ANULIKA EIRA

ANULIKA EIRA
Gavin's grief.. ~06~


__ADS_3

Diperjalanan Gavin tampak khawatir dengan keadaan tubuh Eira yang semakin memanas.


"vin kita kerumah sakit atau ke masion?" tanya Darrel membuat Gavin menatap nya.


"ke masion! jangan lupa panggil dokter, dan katakan padanya, kita sampai disana dokter harus sudah ada" titah Gavin membuat Darrel hanya mengangguk pasrah.


"sayang bangun please... wake up please, Honey you heard me. Then get up! Don't scare me !" bisik Gavin dan kembali mengecupi dahi Eira yang terasa panas.


ia terus mengecupi dahi dan kedua kelopak mata itu, berharap kedua kelopak mata itu terbuka.


"Ada apa dengan Gavin? kenapa dia tampak sangat menyayangi gadis itu. apa jangan jangan gadis itu yang selama ini Gavin cari? " tanya Darrel dalam hatinya dengan sekali kali melirik kebelakang melalui kaca gantung di atasnya.


"Mama..." lirih Eira membuat Gavin menggenggam erat tangan mungil itu di dalam telapak tangannya yang besar.


"sayang ada apa?" tanya Gavin melirih saat melihat setetes air bening itu meluncur bebas dari kelopak mata Eira yang tertutup.


ia mengusap ujung mata itu dan kembali mengecupnya untuk kesekian kalinya.


"shutt aku mencintai mu Honey..." bisik Gavin yang hanya dapat di dengar oleh dirinya sendiri.


"Vin! kita sampai..." ujar Darrel membuat Gavin dengan segera menuruni mobil nya.


"ada apa Gavin kenapa lu nyuruh gue kesini buru buru, lu tau pasien gue lagi banyak dirumah sakit." gerutu seorang dokter muda yang tampan dengan kesal.


namun setelah nya ia tersenyum canggung saat mendapat tatapan tajam dari Gavin.


"lu gak kelihatan sakit? jadi ngapain lu nyuruh gue kesini?" ujar Dokter tersebut yang belum menyadari keberadaan Eira di dalam gendongan Gavin.


"kak Fathur, Gavin menyuruh kakak kesini untuk memeriksa gadis di dalam gendongannya" ujar Darrel membuat Dokter muda bernama Fathur itu terkaget.


"eh' " dengan segera ia berlari mengejar Gavin yang sudah terlebih dahulu memasuki kamar. dan disana ia menyadari seorang gadis cantik yang telah di baringkan Gavin di atas ranjang miliknya.


"astaga Gavin dimana lu nyulik gadis cantik kayak gini?" tanya Fathur dengan hebohnya membuat Gavin mendidih seketika.


"bisa gak lu meriksa dia aja, gak usah bawel" sarkas Gavin membuat Fathur kicep seketika.

__ADS_1


"hah' " ia pun mencoba fokus untuk memeriksa Gadis di hadapannya.


"jangan sentuh tangannya!" bentak Gavin saat Fathur ingin mengecek nadinya. karena tak ingin berdebat akhirnya ia pun mengalah dan beralih menggunakan Stetoskop untuk memeriksanya.


"udah gue bilang jangan sentuh dia sialan!" bentak Gavin kembali membuat kesabaran Fathur berada di ambang batas.


"kalau gue gak nyenuh dia sendikit, kayak mana gue bisa tau keadaan dia sialan!" bentak Fathur membuat Darrel pusing dengan pertengkaran kedua pria itu.


"Darrel bawa si sialan ini keluar dari sini" ujar Fathur masih merasa kesal.


"lu ngusir gue" ucap Gavin tak kalah kesal.


"udah lah vin, ngalah untuk kali ini, Kak Fathur juga butuh waktu untuk ngobatin Eira!" ujar Darrel berusaha membujuk Gavin.


dan akhirnya bujukan itu pun berhasil, walau dengan perasaan dongkol dan tidak ikhlas Gavin meninggalkan ruangan itu.


setelah keluarnya Gavin, baru Fathur merasa damai untuk memeriksa keadaan Eira. ia cukup terkejut saat merasakan panas yang sangat menyengat dipunggung tangannya saat ia menyentuh dahi Eira.


"gue rasa gadis ini, banyak masalah dan terlalu kelelahan, bahkan panas nya bukan seperti orang orang normal biasa" gumam Fathur merasa aneh.


dan dia terjengkal kaget saat melihat suhu tubuh Eira mencapai 39,4 °c. Karena hal ini jarang terjadi kepada manusia yang sakit demam biasa.


karena dari kondisi yang Eira derita ia tidak seperti orang orang yang terinfeksi kuman ataupun bakteri.


"astaga suhunya tinggi sekali huh... saat melihat betapa khawatirnya Gavin pada gadis ini, gue yakin dia bukan sembarang gadis di hidup Gavin. dan gue akan memarahi Gavin karena gak bisa menjaga adik ipar gue dengan baik" celoteh Fathur dan menatap sendu ke arah Eira.


"kenapa gue merasa gak asing ya sama wajah nya? kaya, gue pernah lihat dan terasa sangat familiar? " gumam Fathur dengan kerutan di dahinya.


...*****...


"kenapa dia belum keluar juga sih?" gerutu Gavin sambil berbolak balik didepan pintu itu.


"cih' sejak kapan lu seperhatian itu sama seorang gadis" ungkap Darrel dan menyelip kan rokok di kesela sela jari telunjuk dan tengahnya.


"lu gak tau aja rel! perasaan gue gak penah bohong! dia mirip banget dengan sosok yang sangat gue cari" ungkap Gavin berhenti membelakangi Darrel.

__ADS_1


"lu gak usah bercanda vin, udah 17 tahun dia hilang gak mungkin dia masih hidup" sahut Darrel menghisap rokoknya dengan tenang.


"gue tau itu! tapi gue yakin dia memiliki putri yang muda dua tahun dari gue, bunda selalu mengingatkan gue dan terus menyuruh gue untuk menemukan gadis itu. dan dari sekian banyaknya gadis, hanya gadis itu yang benar benar sangat mirip dengan sosok yang melindungi gue waktu itu." ujar Gavin sendu menatap langit langit Masion nya dengan pandangan rindu yang mendalam.


"matanya! hidung itu, bibir mungil itu, kulit putih susu itu serta tubuhnya yang sangat indah sangat mirip dengan sosok itu dan gue gak bisa menolak akan fakta yang benar benar terlihat kini, dan gue juga dapat merasakan ikatan batin yang kuat dengannya" sambungnya merasa sedih dan tersirat kegetaran dalam suaranya.


Darrel berdiri tegak dari sandarannya dan berjalan mendekati Gavin yang masih membelakanginya.


ia pun merangkul pundak sahabatnya itu dengan tangan kanannya. dan tangan kiri yang masih menggapit rokoknya.


"lu tau, tuhan maha adil terhadap makhluk makhluknya! terkadang hidup juga butuh perjuangan dan kesabaran untuk menunggu ekspetasi yang sesuai dengan apa yang kita harapkan, dan satu lagi! perjuangan tidak pernah mengecewakan hasil" ujar Darrel memberi semangat kepada sahabatnya itu.


"thank rel..."


ceklek...


bunyi pintu terbuka membuat kedua atensi pria muda itu beralih kesana. dan disana Fathur keluar dengan aura wibawanya dan aura dingin yang melekat. bahkan ia sama sekali tak menyapa kedua pria dihapannya kini yang menatapnya aneh.


"beri dia obat ini, dia baik baik saja, jika tidak ada keperluan lagi gue pamit" ujar Fathur dengan dingin.


Darrel dan Gavin saling memandang dan terheran heran dengan sikap aneh Fathur kali ini.


"ada apa?" tanya Gavin membuat Fathur menghentikan langkahnya.


"pertanyaan lu gak penting sama sekali" setelah mengatakan hal tersebut, Fathur benar benar pergi meninggalkan Masion tersebut dengan hawa dingin yang melingkupinya.


...Bersambung...


...<☆>☆<☆>☆<☆>☆<☆>...


...•...


...•...


...•...

__ADS_1


...•...


__ADS_2