*****...

__ADS_1


Disisi lain, Darrel berjalan ke arah kelas Eira yaitu kelas XI Mipa 3 yang berada di lantai dua.


dengan gaya cool nya ia mengetuk pintu tersebut membuat semua atensi beralih ke arahnya termasuk Guru yang sedang mengajar.


Darrel terlebih dahulu menunduk hormat kepada sang guru membuat sang guru membalasnya dengan senyum. disaat itulah kelas yang tadinya sepi layaknya kuburan kini riuh bagaikan pasar.


"kyaaa... mimpi apa gue semalam sampe kak Darrel datangin kelas gue"


"kelas gue juga dodol "


"berisik suami gue datang"


"aaa selingkuhan gue datang... eh engga ding gue rela jadiin dia pacar gue, kalau dia mau ..."


"dih mimpi lu ketinggian! liat aja kak Darrel bakalan gue dapetin"


"dih, Rival gue nih! "


"gak ngapa ngapa deh kalau gue ga dapet kak Gavin maupun kak Bara, kak Darrel juga gak papa"


"kapan gue bisa seganteng Gavin, sekeren Darrel dan semanis Bara! "


"ngimpi lu..."


"ngapain tuh orang datang kesini, bikin rusuh kelas aja, walau gue awalnya ngefans sama dia tapi sekarang engga! " hanya satu orang yang berani bergumam seperti itu. siapa lagi jika bukan Jessika. jika disini ada Eira ia pastikan Eira akan mengatakan hal yang sama.


"ternyata kalau temannya yang satu dingin, pasti yang satunya terbawa juga sifatnya..." gumam nya dalam hati sambil tersenyum miring membuat kelas tiba tiba menjadi gempa sorakan fandom Darrel.


"Jessi! gue mau lu ikut gue sekarang"


BHUM!


bagaikan di lempar batu Jessika langsung memelototkan matanya ke arah Darrel yang menatapnya dengan senyum sinis.


"sialan Darrel kampret! gak tau apa dia, gue bisa diserang sama fans fansnya dia disekolah ini..." gerutunya dalam hati dan melirik sekelilingnya yang sudah menatapnya dengan horor.


"busettt! ngeri banget tatapan mereka mending gue ketemu preman nih begini dari pada dihadapkan dengan macan macan betina begini! " gumamnya kembali dalam hati.


"gue!" tanya Jessika menunjuk dirinya sendiri yang dibalas deheman oleh Darrel.


ia pun melirik ke arah guru disamping Darrel dan guru itu pun tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


"oke!" ia pun membereskan meja nya dan beranjak berdiri.


"dasar belagu banget, dia tuh gak sekaya Eira udah sebalagu itu Tcih! " gumam siswi siswi yang didekatnya.


"sebelum tuh mulut gue buat gak berfungsi. lebih baik lu buat dia nutup rapat rapat deh" sarkas Jessika membuat siswi siswi tersebut terdiam.

__ADS_1


diluar hening tercipta antara Darrel maupun Jessika. hanya saja Darrel memasang wajah datarnya dan Jessika memasang wajah juteknya menahan kesal.


"lu mau bawa gue kemana sih?" sentak nya yang sudah lelah diajak menaiki tangga.


"ke rooftop!" sahutnya singkat.


"ngapain coba ke rooftop! lu jangan macam macam ya sama gue" tuduh Jessika membuat Darrel memutar matanya malas.


"gak selera juga gue sama tubuh lu yang toples begitu" sahutnya datar membuat Jessika ingin sekali menghujatnya.


"terus lu ngapain ajak gue ke Rooftop ..." tanya nya mencoba bersabar.


"bujuk Bara!" sahut nya datar membuat Jessika menghentikan langkahnya.


"siapa yang lu suruh? gue?" tanya nya memastikan.


"terus selain lu siapa, setan!" ketus Darrel merasa kesal kepada gadis di belakang nya.


"dih ogah kenapa harus gue! lu apa gunanya sebagai teman kalau gak bisa bujuk temen sendiri" sindirnya sambil bersedekap dada.


"gue cowo! gak pinter soal bujuk bujukkan, makanya gue nyuruh lu" sahutnya dan kembali menarik Jessika membuat Jessika mendelik ke arahnya.


"kenapa harus gue coba?" keluh Jessika merasa malas.


"karena di antara semua wanita, cuma lu sama Eira doang yang deket dengan kita kita! yakali Eira yang ngebujuk. orangnya aja kagak ada" jelas Darrel dan melepaskan tangan nya saat mereka sudah di depan pintu Rooftop.


"untuk kali ini gue mohon sama lu, please. bantu gue tenangin Bara gue gak tau masalah apa yang menimpa dia"


"tapi... dia gak biasamya begini, dan gue gak mau gara gara masalah ini, Bara nekat untuk pergi ke tempat terkutuk itu lagi" jelas Darrel membuat Jessika mengernyit.


"maksud lu klub?" tanya nya memastikan dan dapat ia lihat anggukan samar dari Darrel.


"astaga! kalian itu masih SMA loh! udah berani ketempat terkutuk begitu? waras lu pada?" tanya nya kesal.


karenaĺ memang mau dia ataupun Eira sangat membenci tempat terkutuk itu, mereka memang pernah memasuki tempat tersebut namun setelah nya mereka langsung keluar, mereka tak menyangka tempat busuk seperti itu banyak yang mendatanginya.


"please! kali ini gue mohon! tenangin Bara!" bujuk Darrel kembali membuat Jessika akhirnya mengangguk pasrah.


...Bersambung...


...<☆>☆<☆>☆<☆>☆<☆>...


...•...


...•...


...•...

__ADS_1


...•...


__ADS_2