ANULIKA EIRA

ANULIKA EIRA
Pissed off ~02~


__ADS_3

17 Tahun berlalu....


"Pagi mah! pagi pah!" sapa seorang gadis dengan penampilan urakan dan rambut yang diberi warna biru pada ujung rambutnya.


"pagi sayang" sahut kedua orang tuanya.


ia menduduki meja makan dan menunggu Sang ibunda menyiapkan sarapannya.


"Kak Eira sapa mama sama papa doang! Dian gak disapa nih?" tanya adik nya yang berumur 15 tahun itu.


"kelupaan!" sahutnya datar dan meneguk susunya dengan tenang.


"ishh kak Eira nyebelin!" gerutu Dian dengan kesal. walaupun ia sudah terbiasa dengan sifat dingin dan cuek kakak nya itu.


"ini sayang Roti kamu" ujar sang ibunda dengan lembut.


"makasih mah" sahut Eira dengan senyum tipis. sang bunda pun mengusap kepalanya pelan membalas perkataan Eira.


"kak Eira! Dian berangkat sama kakak ya? Dian bosen diantar supir mulu" gerutunya membuat Eira menatap nya dalam diam dan mulut yang sibuk mengunyah.


"ish... kok kakak gak jawab sih" kesal Dian dengan mengerucutkan bibirnya.


"Dian! habiskan sarapanmu dulu! tidak baik saat sedang sarapan sedang berbicara" tegur Ayah mereka yang bernama Dion dengan tegas.


"huh... baik pa" pasrah Dian dengan perasaan yang dongkol.


glek... glek...


dalam dua kali tegukan Eira telah menandaskan Susu putih nya.


"mah eira berangkat dulu" ujar nya meminta tangan sang bunda untuk ia salimi.


"hati hati sayang" ujar sang bunda bernama Abella.


"pah! Eira berangkat dulu" ujar nya yang di sambut senyum lembut oleh Dion.


"jangan ngebut ngebut" tegas Dion yang dijawab anggukan oleh Eira.


"kalau mau bareng cepetan!" ujar Eira dan berjalan melewati Dian yang langsung dengan cepat menelan makanannya.


"mah, pah! dian berangkat dulu ya, byee..." ia pun berlari menyusul Eira setelah menyalimi kedua orang tuanya.


didalam mobil Dian terus saja mengoceh, menceritakan bermacam hal kepada Eira yang hanya menanggapi nya dengan deheman singkat.


"untung adik " bisiknya dalam hati merasa muak dengan pembicaraan adik nya yang tak habis habis.


"oh ya kak! kakak belum dapat pacar apa? heran deh kakak kan cakep banget tuh kok bisa sih belum dapat pacar?" tanya Dian membuat Eira mendelik ke arahnya.


"masih bocah udah kenal pacaran" cibir Eira dingin membuat mata Dian melotot tak terima.


"enak aja bocah! aku tuh udah besar ya kak! buktinya aku udah bisa masak" protes Dian membuat Eira menatapnya jengah.

__ADS_1


"bisa masak air sama telur ceplok aja bangga" cibir Eira kembali membuat Dian mencebikkan bibirnya.


"punya kakak satu nyebelin banget dingin lagi hah! sampai kapan kakak ku ini berhenti meniru sebuah patung..." gerutunya pelan yang masih dapat di dengar oleh Eira yang berada disampingnya.


...*****...


"turun" ucap Eira membuat Dian menatap sekelilingnya.


"lah udah sampe sejak kapan?" ia pun bertanya tanya bagaimana kakaknya bisa secepat ini sampai di sekolahnya.


"turun gue bisa telat upacara!" tukas Eira menatap tajam adiknya.


"astaga aku lupa hari ini senin! yaudah kalau gitu Dian pamit ya kak bye..."


setelah melihat Dian telah memasuki gerbang sekolah nya Eira berangkat untuk menuju sekolah nya yaitu ~Secondary school~


...*****...


tidak membutuhkan waktu yang lama. Eira berhasil sampai di sekolah nya dalam waktu 10 menit, jika dengan kecepatan biasa bisa mencapai 23 menit.


"huh..."


setelah merapikan rambut nya yang berantakan Eira langsung keluar dari mobil nya berjalan di koridor sekolah dengan gaya miliknya.


kemeja putihnya berada di luar, dengan almameter biru dongker yang ia sampirkan di lengan kiri, dan tas berada di pundak kanannya. rambut nya yang di gerai panjang itu tampak menambahkan kesan elegan pada style Seorang Eira.


tubuh ramping kulit putih, rambut panjang bibir merah muda dan kulit yang mulus membuat kebanyakan wanita mengidolakannya dan para laki laki menyukainya.


"Eira!" panggilan itu menghentikan langkah Eira di tempatnya.


"udah berapa kali gue bilang sama lu sih Ra! rapi dikit kenapa sih! lu malu maluin sekolah tau gak dengan gaya lu yang berandalan begitu" Eira berdecak malas saat pagi pagi sudah mendapat siraman rohani dari sang wakil ketua osis itu.


"Ra, lu tuh cewe sopan dikit bisa gak sih" ucap Waketos itu dengan malas melayani orang yang sama berulang kali.


"Tcik. bawel banget lu pagi pagi! bikin mood gue hilang" sarkah Eira merasa kesal.


"makanya! lu kalau gak mau gue ceramah pagi pagi dengerin kek, ini tuh untuk kebaikan kita berdua Eira please deh gak usah ngebantah!" ujar waketos itu lagi dengan kesal.


"Berisik lu Mel!" setelah mengatakan itu Eira meninggalkan waketos bernama Amel itu disana.


"sialan tu bocah! kalau bryan tau kan bisa berabe, gue juga yang kena" gumam Amel merasa jengkel


"please deh Ra! hari ini aja untuk upacara, setelah nya terserah lu deh mau kayak gimana juga" bujuk Amel kembali membuat Eira berbalik menatap nya.


"jangan ikutin gue!" tekan Eira dan kembali beranjak jalan.


"Please deh Ra! gue gak mau kena siraman rohani Bryan pagi pagi" bujuk Amel kembali yang dihiraukan oleh Eira.


...*****...


dengan malas ia menduduki bangku nya dan langsung menyandarkan tubuhnya di kursi nya dengan nyaman.

__ADS_1


"kenapa lu pagi pagi udah ditekuk aja nih muka?" tanya satu satunya sahabat Eira yang ada disana.


"seragam!" sahut Eira singkat yang langsung di mengerti oleh gadis dihadapannya yang bernama Jessika.


"lu berurusan lagi sama orang osis?" tanya Jessika memastikan.


"hem..."


"yaelah ribet bener! lu turutin aja sekali males gue denger masalah yang sama berulang kali" ujar Jessika menatap temannya yang sedang menyandarkan kepalanya pada dinding.


"hemm..." dehem Eira kembali membuat Jessika memutar matanya malas.


"kebiasaan, kalau di tanya jawabnya ham hem ham hem" cibir Jessika merasa kesal.


Upacara berjalan semestinya. dan murid SMA Secondary school sempat tercegang saat melihat penampilan seorang Eira yang rapi. bahkan mereka mengira itu adalah keajaiban dunia yang baru terjadi.


disisi barisan osis, Bryan maupun Amel tersenyum tipis melihat perubahan seorang Eira.


"bagus! untung hari ini lu nurut Ra." gumam Amel tersenyum manis ke arah Eira.


"kerja bagus! untuk hari ini lu dapat selamat dari amukan gue" bisik Bryan dengan dingin yang dibalas senyum manis oleh Amel.


"makasih bry!" sahutnya senang.


"yes! dapat pujian..." gumamnya bersorak senang.


namun seketika mata sosok Amel terbelalak kaget saat melihat seseorang yang berjalan santai kelapangan upacara dengan seragam yang tak kalah berantakan dari seragam Eira yang awal. bahkan yang kali ini lebih parah.


dan sosok tersebut dengan santai nya berjalan dengan gaya kerennya membuat atensi para wanita beralih manatapnya yang sama sekali tak tahu malu itu.


"sial! lu cari gara gara Gavin! " gerutu Amel merasa takut.


namun yang membuat Bryan dan Amel mengernyit heran kenapa kepala sekolah hanya diam saja melihat kelakuan Seorang Gavin yang sangat kurang ajar itu, bahkan jendral kepolisian yang menjadi pembina upacara pun tampak diam tanpa merespon.


dibarisan lain tampak Eira mengernyit heran. melihat laki laki yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


"Astaga! kejadian apa ini, sejak kapan seorang Gavin datang di hari senin?" kaget Jessika membuat Eira menoleh ke arahnya.


"kenapa memangnya?" tanya Eira yang merasa bingung.


"lu gak kenal dia?"


...Bersambung...


...☆☆☆☆☆☆☆☆...


...°...


...°...


...°...

__ADS_1


...°...


...°...


__ADS_2