
matanya terbelalak melihat keberadaan Gavin yang membekap mulutnya. astaga! ia kaget melihat itu... terlebih kini Gavin melihat nya dengan sangat tajam.
"apa?"tanya Eira tanpa rasa bersalah nya.
"kamu dengar perkataan ku kemarin kan? kenapa kamu malah mendekati pria itu lagi?" cetus Gavin dengan tangannya yang sama sekali tak melepas pergelangan Eira.
Eira tersenyum licik saat mengingat foto yang tersebar di sekolahnya. "lu... cemburu?" tanya Eira dengan alis terangkat sebelah.
"....." Gavin bungkam dengan wajah datar nya.
"hah... kayaknya engga deh! lagi pula gue udah jadian sama cowo yang kemarin, lu mau apa?" Tanya Eira dengan wajah songong.
"lu..."
Cup~
Eira lansung berdiri menegang saat sebuah kecupan singkat mendarat di bibirnya. 2 kali sudah bibirnya ternodai oleh laki laki gila di hadapannya.
"sialan!" maki Eira tak terima.
sedangkan Gavin tetap berdiri tenang sambil bersedekap dada.
Eira menatap tajam mata elang milik Gavin dan Gavin pun membalas dengan tatapan menantang.
"lu mau nya apa sih Vin?" tanya Eira dengan suara rendah.
"lu campakin gue saat itu, gue biasa aja, lu pacaran sama Lily dan ngebela dia padahal dia yang salah, gue nahan sakit, kesal dan marah. apalagi yang lu mau dari gue?"
"gue muak vin dengan kehohongan yang lu buat, terkadang lu tampak berbohong sama gue, dan terkadang lu tampak berbohong pada Lily. tapi sebenarnya, lu berbohong dengan diri lu sendiri Vin!" ujar Eira dengan menunjuk nunjuk dada Gavin dengan telunjuknya.
"gue tau lu sembunyiin sesuatu! dan gue gak akan pernah maksa lu buat ngejelasin itu semua, tapi gue juga butuh kepastian Vin! gue juga wanita..."
"gue gak beda jauh dengan wania lain yang mengharapkan sebuah kepastian! kalau memang lu mau kita berteman sampai disini, it's okey. no problem. gue akan lebih tenang karena itu." curah Eira panjang lebar sesekali menarik narik kemeja Gavin dengan mata yang berkaca kaca.
cukup lama ia menunggu Gavin membalas perkataannya dan mengangkat kepalanya menatap Eira. namun, 10 menit berlalu keadaan mereka tetap hening dengan sesekali Eira mengelap hidung nya yang tiba tiba meler.
__ADS_1
tak sanggup dengan situasi itu lagi, Eira akhirnya mengangguk mengerti mendapat jawaban dari keterdiamannya Gavin. tanpa aba aba ia meninggalkan Gavin dengan senyum remeh, namun terpancar kekecewaan yang sangat di dalamnya.
Namun baru saja Eira ingin keluar dari persembunyian mereka. lagi lagi pergelangan tangan Eira di tahan oleh Gavin dengan wajah masih menunduk.
"Sorry!" gumam Gavin membuat Eira yang mendengar nya terkekeh hambar. "untuk?" tanya Eira dengan datar.
Gavin mengakat kepalannya dengan mata yang berkaca kaca yang belum di sadari oleh Eira karena posisisnya yang membelakangi Gavin.
"Sorry! aku harus lakuin ini ke kamu, aku cuma gak mau kamu terluka, aku gak mau kamu kenapa kenapa, karena Lily..." Gavin terdiam sebentar takut dengan ekspresi apa yang di lepaskan Eira.
"dia bukan manusia..." gumam Gavin pelan membuat Eira tersenyum tipis. "dia ngancam aku bakal nyakitin kamu, jika aku gak nurutin permintaan dia" keluh Gavin dengan mata yang semakin berkaca kaca.
"berhasil!" gumam Eira dalam hatinya tersenyum senang.
ia sudah tahu tentang itu semua, bahkan ia dapat mengetahui Lily bukanlah seorang iblis dari awal pertemuan mereka, aura lily bukanlah aura dirinya sendiri, dan Aura itu menakutkan. tapi tidak bagi Eira.
Karena menurutnya aura kakak nya lebih menyeramkan dari itu. bahkan aura Vampire, Drakula yang menyandranya juga mempunyai aura yang tinggi, kelam, dan dingin.
dengan bangganya Eira berbalik, namun tubuhnya menegang melihat mata Gavin yang berkaca kaca. dengan bibir melengkung kebawah.
"ada ap~"
bruk..
Eira langsung terdiam saat Gavin menjatuhkan dirinya dengan lutut yang menjadi penompangnya.
"maaf..." dan disana lah tangis Gavin pecah. dan itu sangat menggemaskan, seperti anak kecil yang kehilangan permennya. terlebih tampang Gavin yang dewasa semakin membuat Eira tak tahan untuk tak menertawakannya.
Eira pun mendekat dan mengelus rambut Gavin dengan lembut. "gue gak pernah nyalahin lu. lu gak salah! hanya waktu yang salah mempertemukan kita. jangan menangis. gue janji bakal ngejauh dari lu" tukas Eira membuat Gavin mendongak.
grep
lagi lagi Eira harus menahan keterkejutannya saat Gavin memeluk erat pinggangnya dengan kepala yang tertanam dalam dalam di perut Eira.
"tidak! kamu gak boleh pergi sebelum aku menyuruhmu! jangan pergi ku mohon..." pinta Gavin dengan isakan tangisnya.
__ADS_1
Eira tertawa pelan. sepertinya seru mengerjai Gavin sedikit.
"gue gak bisa tinggal, jika terus begini Lily bisa saja ngebunuh lu dan gue vin" gumam Eira masih setia mengelus kepala Gavin.
"baiklah! kalau begitu aku akan ikut kamu kemanapun kamu pergi" sahut Gavin spontan.
"lu yakin?" Gavin pun mengangguk di sekitar perutnya membuat Eira geli.
"oke tapi, gue punya 1 syarat?" pinta Eira membuat Gavin mendongak. "apa?"
"gue mau mulai hari ini lu harus percaya sama gue jangan pedulikan lily, terserah dia mau ngancam apa, jangan pernah ladeni dia..." ujar Eira membuat Gavin mengernyit.
"tapi kamu..."
"tidak! jangan khawatirin gue, gue gak bakal kenapa napa. santuy aja kali" sahut Eira yang sudah mulai kebas dengan kakinya yang terus berdiri.
"baiklah, tapi kamu harus berjanji gak boleh terluka!" Eira tersenyum sambil melayangkan kelingkingnya. dan disambut baik oleh Gavin.
"terimakasih!" Eira tersenyum mendengar kata kata langka itu. ia menekuk sedikit tubuhnya dan mencium pucak kepala Gavin dengan lembut membuat pria yang merasakan nya ikut terbuai.
setelah kecupan itu berakhir, Eira beralih menatap tangan Gavin yang masih memeluk erat tubuhnya.
"Gavin lepaskan! aku ada kelas... menyingkirlah... jangan buat orang curiga" tuturnya membuat Gavin akhinya menurut.
...Bersambung....
...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...
...•...
...•...
...•...
...•...
__ADS_1