ANULIKA EIRA

ANULIKA EIRA
Almost..~09~


__ADS_3

Seperti biasa Eira dan Jessika memasuki sekolah mereka dengan ekspresi datar dan dingin dimasing masing wajah cantik mereka.


jika kalian berkata Jessika adalah gadis yang periang maka kalian salah. karena bahwasanya Jessika tak jauh beda dengan sikap Eira jika berada di luar jangkauan rumahnya.


gadis itu terkenal cuek dan tak berekspresi di sekolah nya namun ia tetap berpakaian rapi. berbeda dengan Eira gadis itu dikenal dingin, dan tak terganggu, dan juga berantakan bahkan kecuekannya sudah melebihi standar seorang wanita.


karena dimana pun itu seorang wanita masih menggunakan Hati dan merasa empati jika sesuatu itu sudah sangat mendesak. namun kata empati tidak berlaku dalam kehidupan Eira jika bukan menyangkut orang terdekatnya saja.


mereka berjalan dengan tenang di koridor sekolah dengan ciri khas masing masing. tak ada yang berani menyapa mereka meskipun mereka ingin.


namun di pagi itu sesuatu yang tak terduga mampu menggetarkan murid SMA Secondary school. pangeran sekolah yang tiba tiba muncul dari arah belakang itu tiba tiba saja menarik lengan Primadona sekolah mereka dengan lembut. dan membawanya pergi dari sana.


siapa lagi jika bukan Gavin yang menarik pergelangan Eira, untuk pergi dari sana. Eira yang merasakan tangannya ditarik oleh seseorang yang familiar hanya bisa pasrah mengikuti langkah laki laki didepannya yang begitu lebar.


"bisa gak jalan nya pelanin" protesnya kesal, karena ia sulit mengimbangi langkah itu.


"berisik!" satu kata itu mampu membuat Eira terdiam dengan kesal.


sontak hal tersebut membuat Murid murid tercegang. terlebih lebih lagi sosok Jessika yang sedang melongo.


"sejak kapan mereka dekat? " namun kemudian matanya beralih menatap Darrel dan Bara yang memasang muka datar mereka seolah tak terjadi apa apa.


dan disaat itu pula mereka meninggalkan Jessika yang masih merasa bingung.


"ini maksudnya gimana ya? kok gue bingung" gerutunya pelan.


...*****...


Taman belakang menjadi tujuan utama Gavin untuk membawa Eira kesini.


setelah mendudukkan Eira disalah santu bangku taman disana ia beralih berjongkok di hadapan Eira membuat Eira tersentak kaget.


"lu ngapain!" pekiknya panik dan berusaha menyuruh Gavin bangkit.


tanpa memperdulikan perlawanan Eira, tangan Gavin sibuk melepaskan ikatan sepatu Eira dengan cepat.


setelah selesai membuaka kaos kaki yang melekat di kaki Eira dia mengangkat ke atas kaki tersebut membuat Eira reflek menahan rok sekolahnya agar tidak merosot ke atas.

__ADS_1


dan seketika itu Gavin menatap tajam mata Eira membuat Eira melirik bingung "apa?" tanya nya tanpa dosa.


"BISA GAK SIH SEKALI AJA LU GAK USAH CEROBOH KAYAK GINI! LU MIKIR NYAWA LU ADA BERAPA HAH!" bentak Gavin dengan murka bahkan itu menganget kan Eira.


"lu kenapa sih?" tanya Eira yang mulai risih.


"lu masih gak tau kesalahan lu. heh' lu pikir pagar Masion gue sependek pagar kandang sapi yang bisa lu manjat sembarangan!" cukup! Eira mengerti sekarang di mana letak kesalahannya.


"gue juga gak ada pilihan lain juga tau! selain loncat gue bisa pake cara apa lagi?" sahut Eira dengan malas.


"lu kan bisa bangunin gue, atau minta para pengawal gue" sahut Gavin kembali tak kalah tajam.


"memang nya kalau gue nyuruh lu lepasin gue, lu bakal lepasin gitu, lu bakal izinin gue sekolah gitu hari ini?" tanya Eira besedekap dada di hadapan Gavin.


tampak Gavin menghela nafas gusarnya. lalu ia menenteng sepatu Eira di tangan kanannya dan beralih menggendong Eira untuk segera ia bawa ke uks.


Eira yang merasa terkejut langsung memeluk erat leher Gavin namun setelah nya ia berontak minta di turunkan.


"turunin gue" titah Eira dengan dingin, dan dibalas tatapan tajam dari Gavin.


"meskipun itu lu, gue tetap gak suka di perintah!" sahut Gavin tanpa memperdulikan wajah kesal Eira.


bahkan ada yang sampai mengabadikan moment tersebut di dalam ponsel mereka untuk disebarkan di medsosnya. mereka yakin kali ini akan rame yang akan membincangkan hubungan kedua orang yang berpengaruh tersebut.


"turunin gue Vin, gue masih bisa jalan" geram Eira yang masih tidak di tanggapi oleh Gavin.


sesampai nya di uks Gavin langsung memerintahkan beberapa anak pmr tersebut untuk segera keluar. setelah memastikan mereka keluar Gavin meletakkan Eira dengan lembut di atas brangkar lalu ia beralih mengunci pintu uks tersebut membuat Eira melotot.


"lu mau ngapain sih?" tanya Eira yang berusaha tenang.


"bahkan lu udah tau lu luka, tapi belum lu obati juga, sekebal apa rupanya tubuh lu" ujar Gavin membuat Eira terdiam di tempat.


benar saja ia belum mengobati luka di kakinya, ia hanya sempat membersihkannya saja. karena ia malas untuk terlambat ke sekolah dan membuatnya lagi lagi berurusan dengan anggota osis.


"kenapa lu diem? bener kan?" tanya Gavin dengan menenteng kotak p3k di tangannya.


"ini terakhir kali gue liat lu terluka, kalau sampe gue liat lagi, jangan salahin gue kalau gue ngehukum lu" ujar Gavin sibuk mengobati luka Eira dengan obat merah di tangan nya.

__ADS_1


"sstt... kenapa lu seperhatian ini sama gue? bahkan kita baru ketemu kemarin" ujar Eira membuat Gavin menatap nya sekilas dan kembali mengobati Eira tanpa berkata kata.


"lu tau kenapa?" tanyanya dan menyimpan kotak p3k itu kembali di atas meja. Eira menggeleng merespon ucapan Gavin.


"karena cuma lu yang bikin hati ini tertarik" sahut nya membuat pipi Eira memerah.


"apa apaan nih, kenapa gue ngerasa pipi gue panas begini! astaga hilang sudah image gue..." gumam Eira dalam hati. Sedangkan Gavin terkekeh geli melihat wajah Eira yang tampak memerah itu.


"Blushing nih!" goda Gavin membuat Eira mengalih kan wajahnya.


"keluar lu gue ma istrahat" ketus Eira menatap dinding di hadapannya dengan kesal.


"hey! liat gue" Gavin menarik dagu tersebut ke arah nya memandang lekat kedua manik itu menyalurkan kerinduan yang benar benar memuncak di dalam dirinya.


"apapun yang terjadi nanti jangan tinggalin gue ya!" ungkap Gavin yang dapat Eira tangkap sirat kekhawatiran di balik manik itu.


dan sekarang entah siapa yang memulai, dengan pasti wajah keduanya mendekat satu sama lain, bahkan mereka dapat merasakan nafas dari lawan jenis mereka. Eira memejamkan matanya dan menahan nafasnya saat hidung kedua nya sudah bersentuhan. sedikit lagi, sedikit lagi bibir mereka menempel dan....


tok..tok..tok..tok...


tok... tok... tok...


Ketukan berulang di pintu Uks tersebut langsung menyadarkan mereka berdua.


"Vin lu didalam kan?" itu suara Bara, Gavin mengacak rambutnya Frustasi saat keinginannya tidak tercapai, akibat sang pengganggu di depan pintu itu.


Eira sendiri bernafas lega karena ia tidak kecolongan. bahkan ia sangat berterimakasih kepada orang yang telah mengetuk pintu itu.


...Bersambung...


...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...


...•...


...•...


...•...

__ADS_1


...•...


__ADS_2