
Dalam kediaman nya kedua laki laki berbeda umur itu membuat suasana canggung yang cukup kentara di antara keduanya, meskipun keduanya adalah ayah dan anak.
"hah... aku sudah bosan! sudah selesaikan masalah hari ini. Jika sudah, aku akan segera pergi. Dan yah semoga aku tak lagi berurusan dengan mu tuan Alexander yang terhormat!" tekan Zikon membuat Zyan semakin emosi dibuatnya.
"ingatlah Zikon, Aku tetap akan merebut putri ku dari mu" ancam Zyan membuat Zikon terkekeh pelan.
"Hahahahahah! berhentilah bermimpi tuan" sahut Zikon tak kalah dingin.
"kau fikir aku takut dengan ancaman konyol mu itu, aku sudah dewasa dan bahkan aku sudah mampu mengalahkanmu" Balas Zikon meremehkan.
"kau lihat saja, aku akan menggunakan Bara untuk merebut putri ku" sahut Zyan yang sudah mulai habis kesabarannya.
"Tcih.. berhentilah menggunakan Anak itu sebagai pionmu. Bagaimana pun anak itu tetaplah anakmu dari wanita itu" sarkas Zikon menatap Zyan dengan tajam.
"tcih.. aku tak akan pernah menganggapnya anak ku, ibu nya yang sudah membunuh wanita ku" sahut Zyan membuat Zikon kembali terkekeh.
"hey! bukankah kau yang menembak ibuku? kenapa kau menyalahkan wanita itu? lagi pula meskipun aku membencinya, setidaknya dia tak serendah dirimu" ucap Zikon sambil membalikkan badannya sambil bersedekap.
"kau ingin ku lenyapkan Zikon! sopan lah sedikit Zikon!" bentak Zyan geram.
"heh, untuk apa aku bersikap sopan kepada orang tua seperti mu, kau masih hidup saja itu sudah harus kau syukuri" jawab Zikon dengan santai.
"kau lihat saja! Bara akan membawa pulang putri ku"
"itu tidak akan pernah terjadi, karena putra mu itu sangat menyayangi adikku. Ku pastikan jika ia menemukan jejak adikku, pasti ia akan membawanya pergi jauh dari kita semua" sambung Zikon dengan tangan yang ia masukkan kedalam saku celana.
"kau lihat saja nanti" sahut Zyan tak mah kalah.
"ku tunggu permainan mu" setelah mengatakan itu, Zikon benar benar keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Zyan yang mencak mencak dengan melempar segala barang yang ada.
"akan ku pastikan, kau tak akan bisa menyentuh adikku! bahkan seujung kukumu" gumam Zikon dalam hatinya dengan wajah yang terlampau datar.
...*****...
Malam pukul 09. 32~
Eira kembali keluar dari apartement nya untuk mencari angin segar di malam musim semi ini. Ia juga sudah meminta izin dengan kedua orang tuanya. bahwa ia akan menginap di apartement bersama kedua sahabatnya.
Dengan langkah tenang, kaki jenjangnya yang di baluti sport Leggings, dengan Hoodie putih kebesaran menelusuri jalan itu. Mata nya terus menatap kebawah melihat kaki nya yang menendang nendang kecil batu batu kerikil yang ada.
__ADS_1
Sampai tujuannya berhenti tepat di sebuah jembatan kecil. Namun memperlihatkan air danau yang teduh dan indah di malam hari. Apalagi tempat ini sudah disulap sedemikian rupa, dengan lampu tumbler, dan beberapa benda kelap kelip lainnya.
"hah! gue cerita gak ya masalah ini ke bang Zikon?"
"tapi kalau gue cerita, dia bakalan lebih ngeposesifin gue, terlebih Gavin yang mulai manja dengan terang terangan membuat gue khawatir" gumamnya pelan. Sambil menyangga tangannya pada bibir jembatan.
Greb!
Eira melotot dengan sempurna saat sebuah tangan melingkar sempurna di perutnya dari arah belakang. Baru saja ia ingin membanting sosok yang memeluknya, gerakan nya terhenti ketika mendengar suara seseorang.
"ngapain sih disini malam malam, dingin tau" ujar nya membuat Eira kaget. "Ga- gavin? lu ngapain disini?" tanya nya berusaha melihat kesamping. dimana Gavin meletakkan dagunya di bahu Eira.
"gue nyariin lu lah" sahut Gavin dengan tenang.
"hmm? lu tau dari mana kalau gue keluar memangnya?" tanya Eira berusaha melepaskan pelukan Gavin.
"Dua temen lu khawatir lu keluar malam malam begini, dan awal nya mereka ngehubungi Bara, ya karena ponsel Bara lagi sama gue, ya gue angkat lah" sahutnya dengan Tenang dan semakin mengeratkan pelukannya.
"yaudah lepasin gue dulu, sesak tau!" protes Eira setelah menahan kebas dikakinya.
Gavin pun dengan perlahan melonggarkan pelukannya tanpa melepaskan. Disaat itu pula Eira membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Gavin yang lebih tinggi dari nya.
Meskipun tubuh nya terbilang tinggi. Namun Panjang tubuhnya hanya mencapai bibir Gavin.
"hah! lu cewe Eira, malam malam begini gak baik keluar sendiri" sahut Gavin berusaha memberi Arahan.
Dengan kesal Eira memalingkan wajahnya, namun tanpa sengaja ia melihat raut wajah Gavin yang tampak lelah. Dengan reflek tangannya terangkat menyentuh rahang tegas Gavin membuat sosok yang di sentuh memejamkan matanya. Merasakan kehangatan tangan Eira di wajahnya.
"muka lu nampak cape banget, kenapa?" tanya Eira menatap kelopak mata Gavin yang terpejam.
"Pekerjaan kantor numpuk! belum lagi pekerjaan sekolah" Eira mengangguk mengerti. Wajar saja hal itu terjadi pada Gavin. Ia adalah keturunan tunggal dari Keluarga Haydar.
Eira menghela nafasnya pelan, menarik tangan Gavin yang masih melingkar di pinggang nya dan membawanya duduk di sebuah batu besar.
Ia mendudukkan Gavin disana, sedangkan Dirinya berdiri di hadapan Gavin yang sedang terduduk itu.
"kalau cape, ngapain lu cari gue. Gue udah besar Vin! lu juga harus jaga kesehatan lu" omel Eira membuat Gavin tersenyum.
"ngapain lu senyum senyum?" celetuk Eira membuat Gavin menggeleng dan beralih memeluk pinggang Eira dan menyandarkan tubuhnya pada perut Eira.
__ADS_1
Deg!
Hal itu Sukses membuat Eira menegang! bagaimana tidak? hal ini adalah hal pertama yang ia lakukan bersama laki laki. Dan dia belum pernah merasakan posisi sedekat ini dengan lawan jenisnya.
"gue seneng, lu perhatian sama gue" Eira terdiam saat Gavin menjawab pertanyaannya.
"Vin pulang aja yuk! lu bakal sakit kalau lama lama disini" tukas Eira mengusap lembut Rambut Lebat Gavin.
"sun" pintanya membuat Eira mengernyit
"sun?" beonya tak mengerti.
"hah" setelah membuang nafas kasar melihat wajah bodoh Eira yang tak mengerti isyaratnya. Ia dengan cepat mencondongkan tubuhnya mencuri kecupan singkat dari Eira, membuat Eira sukses melotot.
"GAVIN!" teriaknya membuat Gavin tertawa.
Dengan kesal Eira memukul mukul bahu dan dada Gavin, begitu juga dengan kakinya yang terus menendang Gavin. Gavin pun terus terkekeh mendapat serangan dari Eira. Sampai akhir nya ia menangkap kedua pergelangan tangan Eira menatap wajah Eira yang tampak memerah.
Eira sendiri mengernyit merasa Gavin menatap nya dengan serius dan tatapan yang tak dimengerti.
"Ra!" panggilnya. "apa?" sahutnya dingin.
"Pacaran yuk!" Eira kembali menatap wajah Gavin dengan wajah melongo. Kupingnya tidak salah dengarkan?
"mak- maksud lu apaan sih Vin!" tanya nya gugup.
"jadi pacar gue Eira!" Eira kembali bungkam saat Gavin menjawab pertanyaan dengan jelas.
Ia menatap mata Gavin dalam dalam. Memastikan sedikit celah kebohongan yang ada disana, namun tak berhasil. Ia tak menemukan apapun. Hanya sebuah keseriusan yang ada.
"gue..."
...Bersambung...
...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...
...•...
...•...
__ADS_1
...•...
...•...