
entah sudah berapa lama mata itu terpejam. kini kelopak mata indah itu kembali terbuka, manampilkan manik coklat madu yang indah.
dengan muka bantal gadis tersebut duduk di atas tempat tidurnya dengan menguap bebas. namun seketika ia merasakan aneh.
"kok gue ada di apartement?" gumamnya pelan. "bukannya tadi di hutan hutan itu ya? ketemu makhluk vampire sialan itu ya?" tanya nya kembali tanpa menyadari sekelilingnya.
namun saat ia mendongak ia langsung mendapati wajah kesal kedua sahabatnya itu, namun ada sirat kekhawatiran juga "kenapa?" tanya nya polos.
Pletak
awww...
"heh lu tidur atau mati sih, dari jam 3 siang kita datang sampe jam 8 malam kayak gini, lu gak bangun bagun" protes Jessika berkecak pinggang.
"lu sakit apa sih ra?" tanya Jihan yang sudah menepat kan dirinya disamping Eira. "entahlah, kepala gue pusing..." keluhnya dengan wajah lesu.
"lu kumat lagi?" tanya Jessika khawatir. berbeda dengan Jihan yang bertanya tanya. "kumat apa Jess?"
"entah gue juga gak tau, akhir akhir ini Eira tuh sering ngeluh tiba tiba kalau kepalanya sakit, bahkan sampe pingsan" jelas Jessika membuat Jihan melotot ke arah Eira.
"kok lu berdua gak kasih tau gue?" tanya nya kesal, yang langsung dapat delikan oleh Jessika. "emang lu selama disana ada kasih kabar ke-kita kita, nomor lu aja kita berdua gak ada" sahut Jessika kesal membuat Jihan menggaruk kepalanya pening.
"bener juga" lirihnya membuat Eira tak segan segan menggeplak kepalanya. "sakit dodol!" umpatnya setelah Eira menggeplaknya.
"makanya mikir dulu, baru ngomong, biar gak ngawur" sahutnya Cuek bebek tanpa memperdulikan Jihan yang kesakitan.
"guys nginap disini dulu yuk! udah lama nih gue gak nginap disini bareng kalian" ajak Jihan membuat Eira dan Jessika saling pandang.
"kuy.. eittt, tapi diantara kita harus ada yang membeli bahan makanan keluar dan snack snack, dan ada yang masak" saran Jessika membuat Eira dan Jihan saling pandang.
"Sisi yang cantik! lu yang masak oke, biar kita cari makanan bye..." dengan cepat. Eira maupun Jihan berlari keluar kamar. "TEMAN SIALAN!" maki Jessika membuat keduanya terkikik.
setelah mengganti pakaian dan memakai pakian dingin. keduanya, berjalan keluar menikmati malam sunyi dengan jalan kaki di pinggir trotoar. mereka memang sengaja tak membawa mobil, karena untuk mencari angin segar.
"ra! kok dingin banget ya?" ucap Jihan membuat Eira mengangkat bahunya acuh. "mana gue tau, tanya aja sama udaranya" sahutnya ngawur.
__ADS_1
plak..
satu geplakan ringan mengenai lengan kanan Eira akibat Jihan "lu o'on! gimana caranya gue ngomong sama angin" protes Jihan kesal.
"lu yang o'on, udara aja gak bisa jawab pertanyaan lu, apalagi gue" sahut nya cuek membuat Jihan bungkam dalam perjalanannya.
"ohiya, tumben tumbenan, bulan purnamanya penuh" celetuk Jihan membuat Eira spontan menatap ke arah bulan dan kembali menatap tangannya.
"kenapa gak terjadi apa apa ya? bukannya tadi gue sempat berubah waktu bulan purnama pertama datang? " tanya nya dalam hati.
tanpa ambil pusing ia menggeleng pelan dan langsung memasuki Minimarket yang berada tepat di hadapan mereka.
"lu mau apa?" tanya Eira menatap satu persatu makanan yang berjejer di rak sambil mendorong trollinya.
"gue mau ini, ini, ini, ini, ini, dan ini..." Eira langsung terperangah melihat Trolli yang ia bawa lansung penuh seketika.
"lu waras, ngambil snack sebanyak ini" protes Eira menunjuk Snack yang tak bermanfaat milik Jihan.
"eira sayang.. gue tau lu suka snack kentang, dan snack snack pedas, jadi nih gue masukin juga" Jihan pun membawa beberapa snack kesukaan Eira dan langsung memasukkanya kedalam trolli.
"bukan itu maksud nya gue dodol! ini kebanyakan" protes Eira membuat Jihan terkekeh. "sesekali pun..." sahut nya tak mau kalah. "ah terserah ah..." pasrah Eira dan langsung mendorong trollinya menuju kasir.
"Ra kenapa ber-" perkataan Jihan langsung berhenti saat matanya bertubrukkan dengan mata Gavin dan Lily di sebrangnya. "Tcih, kenapa harus ketemu pelakor sama playboy disini sih" decih nya tidak suka.
"heh! lu masih anak baru ya, gak usah sok berani" sahut Lily yang mendengar decihan Jihan.
"aduhh... kakak kelas gue yang terhormat. ini bukan sekolah, jadi jangan suka ngatur ngatur gue, terserah mulut gue mau ngomong apa, syukur gue ngomongin lu dari depan, coba dari belakang" sarkas Jihan membuat Gavin menatapnya nyalang.
"jaga perkataan lu, karena gue gak akan segan segan walau lu per-"
"sebelum lu nyakitin sahabat gue, lewati dulu raga gue" sahut Eura pedas, memotong cepat perkataan Gavin. dan Gavin langsung terdiam mendengar ancaman itu.
"udah ah Jihan, kita cabut" setelahnya Eira maupun Jihan meninggalkan dua insan beda kelamin itu. tampak Lily yang mencak mencak kesal, dan Gavin yang menatap sendu.
"kamu kok gak bela aku lagi sih vin, padahal tadi Eira ancam kamu loh" rengek Lily bergelayut manja di lengan Gavin. "lu pikir gue bisa, ancam balas orang yang gue suka lily" sahutya kesal.
__ADS_1
"ouh jadi lu milih dia, okey! lu tau siapa gue vin, dan gue gak akan segan segan sama cewe lu itu" ancam Lily dengan senyum miring. "tcih sialan." makinya pelan membuat Lily terkekeh.
sampai di luar mini market Jihan masih saja mendumel kesal karena bertemu dengan kuman kuman menjijikkan menurutnya. namun berbeda dengan Eira yang merasakan ada sesuatu yang dingin jatuh di dahinya. saat ia menyentuhnya, itu air.
ia pun mendongak ke atas, dan tubuh kangsung terpaku disana dengan pandangan yang tak lepas dari atas. "ra! lu kenapa berhenti mendadak sih?" tanya Jihan kesal.
"salju!" ucapnya pelan membuat Jihan turut mendongak, dan matanya langsung membola melihat banyaknya salju yang mulai turun dari langit. "salju pertama turun" pekiknya riang..
akhhh...
teriaknya nyaring, membuat Jihan kaget. "Eira! lu kenapa?" tanya Jihan khawatir.
"ji! lu pulang duluan, bawa ini keapartement, dan bilang ke Jessi kalau gue gak kenapa napa, gue pergi sebentar" pamit Eira dan lansung berlari meninggalkan Jihan yang masih terpaku.
"lu mau kemana ra?" teriaknya khawatir, namun ia tak mendapatkan jawaban apapun. dengan perasaan khawatir ia berjalan pulang sambil membawa barang belanjaannya.
sedangkan Eira kembali berlari kehutan yang mana sempat menjadi pelariannya di siang hari tadi. ia menatap lekat hutan itu yang tampak mengerikan, pohon pohonnya tampak memutih karena banyaknya salju yang menghinggap.
Akhhhh...
sampai teriakan seseorang dari dalam hutan mengangget Eira yang masih berdiri di pinggir hutan. dengan langkah lebar dan dengan larian cepat. ia mencari keberadaan teriakan tersebut yang tak kunjung berhenti.
akhhh...
sampai Eira melihat dengan jelas seorang laki laki yang meringkuk kesakitan, dengan sayap hitam yang melebar di bahunya. "dia sama kaya gue..." gumamnya pelan, menatap pria tersebut yang masih kesakitan.
"permisi..."
...Bersambung...
...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...
...•...
...•...
__ADS_1
...•...
...•...