ANULIKA EIRA

ANULIKA EIRA
Early warning.. ~35~


__ADS_3

"maafkan aku..."


Eira menatap lekat mata Zikon yang terlihat kosong setelah mengehala nafasnya, ia kembali menatap Zikon dengan pandangan tegasnya.


"antarkan aku ketempat Viola!" titah Eira menatap tajam Zikon yang berada di hadapannya.


tanpa menjawab Zikon berbalik dan berjalan dengan Eira yang setia mengikutinya dari belakang. sekitar setengah jam mereka berjalan keluar dari hutan tersebut. setelah keluar Zikon mengepakkan sayapnya dan membawa Eira kedalam pelukannya untuk membawanya terbang bersama.


Walaupun dalam keadaan tak sadar, Zikon sengaja terbang dari jalan hutan agar tak ada manusia yang melihat keberadaan nya. Eira pun hanya mengalungkan tangannya, tanpa sedikitpun protes.


15 menit berlalu mereka tiba di sebuah Masion besar. bahkan sangat besar, namun Masion itu memiliki tanah yang sangat luas bahkan tampak kelam tak berpenghuni. nyaris seperti Masion yang Gavin miliki.


"besar banget! pantes drakula tersebut mengatakan mayat bunda di simpan oleh seorang mafia terkuat" gumamnya pelan menatap sekelilingnya yang tampak horor di malam hari.


"pimpin aku jalan Zikon!" titahnya tanpa melihat ke arah Zikon.


tanpa membantah sedikit pun Zikon kembali membentangkan sayapnya dan kembali memeluk Eira dan membawanya terbang melewati halaman luas masion tersebut.


Eira melihat betapa besarnya halaman itu merasa merinding apabila ia sendiri yang menyelamatkan ibunya tanpa menggunakan kekuatannya.


namun tanpa Eira sadari Zikon dengan perlahan menurunkan Eira tepat di atas atap masion tersebut, bahkan atapnya saja bisa membuat kita bermain rollercoaster .


kini tepat Eira berdiri di samping cerobong asap dan disampingnya masih ada Zikon yang memandang lurus kedepan.


"Zikon! carikan aku cara masuk kedalam" pinta Eira menoleh ke arah Zikon berdiri disampingnya.


dengan cepat kilat Zikon mengangkat sebuah pintu diatas atap yang terbuat dari besi itu dengan begitu mudahnya "ini orang ngeri ternyata!"


dengan satu tarikan Zikon behasil menarik Eira membuat mereka berdua sama sama terjatuh kedalam. andai saja Eira tidak menahan mulut nya untuk teriak. dipastikan tadi mereka sudah tertangkap dengan penjaga penjaga yang berada di bawah sana.


"sialan! lu kalau mau lompat bilang bilang dong" protes Eira menabok kuat lengan kiri Zikon setelah mereka mendarat.

__ADS_1


namun sayangnya Zikon tak akan merasa sakit, karena jiwanya sudah di kuasai oleh Eira. kecuali Eira sendiri yang terluka maka ia pun akan turun terluka.


"di mana ya ruang bawah tanah?" tanya Eira pelan, sambil menatap sekeliling nya mencari tahu aman atau tidak.


sreett


lagi lagi Eira ingin memekik kaget saat dengan tiba tiba lengannya di tarik pelan oleh Zikon dan membawanya ke sebuah pintu bewarna hitam dengan corak gambar gambar senjata terlukis disana, dengan kekuatan Zikon, ia berhasil membuka pintu tersebut tanpa harus memiliki kunci.


"tunggu sebentar" dengan cepat Eira mengambil 2 buah topeng mata yang terletak di atas meja. sebenarnya disana ada 3 topeng yang tersedia, tapi Eira hanya mengambil 2 diantaranya yaitu warna biru malam, dan hitam pekat. dengan cepat ia memakainya ke- mata Zikon. agar jika ada yang menemukan mereka, wajah mereka tetap tak diketahui.


setelah memakai topeng untuk dirinya sendiri, ia kembali mengikuti Zikon menuruni anak tangga yang menurun kebawah itu, di pertengahan tangga, lampu penerangan sudah hilang. hanya tersisa gelap gulita yang menyelimuti, namun akibat mata hijau Eira dan mata Violet Zikon mereka masih bisa melihat dalam kegelapan itu dengan jelas.


"Zikon cepat cari lampu untuk menghidupi ruangan ini" pinta Eira berjalan pelan mengelilingi ruangan tersebut. tak lama ia menyipitkan matanya saat cahaya lampu menerangi ruangan tersebut.


ia terbelalak betapa seram nya ruangan tersebut, banyaknya kepala kepala manusia yang di awatkan di sebuah kotak kaca hias. persis seperti didalam mimpinya, hanya saja tempat ini terlihat lebih bersih


banyaknya anggota tubuh yang menjadi koleksi di kotak kaca tersebut dengan nama masing masing pemiliknya. disana juga terdapat 2 brankar pasien, 1 nakas, dan banyak tersimpannya pisau disana.


"aku harus segera menemukan ibun-" baru saja ia hampir menyelesaikan ucapannya, orang yang dicari tepat dihadapannya, terbaring pucat didalam sebuah kotak kaca besar. dan banyak tali tali aneh yang melekat di kaca tersebut seolah berusaha menahan agar tubuh tersebut tidak lah berubah menjadi tengkorak.


namun yang memguat Eira ingin menangis adalah, ia melihat luka menganga di dahi sang ibu yang seperti nya tampak keriput dan pucat karena kehabisan darah bahkan kini sudah menjadi mayat.


dengan kuat ia menggepalkan tangannya, menatap nyalang ke depan, dendam pun sudah menguasai tubuh, jiwa dan raganya. "gue gak akan segan segan kepada orang yang telah membuat bunda gue seperti ini" gumamnya pelan.


"Zikon hancurkan kaca ini dan ambil wanita itu, kita harus segera pergi dari sini" titah Eira menatap tegas kepada Zikon yang berdiri di belakangnya.


dengan anggukan singkat, sekali pukulannya berhasil membuat Kaca tersebut pecah berkeping keping, dan disaat itulah tubuh Viola jatuh kedepan dan segera di tangkap oleh Zikon. "ayo!" ajak nya setelah melihat Zikon sudah menggendong ibunda nya dengan baik.


namun bunyi sirine, dan lampu merah mulai menyala disekitarnya membuat Eira menatap tajam sekitarnya, yang menunjukkan bahaya pada pihaknya maupun pihak sebelah.


"kita harus pergi dari sini!"

__ADS_1


Eira dan Zikon pun berusaha lari sekencangnya dari sana untuk menyelamatkan diri mereka. setelah berhasil melewati ruang tersebut, Eira mendorong Zikon untuk segera membawa Viola keluar dari ruangan ini. dengan berat hatipun Zikon keluar dari sana sesuai perintah yang mengendalikan nya.


setelah melihat Zikon telah berhasil keluar, kini giliran Eira yang mengeluarkan aura hitamnya tampak sayap 2 warna itu kembali muncul di balik punggungnya, matanya pun mulai berubah layaknya nya violet begitu juga dengan penampilan dan rambutnya.


semua penjaga yang telah sampai disana langsung mundur ketakutan melihat mahkluk aneh menyusup ke kediaman tuan mereka.


"siapa kamu?" tanya seseorang dengan nada bergetar. namun sayangnya Eira sama sekali tak menjawab pertanyaan itu.


"baiklah, ini permintaan mu yang tak ingin menjawab, serangg..." teriak nya membuat semua pengawal langsung berlari ke arahnya dengan berpuluh puluh anak pintol yang sudah dilayangkan kepadanya. namun sayang Eira hanya tersenyum licik melihat peluru peluru yang mengarah ke arahnya.


"ENYAHLAH!" teriaknya menggema, membuat semua orang menutup matanya sehingga mereka kehilangan ke fokusan mereka. melihat itu Eira mengangkat tangan kirinya memutar pelan kebawah lalu dengan cepat kembali mengangkatnya keatas, dan dalam hitungan detik ia kembali mendorong peluru tersebut membuat peluru peluru tersebut berbalik arah dan mengenai semua pengawal pengawal itu.


wusshh


wuhhsss...


layangan peluru itu terus melaju ke arah pengawal sehingga semakin banyak yang menajadi korban, bahkan lantai sudah layaknya lautan darah. melihat hal itu Eira tersenyum miring menatap tajam darah darah tersebut.


sebelum ia membentangkan sayapnya utuk segera keluar dari sana, ia menulis sesuatu di dinding Masion tersebut sebagai ancaman pertama, karena ia menulisnya menggunakan darah pengawal pengawal rendahan itu.


..."INI MASIH PERINGATAN PERTAMA TUAN MAFIA!"...


...Bersambung...


...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...


...•...


...•...


...•...

__ADS_1


...•...


__ADS_2