ANULIKA EIRA

ANULIKA EIRA
It's confusing.. ~08~


__ADS_3

"Vin! coba lu cek cctv" usul Bara membuat Gavin menghentikan langkahnya.


"benar juga! Darrel kita keruang cctv sekarang" ujar Gavin yang langsung di angguki oleh Darrel.


"untung lu cepet tanggap Bar" bisik Darrel sambil menepuk singkat pundak Bara sebelum ia berjalan mengikuti Gavin ke ruang cctv.


"hah' akhirnya selesai juga! sebaiknya gue harus segera bersiap siap untuk ke sekolah" gumamnya berbicara sendiri.


Bara pun beranjak dari berdirinya itu dan pergi menuju ruang pribadinya untuk segera bersiap siap.


...*****...


sedangkan di ruang cctv Darrel dan Gavin sedang menunggu pengawal mereka mencari cctv sejam yang lalu untuk memastikan dimana Eira berada.


dan disanalah Gavin menampilkan ekspresi yang berbeda beda disetiap vidio yang menampilkan sosok Eira disana. awalnya ia tersenyum saat Eira membenarkan cara tidurnya. pantas saja ada selimut di tubuhnya.


setelah nya ia seperti menahan tawa saat melihat dimana Eira yang tampak seperti maling di dalam Masionnya dan Gavin menyaksikan sendiri bagaimana raut kesal Eira yang lelah akibat mengelilingi Masionnya.


namun setelah nya matanya terbelalak. seakan akan bola mata itu akan keluar dari tempatnya saat melihat Nekat nya Eira dalam melompati pagar nya. tanpa menggunakan alas kaki.


"apa dia udah gila, itu pagar tingginya hampir mencapai 5 meter, kayak mana bisa dia lompat kembawah" gerutu Gavin merasa khawatir. namun setelah nya ia di buat kaget saat melihat Eira baik baik saja. bahkan dengan tenang ia memakai sepatunya.


"dia aneh vin, gue yang cowo aja payah mikir 5 kali kalau disuruh lompat dari pagar itu" gerutu Darrel membuat Gavin menatapnya.


"payah lu..." ejek Gavin membuat Darrel mendelik.


"emang lu berani?" tantang Darrel membuat Gavin tersenyum miring.


"jika gadisku bisa kenapa aku tidak" sahut Gavin membuat Darrel mencibirnya.


"bucin..."


"udah ah' kita siap siapa ke sekolah nanti kita telat lagi" gerutu Darrel membuat Gavin menatapnya.


"biasanya juga telat!" sahut Gavin membuat Darrel kicep


...*****...


dengan perlahan Eira memasuki rumahnya dan dengan sangat pelan ia melangkah menuju kamarnya. namun untuk kali ini ia hampir terjungkal, saat ia membuka pintu terpampang wajah galak Jessika membuat Eira bertanya ada apa.


"kenapa lu baru balik jam segini sih ra?" tanya Jessika khawatir.


karena tak sanggup berdiri, Eira menarik Jessika untuk memasuki kamarnya .


"gue juga baru sadar jam 3 tadi Jess" sahut Eira sambil berjalan mengambil kotak p3k di atas meja riasnya.


"tunggu kaki lu kenapa?" tanya Jessika khawatir saat melihat banyak luka lecet di telapak kaki Eira.


"loncat pagar" sahut Eira singkat sambil mencari alkohol untuk membersihkan lukanya.

__ADS_1


"lu kagak ada kerjaan lain main loncat loncat pagar segala" gerutu Jessika membuat Eira mendesah malas.


"kalau gue gak loncat mana bisa gue keluar dari sana" sahutnya malas.


"kenapa emang?" tanya Jessika penasaran.


"pengawal nya dimana dimana" sahut Eira membuat Jessika tertarik dengan pembicaraan ini.


"jadi bener kak Gavin orang tajir beuh! paket Complite emang, ganteng, tajir, pinter huh kapan gue dapat calon suami kayak begitu" sudah lah Eira muak mendengar itu.


"eh dia anak keluarga apa emangnya?" tanya Jessika penasaran dan dijawab kedikan bahu oleh Eira.


"lah gimana ceritanya lu masuk kerumah orang gak dapat informasih apapun setidaknya kan didinding rumah nya banyak tuh foto keluarga" dumel Jessika ingin menyumpal mulut sahabatnya itu


"gue tuh siuman jam 3 pagi, itu aja gue kabur disana udah nantang maut, apalagi kalau gue sempat nengok nengok! disangka maling beneran gue sama pengawal disana, kan gak lucu" sahut Eira terlampau kesal.


"dih tumben lu bicara banyak" ujar Jessika saat Eira telah memasuki kamar mandi untuk bersiap siap mereka berangkat ke sekolah.


dan seperti biasa penampilan urakan Eira menjadi ciri khas dirinya sendiri. bukan ia tidak ingin menaati peraturan hanya saja peraturan yang terlalu ketat itu membuat dirinya terasa alay jika harus mengikutinya.


bahkan Jessika selalu di buat geleng geleng karena melihat sehari saja Eira tidak pernah tidak berurusan dengan anggota osis.


"lu udah selesai? kalau udah ayo go" ujar Jessika dan langsung beranjak keluar.


Eira menyampirkan tas nya di bahu kiri dengan lengan kanan tempat tersangkut nya Almameter, dan di tangan kirinya terdapat sepatu putih yang ia tengteng.


"kalian gak usah sekolah dulu, besok baru kalian pergi kalau sudah baikan" ucap Eira membuat kedua orang itu merasa aneh.


"jangan dong kak, masak kita udah rapi dengan seragam begini, tapi gak jadi kesekolah sih" protes Dian tidak terima.


"jangan banyak protesan Dian! kakak tidak ingin membahasnya" sahut Eira dingin membuat mereka berdua merunduk sakit.


akhirnya karena tak ingin mengambil gara gara yang lebih lanjut. Felix maupun Dian sama sama memilih mengalah dari pada berdebat. sedangkan Jessika menatap kedua bocah tersebut kasian.


tapi apa pun yang di lakukan oleh Eira adalah yang tebaik untuk adik adiknya. Dan Jessika pun hanya bisa diam mendengarkan perdebatan keluarga itu.


drrtt...drrtt..


getaran diponsel nya berhasil menyadarkan Eira yang sedang mengunyah makanannya.


"mama? " Lirihnya begitu pelan.


ia bangkit dari meja makan dan berjalan ke arah ruang tengah meninggalkan sarapannya yang masih utuh setengah itu.


^^^M**ama*..^^^


^^^sayang maafin mama sama papa yang berangkat dari rumah tidak memberi kabar ya*....^^^


Anulika Eira D

__ADS_1


iya mah, gak papa!


^^^Mama..^^^


^^^ohiya mama dengar dari tante kamu kedua adikmu itu kecelakaan jalur selatan ya? bagaimana keadaan mereka?^^^


Anulika Eira D


mereka udah baik baik aja kok mah, udah eira urus semua.


^^^Mama..^^^


^^^huh...! syukurlah kalau begitu. bunda cuma mau bilang jangan biarkan lagi kedua adik mu itu ke laut selatan!^^^


Anulika Eira D


kenapa mah?


^^^Mama..^^^


^^^pokoknya kamu dengerin aja apa yang mama bilang. kalau begitu mama tutup dulu ya, bye sayang muaachh...^^^


tutt...


terputusnya sambungan itu membuat Eira memikirkan ucapan bundanya.


"ada apa dengan laut selatan?" tanya Eira pada dirinya sendiri.


"woi! lu gak habisin sarapan lu?" ujar Jessika merangkul pudak sahabatnya itu.


"gue udah kenyang! ayo kita berangkat" ucap Eira dan beranjak berjalan meninggalkan Jessika yang mengagaruk kepalanya yang tiba tiba terasa gatal.


ada apa lagi sih dengannya, ingin sekali Jessika menghujatnya


dengan terus mengumpati sampah serapah nya di dalam hati. Jessika kembali berhenti saat Eira menghentikan langkahnya.


"untuk kalian semua disini, saya harap jaga kedua tuan kalian, jangan sampai mereka kabur, jika kalian tidak ingin kehilangan mata kalian yang tidak dapat berguna dengan baik" ujar Eira dengan dingin. dan seketika semua pengawal membungkuk 90° untuk menghormati Eira dan Jessika temannya.


...Bersambung...


...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...


...•...


...•...


...•...


...•...

__ADS_1


__ADS_2