
setelah pelajaran selesai. Eira sibuk membereskan buku bukunya untuk segera pulang kerumah. jujur saja ia sosok gadis yang pintar dan rajin hanya saja kelakuannya yang tak bermoral membuat kepintarannya tertutupi dengan tingkah nakalnya.
"Ra! lu pulang sama siapa? gue nebeng boleh gak?" tanya Jessika membuat Eira menoleh ke arahnya.
"iya" sahutnya singkat dan Jessika pun hanya mengangguk senang.
"ra! nyokap sama bokap gue besok akan ada perjalanan ke inggris lu nginap dirumah gue dong" ajak Jessika membuat Eira berfikir sejenak.
"nanti gue liat dulu, kalau emang gak bisa, lu aja yang nginap dirumah! mama rindu sama lu tuh" ujar Eira membuat Jessika tersenyum senang.
"gue juga kangen banget sama bunda lain kali deh gue dateng" sahut Jessika yang dibalas anggukan oleh Eira.
drtt...drrtt...
getaran ponsel di saku almameternya membuat Eira segera mengambilnya.
"siapa?" tanya Jessika menatap Eira.
"gak tau! nomor tidak di ketahui" sahut Eira yang masih menatap ponsel nya.
"angkat aja siapa tau penting" usul Jessika yang di angguki oleh Eira.
^^^+62 8xxxxxxxx^^^
^^^permisi apakah ini keluarga dari nona Diana Abelia Damian dan tuan Felix Jackson Josua?^^^
Anulika Eira D
benar, ada apa?
^^^+62 8xxxxxxxx^^^
^^^nona tolong datanglah kerumah sakit, kedua adik nona mengalami kecelakaan di jalur lalu lintas selatan, pihak rumah sakit sudah mencoba menghubungi kedua orang tua kalian namun nomor mereka tidak aktif. saya harap kedatangannya nona.^^^
tut....
Eira tersentak kaget mendengar berita itu tangannya bergetar saat memasukkan ponselnya kembali kedalam saku almamaternya.
Jessika yang merasa aneh dengan Eira yang tak pernah seperti ini sebelumnya pun bertanya "Eira! ada apa?" tanya Jessika hati hati.
"jess! lu pulang sendiri dulu ya, gue ada urusan mendadak" Jessika kaget melihat raut wajah Eira yang tampak pucat dan takut.
"ra! ada apa?" tanya nya penasaran.
"ini bukan waktunya untuk gue jelasin, gue harus cepat" ujarnya terburu buru.
"AMEL!" dengan segera ia memanggil Amel yang melintas di hadapannya.
__ADS_1
"ada apa?" tanya Amel merasa aneh.
"gue mohon tolong anterin Jessika pulang, gue ada urusan. gue titip Jessika ya" setelah mengatakan itu Eira berlari sekencang mungkin ke arah mobil nya.
Jessika dan Amel hanya mampu saling menatap merasa ada sesuatu yang janggal terhadap Eira.
bahkan Gavin dan kedua temannya merasa aneh dengan sikap Eira yang tampak ketakutan.
bahkan mereka menyaksikan sendiri bagaimana kencangnya Eira membawa mobil nya itu.
"ada apa dengan gadis itu?" tanya Bara merasa aneh.
"Vin! lu gak ngelakuin sesuatu yang membuat gadis itu takut kan?" tanya Darrel memastikan dan dia mendapatkan gelengan dari Gavin.
" apa yang terjadi? " gumamnya dalam hati.
...*****...
Dalam waktu 15 menit ia berhasil sampai di parkiran rumah sakit yang ia tuju. dengan nafas yang tidak beraturan ia melanjutkan larinya ke dalam menemui resepsionis yang kaget akan kehadirannya.
"di- huh.. mahna... kor- bhan... kecelakaan... di jalur... la- lhu lintas Sela- tan huh. huh..." ungkap nya terbata bata membuat Sang resepsionis mengerti mengapa gadis SMA dihadapannya terlihat panik.
"nona, kedua adik anda berada di ruang UGD" ujar Resepsionis itu membuat Eira mengangguk dan berlari setelah mengucapkan terimakasih.
sampai nya disana berbetulan dengan dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD tersebut.
"bisakah mengikuti saya sebentar" setelah mengatakan itu Eira dan dokter paruh baya tersebut berjalan menuju keruangannya.
"dokter bagaimana kondisi adik adik saya?" tanya nya khawatir.
"nona kedua adik anda tidak apa apa hanya lecet kecil. hanya saja, yang membuat saya heran menurut keterangan polisi kenapa adik laki laki anda mengendarai mobilnya sendiri, bukan kah umurnya masih 15 tahun, dan itu masih sangat lah muda untuk bisa mengendarai mobil" mata Eira terbelalak mendengar penjelasan itu.
"dari mana mereka mendapatkan mobil " gumamnya dalam hati.
"maaf Dokter saya tidak tahu jika mereka membawa mobil, tapi saya akan menyelesaikan kasus ini di kantor polisi." sahut Eira yang membuat dokter tersebut mengangguk.
"baiklah setelah ini, ambil lah obat nya dan lunasi admirtrasinya" ujar dokter tersebut membuat Eira mengiyakannya dan pamit untuk keluar.
setelah melakukan apa yang di suruh oleh dokter tadi Eira berjalan menuju ruang inap kedua adiknya itu. ia masih bertanya tanya.
sedang apa kedua adiknya meelwati jalur lalu lintas selatan, jalan itu sangat berlawanan arah dengan arah sekolah maupun rumah mereka. dan lagi dari mana mereka mendapatkan mobil.
"aishh kepala gue pusing banget..." gumamnya pelan dan berjalan tertatih ke arah kursi didepan ruangan.
ia mencoba menghubungi telepon rumah dan benar seperti dugaannya, kedua orang tuanya telah berangkat keluar negeri untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. dan itu semakin membuat nya pusing.
"kenapa mama sama papa gak bilang dulu sih mau berangkat keluar negeri" ujar nya pelan.
__ADS_1
ia bangkit menuju ke dalam ruang adik adiknya disana ia melihat kedua adiknya telah sadar dan duduk bersandar pada badan ranjang. tampak dahi Dian yang dibaluti kain kasa begitu juga dengan Dahi Felix hanya saja ada balutan di telapak tangan kanan Felix.
menyadari kedatangan Eira kedua bocah tersebut menunduk takut.
"kalian kenapa kesana?" tanya Eira cukup dingin.
"kak maaf-"
"jawab pertanyaan kakak Felix! Dian!" potong Eira menatap tajam kedua adiknya tersebut.
"kita hanya penasaran kak!" sahut Felix membuat Eira menatap nya dengan heran.
"apa?" tanya nya membuat Felix menatapnya dengan melas.
"kakak teman teman kami mengatakan bahwa di laut selatan konon mempunyai cerita bahwa disana kerajaan duyung terbesar yang menguasai lautan" jelas Felix membuat Eira memutar matanya malas.
"dan kalian percaya?" tanya Eira yang di angguki dengan polos oleh mereka.
"huh..."
"dengar! umur kalian belum cukup untuk mengendarai mobil sendiri, dan kedua tidak semua hal harus kita percayai tanpa adanya bukti" ujar Eira menatap kedua adiknya dengan lembut.
"kaka maaff... hikss hikss.." tangis Dian pun pecah mendengar suara lembut Eira.
inilah sosok Eira, walaupun ia terlihat cuek, dingin dan bodo amatan. namun jika menyangkut keluarga nya tak ada yang dapat membuat nya berhenti untuk khawatir. karena itu lah Felix dan Dian tidak pernah membenci Eira meskipun Eira bersikap dingin kepada mereka.
"sudah jangan menangis katanya kamu bukan bocah lagi" bujuk Eira dan memeluk tubuh adik perempuannya itu.
"kakak maafin Felix" ujar Felix menunduk.
"baiklah untuk kali ini kakak maafin kalian berdua" sahutnya membalas perkataan sang adik sepupunya itu.
"sudahlah kalian disini baik baik, jangan nakal. kakak akan ke kantor polisi untuk menyelasaikan kasus kalian yang sudah membuat pelanggaran di jalur lalu lintas" ujar Eira membuat mereka meringis malu.
"maafin kami kak!" ucap mereka bersamaan.
Eira tersenyum lembut kepada mereka sebelum keluar dari kamar inap tersebut dan mengganti raut wajah nya dengan raut yang dingin. bahkan membuat orang orang merinding.
...Bersambung...
...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...
...°...
...°...
...°...
__ADS_1
...°...