
dengan amarah yang menguasai tubuhnya, Bara memasuki rumah utama, yang baru saja semalam ia tinggalkan.
banyak para maid dan pengawal yang memberi hormat kepadanya namun tak satu pun yang ia balas.
"dimana tuan kalian?" tanya nya dingin membuat para maid yang ditanyai menunduk takut.
"tuan besar sudah berangkat ke kantor beberapa menit yang lalu tuan muda!" sahut salah satu dari mereka membuat Bara semakin emosi dibuatnya.
"TUA BANGKA SIALAN!" teriak nya sambil membanting guci guci antik yang berharga miliaran rupiah dengan kasar. sehingga kepingan kepingannya berserakan di lantai.
tanpa memperdulikan mereka yang ketakutan dan menjerit histeris, Bara beranjak pergi meninggalkan masion tersebut. sedangkan Gavin dan Darrel yang menyaksikan itu, menghela nafasnya dengan kasar.
inilah akibat membuat seorang Bara marah, meskipun sehumoris apapun Bara ia tetaplah anak seorang mafia nomor satu di Jerman, yang sudah di latih sedemikian rupa.
"gue baru liat dia marah beneran..." ucap Gavin yang di angguki Darrel.
"biar gue suruh Jessika buat bujuk dia..." tutur Darrel membuat Gavin mengernyit.
"kenapa harus dia?" tanya Gavin merasa aneh.
"karena hanya dia yang bisa buat Gavin tenang" Sahut Darrel yang membuat Gavin semakin bingung.
"sejak kapan mereka dekat?" tanya nya membuat Darrel menggedikkan bahunya.
"yaudah cepet gue tunggu di mobil..." setelah mengatakan itu Gavin pergi dari sana menunggu Darrel di dalam mobil nya.
drrttt drrrrtt... drrtttt
dua kali panggilan itu berbunyi baru bisa tersambung saat Jessika mengangkat panggilan ketiganya.
Darrel-_
lu dimana?
^^^Jessika~^^^
^^^lu siapa?^^^
Darrel-_
gue Darrel, lu dimana sekarang?
^^^Jessika~^^^
^^^untuk?^^^
Darrel-_
penting!
__ADS_1
gue mau lu kesini apapun yang terjadi.
^^^Jessika~^^^
^^^gue gak bisa! gue harus ngejagain Eira disini. lu gila! orang tua Eira belum balik kerumah sakit, gak ada yang jaga dia blo'on.^^^
Darrel-_
masalah itu biar gue yang urus, gue kesana sekarang!
tut...
disebrang sana tampak Jessika berdecak kesal saat dengan sepihaknya Darrel memutusman percakapan mereka tanpa mendengar komentar darinya.
sialan...
...*****...
sampainya di mobil dengan segera Darrel mengendarai ke arah rumah sakit untuk menjemput Jessika yang memang keras kepala itu.
"ngapain lu ke rumah sakit? sakit lu? masasih? jangan yang aneh aneh deh rel..." protes Gavin membuat Darrel menatapnya jengah.
"lu harus jagain Eira selama gue bawa Jessika bareng gue, dan sampe kedua orang tua Eira balik... " ucap Darrel membuat Gavin menatapnya dengan tajam.
"lu Gila! gue lagi bermasalah dengan dia, lu gak usah aneh aneh Rel!" kesal Gavin.
"yaudah terserah lu, biar gue yang jaga Eira! lu bawa Jessika ke tempat Bara aja!" sahut Darrel malas.
sesampai mereka dirumah sakit mereka langsung berlari ke arah ruang inap Eira. namun saat pintu itu terbuka mereka tidak dapat menemukan seorang pun disana. mereka pun merasa heran melihat Banyak nya perawat yang panik di sekitar ruang itu.
"kenapa ga ada orang?" tanya Gavin membuat Darrel menggeleng.
"sebentar!" Darrel pun berjalan menemui salah satu perawat yang tampak panik tersebut.
"mbak! permisi.." panggil nya membuat Perawat tersebut menoleh.
"iya ada apa?"
"saya mau nanyak, penghuni kamar no 103 mana ya?" tanya nya membuat perawat itu terkejut.
"kamu siapanya ya?"
"saya... teman nya Mbak!" sahut Darrel ragu.
"aduhh... gimana ya jelasinnya, nona Eira sama teman nya tadi tiba tiba hilang setelah kami mendengar teriakan temannya nona eira" jelas perawat tersebut membuat Darrel melotot.
"apakah mereka di culik?" tanyanya kembali membuat perawat tersebut menggeleng ragu.
"saya tidak dapat pastikan! tapi kami sudah mencari hampir satu rumah sakit namun mereka belum bisa di temukan" jelas perawat itu kembali membuat Darrel diam diam menggepalkan tangannya.
__ADS_1
"terimakasih mbak!"
ia kembali mendekati Gavin yang sedang menunggu penjelasannya. dengan helaan nafas berat ia menceritakan apa yang telah di jelaskan oleh perawat tadi.
sontak membuat sosok Gavin yang awalnya bersandar di diding rumah sakit langsung berdiri tegak.
"lu... becanda?" tanya Gavin membuat Darrel menatapnya kesal.
"emang muka gue ada nampaknya gitu orang orang bohong?" tanya Darrel membuat Gavin mengedikkan bahunya.
"tergantung!"
"udah ah jangan ribut dulu, sementara itu gue akan lacak terlebih dahulu letak keberadaan mereka lewat nomor Jessika, setelah ketemu, lu berangkat duluan kesana, gue akan pergi nemuin Bara terlebih dahulu, dan ingat jangan gegabah" ujar Darrel membuat Gavin mengangguk.
"gue setuju ide lu..."
sekitar 10 menit Darrel mengotak atik kedua ponselnya, sampai 10 menit itu berlalu, ia pun bisa bernafas lega.
"ketemu vin! di daerah lautan selatan lu berangkat aja biar gue naik Taxi untuk kekantor Bara, gue duluan ya..."
setelah Darrel pamit. Gavin kembali menatap ponsel Darrel ditangannya dengan kernyitan bingung.
"siapa yang ngerencanain ini? kenapa mesti ke laut selatan? " bisik nya dalam hati. namun setelahnya ia berlari menuju mobilnya untuk segera pergi ketempat tujuannya.
...*****...
sedangkan di perusahaan utama, Bara sedang mengamuk besar di hadapan pria pria berbadan besar yang menghalangi jalannya.
seperti ayahnya tau kalau ini akan terjadi, sebab itu ia menaruh banyak sekali bodyguard di kantor.
"tuan muda saya harap anda jangan merusak barang barang yang ada disini" ucap sesorang membuat Bara menoleh. disana ia menemukan Roy sang tangan kanan ayahnya.
"kenapa kalian naruh begitu banyak orang di laut selatan?" tanya nya mencoba meredam amarah.
"karena tuan bilang, nona besar dulu sempat tinggal disana selama beberapa tahun, dan itu menjadi tempat terfavoritenya, mustahil jika nona muda tidak datang kesitu untuk mengenang ibunya..." jelas Roy membuat Bara melayangkan bogeman mentah ke pipi Roy membuat pengawal kembali menghalanginya.
"perbuatan lu dan tua bangka itu sudah melewati batas ***** ! gue gak bakalan terima penghinaan untuk bunda gue kayak gini" ujar Bara dengan dada yang naik turun.
"Bara!"
...Bersambung...
...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...
...•...
...•...
...•...
__ADS_1
...•...