ANULIKA EIRA

ANULIKA EIRA
First kiss.. ~39~


__ADS_3

3 bulan berlalu melewati hujan salju yang sangat lebat di kota mereka, akhirnya mereka kembali disungguhkan dengan pemandangan alam yang mencair, ya! mereka sudah mencapai di titik musim semi.


tampak seorang gadis berdiri di sebuah bukit memakai mantel dingin, sebuah syal dan sarung tangan. rambut coklatnya ia biarkan tergerai indah, menyapu wajah nya dengan lembut.


"sampai kapan lu mau disini dek?" tanya seseorang yang berhasil membuyarkan lamunannya.


"kakak!" ia beralih memeluk erat kakaknya itu tanpa menjawab pertanyaan bodoh yang sempat terlontar.


"ngapain lu disini?" tanya Eira sambil melepaskan pelukannya.


"ini tempat umum kali, wajar aja kalau gue ada disini..." sahut Zikon sambil mengelus surai adiknya dengan lembut.


"lu sendiri ngapain kesini?" tanya Zikon tanpa mengalihkan tatapannya.


"cuma cari angin dan nyegerin mata" sahut Eira sekenanya.


"ouh ya? gimana hubungan lu sama cowo yang ada di taman rumah sakit waktu itu?" tanya Zikon membuat Eira membeku.


"gue ga ada hubungan apapun lagi sama dia..." sahut Eira malas.


"lu yakin, mau nyia nyiain cowo sebaik dan setulus dia, gue bisa liat dari tatapan matanya kalau dia memang sayang banget sama lu dek" ujar Zikon beralih merangkul adiknya.


"udah lah, gak usah bahas dia..." ketus Eira menatap kesal pemandangan dihadapannya.


"baiklah baiklah" kekeh Zikon tak ingin bertanya lagi.


"siapa cowo itu?" geram Gavin dari arah belakang mereka. "sial!" umpatnya saat melihat Zikon beralih memeluk erat tubuh Eira.


"sekalipun gue gak akan pernah ngelepasin lu ra! cam kan itu" gumamnya marah dan masih setia mengamati.


3 bulan! 3 bulan lamanya ia memendam rindu kepada sosok yang berhasil menyekap hatinya dalam beberapa hari, ia ingin semuanya berkahir, namun ia tak berani melakukannya. takut takut Lily akan menyakiti sosok yang ia sayangi.


namun tak berapa lama Gavin melihat Zikon yang meninggalkan Eira sendirian disana, sepertinya pria itu sedang mencari sarapan atau minuman, dan ini saat nya ia beraksi.


greb


Eira tersentak kaget saat tangannya dengan sedikit kasar ditarik hingga tubuhnya berhasil berdiri. setelahnya tubuhnya langsung membeku saat sebuah tangan melingkar di perutnya dari arah belakang.


"siapa lu?" tanya Eira berusaha memberontak.


"pliss biarin kayak gini dulu ra! gue kangen sama lu" bisik Gavin membuat Eira merinding.


"Gavin lepasin gue, gue gak mau lu sentuh, lepasss..." teriak Eira dan berusaha melepaskan pelukan itu.

__ADS_1


cup~


Eira membeku saat tiba tiba Gavin membalik tubuhnya dan mengecup sekilas bibirnya. tampak dari wajah Gavin yang tersenyum lembut, bahkan tangannya tak bergeser sedikitpun.


"honey, aku sudah katakan jangan menjauh dari ku bukan? aku mencintaimu tak bisakah kau merasakan nya?" tanya Gavin dengan wajah sedih.


"cinta lu bilang? apa berpacaran dengan gadis lain, dan membelanya secara terang terangan di depan gue itukah cinta hah!" teriak Eira menahan tangisnya.


"honey dengarkan aku-"


"berhenti omong kosong Gavin! lepasin gueee..." teriak Eira berusaha kembali berontak.


"sayang-"


"lepas breng- mhhhhh" Mata Eira melotot sempurna saat lagi lagi Gavin melayangkan ciumannya yang mampu membuat Eira mati kutu.


ia kembali terkejut saat Gavin menggerakkan bibirnya di atas bibir miliknya, hingga mereka terlarut didalam permainan yang Gavin buat.


setelah hampir bermenit menit mereka melakukan ciuman tersebut, Eira langsung memukul dada Gavin untuk melepaskannya, karena ia mulai kekurangan oksigennya.


"lu...-" Eira menatap marah ke arah Gavin yang masih tersenyum miring.


"dengar! apapun yang aku lakukan saat ini, adalah demi kebaikanmu, aku tak ingin kau terluka itu saja, jangan pikirkan yang aneh aneh kau paham! dan satu hal lagi aku tak ingin kamu dekat dengan laki laki lain" ujar Gavin merapikan rambut Eira yang menghalangi penglihatannya.


"gue pergi cup~" Eira kembali kaget saat Gavin meninggalkan ciumannya di dahi Eira, sebelum ia melangkah pergi.


"Gavin sialan!"


"itu ciuman pertama gue..." cicitnya malu. sedangkan Gavin tertawa kencang mendengar Eira memaki namanya.


"WOI!"


"astaga kodok terbang?" latahnya saat sosok Zikon mengagetkannya.


"jangan ngagetin gue kakk..." protes nya yang masih memegang dadanya.


"lu sih, melamun mulu, lamunin apa lu? jangan bilang lu lamunin yang macam macam sambil megang dada begitu" tuduh Zikon membuat Eira mendelik kearahnya.


"pingin di tampol lu ya..." ucap Eira sambil mengangkat tangannya.


"hahaha gue becanda elah.." dengan Cepat Zikon beralih merangkul adiknya sebelum adiknya menganiyaya tubuh indahnya. oh tidak!


"ohiya mulai besok lu kan udah masuk sekolah tuh, mau gue anterin?" tawar Zikon membat Eira berfikir.

__ADS_1


"gak usah deh bang gue bisa bawa mobil sendiri" sahut Eira cuek. "mana bisa begitu, gue kan sesekali mau jalan jalan juga sama lu" protes Zikon yang tak di tanggapi sama sekali.


"lagian lu kan besok kerja tuh, lebih baik lu urus pekerjaan lu aja" suruh Eira membuat Zikon mengangguk pelan.


"yaudah deh kalau lu gak mau" sahut Zikon beralih menatap hamparan hijau di hadapannya.


"kak?" panggil Eira yang dijawab deheman oleh Zikon.


"lu pernah tinggal di rumah ayah kita bukan? ataupun lu pernah singgah disana bukan?" tanya Eira yang membuat alis Zikon mengerut.


"kenapa?" tanya Zikon curiga.


"antar gue kesana, gue pingin ketemu sama saudara gue yang satunya, lu pasti kenalkan?" tanya Eira membuat pandangan Zikon menggelap.


"ngapain lu nyari dia, gak cukup satu sodara aja lu" sewot Zikon membuat Eira menatapnya heran.


"ya bukan gitu, gue juga harus kenal sama dia setidaknya walaupun mamanya salah, dia gak terlibat kan kak, so? kenapa lu sewot" balas Eira menatap kesal kakaknya itu.


"lebih baik lu duduk diam, karena gue gak akan pernah izinin lu ketemu dengan anggota keluarga brengsek itu" sahut Zikon dingin.


"gue tau kak mereka jahat, mereka hanya ingin memperbudak gue, tapi izinin gue tau siapa ayah gue? siapa abang kedua gue? dan siapa bibi yang jagain lu?" ujar Eira memohon.


"lu terlalu kecil untuk memahami dan mengetahui segalanya, bahkan gue harap lu gak usah kenal dengan semua anggota keluarga mereka" sahut Zikon dingin dan beralih pergi meninggalkan Eira dengan perasaan marah.


"lah dia marah?" beo Eira menatap punggung Zikon yang mulai menjauh. "akh sial..."


"Kak Zikon...!" teriaknya berusaha menyusul langkah lebar milik kakaknya. "woii tungguinn..." teriaknya lagi.


"sialan dia bener bener marah! apa salahnya si dengan perkataan gue?" gerutu Eira berusaha lari utuk mengejar langkah Zikon.


"Kak Zikon tungg- Akhh"


mendengar sebuah teriakan, mampu membuat Zikon berbalik dan melihat apa yang terjadi, dan betapa terkejutnya ia melihat apa yang menimpa adiknya.


"EIRA!"


...Bersambung...


...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...


...•...


...•...

__ADS_1


...•...


...•...


__ADS_2