ANULIKA EIRA

ANULIKA EIRA
Secret Disclosure


__ADS_3

"gue bukan manusia!"


Kedua sahabatnya langsung saling menatap, saat mendengar pernyataan ngawur dari Eira. Sontak keduanya tertawa dengan keras merasa aneh dengan Eira yang tiba tiba melawak disaat ia baru saja selesai menangis.


Eira menatap kedua temannya dengan pandangan sendu, ia tahu kedua temannya tak akan percaya begitu saja dengan apa yang ia katakan. Ia sudah menebaknya dari awal.


"Aduh duh... perut gue sakit, sialan lu Ra! kalau ngelawak jangan yang aneh aneh deh" tukas Jihan yang masih disambut tawa oleh keduanya.


"Gue gak bercanda!" keduanya sontak diam, menatap Eira yang sedang menatap mereka dengan sungguh sungguh.


"Lu berdua tau, gue bukan tipe orang yang suka becanda" ujar Eira lagi membuat kedua semakin bungkam.


"Ulangi perkataan lu?" tanya Jessika dingin.


"Gu- gue bukan ma-manusia" sahutnya merasa takut dengan kepala menunduk.


PLAK!


Eira kaget saat dengan keras Jihan menampar pipi nya. Ia kembali mendongak menatap nanar kedua temannya yang mentapnya dengan marah dan kecewa.


Ia kembali menunduk saat menatap tatapan tajam Jessika kearahnya. "Jelasin semuanya!" titah Jessika.


Dengan perlahan Eira menceritakan segalanya kepada kedua teman nya dengan rasa takut dan gemetaran. Diantara mereka bertiga Eira yang memiliki usia yang paling muda. Akibat itulah ia juga sangat patuh dengan perintah dari kedua sahabatnya meskipun ia suka berbicara kasar juga.


Namun asalkan kalian tahu, Eira tak pernah suka di marahi, ia akan tetap menangis dan ketakutan. Apalagi jika itu adalah kemarahan, Papanya, Jessika, dan Jihan.


Mereka bertiga adalah sosok yang sangat di takuti oleh Eira. Meskipun dalam sehari hari Eira akan lebih nampak tegas dari keduanya, dan bersikap cuek dan dingin. Namun jika keadaan nya seperti ini, ia akan selalu menudukkan kepalanya.


"Lu baru bilang masalah sebesar ini sama kita Ra! tega lu" tukas Jihan pelan tanpa menatap ke arah Eira.


"Gue tahu gue salah, tapi gue gak bisa buat apa apa, gue cuma mau saran kalian berdua hiks.." ujarnya dengan sesugukan.


Jessika pun kembali menarik Eira kedalam pelukannya, ia tak akan bisa marah terlalu lama dengan sahabat yang sudah dianggapnya adik sendiri. Perbedaan umur 8 bulan dengan Eira, dan 5 bulan dengan Jihan mengajar kan Jessika menjadi yang paling dewasa di antara Jihan dan Eira.


Ia juga tak bisa berbuat kasar dengan kedua sahabatnya. Berbeda dengan Jihan yang sulit mengontrol emosi nya ketika sedang meluap. Bahkan kini ia tengah memukul mukul kepalanya untuk meredakan emosinya.

__ADS_1


"Lu ada masalah apa lagi?, hmm.. cerita ke kita.. lu ada masalah sama bang Zikon yang sebenarnya abang kandung lu itu" Eira menggeleng mendengar pernyataan Jessika.


"Teruss...?" tanya nya pelan.


"Bara abang kandung gue juga Jess!" sontak Jessika langsung mengendurkan pelukannya, saat dirinya menangkap sebuah nama yang tak asing di telinganya. begitu juga dengan Jihan yang kembali bangkit dari duduk nya.


"Maksud lu?" tanya Jessika dengan gemetar.


"Bara abang gue, yang beda ibu Jess. Ibunya dia istri kedua bokap gue" sahut Eira dengan sesugukan. "Jadi lu putri dari keluarga Alexander yang di katakan menghilang sejak bayi itu" tanya Jessika menatap lekat mata sahabatnya.


"Lu udah tau identitas Bara Jess?" tanya Jihan membuat Jessika mengangguk. "udah lama malah!" sahutnya enteng.


Eira mengangguk membenarkan.


"Gue gak bisa kembali ke rumah itu! ayah gue cuma mau manfaatin gue, karena gue adalah keturunan peri, yang otomatis gue memiliki darah murni yang bisa menghidupkan orang mati! meskipun Bara sangat sayang sama gue, gue gak bisa kembali jess..." keluhnya dan kembali menangis.


"Bang Zikon udah ngelarang gue untuk berurusan dengan keluarga Ayah! dia gak mau gue kenapa napa! tapi gue gak tega sama Bara Jess, disatu sisi dia juga menjadi korban dalam masalah yang terjadi" ceritanya membuat kedua sahabatnya turut mengusap bahunga.


"Takdir jahat banget ya Jess, sampai mempermainkan gue kayak gini..." gumam Eira di dalam pelukan Jessika.


"Tapi gue gak bisa mikir lagi Jess, Ji! otak gue buntu, di satu sisi gue gak mau terlibat dengan keluarga Alexander karena gue udah janji sama bang Zikon gak akan pernah terlibat dengan keluarga mereka."


"Namun yang kedua! Bara juga tetap abang gue, gue juga mau dia tinggal bersama gue merasakan kasih sayang gue, seperti Bang Zikon tapi gue gak bisa, dia manusia dan gue bukan. dan gue gak bisa ungkapin identitas gue... hikss.."


Kedua sahabat Eira kini paham mengapa Eira menyembunyikan semua ini terhadap mereka. Ternyata Eira membutuhkan tenaga dan keberanian untuk melampiaskan itu semua. ia hanya butuh ketenangan dan sedikit waktu.


"sebaiknya lu turutin bang Zikon aja dulu Ra! sampai nanti semua udah terkendali, lu harus bisa menghilangkan jarak canggung di antara kedua abang lu itu, gue yakin lu bisa! lu sahabat kita, adik kita. dan kita akan tetap selalu ada buat lu" Suport Jihan membuat Eira memeluknya dengan erat.


"ra, setiap ada masalah cerita, jangan lu pendem sendiri. Ada kita disini, selama lu masih percaya sama kita, maka selama itu juga kita akan selalu ada buat lu jangan pernah merasa sendiri ra!" tukas Jessika sambil mengusap surai Eira yang berantakan.


"makasih..." ungkapnya pelan.


Disisi lain!


"ada apa anda meminta saya kesini!" Tanya seorang pria muda duduk bersilang di depan seorang pria paruh baya.

__ADS_1


"jaga sopan santun mu Zikon, aku masih lah ayahmu! apakah kakaku tak mendidik mu dengan benar" sarkas pria paruh baya itu yang tak lain adalah Zyan.


"Tcih, jangan membawa bawa nama ibuku meskipun dia kakakmu. Karena aku sama sekali tak ingin menganggap mu sebagai paman ku, apalagi seorang ayah!"


"Kau berani sekali Zikon!" teriak Zyan dengan marah.


"Tcih, seharusnya kau sadar diri tuan! ayah macam apa yang ingin memubunuh anaknya sendiri, ayah macam apa yang ingin memperbudak anak nya sebagai pion cintamu, dan Suami macam apa yang rela membunuh istrinya, lalu tetap memeperkosanya setiap saat dengan tubuhnya yang telah kau awet kan!" sarkas Zikon menatap sinis ayah biologis nya itu.


Tampak wajah menegang Zyan mendengar perkataan terakhir yang Zikon ucapkan. Dari mana putranya bisa mengetahui hal tersembunyi itu fikirnya.


"Jangan kira, aku tak tahu kelakuan bejat mu terhadap raga bundaku, kau fikir aku terima tuan Alexander yang terhormat. Tidak sama sekali! namun sayangnya kau ayahku, aku sudah berjanji pada bunda untuk tak membunuhmu, begitu juga dengan ibuku yang sangat menyayangimu, jadi bersyukurlah" sahut Zikon dengan tenang dan terkesan cuek.


"Kau fikir kau bisa membunuh ku!"


"Kau meremehkan ku tuan!" tantang Zikon membuat Zyan menggeram. anak nya yang satu ini sangat susah diatur dan di jadikan pion.


"terserah! aku menyuruh mu kesini hanya ingin mengatkan! berikan putriku kepadaku!" titahnya to the point.


"dan kau fikir aku akan menyerahkan nya! jangan berharap!" sahut Zikon dengan mata menajam.


"kau! dia putri ku...!"


"dan aku abang kandungnya, dan juga... bukankah kau dulu menuduh bunda mengatakan bahwa adikku bukanlah darah dagingmu, sehingga bunda menyerahkan nyawanya karena ingin menyelamatkan adikku, dari seorang pembunuh seperti kau" geram Zikon membuat Zyan skakmat.


...Bersambung...


...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...


...•...


...•...


...•...


...•...

__ADS_1


__ADS_2