ANULIKA EIRA

ANULIKA EIRA
The happiness behind the pain..~26~


__ADS_3

"Eira!" Eira yang saat itu berdiri berhadapan dengan pintu, tersentak kaget saat seseorang yang ia kenali masuk keruangan tersebut.


"Ga- gavin..." gumamnya gugup.


"gimana keadaan lu?" tanya Gavin dengan datar.


"gue baik" sahut Eira seadanya.


"bagus kalau begitu" sahut Gavin dengan acuh.


"vin! maaf, mungkin perkataan gue tadi siang nyakitin elu" cicit Eira membuat Gavin tersenyum sinis dengan tubuh membelakangi.


"lu gak salah Ra! bener apa yang lu bilang, gue bukan siapa siapa di dalam hidup lu, gue hanya orang asing yang tiba tiba masuk ke kehidupan lu, jadi lu gak perlu minta maaf" tukas Gavin membuat Eira mematung.


"vin bukan gitu maksud gue-" kilah Eira yang langsung di hentikan oleh Gavin.


"lu gak usah beralasan lagi Ra! lu gak salah, gue yang salah karena udah ngusik hidup lu dengan kedatangan gue, so... lu tenang aja, gue gak bakal ganggu lu lagi." ujarnya dan langsung pergi meninggalkan kamar Eira.


deg


"dada gu- gue se shak... bruk.." Eira jatuh terduduk di atas lantai kamarnya dengan tangan kanan mencengkram erat dadanya.


"maaf.." lirihnya dengan deraian air mata.


"astaga! Eira lu kenapa" pekik Jessika yang langsung di bekap oleh telapak tangan Eira. ia pun memeberi isyarat untuk diam.


seakan mengerti dengan isyarat itu, Jessika pun berjongkok membantu Eira untuk berdiri, lalu setelahnya ia menutup pintu dengan rapat tak lupa ia menguncinya.


"ada apa hem..?" tanya Jessika mengelus pucuk kepala Eira dengan lembut.


"Gavin benci sama gue jess.." lirih Eira membuat Jessika menghentikan belaiannya. Eira pun menjelaskan secara rinci kejadian sebenarnya kepada Jessika, membuat Jessika mengangguk angguk.


"gue setuju sama keputusan David..." ujar Jessika sengaja memotong perkataannya.


"maksud lu?" tanya Jessika dengan tatapan bingung.


"bukannya itu keputusan lu ya, biar Gavin jauh dari hidup lu "


deg...


ada getaran aneh dari dirinya saat kata kata itu membuat nya diam seribu bahasa.


"tapi gue gak bermaksud gitu Jess, gue cuma mau biar dia tetap hidup tenang, tanpa masuk ke arena keluarga gue, bunda ngelarang gue buat deket sama dia. tapi bunda gak ngasih jawaban yang tepat. " gumamnya lirih mengingatnya dengan sendu.


"dengar! jangan mengejar sosok yang udah memutuskan untuk meninggalkan lu, karena mau bagai manapun lu berusaha, jika orang itu sudah melepas lu gak bakalan dapat kesempatan lagi" jelas Jessika mengelus lembut bahu Eira yang sedang tersenyum kecut.


"baiklah semoga dia bahagia"


"dan semoga dia gak ingat masalah yang di hutan..." lirihnya dalam hati.


Jessika pun memeluk tubuh sahabatnya yang sedang rapuh tersebut, ia tak pernah melihat Eira yang seperti ini, walaupun Eira jarang tersenyum dan tertawa, dia juga jarang menangis dan merasa sedih .


"semoga tuhan menjadikan ini perjalanan yang terbaik" gumamnya dengan hembusan nafas kasar.

__ADS_1


"sebaiknya lu bersihin diri dan istirahat, kita bakal ke sekolah besok"ujar Jessika dan beranjak keluar saat Eira telah menganggukkan kepalanya.


malam ini akan menjadi malam paling bersejarah bagi Jessika, karena ini pertama kalinya ia melihat sosok Eira yang begitu kuat menangis di hadapannya.


"gue gak akan buat lu dekat dengan Gavin, jika Gavin hanya mau nyakitin lu ra!" tukas nya pelan dengan tatapan tajam.


...*****...


Keesokan paginya, tampak Eira yang memakai seragam lengkapnya namun seperti biasa, dengan kaus kaki yang pendek dan sepatu putih bergaris garis biru, kemeja yang dikeluarkan, almameter yang di sampir di lengan kanan, dengan dasi yang ia pakai asal asalan.


ia mengambil tas kebanggaanya dan memakainya di bahu kiri, dan melanjutkan jalan nya ke meja makan.


"pagi!" sapanya datar tanpa senyum sedikit pun.


"eh sayang kamu sekolah, kenapa gak istirahat dulu?" tanya Abel sambil mengoleskan selai di roti sang suami.


"bosan ma" sahut Eira dan mulai melahap sarapannya.


"kakak udah sembuh?" tanya Dian yang duduk di sampingnya, dan Eira hanya berdehem menanggapi itu.


"diamana felix?" tanya Eira yang tak melihat keberadaan Felix di meja makan.


"udah pulang kak semalam, supirnya jemput" Eira pun hanya menganggukkan kepalanya.


"Morningg semua..." sapa seornag gadis dengan pakaian lengkapnya.


"pagi Jessi, ayo sarapan!" ajak Abel saat Jessika menduduki kursi di samping Dian.


"ga usah tan, Jessi udah sarapan" sahutnya dengan senyum merekah.


"EIRA GUE BARU SAMPEEE..!" teriaknya membuat ketiga orang disana terkekeh.


"tantee..." rengeknya membuat Abel tersenyum lembut.


"udah susulin sana, nanti kamu di tinggal!" ujar Abel membuat Jessika mengangguk dan mengejar Eira dengan malas.


"Oi, balapan kuy, kangen gue sama mobil gue yang baru balik" ujar Jessika mengusap usap atap mobilnya.


"oke! yang kalah wajib traktir apapun selama seminggu untuk yang menang" sahut Eira membuat mereka sama sama tersenyum licik.


"one by one " gumam Jessika pelan.


one.."


two..."


three.."


GOOO!


Brumm... brumm..brum...


brummmm....

__ADS_1


dengan cepat Eira dan Jessika menancapkan mobil mereka masing masing, dan membelah perjalanan dengan keseruan pribadi mereka, walaupun harus menerima umpatan dari para warga! bahkan mereka melanggar beberapa aturan lalu lintas, sehingga polisi pun tidak tinggal diam untuk mengejar mereka.


dengan senyum penuh kejahatan, Jessika mengedipkan sebelah matanya, setelah kaca mobil mereka terbuka, Eira pun tersenyum miring dan menggerakkan tangannya berbentuk oke.


dalam satu hitungan, Eira maupun Jessika memutarkan stir mereka kearah yang berlawanan sehingga sang polisi kebingungan dan kehilangan jejak mereka. bahkan tanpa sempat mengenali plat mobil dari kedua mobil yang melanggar aturan itu.




lamborghini aventador milik Eira dan bugatti chiron milik Jessika. terparkir sempurna di area parkiran Sekolah dengan kecepatan Eira yang hanya melebihi 1 detik.


semua orang terbatuk batuk, saat asap decitan aspal dan kedua mobil itu tersentuh dengan tajam. mereka sudah tau siapa dalang di balik kedua mobil itu, tidak lain tidak bukan itu ulah Primadona sekolah mereka sang jujungan para siswa disini.


"gimana? gue menang kan?" ejek Eira setelah keluar dari mobil nya dan bersandar di cap belakang mobilnya.


"tcih.. lu menang satu detik doang" balas Jessika tak mau kalah.


"walaupun 1 detik, namun ia bisa menentukan kemenangan atau kekalahan" ejek Eira dan merangkul sahabatnya yang sedang dalam keadaan tak bersahabat itu.


mereka pun berjalan dengan tenang di koridor sekolah tanpa peduli tatapan memuja dan menjijikkan dari murid murid SMA Secondary School.


Baru saja berjalan dengan tenang sebuah suara berat yang menggelegar membuat Eira dan Jessika membuang nafas mereka dengan kasar. "EIRA! JESSIKA!" teriakan murka itu sama sekali tak membuat kedua gadis itu takut.


"ada apa bry?" tanya nya pada sang ketos yang tampak sangat kesal terhadap mereka.


"maksud kalian apa buat kerusuhan pagi pagi di parkiran sekolah hah!" bentak Bryan membuat Amel yang di belakangnya menggigil takut.


"Tcih..bry, lu udah kenal gue dari kelas satu, seharus nya lu tau kebiasaan gue" sahut Eira dengan enteng sambil memperhatikan kukunya.


"sebaiknya jangan setiap hari Ra! gue bosen nyatat nama kalian kalian aja" keluh Bryan menurunkan notasi suaranya.


"kalau bosan gak usah di catat kali bry, ribet amat hidup lu" tandas Jessika membuat Bryan ingin sekali naik pitam.


"kali ini hukuman kalian, catat 100 rumus matematika, dan 50 rumus fisika beserta contoh contohnya" titah Bryan membuat ketiga gadis itu melotot.


"WHAT! LU-" keduanya saling berteriak dan ingin memaki Bryan namun tangan Gavin menyuruh mereka diam.


"gak ada negoisasi" setelah menyampaikan itu Bryan pergi dari sana membuat kedua Gadis itu mencak mencak menahan kesal.


"ketos sialan! gue penggal juga kepalanya" gerutu Jessika dengan wajah kesal.


"besok siapin kain kafan, gue mau bunuh dia" celetuk Eira membuat Jessika bergidik ngeri.


"astaga..."


...Bersambung...


...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...


...•...


...•...

__ADS_1


...•...


...•...


__ADS_2