
setelah kejadian yang membuat mereka kesal Eira memutuskan tidur di kelasnya tepat di samping Jessika, sedangkan Jessika masih bergulat dengan ponselnya, karena guru juga belum memasuki kelas mereka.
drap drap drap...
langkah kaki yang begitu mereka kenali itu membuat seluruh kelas tampak memucat dengan segera mereka menyimpan barang barang terlarang mereka dengan aman, seperti ponsel, asesoris berlebihan, make-up dan lain lain.
"ra! bu elephan datang..." bisik Jessika yang hanya di anggap angin lalu oleh Eira yang masih terlelap.
"lah si eira bego, woi bangun lu bakal di hukum sama bu elephan kalau ketahuan tidur" bisik Jessika kembali dengan guncangan yang membuat Eira menatapnya kesal.
"bodo amat" sahut Eira ketus dan kembali terlelap di balik lipatan tangannya.
huffhh..
tok tok tok... "bolehkah ibu masuk?" tanya bu Elvan dengan nada dingin, seisi kelas pun hanya dapat mengangguk.
"baiklah untuk hari ini ibu akan berikan 2 kabar baik di kelas ini, yaitu pertama kelas kalian tidak akan kedatangan guru, karena bu sera sedang ada keperluan mendadak. jadi saya harap kalian tidak membuat kekacauan"
"dan yang kedua kalian kedatangan teman baru pindahan dari Victory School, Spanyol, ayo nak masuk" saat siswi tersebut masuk semua ternganga melihatnya, kecantikan nya hampir menyetarai kecantikan Eira maupun Jessika bahkan ada yang membayangkan jika gadis baru itu berada di satu grub dengan Jessika maupun Eira.
"ayo perkenal kan dirimu" ujar bu Elvan membuat Gadis itu mengangguk.
"perkanalkan nama gue Jihan Carroline marsell, gue pindahan dari Victory School spayol, tapi gue asli orang Jerman, semoga kita saling berteman" ucapnya ceria tanpa menyadari pandangan sosok yang tengah melotot melihatnya.
"JIHAN...!" Teriak Jessika membuat semua orang menoleh ke arahnya, termaduk Eira yang langsung terbangun dari tidurnya.
Jihan pun melotot tak percaya dengan apa yang dilihat di hadapannya, kedua sahabat lamanya ada disini " Rara! Sisi! " gumamnya haru.
"apaan sih Jess?" tanya Eira dengan kesal, karena Jessika berteriak sehingga membangunkan tidurnya.
"Ji- jihan" linglung Jessika sambil menunjuk kedepan. Eira pun menoleh ke depan melihat apa yang di tunujuk oleh Jessika, dan matanya langsung tak berkedip melihat keberadaan sosok yang telah lama meninggalkan mereka.
tanpa menunggu lama, Eira bangkit dari duduk nya dan berlari kedepan menubruk tubuh Ramping Jihan dengan isak tangisnya.
"eh eh, gue ikutt" pekik Jessika dan berhambur memeluk keduanya.
Bu Elvan pun hanya tersenyum, ia pun menepuk singkat pundak kedua murid nakalnya itu sebelum pamit untuk keluar.
setelah bu Elvan keluar dari ruangan tersebut, tampak semua murid disana melongo melihat ketiga gadis cantik itu berpelukan.
"ternyata kalau satu teman cantik, pasti yang lain juga cantik" bisik salah satu siswi disana dengan iri.
__ADS_1
"ikut gue" Eira pun langsung menarik Jihan yang diikuti oleh Jessika. ia pun mendudukkan kedua sahabatnya di bangku penonton lapangan basket. sambil melihat beberapa kaka kelas mereka memainkan bola basket mereka.
"kenapa lu baru balik hah?" tanya Jessika dengan berkecak pinggang membuat Jihan menunduk sedih.
"maaf, ayah gue sibuk banget disana. dan ponsel gue yang lama kecebur ke dalam kolam. ya jadinya gue harus beli ponsel baru, dan gue sama sekali gak ingat nomor kalian berdua" cicit Jihan merasa bersalah.
"teman sialan! lu tau seberapa khawatirnya kami, lu hilang kabar selama 2 tahun setengah ji!" gerutu Eira membuat Jihan kembali menunduk.
"oh iya, gimana kalau kita bertiga main basket, gue udah lama gak main bareng kalian..." pinta Jihan membuat Eira dan Jessika saling tersneyum.
mereka tahu sahabat mereka yang satu ini sangat suka dengan olahraga, jadi mereka tak pernah meragukan kemampuan Jihan dalam bermain basket.
"oke" sahut keduanya, Dengan semangat Jihan menarik lengan kedua sahabatnya menuju lapangan.
dengan pelan ia menepuk salah satu pundak anak laki laki yang sedang bermain basket bersama teman temannya.
"permisi! bolehkah kami ikut bermain?" tanya Jihan dengan senyum sumringgah! tatapan siswa di hadapannya bingung menatap gadis asing didepannya kini.
"lu murid baru?" tanya pemda itu membuat Jihan mengangguk. pemuda itu melirik ke arah Jessika dan Eira, ia merasa ragu dengan kedua wanita cantik yang sering kali cabut saat pelajaran olah raga.
"lu yakin mereka bisa main?" tanya sosok yang Jelas jelas Jessika dan Eira mengenalinya.
"aduh duh... Eira, Jessika, lu berdua gak usah sok sok deh main basket, bahkan belum tentu lu berdua bisa ngalahin kita kita. lu berdua mau nipuin adik kecil ini hem?" ujar seseorang tiba tiba dan langsung merangkul Jihan layaknya teman.
seketika Jessika maupun Eira murka menatap wajah itu, itu wajah lily, apalagi setelah Jessika tahu kebenarannya, disisi Bara ia meneguk kasar ludahnya "lily bodoh,,," lirihnya takut.
plak..
Dengan kasar Eira menepis Lengan Sisil yang merangkul sahabatnya.
"jangan pernah sentuh sahabat gue.." ancam Eira menatap tajam
"sialan! ayo kita battle" tantang Lily membuat Eira tersenyum miring.
"Jessi manggil Dina dan Aurel buat gabung!" titah Eira membuat Jessika mengangguk dan berlalu pergi.
tak lama mereka kembali berkumpul di lapangan dengan pakaian olah raga mereka, sedangkan Bara dan teman teman nya duduk tenang menyaksikan para gadis gadis cantik itu menguasai lapangannya.
ia tidak bisa meragukan kemampun Aurel dan Dina yang memang mereka berbakat di bidang olah raga.
"gue yakin Eira bakalan kalah, karena di kelompok mereka setidaknya cuma 3 orang yang berbakat di bidang olah raga, tapi di pihak lily kita juga tau kelompok mereka sangat berbakat" ujar salah satu teman Bara membuat Bara tersenyum tipis.
__ADS_1
"jangan liat seseorang dari sampulnya bro, lu pada lupa Jessika Anak tekwondo, walaupun gue gak tau bagaimana dengan eira, tapi gue yakin mereka bisa menyaingi kelompok Lily" sahut Bara membuat teman temannya mengangguk menyetujui.
"berisik lu pada! diam!" titah seseorang membuat mereka melirik ke asal suara. dan mereka langsung menegang saat melihat Darrel maupun Gavin ada disana.
"kapan tuh bocah di sana" gumam Bara pelan.
dalam hitungan ketiga pertandingan pun di mulai, Kelompok Eira saling mengangguk memberi isyarat. Dina pun berlari ke arah Bila untuk menghalangi Bila yang sedang memantulkan bolanya.
"tcih.." Bila tertawa sinis melihat Dina coba menghalanginya. ia pun dengan cekatan melempar bola ke arah safa temannya, namun saat bola ingin di ambil oleh Safa, dengan gerak cepat Aurel melopat setinggi mungkin dan mengambil alih bola tersebut. ia mendribble bola basket itu dengan cekatan berusaha menghindari halangan di depannya.
sampai akhirnya ia melompat dan melempar bola tersebut ke arah Jessika yang sedang memberi isyarat kepadanya, setelah melempar. tim Lily berdecak kesal dengan rencana Tim Eira yang sangat bermain indah.
dengan mudah Jessika mendribble bolanya diantara kedua pahanya saat sang lawan ingin merebut bola tersebut. tampak dari jauh Jihan mengedipkan matanya membuat Jessika terkekeh geli. dengan gesit ia melewati sosok didepan dan melempar bolanya dengan arah berlawanan membuat lawannya kelakaban saat ia berhasil di tipu arah oleh adik kelasnya. bahkan orang orang Bara menganggumi cara santai Jessika mendribble bolanya.
dengan cepat Jihan mengambil alih bola itu dan mendribble bolanya dengan berlari sekencang mungkin ke garis pembatas namun saat ia ingin sampai sebuah kaki menyilang dihadapannya, sehingga ia tak dapat menahan tubuhnya, sebelum ia jatuh ia melempar bola itu ke atas berharap ada yang mengambilnya, melihat itu Lily tersenyum miring dan melompat untuk meraih bola tersebut. namun ia kalah cepat dengan seseorang yang tiba tiba meloncat dari arah belakang nya dan mengambil alih bola tersebut. dengan cepat Eira melesat dan meloncat memasukkan bola ke dalam ring dengan sebelah tangannya. ia jatuh ke atas lapangan dengan lutut sebagai tumpuan.
ia mengambil alih bola basket yang telah jatuh itu, dan mendribble nya dengan pelan, sambil berjalan mendekati Lily yang sempat terjatuh akibat melompat tadi, Eira pun tersenyum miring dengan kepalanya sengaja ia miringkan.
"gimana? lanjut?" tantangannya dengan remeh membuat Lily menggepalkan tangannya.
"gue gak akan kalah sama lu" teriaknya membuat Eira tersenyum miring dan menganggukkan kepalanya. "baiklah! lanjutkan" titah Eira yang membuat semuanya mengangguk.
sedangkan di tempat penonton para lelaki disana melotot tak percaya melihat pertandingan fantastis di depan mata mereka
"wow"
...Jihan Carroline Marsell...
...BERSAMBUNG...
...<☆>☆<☆>☆<☆>☆<☆>...
...•...
...•...
...•...
...•...
__ADS_1