ANULIKA EIRA

ANULIKA EIRA
Gone..~11~


__ADS_3

"jadi... lu mau jujur atau masih mau nyembunyiin ini dari gue?" tanya Eira sambil menaik turunkan alisnya.


"ap.. apaan ssih... ga.... gajelas lu" elak Jessika dengan terus menyedot es jeruknya dengan cepat.


"gak keselek lu?"


hah!


uhuk uhuk uhuk...


"Tcih' makanya kalau minum itu pelan pelan, jangan kaya gelandangan gak minum sebulan" sindir Eira dan kembali menyedot minumannya.


Jessika langsung mencebikkan bibirnya saat mendengar sindirian itu.


"ga ada lembut lembutnya lu jadi temen" protes Jessika membuat Eira menatap nya aneh.


"lu sensian hari ini" celetuk Eira seraya bangkit dari duduk nya untuk segera kambali ke kelas.


"benarkah?" tanya Jessika penasaran.


tak ingin menunggu lama Jessika langsung bangkit dan menyusul Eira yang terlebih dahulu meninggalkan kantin, karena mereka mengetahui 5 menit lagi lonceng masuk akan berbunyi.


...*****...


Bel pentanda sekolah berakhir pun telah berbunyi. apa yang di tunggu murid murid pun akhirnya terselesaikan. Mereka berhambur dan berdesakan berebutan untuk awal pulang, begitu juga dengan Eira dan Jessika yang berjalan tenang di koridor tanpa memperdulikan orang yang berebut jalan.


"pulang ini mau kemana ra?" tanya Jessika.


"rumah!" sahut Eira singkat tanpa menoleh.


"elah, gue bosen dirumah mulu" keluh Jessika membuat Eira memutar matanya malas.


"lu lupa gue baru sembuh, dua bocah dirumah juga masih sakit" ujar Eira yang langsung menyadarkan Jessika.


"astaga gue lupa sama tuh dua bocah" sahut Jessika sambil terkekeh geli membuat Eira mencibir nya pelan.


"eh jess..?" panggil Eira yang membuat Jessika menoleh ke belakang karena Eira berhenti berjalan.


"lu duluan aja dah! gue mau ke toilet, kebelet" tukas Eira membuat Jessika menatapnya datar.


"yaelah kenapa lu ada acara kebelet segala sih" celetuk Jessika kesal.


"mau gu temenin gak?" tanya Jessika yang langsung di geleng oleh Eira.


"yakin...?" tanya nya memastikan dan Eira pun hanya mengangguk.

__ADS_1


setelah nya ia berlari meninggalkan Jessika untuk menuntaskan hajatnya. Namun disisi Jessika ia menyentuh dadanya yang berdetak kencang. ia merasa akan terjadi sesuatu yang buruk. dan perasaan nya cemas.


namun ia mencoba menepis itu semua, ia langsung membali ke mobil untuk menunggu kedatangan Eira.


...***** ...


"huh' lega gu-"


Eira langsung menghentikan jalannya saat melihat 3 lelaki dewasa berdiri dihadapannya dengan pakaian serba hitam.


"siapa kalian...?" tanya Eira menatap satu persatu dengan tajam.


"bawa dia!" titah seseorang.


namun sebelum ia melihat siapa sosok tersebut mulutnya terlebih dahulu di bekap oleh sebuah kain yang telah di bius membuat kesadarannya sedikit demi sedikit hilang dalam gelap nya pandangan.


"kita bawa kemana nih boss?" tanya salah satu dari mereka.


"bawa dia kegudang bekas percobaan mayat hidup di lab kampus sebelah. soalnya gue ada kuncinya" ujar sosok tersebut dengan seringainya.


dan dengan sigap salah satu dari mereka bertiga menggendong tubuh Eira dan segera membawanya kesana. tanpa sepengatahuan orang sekolah. karena memang keadaan koridor sudah sangat sepi hanya ada beberapa murid yang masih berada di parkiran. karena itu mereka harus melewati pintu samping. karena mereka tau pintu belakang berdekatan dengan kantin dan tempat nongkrong nya murid murid nakal.


dan dapat dipastikan jam segini mereka masih nongkrong disana.




"bos! bos yakin naruh nih cewe ditempat serem kayak begini? kalau dia kenapa napa gimana bos?" tanya dari salah satu 3 pria tadi dengan takut.


bahkan ketiga nya merinding melihat betapa seram nya ruangan itu, hanya diisi dengan cahaya remang remang. jika siang mungkin ruangan ini akan cerah. tapi jika malam, mereka tidak bisa membayangkan berapa seramnya tempat ini .


"kalian tenang aja, bahkan gue berharap dia jadi mayat sungguhan disini, biar gak ada yang bisa nyaingin gue lagi" ujar sosok itu dengan tertawa jahat.


"bawa masuk dia letakkan dia di sudut ruangan, dan kalian bertiga tetaplah berjaga disini, jika nanti dia sadar lempar lah ulat ulat ini kedalam, karena dia sangat takut dengan binatang ini" ungkapnya dengan memberikan kotak bulat yang berisikan ulat ulat hijau pemakan daun itu.


"boss jika dia memiliki kebiasaan takut dengan sesuatu seperti ini, itu akan berbahaya bagi nyawa nya bos, jika kau bermain dengan ini" ujar salah satunya merasa gelisah.


"itulah tujuanku! sudahlah jangan mebantahku lagi cepat kerjakan" teriaknya dengan marah.


akhirnya dengan terpaksa mereka melakukan itu dan segera mengunci pintu tersebut. sosok tersebut tertawa keras melihat rencananya berjalan dengan baik.


namun Tiba tiba saja tawa itu terhenti seiring saat ia melihat seorang pembersih kampus menyaksikan berbuatan kejinya.


"urus dia!" titah sosok tersebut dan berlalu pergi.

__ADS_1


sebelum di kejar oleh orang suruhan sosok tadi, petugas kebersihan tersebut terlebih dahulu lari dan bersembunyi didalam salah satu tong minyak yang sudah tak terisi.


"sial kita kehilangan dia!"


"iya! bisa mati kita kalau sempat di ngelapor sama warga warga disini"


"sudahlah berdoa saja dia tidak berniat seperti itu, lebih baik kita menjaga gadis itu" ungkap mereka bertiga secara berturut.


...*****...


Disisi lain Jessika semakin khawatir saat menyadari bahwa Eira belum juga kembali setelah setengah jam lamanya. bahkan ia sudah mengecek kamar mandi namun ia tidak menemukan siapa siapa.


"EIRAAA!" teriak nya dengan air mata yang sudah membanjiri.


"bisa gawat kalau Eira hilang, gue sendiri tau gimana temperamen nya ayah Eira. apalagi ini menyangkut putri kesayangannya."


"EIRAAA....!"


"lu kenapa teriak teriak sih, sakit telinga gue" Jessika langsung menoleh saat mendengar suara itu. yah mereka tiga sekawan Darrel, Gavin dan Bara.


Bara dan Darrel terbelalak saat mengetahui Jessika sedang menangis, wajah cantik itu tampak khawatir sekarang.


"kak Gavin tolongin guee..." pinta nya sampai jatuh berlutut dihadapan mereka. tentu saja itu mengundang keterkejutan bagi mereka bertiga melihat keadaan Jessika.


bahkan mereka tak menyangka Jessika akan berlutut. karena setau mereka, mau itu Jessika maupun Eira mereka tidak akan pernah berlutut kepada seseorang kecuali permintaan maaf, itu pun berlaku untuk Jessika seorang.


karena bagi Eira mustahil untuk mengucapkan kata maaf. sosok seperti Eira tidak akan mengucapkan maaf kalau tidak penting.


"hey bangun! lu kenapa pakek acara belutut segala. jalannya panas, kaki lu bisa luka" tukas Bara membantu Jessika berdiri.


namun itu di tolak mentah mentah oleh Jessika, bahkan dia menepis tangan itu.


"ada apa?" tanya Gavin datar. ia tahu ada yang tidak beres, bahkan hatinya mulai meresa tidak tenang saat tak melihat Eira bersama Jessika.


"Kak Gavin Eira hilang tolongin gue nyariin dia..." pinta Jessika membuat ketiga pemuda itu melotot.


"APA!"


...Bersambung...


...☆°☆°☆°☆°☆°☆°☆...


...•...


...•...

__ADS_1


...•...


...•...


__ADS_2