ART Penakluk CEO Dingin

ART Penakluk CEO Dingin
Petuah Kikan


__ADS_3

Seminggu sudah Kikan merawat Aris.Dan selama itu pula Kikan berusaha menyemangati dirinya untuk tetap bertahan dari sikap Aris.Tak pernah sehari pun Aris dan Kikan tidak berdebat untuk hal-hal kecil.


Seperti saat ini Kikan yang membantu kegiatan Aris di buat kesal karena penolakan Aris.


"Tuan ini makanan anda"ucap Kikan.


"Bawa pergi aku gak mau"ucap ketus Aris.Kikan yang sudah kebal dengan sikap Aris pun membiarkan makanan itu tanpa membawa pergi.Dia pun berlalu meninggalkan Aris di kamarnya.Saat akan membuka pintu Kikan di hentikan oleh Aris.


"Hei gadis kampung kau mau kemana?" tanya Aris.


"Saya mau keluar tuan,ada yang bisa di bantu"


"Tidak ada"jawab Aris.


"Baik tuan permisi"pamit Kikan.


"Aneh trus tadi ngapain manggil aku"gumam lirih Kikan yang masih bisa di dengar Aris.


"Kau bilang apa hah?" ucap dingin Aris yang mendengar.


Kikan pun terlihat kaget karena suara lirih nya masih di dengar oleh Aris."Tidak tuan saya tidak bicara apapun"ucap bohong Kikan.


Aris yang yakin mendengar sesuatu dari Kikan pun tak percaya ucapan gadis itu.


Setelah menunggu apa yang akan di ucap Aris,Kikan pun keluar dari kamar itu.Masib beberapa langkah Kikan keluar Aris pun sudah memanggil dirinya.


"Gadis Kampung" teriak Aris memanggil Kikan.


Kikan yang di panggil pun pura-pura tidak dengar karena itu bukan namanya.


Karena merasa tak ada respon dari Kikan,Aris pun merasa kesal di buatnya.Dia pun akhirnya memanggil Kikan dengan benar.


"Kikan kemari kau"teriak Aris lagi dari dalam kamar.


"Iya tuan ada yang bisa di bantu" jawab Kikan saat memasuki kamar.


"Kau tuli ya aku panggil tidak datang"ucap kesal Aris.


"Maaf tuan tapi bukannya tuan baru saja memanggil saya"ucap polos Kikan.


"Ach kau ini,Cepat ambilkan makanan ku aku lapar"pinta Aris.


"Iya tuan"jawab Kikan mengambil makanan untuk Aris.


"Tadi bilang gak mau sekarang aja minta makan,dasar bos Gesrek"Batin Kikan saat melihat Aris makan.


"Kenapa kau menatap ku begitu hah" ucap Aris yang mengangetkan Kikan.


"Melihat tuan,maksudnya" tanya Kikan yang merasa tidak melihat sang tuan muda.


Setelah menunggu Aris makan,Kikan pun berpamitan kepada Aris untuk keluar menjalankan kewajibannya sebagai umat manusia.


"Tuan permisi saya boleh keluar sekarang"tanya Kikan yang mendapatkan anggukan dari Aris

__ADS_1


Malam hari ketika semua berkumpul di ruang makan Kikan bermaksud mengajak Aris untuk makan di meja makan.


"Tuan bagaiman kalau tuan makan dengan yang lainnya"ucap Kikan memberi ide.


"Aku gak mau" jawab dingin Aris.


"Tapi kan enak tuan,makan dengan keluarga itu adalah hal yang pasti di tunggu semua orang"ucap Kikan.


Aris pun tak menggubris omongan Kikan,dia sibuk dengan buku bacaannya.Kikan yang punya sifat pantang menyerah pun terus saja berbicara pada Aris.


"Tuan ketika semua keluarga kita masih ada sudah seharusnya kita dekat dengan mereka karena mereka adalah penyemangat di hidup kita.Anda tahu tuan saat terpuruk atau bahagia keluarga akan selalu ada buat kita.Jadi selagi masih ada kenapa kita tidak bisa dekat dengan mereka" ucap Kikan yang menoleh ke Aris tapi lagi-lagi tak ada respon.


"Tuan bolehkah aku bertanya?" tanya Kikan pada Aris.


"Hemm" jawab Aris.


"Maaf tuan apa tuan malu dengan kondisi tuan saat ini" ucap Kikan takut.


"Apa yang kau mau bicarakan Kikan"ucap Aris yang akhirnya melihat ke arah Kikan meski dengan tatapan tajam.


"Saya tidak bermaksud apa-apa tuan hanya saja saya merasa tuan menghindar dari dunia luar"jawab Kikan kembali.


"Kau tau apa tentang aku"


"Mungkin saya tidak tahu apa-apa tentang tuan tapi yang saya tahu tuan orang yang selalu berfikiran negatif dan tidak mau mendengarkan pendapat orang,Tuan selalu berbuat semau tuan tapi apa tuan tahu di luaran sana mungkin ada yang jauh lebih buruk dari kondisi tuan,jadi sudah sepatutnya tuan bersyukur dengan kondisi tuan saat ini"ucap Kikan panjang lebar.


"Kau mencoba menggurui ku"ucap ketus Aris.


"Ach maaf tuan saya tidak bermaksud begitu"ucap Kikan yang baru sadar jika dia sudah terlalu banyak berbicara."Ehm maaf tuan apa mau makan disini saja"tanya Kikan mengalihkan pembicaraan.


"Baik tuan permisi"pamit Kikan.


Saat di luar kamar Aris,Kikan nampak merutuki dirinya yang telah banyak bicara di salam tadi."Aduh Kikan kenapa kau banyak bicara bagaiman kalau tuan Aris marah"pikir Kikan dengan memukul mulutnya.


Sherly yang saat melihat Kikan memukul mulutnya pun bertanya "Kak kau kenapa,keluar dari kamar kak Aris kok begitu"


"Ach tidak kenapa-kenapa Sher" ucap Kikan dengan nyengir.


"Ich Aneh deh kak Kikan"


"Kau mau kemana Sher kok rapi banget"tanya Kikan.


"Aku mau pergi dulu kak,Dah... kak " jawab Sherly berlalu pergi.


Kikan pun melanjutkan untuk masuk ke dalam kamar tidurnya.Saat berjalan nampak nenek Puspa yang sedang berada di dapur.


"Nek,sedang apa"tanya Kikan.


"Oh ini nenek mau bikin susu untuk Aris"Jawab nenek Puspa.


"Sini nek biar aku yang buatkan nenek istirahat saja"ucap Kikan mengambil gelas susu dari nenek Puspa.


"Tidak apa Kikan,nenek juga mau ke kamar Aris melihat dia"ucap nenek Puspa.

__ADS_1


"Nenek kesana saja dulu nanti aku antar susunya" ucap Kikan.


"Baiklah kalau begitu aku ke kamar Aris dulu ya"Jawab nenek Puspa yang di angguki oleh Kikan.


Setelah selesai membuat kan susu,Kikan pun kembali ke kamar Aris untuk mengantar susu buatannya.


"Permisi" ucap Kikan


"Masuk Ki"jawab nenek Puspa.


"Maaf nek ini susu untuk tuan Aris" ucap Kikan.


"Siapa yang menyuruhmu membuat susu" tanya Aris.


"Ach itu nenek tadi yang mau bikin,sini Ki bawa sini susunya"ucap nenek Puspa


Kikan pun menyerahkan gelas susu itu pada nenek Puspa.


"Tapi aku tidak mau nek"ucap Aris malas.


"Minumlah kau tidak makan jadi minum susu ini"pinta nenek Puspa dan Aris yang diminta oleh nenek Puspa pun akhirnya meminum susu itu.


"Tinggal minum aja susah sekali"ucap lirih Kikan yang berhasil mendapatkan tatapan tajam dari Aris.Kikan yang sadar pun akhirnya berpamitan keluar takut akan di marahi oleh Aris.


"Nenek dengar tidak,pelayan kesayangan nenek itu sudah kurang ajar" ucap protes Aris.


"Tapi apa yang di bilang Kikan memang benar kok"ucap nenek Puspa membela Kikan.


"Yang sebenarnya cucu nenek aku atau dia sih"protes Aris lagi.


"Sudah-sudah,bagaiman apa kau mau terapi?"Tanya nenek Puspa mengalihkan pembicaraan.


"Aku tidak mau" jawab Aris.


"Tapi Ris kau itu bisa sembuh nak coba dulu ya terapi nanti nenek temani atau kau mau di temani Kikan"tanya Nenek Puspa merayu.


"Lihat nanti saja nek"


"Baiklah tapi sebaiknya kau keluar lah dari kamar jangan di dalam saja,Besok nenek minta Kikan untuk mengajakmu ke taman belakang"ucap nenek Puspa.


"Terserah nenek"


Nenek Puspa pun keluar dari kamar Aris.Saat berada di luar beliau di kagetkan dengan keberadaan Kikan yang masih menunggunya.


"Lho Kikan kau kenapa disini"


"aku menunggu tuan Aris nek siapa tahu butuh sesuatu" jawab kikan.


"Sudah tidurlah,Aris pasti sudah tidak memanggil..." ucapan nenek Puspa pun terpotong dengan teriakan Aris yang memanggil Kikan .


"Benar kan nek" ucap Kikan tersenyum


Nenek Puspa pun di buat geleng-geleng " Ya sudah sana temui dia" .

__ADS_1


Kikan pun berlalu memasuki kamar Aris.


__ADS_2