ANULIKA EIRA

ANULIKA EIRA
Grandma...~49~


__ADS_3

Suara bentakan itu berhasil membuat Eira dan Zikon menoleh. Disana mereka melihat seorang pria bepakaian Zirah seperti orang Zaman dahulu, dengan sebuah tombak perak dengan gagang panjang menyentuh tanah.


Pria yang memiliki mata Hijau itu, mematap Eira dan Zikon dengan tatapan tidak bersahabat. Namun itu tak mengurangi rasa penasarannya.


Siapa mereka? mengapa Pakaian mereka seperti seorang putri dan pangeran kerajaan Elf, terlebih aura mereka yang sangat kental membuat Pria berbadan besar itu sedikit takut.


"paman, bisakah kami bertemu Yang mulia Ratu" ungkap Zikon mengutarakan niatnya.


"siapa kalian? ada urusan apa kalian berada disini?" tanya Pria tersebut dengan nada ketus. Ia tetap menatap tajam kedua remaja di hadapannya.


"kami ada sedikit Urusan paman!" tukas nya .


"aku akan memberitahu Ratu terlebih dahulu, kalian tunggulah disini" Eira dan Zikon mengangguk dan menunggu disana.


Hanya butuh 15 menit pria tadi kembali datang dengan wajah tak sedatar dan sedingin tadi. Wajahnya tampak tersenyum ramah. Apalagi diikuti 5 orang lainnya di belakangnya.


Jelas itu membuat Eira bertanya tanya. Namun bebeda dengan Zikon yang sudah menebak apa yang terjadi.


"Pangeran! Putri! silahkan..." sambutnya ramah.


Zikon tersenyum membalas, sambil menarik lengan adiknya yang masih terlihat bingung... "ayoo..." ajaknya.


Tak jauh mereka menempuh perjalanan, sampai mereka berhenti di sebuah Tempat yang mana diselilingi oleh Akar akar pohon, dan disambut bunga bunga cantik, serta kupu kupu dan kunang kunang yang ikut menghiasi.


Zikon sedikit menyentuh sebuah perisai transparan di hadapannya, mungkin jika orang lain tak melihat dengan teliti, mereka tak akan bisa melihat penghalang ini.


"Paman apakah penghalang ini bisa kami lewati?" Tanya Zikon membuat ke enam orang tersebut dan Eira menatapnya.


Tampak raut keterkejutan dari ketiga wajah pria dihadapan mereka. Bagaimana tidak? mereka tak menyangka bahwa cucu dari Ratu mereka kali ini memiliki mata setajam silet, bahkan melihat perisai seperti benang Tranparan.


"ah benar! aku juga melihatnya, sangat jelas bahkan" pekik Eira seperti melihat mainan baru. Ia begitu menyukainya. Seperti yang dikatakan, Perisai tersebut terbuat dari benang halus dan transparan. Jadi apabila di mainkan bisa berbunyi seperti alunan melodi gitar.


"putri jangan memainkan itu, nanti tangan mu bisa ter-"


"Akhhh"


Baru saja ingin di jelaskan, Lihat! Jari telunjuk Eira terlebih dahulu terluka, tampak sayatakan kecil di telunjuk itu. Dengan cepat pula Zikon meraih tangan Sang adik, menghisap darah itu lalu menciumnya.


Seketika itu pula luka yang terasa perih tadi merangsur membaik. "WOW..." ia hanya bisa mengungkap rasa takjubnya dengan itu.


"masih sakit?" tanya Zikon sambil mengelus kepala sang adik.

__ADS_1


"tidak..." sahutnya sambil menggeleng pelan.


"Pangeran, Perisai ini di ciptakan untuk para musuh, siapapun Para musuh yang mendekati singgasana Ratu mereka harus melewati perisai ini dulu, namun sayang nya jika mereka tak menyadari adanya keberadaan benang ini, maka tubuh mereka akan terpotong kecil kecil jika melewatinya" Ungkap pria tersebut, membuat Eira dan Zikon bergidik ngeri.


"astaga itu mengerikan" gumam Zikon.


Pria itu pun tertawa pelan, lalu ia mengajak Eira dan Zikon untuk segera menemui sang Ratu.


Hening!


Sudah hampir 10 menit berlalu sang Ratu masih memperhatikan kedua cucunya yang sedang bersimpuh hormat dengan mata yang berkaca kaca. sudah puluhan tahun ia merindukan anak dan cucunya, namun tak satu pun dari mereka yang kembali menemuinya.


"Cucuku! bangunlah" Eira dan Zikon sontak saling melirik. akhirnya Eira dan Zikon memberanikan diri untuk bangkit mendekati sang Ratu.


Saat tiba keduanya di hadapan sang Ratu. Mereka sontak kaget saat sang Ratu memeluk mereka dengan erat sambil menangis sesugukan.


"akhirnya kalian datang, tahukah kalian bahwa nenek sangat merindukan kalian..." gumam wanita tua tersebut dengan wajah yang masih terlihat sangat Muda dan cantik.


"nenek! maaf Kami memiliki tujuan kesini" sela Zikon, membuat sang nenek melepaskan pelukannya.


"iya, aku tahu! kalian ingin aku mengikat Aura kalian bukan? terlebih Aroma cucu perempuan ku begitu harum" tukas sang nenek menatap dalam ke arah Eira.


"iya nenek! karena itu aku membutuhkan bantuan mu" lirih Zikon membuat sang nenek kembali menatapnya.


"bunda meninggal setelah menyelematkan aku nenek" lirih Eira.


Semua orang yang berada Di ruangan tersebut terbelalak kaget mendengar penuturan Eira. Bagaimana tidak? Sekian lama Viola menghilang dan saat kini di nyatakan ia telah tiada.


Sang nenek langsung menjatuhkan dirinya di singgasananya kembali dengan sedikit bantuan pelayannya. "putri kuu..." lirihnya dengan linangan air mata.


"kenapa di bisa tiad-"


Bhom!


Belum selesai Sang nenek berbicara, suara ledakan dari luar terdengar begitu nyaring di telinga mereka.


Mata sang nenek langsung menatap tajam ke arah pengawal pribadinya. Membuat sang pengawal mengerti.


Zikon maupun Eira sekarang dilanda kebingungan, saat diri mereka di pinta berdiri di sisi sang nenek, yang sedang di kepung oleh para pengawal untuk di lindungi.


Tak lama masuk seorang laki laki muda yang menurut Eira sangat tampan. Wajahnya tampak panik dan pucat.

__ADS_1


"Ampun yang mulia, adik Kaisar kerajaan Iblis sudah berada disini, mereka ingin bertemu dengan ratu. Dan mereka mulai memporak porandakan wilayah kita Ratu" adunya membuat Eira dan Zikon kaget.


"nenek..." gumam Eira membuat sang nenek tersenyum. ia bahkan tak kaget sama sekali. Seakan ia bisa menebak bahwa ini akan terjadi. Kedua cucunya terlalu beharga untuk ia berikan kepada kaum mereka yang terbilang sangat licik dan jahat.


"Kita akan keluar, dan untuk kalian tetap lah disini!" titah sang Ratu. Membuat Eira dan Zikon menatap nya tidak terima.


"tapi nenek!"


Tangan sang nenek terangkat ke udara, seakan tak menerima di bantah ataupun penolakan. Akhirnya Eira dan Zikon hanya pasrah, berharap bahwa nenek mereka tidak akan kenapa napa.


Diluar...


"Hay kakak ipar, Apa kabar?" sapa seorang pria tampan dengan seringai tipis di bibirnya. Namun siapa sangka bahwa umurnya sudah ratusan tahun.


"untuk apa kau kesini?" tanya Sang Ratu dengan dingin.


"kau tahu kenapa aku kesini kakak" sahutnya dengan kekehan ringan.


"pergilah" usir Ratu tanpa basa basi.


"kami semua tak akan pernah pergi sebelum mendapatkan saudara kami nenek Ratu" ungkap salah seorang pria, yang tampak manis dan tampan. Mungkin ia seumuran Zikon.


"jangan berharap kalian dapat mengambil cucu cucuku dari ku" bantah Ratu membuat darah mereka seketika mendidih.


"Kakak ipar! jangan ingkari janjimu, sudah kesepakatan kau dan kakakku, bahwa jika nanti keponakan ku melahirkan. Anaknya akan menjadi hak kami. Jangan egois, kau merebut anak kakakku, dan kau juga merebut cucunya!" tegas Pria tersebut membuat Ratu menatapnya datar.


"aku tak pernah melakukan perjanjian itu dengan kakakmu Vier! karna aku tak pernah menyetujui nya. Lagi pula, aku tak ingin cucu cucuku masuk kedunia kejam kalian" bantah sang Ratu dengan tegas.


"JANGAN MENGELAK KAKAK IPAR!" bentak Vier. Namun tak lama terdengar suara hantaman yang cukup kasar, dan itu berasal dari tubuh Vier yang terdorong mengahantam sebuah pohon besar di belakangnya.


"Jangan lewati batasan mu paman!" suara dingin Eira menembus pendengaran Mereka semua.


Betapa terkejutnya mereka melihat Eira yang menatap Vier dengan tangan menengadah dan bola mata ungunya. Berbeda dengan Zikon yang menatap mereka semua sambil bersedekap dada di belakang Eira.


...Bersambung...


...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...


...•...


...•...

__ADS_1


...•...


...•...


__ADS_2