ANULIKA EIRA

ANULIKA EIRA
Want an explanation..~37~


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang Eira maupun Zikon melempar lelucon, membuat orang orang yang melihat mereka langsung iri melihat kemesraan yang mereka buat.


"jangan ganggu gue lagi kak" protes Eira menahan geli di perutnya. "baiklah baiklah" akhirnya Zikon melepaskan Eira dan beralih merangkul pundak adiknya yang hanya berada di bawah keteknya.


"kakak!" panggil Eira ragu.


"ada apa?" tanya Zikon menatap wajah cantik adiknya itu.


"bisakah kita merahasiakan hubungan kita kepada siapapun?" tanya Eira takut. dan benar saja, tampak Zikon langsung melepaskan tangannya dan menatap Eira dengan tidak suka.


"kenapa? apa lu malu punya abang kayak gue" tanya Zikon dengan senyum remeh.


"kak denger! gak ada satupun dari orang orang yang mengetahui kalau kita adalah saudara, jika mereka tahu mereka akan bertanya tanya"


"terlebih lu adalah anak tunggal dari keluarga William dan gue anak sulung dari keluarga Damian, apa yang akan kita jelaskan jika dunia tahu kita adik kakak, itu akan mempengaruhi keluarga kita kakak" jelas Eira lagi lagi memberi pengertian kepada kakaknya yang keras kepala itu.


"tapi..." Eira langsung menutup mulut abangnya sebelum sebuah protesan melayang dari bibir tersebut.


"huh... baiklah..." pasrah Zikon membuat Eira tersenyum senang.


"lu memang kakak ter- thebest" dengan Cepat Eira beralih memeluk tubuh tegap kakaknya itu. dan seakan tak mau kalah Zikon pun turut membalas pelukan sang adik.


dan mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk mengantar Eira menuju ke Apartementnya.


"Thanks kak" ucap nya dengan senyum manis.


"iya, jaga diri baik baik dengar!" titah Zikon membuat Eira tersenyum dan mengangguk.


"yaudah masuk gih.." dengan gemas ia mengacak acak ramnut adiknya membuat Bibir Eira mencebik. "rambutt gueee"


"hahahah" dengan cepat ia menarik kepala adiknya itu dan mengecup lembut pelipis sang adik.


"gue duluann..." wushh


Eira langsung menatap datar asap kosong di depannya, bagaimana bisa abangnya menggunakan kekuatan untuk menghilang di hadapan orang orang rame seperti ini.


...*****...


kreekk...


orang yang berada di dalam apartement tersebut langsung menoleh melihat siapa yang masuk, dan seketika mereka langsung menghambur memeluk pelaku yang sudah menghilang hampir dua jam itu.

__ADS_1


"lu dari mana aja sih, hampir aja gue aduin ke bunda kalau lu hilang lagi, lu mau nyusahin orang orang lagi ra? pliss dehh jangan buat kita selalu panik..." omel Jessika membuat Eira tersenyum tipis.


"jadi dia sering hilang begini jess?" tanya Jihan yang membuat tatapan kedua orang itu menoleh ke arahnya.


"Tcihh... dia tuh akhir akhir ini sering menghilang tau. kesel gue" decak Jessika membuat Eira terkekeh.


"walaupun gue hilang yang penting gue tetep selamat kan" ujar Eira melangkah masuk.


"ya walah begitu lu gak boleh sering ngilang gitu Ra? jika keberuntangan gak mihak ke elu gimana?" tanya Jihan membuat Eira mengedikkan bahunya.


"ohiya lu tadi kemana?" tanya Jihan saat melihat Eira sedang menggantung mantel nya yang sedikit basah.


"gue cuma cari angin..." sahut Eira sekenanya.


pletak "cari angin pala lu. di luar itu lagi dingin dinginnya bege" protes Jessika tanpa memperdulikan Eira yang sedang menggosok kepalanya.


"auah kaliah berisik." dengan cepat Eira meraih sebuah snack yang masih tertata rapi di dalam plastik minimarket.


dengan tenang ia mendudukkan tubuhnya di atas sofa dan duduk menghadap tv besar di hadapannya.


"kuy nonton film horor?" tantangnya sambil menunjukkan 3 CD bergenre horor.


setelah kepergian kedua temannya kedapur, Eira menggulung lengan sweaternya, dan menampilkan sebuah gelang couple yang sempat abangnya berikan saat mereka berjalan jalan melewati toko akseroris.


"akhirnya gue ketemu sama lu, di waktu yang singkat ini bang? gue jadi penasaran siapa sosok abang yang beda ibu dari gue itu?"


"dan gue harus cari tahu, apa penyebab kematian bunda? siapa yang menyebabkan? dan siapa siapa saja yang terlibat? dan terakhir gue harus memperbaiki hubungan Mama dan bangsa duyung, karena bagaimana pun juga, mama tetaplah berasal dari sana..." gumamnya pelan sambil memutar mutar gelang di pergelangan tangannya.


"ayoooo guyss" teriak Jessika sambil membawa 2 nampan yang di penuhi dengan makanan. begitu juga dengan Jihan yang tampak kewalahan di belakang Jessika.


"astaga lu masak sebanyak ini jess? siapa yang ngabisin coba?" tanya Eira menganga, melihat makanan dengan macam fariasi itu.


"besok besok jangan suruh Jessi yang masak lagi deh ra! bisa tekor kita kalau dia yang masak" gerutu Jihan mengambil alih satu keripik di dalam plastik dan menjatuhkan bokongnya di atas sofa tepat di sebelah Eira.


"udah tau gue kalau masak gak tanggung, disuruh juga kan" cibir Jessika yang beralih duduk di sebelah Eira disisi lainnya.


"astaga... boros banget lu jess.. jess.." gerutu Eira yang tak ditanggapi oleh Jessika. "Ayo cepat puterrr..." pekik Jessika tak sabar.


"sabar pe'a, matiin lampu sono, hidupin lampu tidur aja" ucap Eira bangkit dari duduk nya untuk memasukkan CD yang ia pegang ke dalam DVD player.


...*****...

__ADS_1


Pukul 5 pagi Eira pulang kerumah utama agar keluargamya tidak khawatir.


"pagi semua..." sapa nya dan menduduki kursi nya di tempat biasa. "kenapa baru pulang sayang?" Tanya Abel sambil mengoles selai coklat di roti sang anak sulung.


"Eira lagi pingin nginap bareng bareng sama Jessi dan Jihan di apartement ma..." ujarnya mengambil alih roti yang sudah terselai itu.


"apakah kalian bersenang senang?" tanya Dion membuat Eira menatap sekilas "sangat pa.." sahutnya.


"ishh kok kak Eira gak ngajak Dian sihhh?" gerutu Dian membuat Eira memutar malas matanya.


"lu masih bocil gak boleh nginap nginap sembarangan" celetuk Eira membuat Dian mencebikkan bibirnya. "ishh kak Eira mah nyebelin.." gerutunya jengkel. dan Eira hanya mengangkat acuh bahunya.


setelah sarapan selesai, Dengan langkah tenang Eira memasuki kamar ibunya. terlihat bundanya sedang merias diri di depan cermin.


"ma?" panggilnya sambil duduk di pinggir kasur milik ibunya.


"jelaskan sama Eira siapa mama sebenarnya? dan... dari mana Eira berasal?" Abel langsung terkesiap saat mendengar pertanyaan dari anak sulungnya itu.


"maksud kamu apa sih sayang mama gak ngerti?" elak Abel melanjutkan mengoles lipstik tipis di bibirnya.


"ma! jangan ngelak lagi ma... Eira udah nemuin jasad bunda, Eira udah ketemu juga sama abang kandung Eira, dan Eira juga udah bisa berubah ke wujud Eira yang asli, tolong kasih tau Eira jawabannya ma..." ucap Eira dengan wajah serius.


mendengar nama yang sangat Abel rindukan membuat Abel berbalik dan menatap anaknya dengan intens.


"dimana kamu temukan bunda kamu?" tanya Abel membuat Eira berfikir.


"di rumah salah satu Mafia terkuat dan terkejam. hanya itu yang aku ketahui" sahut Eira membuat Abel diam diam menggepalkan tangannya. "kak Zyann..." lirih nya pelan.


"baiklah akan mama jelaskan..."


...Bersambung...


...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...


...•...


...•...


...•...


...•...

__ADS_1


__ADS_2