ANULIKA EIRA

ANULIKA EIRA
We meet ~03~


__ADS_3

Jessika hanya menghela nafasnya melihat sikap seorang Eira yang sama sekali tidak peduli dengan lingkungannya, bahkan nama seorang Bryan saja ia sering salah melafadkannya. apalagi untuk mengetahui sosok Gavin yang sangat jarang memasuki sekolah.


"dia Gavin! sosok yang sama sekali gak tersentuh di sekolah ini. bahkan kedua temennya aja dinginnya gak ketulung! dan hanya mereka bertiga yang bisa buat kepala sekolah sama sekali gak berkutik apalagi negur mereka." jelas Jessika membuat Eira mangut mangut.


"anak bangsawan kah?" tanya Eira yang di jawab gelengan oleh seorang Jessika.


"gue gak tau! belum ada yang tau latar belakang ketiga orang iu terutama Gavin! tapi gue yakin dia anak bangsawan. secara dia ganteng, banyak mobil dan bahkan dia gak terusik di sekolah ini" jelas Jessika kembali membuat Atensi Eira kembali menatap ke arah Gavin.


yang entah mengapa saat itu pula kedua manik mata itu bertubrukan. dan Eira menarik sebelah alis nya ke atas, saat melihat senyum miring Gavin yang hampir tak terlihat.


"mungkin gue salah liat" gumamnya pelan setelah memutuskan kontak mata tersebut.


...*****...


setelah selesai dengan upacara, Eira kembali kepada penampilan awalnya. jujur saja ia merasa sebal dan tidak nyaman saat memakai pakaiannya dengan rapi seperti murid murid lainnya.


namun walaupun style nya yang berantakan, ia tetap mampu memepertahankan posisinya sebagai primadona sekolah.


bahkan ia tidak peduli dengan anggota osis yang selalu mrnegurnya akibat, rambut dan seragamnya yang menyalahi aturan.


sepanjang perjalanan dikoridor Jessika terus saja berceloteh ria, tanpa memperhatikan jalan di depannya. Eira pun hanya mendengarnya sekilas dan sibuk memainkan ponselnya.


Bruk...


Eira langsung mengangkat kepalanya saat mendengar suara benturan yang cukup keras itu. dan disana ia melihat Jessika yang tampak kesakitan dan mengelus dahinya.


dan ia baru menyadari bahwa ada 3 orang laki laki di hadapan mereka kini, dan salah satunya adalah sosok yang membuat keributan di lapangan tadi.


"ah kak Gavin! kak Bara! Kak Darrel maafin ketidak sengajaan aku" ucap Jessika membuat Eira menatap nya aneh.


"kenapa bahasa lu jadi formal begitu?" tanya Eira sambil bersedekap dada.


mata Jessika melotot sempurna mendengar pertanyaan berani sosok Eira.


"shuttt... jangan sembarangan ngomong lu" bisik Jessika membuat Eira berdecak kesal.


"jangan ngerendahin derajat lu di depan seorang laki laki. kalau emang salah lu ya minta maaf aja kali gak usah nunduk nunduk juga" setelah mengatakan itu Eira berjalan meninggalkan mereka.


"anak itu ! hahhaha... maafin perkataan teman saya kak! kalau gitu saya pamit. permisi"setelah mengatakan. itu Jessika langsung berlari untuk menyusul Eira yang terlebih dahulu menghilang.

__ADS_1


"cari tahu tentang gadis itu" ujar Gavin membuat kedua temannya mengangguk.


"baiklah aku juga penasaran dengan gadis itu" ujar Bara dengan semangat '45.


...*****...


"hah!"


bel istirahat telah berbunyi sejak 5 menit yang lalu, namun Eira masih belum beranjak dari duduk nya. ia merasa sangat malas untuk berjalan ke kantin, lagi pula ia tidak terlalu lapar.


sedangkan Jessika! ia sudah terlebih dahulu ngacir kekantin dengan alasan pelajaran fisika cukup melelahkan otaknya, jadi ia butuh nutrisi baru untuk menjaga staminanya.


namun setelahnya ia kaget saat seseorang menendang pintu kelas nya dengan kaki panjang yang membuat Eira menoleh ke depan melihat orang yang masuk.


"siapa sih?" geurutunya malas. namun matanya terbelalak saat melihat sosok Gavin berjalan mendekatinya.


"lu- ngapain lu kesini" sarkas Eira dengan malas saat melihat Gavin yang sudah berdiri di samping kursi Jessika.


"heh! putri sulung dari keluarga besar Damian ternyata! pantas lu berani lawan gue" ujar Gavin membuat Eira menatapnya aneh.


"memangnya kenapa dengan keluarga gue" tanya Eira membuat Gavin tersenyum dengan aneh.


"cih, gombalan tak bermutu" sahut nya meremehkan membuat Gavin mengangkat sebelah alisnya.


"gue gak ngegombal, gue serius" ujar Gavin kembali membuat Eira menatap Gavin tepat di matanya.


"heh... lu ngajak gue bercanda, gue gak tertarik" ucap nya sambil bangkit dari duduknya.


"jangan coba coba pergi sebelum gue izinin lu pergi!" Eira menghentikan langkahnya mendengar notasi bicara Gavin yang mulai berubah.


dengan langkah cepat Gavin bangkit dan menarik lengan Eira untuk memojokkannya didinding. dengan tangan kiri menahan tangan Eira dan tangan kanan yang ia letakan di samping kepala Eira berjaga jaga agar gadis dihadapannya tidak kabur.


namun Gavin sama sekali tak melihat raut ketakutan di dalam diri Eira. ia bahkan lebih tenang dari dugaan Gavin. namun Gavin akui kecantikan gadis di depannya ini tak dapat di tandingi walaupun menggunakan eksresi datar itu.


"bisa gak lu jadi cewe nurut sama gue! baru tau gue ada cewe yang berani nolak gue" ujar Gavin dengan tersenyum miring.


tak beda mengejamkan Eira juga menampilkan senyum miringnya yang membuat Gavin berjaga jaga dengan apa yang akan dilakukan gadis licik di hadapannya.


"lu tau gak! gak semua cewe harus ngemis ngemis cinta kepada seseorang yang lebih tinggi sosialnya! dan gue salah satunya Tuan muda Haydar" ujar Eira sambil melukis abstrak pada dada bidang Gavin menggunakan telunjuk tangan nya yang kosong.

__ADS_1


"cih... ternyata lu lebih dulu tahu identitas yang selama ini gue jaga" sahut Gavin memandang takjub ke arah Eira yang masih memain mainkan dada bidangnya.


"awalnya gue gak tau itu lu, tapi mendengar penjelasan seseorang! hanya tuan muda keluarga Haydar lah yang bersikap sangat angkuh dan semena mena, selain dia siapa yang berani" jelas Eira membuat Gavin tersenyum miring.


"jangan pancing gue melakukan hal lebih Nona Damian" ujar Gavin menangkap telunjuk Eira yang memainkan dada bidangnya tadi ke arah mulutnya.


ia mencium sekilas telunjuk tersebut sebelum ia menggigit dan menghisapnya.


Eira meringis sakit saat Gavin menggigit tangannya dan menghisap jarinya bagaikan sebuah permen.


Bukh...


dengan sengaja Eira menyikut perut Gavin menggunakan lutut nya sehingga Gavin melepaskannya dan berjalan mundur menahan sakit di perutnya.


"jangan remehin kemampuan gue Tuan muda Haydar!" lekas mengatakan itu Eira beranjak keluar dari kelas nya meninggalkan Gavin yang tersenyum miring.


"akhirnya gue nemuin dia! dan kali ini jangan berharap gue akan ngelepasin lu lagi sayang..." gumam Gavin sebelum bantingan pintu kelas Eira terdengar nyaring di telinganya.


ia menatap tajam pelaku yang sudah mengganggu hayalannya itu, namun seketika senyum miring nya tercetak di bibir dan matanya yang menatap tajam kala melihat anggota osis berjalan ke arahnya


"Gavin! lu bisa gak sih sehari aja jangan buat masalah. lu tau, asal lu kesekolah gak pernah lu gak buat masalah. catatan hitam di ruang konseling udah penuh dengan nama lu dan nama Eira doang, bosen gue liat nya tau gak" bentak Bryan membuat Gavin tersenyum senang.


"karena dia memang gadisku " gumamnya dalam hati.


"hah, gue malas denger ceramahan lu yang gak bermutu" setelah mengatakan itu Gavin berajak keluar setelah memberikan tepukan pelan di pundak Bryan. sedangkan anggota lain hanya bisa menunduk takut.


"shit..." makinya.


...Bersambung...


...☆☆☆☆☆☆☆☆☆...


...°...


...°...


...°...


...°...

__ADS_1


...°...


__ADS_2