ANULIKA EIRA

ANULIKA EIRA
Tranformation..~23~


__ADS_3

"sial sial sial... jarak dari sini kerumah tante Abel jauh banget, yakali gue jalan kaki, eh!"


"itu bukannya Darrel sama Bara ya? nah bener! gue ikutin mereka aja" Dengan cepat Jessika berlari ke arah Darrel dan Bara yang bersiap menaiki mobil kereka.


dan Jessika berhasil masuk kedalam mobil Bara dengan selamat walaupun harus sedikit kelelahan.


"sialan! kalau bukan demi nyelamatin Eira, gue gak akan mau kayak gini" gerutunya kesal.


sesampai nya mereka di rumah sakit tampak banyak polisi disana, dan Jessika kaget saat melihat kedua orang tuanya juga disana, jangan lupakan orang tua Eira beserta adik adiknya yang sedang khawatir.


"sejak kapan papa sama mama pulang, kok gue gak tau?" tanyanya pada diri sendiri.


"oh iya gue lupa, tujuan gue kesini untuk nemuin tante Abel!" ujar nya setelah menepuk singkat dahinya.


"tante!" panggilnya memegang lembut bahu Abel.


Abel yang merasa disentuh pun langsung menoleh dan ia kaget saat melihat Jessika ada di belakangnya.


"JESSI!" teriak Abel membuat semua yang ada disana menoleh ke arahnya.


"Abel! dimana jessi?" tanya Ibu Jessika yang bernama Linda.


"nda, Jessi ada di belakang ku..." sahut Abel membuat mereka mengernyit.


"gak ada siapa siapa bel di belakang kamu" tutur Linda membuat Abel mengernyit.


"tapi..."


"tante.." panggil Eira yang lagi lagi membuatnya menoleh.


"tan... aku di sihir menjadi transparan, makanya kalian semua gak bisa liat aku, dan aku gak nyangka bahwa tante bisa liat aku, ini juga usulan Eira" ujar Jessika membuat Abel semakin berbalik menghadapnya.


"apa yang Eira katakan?" tanya Abel membuat mereka bingung dengan siapa Abel berbicara.


"tante, Eira di sekap! dia nyuruh Jessi kabur, karena dia tau kalau tante bisa lihat keberadaan kami, dan sebisa mungkin kita harus kesana nyelamatin dia tan, karena ini hampir malam terlebih eira takut gelap kan?" ujar Jessika membuat Abel melotot.


"dimana tempatnya?" tanya Abel lagi, dan itu semakin memancing rasa penasaran orang yang memerhatikannya.


"sayang kamu berbicara dengan siapa?" tanya Dion sambil merangkul istrinya itu.


"dengan Jessika" sahut Abel singkat.


"tapi.."


"Diam!" bentak Abel sebelum suaminya itu menyelesaikan perkataannya.


"laut selatan, di jantung hutan Flauria, dekat lembah hijau yang banyak teratai teratai raksasa!" ujar Jessika membuat Abel mematung.

__ADS_1


"kenapa harus tempat itu! " gumamnya takut.


"baiklah" ia pun berbalik dan menjelaskan pada suaminya dengan cara berbisik, dan tentu sang suami kaget, namun ia tak merasa takut dengan kemampuan sang istri yang telah ia ketahui sejak lama.


"baiklah kita akan kesana!" ujarnya membuat Abel menggeleng.


"jangan! aku membutuhkan mu mencari tumbuhan tumbuhan yang aku katakan."


"untuk apa?"


"untuk membebaskan Eira dan Jessika dari tampang transparan mereka" jelas Abel membuat Dion mengangguk. "apa yang kamu inginkan?" tanya Dion membuat Abel terdiam sejenak.


"aku memerlukan daun sage, pegagan, daun saga, daun tempuyung dan bunga kenop" ujar nya membuat sang suami mengangguk.


"pergilah bersama mereka aku akan pergi bersama nak Darrel dan nak Bara!" ujarnya membuat suaminya hanya mengangguk patuh walau merasa khawatir.


"dan untuk kalian pulanglah" ujar Abel terhadap keponakan dan anak bungsungnya.


"baik ma!"


...*****...


gersak gersuk di balik rawa mengejutkan Eira yang sedang memejamkan matanya.


"siapa disana?" tanyanya bingung.


"aku merasakan ikatannya berhenti disini namun disini cuma pengawal biasa apa istimewanya? " gumamnya dengan menelisik setiap sudut.


"tuan! silahkan pergi ini kawasan nona kami" ujar salah satu pengawal membuat Gavin bersedekap.


"siapa kalian yang berani memerintah ku?" tanya Gavin dengan sombongnya.


"tcih jangan pernah menyesal jika kami memperlakukanmu dengan kasar tuan!" ujar salah satu pengawal lain, dan hal itu sama sekali tak merubah aura sombong sosok tuan muda Haydar itu.


"aku tidak penah takut dengan kalian pengawal rendahan" tegas Gavin yang mampu menyulut emosi puluhan pengawal yang menjaga disana.


"dasar sampah, bisanya cari masalah" maki Eira untuk Gavin karena merasa kesal.


"sialan serang dia" teriak salah satu dari mereka lagi.


perkelahian pun tak dapat dihindari dengan Gavin yang melawan puluhan pengawal tersebut, awalnya Eira masih tenang melihat Gavin masih dapat mengatasi pengawal pengawal itu. namun matanya terbelalak saat tak jauh dari Gavin berdiri, terdapat seseorang yang memegang tembak bius berdosis tinggi yang di suntikkan kepadanya, sehingga ia sempat tak sadarkan diri dan tak bisa bergerak sampai sekarang.


"dasar pengecut! sampah enyahlah!" makinya mampu membuat pengawal menyadari bahwa lelaki ini adalah orang nya. dan mereka pun tak segan segan lagi menghabisi nyawa Gavin.


"Gavin pergi... pergi dodol jangan disana, lu bisa celaka... Gaviiinnnnnn" teriaknya kencang membuat Gavin tiba tiba tersentak merasakan telinga nya berdengung, namun saat ia ingin menoleh-


cap

__ADS_1


sesuatu menancap di punggung kirinya, dan itu benar benar sakit, dan tentu saja menyebabkan kaki Gavin tak dapat lagi menahan berat tubuhnya sehingga ia menggunakan lutut sebagai penyangga.


"brengsek sialan, lepasin diaaa...." teriak Eira kembali dengan isaknya dan terus merasa takut akan keadaan Gavin yang saat ini sudah bagaikan bola yang di tendang tendang.


"kalian sampah! pengecut!" makinya berusaha berontak namun tubuhnya sama sekali tak dapat di gerakkan.


"nona! inilah tujuan nona kami, yaitu membunuh orang mu yang datang kesini, dan membuat dirimu sengsara dalam penyesalan" ucap pengawal brengsek yang sudah menembak Gavin.


"sialan! kallll lliiaaan...." entah mengapa kali ini Eira merasakan guncangan hebat dalam dirinya, bahkan tangannya bergetar hebat menahan sesak yang mendorong untuk keluar.


AAKKHHH.....!


semua pengawal disana terkejut dengan teriakan itu terlebih pada perubahan yang Eira alami, apalagi ia terbebas dari ikatan yang diikat dengan tali besi yang sudah tersihir.


mereka menahan nafas, saat melihat penampilan Eira, tampak gaun pendek berlapis emas dengan permata permata langka yang melekat disetiap pinggir lapisan, terlebih sepatu boots berlapis emas terpasang indah dikakinya, dengan jubah hitam yang menyelimuti kilauan dari pakainya, dengan rambut terjulur panjang, dan terambang ambang, dan jangan lupa api ungu mengelilingi tubuh mungilnya.


mereka menggigil takut saat aura Eira menekan energi mereka, terlebih saat Eira melangkah maju mendekati mereka.


"ada apa in- ini aku susah un- untuk ber- bergerak..." gumam salah satu pengawal yang merasa sesak mengelilinginya.


dan meraka semakin terkejut saat bola mata coklat itu berubah menjadi Violet dan sekalian merubah warna rambutnya yang semula coklat menjadi warna violet yang cantik.


"siapa dia?" tanya pengawal yang menembak Gavin dengan gemetar.


"kau tanya siapa aku? kau tidak mengenal ku?" tanya Eira dengan wajah dingin yang menyeramkan.


"kau kau gadis sil siluman" tuduhnya terbata bata membuat Eira tertawa mengerikan.


"aku menjadi siluman gara gara kau pak tua, jika kau tak menyakiti pasanganku, aku tak akan muncul dan menyakiti mu!" tegas nya dan bermain main dengan kuku cantiknya.


"Ei- eira..." panggil Gavin dengan lirih membuat Eira menatap nya sendu.


"sialan!" setelah memaki dengan kasar dan menendang tubuh sang penembak dengan kuat. ia mengarahkan telapaknya ke arah tanah dan menghentakkan dengan kuat sehingga tampak tanah retak dan Aliran ungu yang mengalir kuat sehingga menyerap pengawal pengawal tersebut memasuki tanah.


"tinggallah kalian selamanya disana" bisiknya tersenyum miring bak iblis jahat.


...Bersambung...


...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...


...•...


...•...


...•...


...•...

__ADS_1


__ADS_2