
Setelah pertempuran antara Lily dan Eira semalam. pagi ini media dihebohkan dengan membusuknya pewaris dari keluarga Queener. dan itu di temukan di depan rumahnya.
semua nya khawatir dan merasa seram dengan kejadian yang terjadi itu. begitu juga dengan keluarga Damian yang pagi itu sudah mendapatkan kabar seseram itu. bahkan Dian sampai tak ingin memakan sarapannya akibat terlalu jijik.
"berarti kita tak bisa mengelak lagi, raga gadis itu sudah di kuasai iblis, bahkan saat ia mati tubuhnya langsung membusuk! secara logika apakah tubuh manusia bisa membusuk hanya dalam semalam. itu mustahil!" ujar Dion sambil menatap korannya.
"sudahlah jangan membahas itu, Eira sedang sarapan nanti ia seperti Dian lagi, gara gara mendengar hal menjijikkan itu" tegur Abel membuat Dion mengangguk membenarkan.
"papa sama mama tau ternyata kalau dia seorang iblis" ujar Eira pelan tetap menyantap sarapannya.
kedua orang tua itu saling menatap memberi respon "kau sudah mengetahuinya sayang?" tanya Dion sambil mengusap surai anak gadisnya.
sebelum menjawab Eira tersenyum miring memguat Abel menatapnya Curiga. "aku yang membuatnya seperti itu, siapa suruh bermain main dengan bangsa iblis" ucap Eira dengan nada dingin.
Damn, benar bukan? Abel sudah menduga ini kerjaan putri sulungnya itu, siapa yang berani bemain main dengan kaum iblis, sedangkan ia sendiri adalah pewaris Elf dan kakak nya adalah pewaris iblis. mana bisa ia terima.
jika bangsa duyung pun di cemarkan nama baiknya seperti itu, Abel rasa pun ia tak akan terima.
"maksudmu sayang?" tanya Dion tak mengerti dengan Eira ucapkan.
"tidak ada apa apa papa, yasudah aku akan berangkat kesekolah. see you ma pa..." setelah berpamitan ia langsung kabur untuk menghindari pertanyaan sakral dari ayahnya.
"sayang apa kau mengerti maksudnya?" Abel langsung mengalihkan pandangannya. "entahlah, anak mu itu memang sangat aneh" ujar nya dan berlalu pergi meninggalkan Dion yang kebingungan.
...*****...
Sesampainya di sekolah, Eira berjalan menyusuri koridor menuju ke kelasnya, setelah memakirkan mobilnya. namun di pertengahan jalan ia bertemu dengan seorang guru yang meminta bantuannya, membawa sebuah kardus yang lumayan berat ke dalam gudang.
Dengan terpaksa ia mengiyakan dari pada ia harus memasuki ruang osis dan kembali berurusan dengan Amel dan Bryan karena telah menentang seorang guru. sudahlah, pasangan osis itu sangat membuatnya susah.
"kalau bukan di sekolah udah gue pindahin ni kardus pake sihir" gumamnya pelan. namun terlihat wajah kesalnya yang kentara.
tak terlalu lama ia berjalan dengan kaki yang jenjang ia berhasil berjalan dengan cepat ke arah gudang, tangannya sudah pegal mengangkat barang seberat ini. apakah tak ada satupun orang yang ingin membantunya. padahal tadi banyak anak laki laki yang lewat.
__ADS_1
itu salah lu juga bambank, anak cowo pada takut sama tatapan lu. yaelah...
setelah meletakkan kardus itu, Eira meletakkan kedua tangannya di pinggang dan menekuknya sedikit menghilangkan rasa pegal di pinggangnya. namun disaat saat ia menghilang kan rasa letihnya, ada seseorang yang mencengkram bahunya dan memutar menghadap orang rersebut.
Deg!
"Bara?" lirihnya pelan.
"ngapain lu disini? lepasin?"titahnya dingin.
namun seakan menjadi batu, Bara menatap Eira dengan tatapan setajam silet, namun hal itu tak mampu menggetarkan Eira, ia sudah terbiasa melihat tatapan itu dari anak anak yang tak menyukainya.
"lepasih gue Barrack!" tekan Eira menatap nyalang ke arah Bara.
"jawab gue sejujur jujurnya" Eira mengernyit saat Bara mengatakan itu.
"lu bukan anak kandung dari keluarga Damian kan?" tanya Bara sukses membuat Eira terkejut namun ia langsung menormalkan wajahnya.
"lu anak dari bunda Viola bukan?" tanya nya tanpa menghiraukan pertanyaan Eira. dan pertanyaan nya kali ini benar benar membuat Eira terkejut. bagaiman Bara bisa tau.
"maksud lu apaan sih Bar!" bentak nya merasa aneh sekarnag.
"gue, gue Barrack Lyan Alexander, putra dari Zyan Jeyramy Alexander dan Clarissa Javier. istri kedua dari ayah gue Zyan, dan istri pertamanya adalah Viola Sasentra Bario, nyokap dari lu dan kaka kandung lu kan" ujar Bara membuat Eira tiba tiba bergetar.
keluaga Alexander! kini ia tahu kenapa kakaknya tak ingin ia berurusan dengan keluarga itu, ia tahu sekarang, tenyata itu semua demi kebaikannya.
"gue udah janji sama kakak, kalau gue gak bakalan berurusan dengan keluarga ayah! dan Bara dia abang gue ternyata " gumamnya dalam hati.
"Bara kayak nya lu salah orang deh" tukasnya sambil menepuk nepuk kemeja Bara yang tampak kotor. "gue gak pernah salah dalam menggali informasi" tukas Bara dingin membiarkan tangan Eira membersihkan kemejanya.
"trus! lu nuduh gue, kalau gue adek lu gitu, tcih Bara jangan munafik, gue anak kandung dari kelurga Damian, meskipun bukan, tetap aja gue bukan keturunan dari Alexander" Sahut Eira kembali menatap mata Bara.
"kenapa gak? kenapa? pliss ra.. gue udah nyari lu selama ini, cuma lu yang bisa menjadi semangat gue untuk saat ini, adek gue satu satunya. ga ada yang nerima gue disini Eira!"
__ADS_1
"Daddy ngejadiin gue budaknya dalam dunia perbinisan, dan dunia gelap, mommy ninggalin gue karena ia merasa bersalah dengan Bunda Viola, bunda Viola juga ninggalin gue karena kesalahan mommy, abang gue juga ninggalin gue karena gue anak dari mommy, dan lu yang terakhir, apakah lu gak bisa memberikan perasaan lu terhadap kakak lu yang satu ini Eira, sedikit saja" ujarnya dengan air mata yang mengalir dari matanya.
matanya terus menatap sendu kearah Eira yang juga sedang menatapanya.
diam diam Eira menggepalkan tangannya ingin menangis, namun ia harus kuat. "gue bukan adek lu Bara, berapa kali harus gue ulang, i'm not your sister! gue Eira bukan adik lu, stop manggil gue adek lu!" bentak Eira dan langsung pergi meninggalkan Bara yang masih terisak.
"meskipun lu bilang elu bukan adek gue, gue tetap yakin lu adek gue Eira" tukas Bara membuat Eira berhenti.
ia mendongakkan kepalanya sambil meremas erat tali ranselnya. "terserah!" kata kata itu yang keluar. meskipun Di dalam hati Eira terus saja berusaha mengatakan maaf dan maaf dengan pernyataan nya yang telah menyakiti Bara yang notebanenya adalah kakaknya juga.
Bara langsung jatuh terduduk dilantai saat langkah kaki Eira sudah keluar dari ruangan itu. ia meringkuk sambil meremas kepalanya dan terus terisak, hatinya begitu rapuh. ia tak ingin kehilangan lagi. sungguh! ia hanya ingin hidup bahagia bersama sisa dari keluarga nya.
Tanpa keduanya sadari Darrel bersembunyi di balik tembok mendengarkan perdebatan yang terjadi. bahkan setetes air matanya jatuh, akibat melihat teman nya yang begitu rapuh. ini pertama kali ia melihatnya.
ia tahu Bara sosok yang bobrok dan ceria, ia sangat jarang menyampaikan perasaan dengan tangisan seperti itu. tapi kali ini ia melihat bagaimana frustasi nya sosok Bara. ia juga melihat bagaimana bersalahnya wajah yang Eira tunjukkan.
Benarkah keduanya adalah saudara, jika benar! sosok yang di tunggu oleh Bara selama ini, adalah sosok yang sama! dan yang sangat di tunggu juga kehadirannya oleh Gavin. Viola adalah ibu Eira! maka Eira adalah Cinta Gavin, dan Eira separuh jiwanya Bara.
astaga ia jadi pusing memikirkannya, sebaiknya ia juga turut menyelidiki kasus ini. ia tak ingin sahabat nya itu tersiksa seperti itu. ia juga harus mencari tahu apa maksud dari wajah tertekan Eira.
"sial, ini akan menjadi tugas yang besar jika ku selidiki, dan menjadi masalah yang yang besar juga jika tak ku selidiki" gumamnya pelan, sebelum melangkahkan Kaki nya meninggalkan gudang. ia akan membiarkan Bara menenangkan dirinya dulu disana.
...Bersambung...
...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...
...•...
...•...
...•...
...•...
__ADS_1