
kini mereka semua berada diruangan yang sama , yaitu ruangan Eira, bahkan Eira pun sudah sadar dari pingsannya, hanya saja ia sedikit linglung dan masih merasa lemas.
"sayang kamu mau makan sesuatu?" tanya Abel membuat Eira menoleh ke arahnya.
"boleh ma..." sahut nya pelan.
akhirnya Abel pun beranjak keluar untuk membelikan putri nya makanan. itu pun di temani Dion disisi nya yang tak mengizinkan dirinya pergi sendiri malam malam begini.
"bro! gue sama Darrel pulang dulu ya! mau ganti pakaian dulu, nanti gue balik lagi buat bawa pakaian ganti lu" ujar Bara sambil menepuk pundak Gavin yang duduk di sofa bersama nya.
"oke! hati hati" ujar Gavin yang di angguki Bara.
"Bara!" panggil Eira membuat semuanya menoleh ke arahnya.
"ada apa ra?" tanya Bara melirik sedikit ke arah Gavin yang sudah menatapnya tajam.
glek...
"ra! gue belom mau mati..." gumamnya dalam hati.
"tolong anterin Jessika, sama kedua adik gue untuk pulang!" pinta Eira membuat Jessika melotot.
"Ra! gue bisa pulang sendiri nanti" protes Jessika yang di jawab gelengan oleh Eira.
"lu cewe gak baik pulang sendiri malam malam. lagi pula lu masih make seragam. apa kata orang kalau mereka tau anak SMA masih kelayapan malam malam begini" sahut Eira panjang lebar membuat Jessika menekuk wajahnya.
"yaudah deh!" sahutnya pasrah.
"kak kita pulang juga?" tanya Felix yang di angguki oleh Eira.
"biar papa sama mama aja yang jaga kakak, kalian boleh pulang, besok sekolah kan, jadi lebih baik kalian belajar" tukas Eira yang di angguki oleh mereka berdua.
"Bar! gak papa kan kalau gue nitip mereka?" tanya Eira merasa tak enak.
"sans aja! serahin mereka ke gue, kuy guys" ajak nya setelah pamit kepada Eira maupun Gavin.
__ADS_1
"vin?" panggil Eira membuat Gavin menoleh ke arahnya.
"lu kenapa?" tanya Eira merasa aneh dengan sikap Gavin yang terbilang pendiam.
Gavin menghela nafasnya mendengar pertanyaan itu. ia bangkit dari sofa dan duduk di kursi pengunjung yang berada di dekat brankar.
"gue gak papa!" sahut nya dan meraih tangan Eira untuk ia genggam.
"muka lu pucet, lu sakit!" Eira melepaskan genggaman itu dan beralih meletakkan punggung tangannya ke dahi Gavin.
"engga panas malahan dingin!" celetuknya pelan membuat Gavin terkikik geli.
"gue gak papa sayang!"
bluss...
Eira langsung membuang pandangannya saat kata kata Gavin mampu membuat pipinya memanas.
melihat tingkah malu Eira yang sangat lucu di mata Gavin ia pun terbahak tebahak melihat itu.
"lu kenapa gak bilang kalau lu phobia ulat?" tanya Gavin membuat Eira mengingat kembali kejadian di gudang tersebut.
"dasar! memang nya lu kenapa bisa ada diruangan itu sih?" tanya Gavin lagi sesudah mencubit pelan hidung mancung Eira.
Eira kembali mengingat kejadian dimana ia diculik dan ia kehilangan kesadarannya dan saat ia sadar ia sudah berada disana. dengan detail ia menceritakan kejadian itu terhadap Gavin. namun ia tetap menyembunyikan tentang ingatan yang tiba tiba datang itu.
mendengar semua penjelasan itu, Gavin dapat mengambil kesimpulan bahwa yang menyelakakan Eira adalan seorang wanita yang sangat membencinya dan kedudukan wanita tersebut juga bukan main main, bahkan ia berani bermain main dengan seorang putri Damian.
diam diam ia menggepalkan tangannya di bawah brankar Eira. ia ingin menggeram marah dan memberi pelajaran kepada orang yang sudah menyakiti gadisnya.
"tapi lu yakin gak luka sama sekali kan?" tanya Gavin memastikan kembali.
"aman kok, gue masih sehat walafiat" sahut Eira dengan senyum kecilnya. membuat Gavin pun turut tersenyum.
sejenak ia melupakan tentang bibi Abellanya yang menghindarinya. ia tidak tahu kesalahan apa yang ia buat yang mampu membuat bibinya berpura pura tak mengenalinya.
__ADS_1
sedangkan di luar pintu kamar Eira, Abel kembali menangis di dalam pelukan suaminya, melihat percakapan dan kedekatan dua insan yang berada di dalam kamar.
"kenapa takdir begitu mempermainkan kehidupan mereka mas?"
"gak kak Viola, gak putri nya, mereka selalu memiliki beban hidup mereka yang harus mereka lalui"
"bedanya kak Viola tau apa masalah yang ia lalui! namun Eira dia tidak tau di masa mendatang apa yang terjadi kepadanya! aku juga tidak bisa selamanya berakting tidak mengenal Gavin!"
"dia sosok yang sangat di sayangi kakak saat ia mengandung Eira! bahkan demi menyelamatkan Eira ia rela tinggal terpisah dari kak Zyan. ia tidak mau kehilangan bayinya lagi seperti yang pertama... hiks hikss..."
"tapi aku gak pernah menyesal sekali pun dengan keputusanku yang meninggalkan kerajaan demi menyelamatkan Putri Kak Viola! karena seperti nya bukan hanya Kak Zyan yang menginginkan Eira namun banyak lagi yang mengingikan anak gadis kita...." cerita Abel mengeluarkan keluh kesahnya yang di dengar baik oleh sang suami.
"tenang lah! kita akan menjaga Eira semampu kita."
"bukannya dia putri kita juga, jadi kita harus menjaga nya juga seperti kita menjaga Dian, dan kita harus membuat Eira menjadi gadis yang kuat, karena pasti di suatu saat nanti ia pasti bertemu dengan ayah kandungnya!" ujar Dion menenangkan istrinya tersebut.
namun tanpa mereka sadari ada seseorang yang menguping pembicaraan itu di balik salah satu tembok yang berada di dekat Ruang inap Eira.
ia memegang paperbag yang berisi baju ganti untuk Gavin itu dengan kuat saat mendengar jelas percakapan yang mengejutkan baginya itu.
"Apa yang disembunyikan keluarga besar Damian! jadi Eira bukanlah putri kandung mereka, dan mereka bilang dia anaknya Viola, sosok yang yang sempat Gavin pertanyakan tadi!"
"kenapa mereka nyembunyiin masalah sebesar ini, jika suatu saat nanti Eira mengetahuinya bagaimana perasaan nya? "
"sebaiknya gue jangan kasih tau masalah ini ke Darrel maupun Gavin! gue akan cari tau sendiri dulu " ujar nya pelan.
siapa lagi jika dia bukan Bara. ia berniat membawa pakaian ganti itu kepada Gavin, namun langkah nya terhenti saat melihat bundanya Eira menangis didepan pintu inap itu. dan tanpa sengaja ia mendengar percakapan mereka. namun karena ia merasa itu sesuatu yang sangat penting. ia pun memutuskan untuk menguping walaupun ia tau itu tidak lah sopan.
...Bersambung...
...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...
...•...
...•...
__ADS_1
...•...
...•...