
Gavin mengacak rambutnya frustasi, merasa menyesal pada dirinya sendiri yang tak dapat menemukan gadis nya tepat waktu.
dan sekarang Gavin harus rela melihat keadaan kritis Eira yang masih tertidur di atas brankar dengan banyak nya selang oksigen yang melekat pada tubuhnya.
bahkan Jessika pun terus menangis di dalam pelukan Bara. dan Darrel? ia sibuk menenangkan kedua bocah yang saat ini menangis dan meraung disisinya.
ia sudah berusaha mendiamkan, namun kedua bocah ini masih saja menagis dan berteriak. walau ia berulang kali mengatakan bahwa ini rumah sakit.
tak lupa Jessika telah menghubungi kedua orang tua Eira, dan seperti dugaannya Tante Abel maupun om Dion sama sama panik mendengar pernyataan itu.
kreettt...
pintu kamar yang terbuka berhasil menyadarkan mereka dari lamunan masing masing.
"dok gimana keadaan teman saya?" tanya Jessika yang langsung di balas helaan nafas panjang oleh sang dokter tersebut.
"kondisinya buruk, kami membutuhkan orang tuanya untuk membicarakan ini" ujar sang dokter membuat mereka saling bertatap.
"selain orang tuanya tidak bisakah keluarganya yang lain untuk membicarakan masalah ini?" tanya Gavin membuat dokter itu menggeleng.
"maafkan saya tuan, saya tidak bisa melakukan lebih, ini termasuk privasi pasien, jadi saya hanya bisa mengatakan ini dengan orang tuanya saja" sahut Dokter tersebut membuat mereka menghela nafas kesal.
"beberapa menit lagi, mama sama papa saya akan sampai dok" ujar Dian membuat yang lainnya menatapnya.
"baiklah jika mereka sudah datang, suruh mereka langsung keruangan saya!" ujar sang dokter yang langsung di angguki oleh Dian.
•
•
sudah sekitar 1 jam lewat mereka menunggu kedatangan Orang tua Dian dan Eira, namun keduanya tidak juga muncul. hal itu semakin membuat mereka panik.
"Dian... hosh... hosh... dimana... kakak.. mu...?" tanya Abel dengan nafas yang tersenggal senggal.
"mama sama papa kenapa baru sampe, kita khawatir banget sama kadaan kak Eira" ujar Dian yang langsung dibalas pelukan oleh Abel.
"tenang sayang! mama gak akan biarin apapun terjadi kepada kakak kamu." sahut Abel menenangkan putrinya.
"jadi apa kata doker?" tanya Dion yang tampak khawatir.
"om! tante! kalian disuruh dokter untuk keruangannya, ayo biar Jessi yang antar kalian" tukas Jessi membuat kedua orang tua Eira menoleh.
"Jessi sayang! kamu gak papa kan?" tanya Abel yang mengusap air mata yang mengalir di pipi putihnya.
"Jessi gak papa kok tant- sekarang tante sama om ikut aku ke ruangan dokter."
mereka pun bergegas menuju ruang dokter yang telah memeriksa Eira tadi! Jessika pun dengan perasaan gugup ia mencoba membawa kedua orang tua Eira ke dalam ruangan dokter tersebut.
__ADS_1
tok...tok...tok
ketukan pintu, membuat dokter yang berada di dalam langsung mendongak.
"masuk!" pinta nya membuat kedua orang tua Eira memasuki ruangan tersebut tanpa adanya Jessika.
"tuan Damian! nona Abel! sedang apa kalian disini?" tanya Dokter tersebut dengan kikuk.
"saya ingin menanyakan keadaan putri saya!" sahut Dion membuat dokter tersebut mengernyit.
"maksud tuan Nona Eira adalah putri kalian?" tanya nya terkejut yang di balas anggukan dari pasangan itu.
"ah! maafkan saya yang tak mengenalinya. ohya perkenalkan nama saya, Lussy" ujar nya sambil mengulurkan tangannya.
selesai dengan sesi perkenalan, mereka kembali ke dalam metode serius.
"bagaimana keadaan putriku?" tanya Dion khawatir namun menggunakan wajah datarnya.
"nona muda kritis tuan! saya ingin menanyakan apakah putri anda Phobia terhadap sesuatu?" tanyanya.
"dia Phobia akut terhadap ulat, memang nya kenapa dok?" ujar Abel membuat dokter tersebut mengangguk.
"karena Phobia akut itu ia merasa gelisah terlalu lama, terlebih lagi efek Phobia bisa saja membuat orang mati kehabisan nafas. dan yah! apakah ia pernah kecelakaan dan hilang ingatan?" tanya dokter tersebut penasaran, dijawab gelengan oleh keduanya.
"tidak pernah?" ulang dokter tersebut heran.
"tapi, ia mengalami gejala itu tadi, hal itu yang membuat ia dapat pingsan kerena sakit yang menyerang kepalanya" dan perkataan itu sukses membuat keduanya saling pandang.
"dan yang terakhir, setelah kami mengecek darah putri kalian, saya terkejut saat melihat golongan darah yang ia miliki, tidak ada pada golongan darah manusia" ujar sang dokter membuat pasangan itu terbelalak.
"maksud anda?" tanya kedua nya serentak.
"maksud saya, putri kalian memiliki golongan darah Emas, yang dimana manusia biasa jarang mempunyai golongan darah ini, dan tak lebih dari 43 orang yang memiliki darah ini di dunia" tukas sang dokter membuat keduanya kembali terbelalak.
"astaga! apa yang terjadi dengan putri kita mas..." tangis Abel pun pecah di pelukan suaminya.
"tapi dia baik baik saja kan dok?" tanya Dion yang tak kalah khawatir.
"tenanglah! dia mungkin akan siuman paling lama besok pagi" sahut sang donter membuat Dion dapat bernafas lega.
"terimakasih dokter, kalau gitu kami permisi!"
...*****...
"pah! gimana keadaan Kak Eira?" tanya Dian langsung menghampiri kedua orang tuanya.
"katanya dia akan segera siuman paling telat besok pagi dan dia baik baik saja" ujar Dion berusaha baik baik saja di depan anak anaknya.
__ADS_1
"syukurlah..." ucap mereka semua.
namun berbanding terbalik dengan mereka, mata Gavin tak pernah lepas dari wanita paruh baya yang sangat ia kenali itu bahkan, ia masih ingat dengan jelas senyum itu.
"bibi...!" panggil nya membuat jantung Abel sekejap berhenti berdetak. ia menoleh dan menemukan seorang remaja laki laki yang menatapnya dengan pandangan rindu.
sedangkan yang lain menatapnya aneh.
"vin lu baik baik aja kan?" tanya Darrel yang tak ditanggapi oleh Gavin sendiri.
"halo nak ada apa...?" tegur Abel tersenyum ramah.
"bibi Abel! yah kamu bibi Abel, bi! aku Avin, bocah 3 tahun yang dulu di selamatkan oleh bibi Viola!" ucapnya membuat mata Abel membulat sempurna.
ia mengingat pemuda ini, dia bocah yang saat itu ia dan Viola yang merawatnya .
"gawat..." bisiknya dalam hati.
"hey nak! kau salah orang, namaku memang Abel tapi aku tidak mengenal Viola" ujar Abel membuat Gavin menatap nya tajam.
"jangan mengelak bibi!" sentak Gavin membuat Abel terkejut.
"JANGAN MEMBENTAK ISTRIKU!"~ Dion.
"JANGAN MEMBENTAK MAMA KU!"~ Dian.
"JANGAN MEMBENTAK BIBIKU!"~ Felix.
"JANGAN MEMBENTAK TANTEKU!"~ Jessika.
Bentak mereka berempat sekalian, Darrel dan Bara pun menahan Gavin yang sebentar lagi amarahnya akan meledak.
Abel sendiri menundukkan pandangan melihat ke arah lantai, ia tahu ini salah, ia tau pemuda itu pasti merasakan sakit, tapi ia tidak mau identitas Eira terbongkar, karena Abel tau, pemuda dihadapannya kenal baik dengan kakaknya Viola.
"permisi!"
...Bersambung...
...<☆>☆<☆>☆<☆>☆<☆>...
...•...
...•...
...•...
...•...
__ADS_1