
"MAMA..." teriakan itu berhasil membuat semua penghuni menoleh ke arah pintu utama. Tampak Eira yang berdiri dengan tangan yang mersandar pada dinding pintu dengan nafas yang tak beraturan.
hoshh hoshh hoss..
"EIRA!" teriak mereka semua dan beralih berlari ke arah pintu. " kamu kemana aja hah? kita udah nyari kamu sayang..." keluh Abel dengan perasaan lega.
"mama! rara pingin bicara sesuatu..." ia pun menarik lengan Abel dan berjalan menaiki tangga, namun baru 2 langkah menaiki tangga ia kembali menghentikan langkahnya.
"Jessi! Jihan thanks udah bantu nyari gue, lebih baik kalian pulang dulu gue mau istirahat, besok jemput gue ya, gue males bawa mobil" serunya dan kembali menarik Abel ke kamarnya.
sedangkan dibawah Jessika maupun Jihan mendengus kesal melihat sikap semena mena Eira. "sudah jangan di permasalahkan, kalian kan tau dia gimana, dan maaf om marah sama kalian tadi" ucap Dion membuat mereka tersenyum.
"gak papa om, kalau gitu kita balik ya om..." pamit Jessika
"byee semua, kirim salam ke bunda Abel ya.." teriak Jihan berjalan beriringan dengan Jessika.
...*****...
sedangkan di kamar tampak Abel yang mengerutkan keningnya saat melihat sang anak mengunci rapat pintu kamar tersebut. bahkan seperti orang yang tidak ingin ketahuan mencuri.
"ada apa sayang?" tanya Abel membuat Eira melirik ke arahnya.
"ma ini apa?" tanya nya sambil menyerahkan barang barang yang ia temukan, dan seketika Abel terbelalak dan beranjak mendekati Eira.
"dimana kamu ketemu ini?" tanya Abel menatap tajam putri sulung nya." mimpi " sahut Eira membuat Abel mengernyit bingung.
"mimpi?" beonya yang di angguki Eira.
Eira pun menceritakan secara ditail masalah mimpi yang ia alami, Abel yang mendengar itu hanya mampu terbelalak. "berarti dugaan ku benar, kak Viola seorang Elf, jika tidak mana mungkin Eira bisa berganti wujudnya, terlebih rambut Violet yang membuat ku mengingat mu kakak" lirihnya dalam hati.
"sudah lah jangan di ingat. anggap saja itu hanya mimpi tidur, sekarang kamu lebih baik bersihin diri turun biar makan malam, terus istirahat. dan yah barang barang ini mama yang simpan" ujar Abel membuat Eira hanya mengangguk patuh.
setelahnya Abel pun keluar dari kamar Eira dan menuju kamar nya dengan langkah berat. ia tau ini semua adalah bukti tentang kakaknya Viola, apakah kakak nya masih hidup? dimana tempat itu? selama ini ia mencari namun belum juga menemukan hasilnya.
"kakak beri aku petunjuk jika kau ingin aku melakukan sesuatu" ujar nya lirih dengan genangan air mata yang siap meluncur.
...*****...
Keesokan paginya. tampak Eira sedang melakukan sarapan dengan keluarga nya. namun ia merasa aneh dengan sarapan kali ini, ia merasa mamanya lebih pendiam dan tak banyak bicara.
__ADS_1
bukh..
hampir saja jatuh sandwich yang Dian ingin makan karena ulah kakaknya. "apa sih" cetusnya kesal.
"mama kenapa?" tanya Eira berbisik. Dian pun beralih menatap ibunya yang tampak diam hari ini.
"aku gak tau kak" sahut Dian sambil mengedikkan bahunya. huffhh" Eira pun hanya pasrah dan kembali melanjutkan sarapannya.
setelah selesai ia pun pamit untuk kesekolah sambil menunggu kedua temannya di depan. bertepatan ia keluar, Mobil Jihan sudah terlebih dahulu memasuki Arena rumahnya." widih udah siap aja lu, biasa juga payah nunggi lu sarapan " sindir Jessika yang tak di tanggapi oleh dirinya.
"udah ah lu nyindir mulu Jess, kuy Ra! berangkat" Eira pun mengangguk dan duduk di kursi penumpang belakang. " lu kenapa ra?" tanya Jihan melihat wajah tak enak Eira yang tampak banyak fikiran.
"gak ada" sahut nya cuek.
Jessika dan Jihan pun hanya saling melirik memberi kode dan akhirnya menghela nafas bersama. mereka bingung mau membicarakan apa disaat mode Eira sudah berubah menjadi diam begini. terlebih ia hanya fokus pada buku novel nya.
"ra!"
"em.." sahutnya tanpa menoleh.
"emm... gini pertunangan Gavin dan Lily di lanjutin..."
bagaikan terkena granat dalam satu lemparan. hal itu berhasil menyentak perasaan dan hati Eira. dengan tangan yang meremas roknya dengan erat, dan kepala yang menunduk membuat kedua temannya hanya memberikannya nya semangat.
"ei... jangan gini, ini tuh bukan Eira yang gue kenal. eira yang gue kenal gak bakalan sedih terhadap apapun..." bujuk Jessika yang di balas angguki oleh Jihan.
"gak, ini bukan kemauan gue. hanya perasaan gue sakit banget nerima ini, pliss bantu gue hilangin nih air mata cepett..." ujar Eira panik membuat kedua temannya ternganga dan selebihnya terkekeh geli.
sampai nya mereka di sekolah tampak Eira keluar dengan rambut berantakan dan kaca mata hitam. di tambah dengan kedua wanita cantik di kedua sisinya. yang memperlengkap grub mereka.
tidak seperti biasa, Eira berjalan sambil membaca sesuatu. semua pun mengernyit bingung melihat bidadari mereka tampak serius dengan bukunya.
"eh.. si Eira kenapa? matanya bintilan sampe pake kaca mata hitam."
"sinting tuh eira, masak ngebaca pake kaca mata hitam."
"aduhh bebeb gue kenapa hari ini jadi rajin ya, tapi gak papa deh gue malah makin suka"
"oh my got, cantik cantik banget. andai gue punya pacar kek begitu..."
__ADS_1
begitulah sekilas dari bisik bisik tetangga yang mengganggu pendengaran mereka.
"LU PADA BISA DIAM GAK SIH!" bentak Jessika membuat mereka seketika diam. "KITA TUH BUKAN ARTIS GAK USAH PADA NGUMPUL KEK BEGINI, RISIH GUE" makinya Jessika membuat keadaan semakin hening.
Sedangkan Jihan tampak menatap tajam orang orang yang menghujat temannya "gue mau ingatin sama kalian, jangan pernah gue denger lagi lu ngegibahin sahabat sahabat gue, karena kalau engga, lu bisa ucapkan selamat tinggal sama mulut ember lu itu" sindir nya sarkas.
disisi Eira tampak ia terus berjalan kedepan tanpa memperdulikan teman temannya yang tengah gerah dan kesal. ia hanya tak mau bergabung dengan sampah sampah kotor yang mengotori ujung kemejanya nanti.
tap...
Eira menghentikan langkahnya, saat melihat 2 pasang kaki berhenti tepat di depannya. ia pun mendongak melihat sosok yang telah menghalangi jalannya.
"Tcih lu berdua" sindirnya pelan memutar matanya malas.
"aduhduh.. yang dulu disayang sekarang di tinggalin, memang ya karma itu nyata." sahut Lily menyombongkan diri membuat Eira berdecih miring.
"gak usah lu bahas karma kalau lu belum ngerasain. lagian lu gak tau apa apa, jadi jangan sok tau. manusia kayak lu sebenarnya gak bisa gue biarin hidup. tapi karena gue masih berperikemanusiaan. hiduplah lu dengan hidup lu tanpa mengusik gue" sindirnya nya menatap Gavin dengan sinis.
"heh! lu siapa bisa memerintah gue hah!" dengan cepat lily mendorong Eira dan melayangkan tangannya. namun belum sempat telapak tangan itu menyentuh pipi nya. pergelangan Lily lebih dahulu di tahan oleh Eira.
"tangan najis lu, gak pantas nyentuh gue" dengan kencang Eira menyentak Lily membuat Gavin dengan sigap menahan tubuhnya.
"jaga sikap lu Eira! dia tunangan gue!" bentak Gavin membuat Eira tertawa sinis. "dia tunangan lu, tapi bukan siapa siapanya gue, jadi gue berhak mukul dia kalau di salah." dengan cepat Eira mengambil hand sanitizer dan menyemprot tangannya. tak lupa ia mengambil tissu basah dan mengelap tangannya nya yang menyentuh Lily dengan keras.
"jadi berkuman gue. seharus gue gak usah nyentuh kuman" gumamnya yang mampu didengar oleh kedua insan di hadapannya.
"oh ya kalau gitu gue pamit" ia pun pamit dari hadapan kedua pasangan itu, dengan menelan rasa sakit yang luar biasa di dalam hatinya.
"jika lu tega gue juga tega vin!"
...Bersambung...
...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...
...•...
...•...
...•...
__ADS_1
...•...