
"Selamat pagi tuan,apakah sudah siap untuk hari ini"ucap Kikan penuh semangat saat menghampiri Aris di kamar nya.
"Kau,ini masih pagi aku mau tidur"jawab Aris yang masih nyenyak dengan selimut dan bantalnya.
"Justru karena masih pagi itu udara masih bagus tuan"ucap Kikan kembali.
Setelah semalam mereka saling ngobrol mulai hari ini Aris akan berlatih berjalan di rumah selain di rumah sakit,dan mulai hari ini juga Aris ingin mendekatkan diri dengan sang pencipta di bantu oleh Kikan.
"aku ngantuk Kikan"ucap kesal Aris yang merasa di ganggu tidurnya.
"Haduh gini kalau sudah berteman sama setan jadi malas kan bangun pagi"ucap Kikan keceplosan.
"Apa kau bilang"tanya Aris yang langsung bangun mendengar ucapan Kikan.
"Teman setan tuan,apa ada yang salah "tanya Kikan dengan tak berdosanya.
"Jadi kau pikir aku berteman dengan setan hah"
"Ach maaf tuan bukan begitu maksud saya"jawab Kikan yang merutuki omongan nya tadi.
"Cepat antar aku ke kamar mandi"Pinta Aris.
Setelah semua selesai Kikan pun mengajak Aris untuk laporan terlebih dahulu dengan sang pencipta.Saat melakukannya Aris merasa semakin kecil karena selama ini telah lupa dengan sang pencipta.
"Tuan..tuan tidak apa-apa kan" tanya Kikan yang melihat Aris nampak menangis meskipun tak diperlihatkan.
Aris yang mencoba menahan tangis nya pun menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Kikan.
"Baiklah jika sudah mari tuan kita keluar dan hirup udara segar di luar"ajak Kikan.
Pagi itu pun Kikan mengajak Aris untuk jalan mengelilingi rumah nya.Udara yang begitu segar membuat Aris merasa kan kesegaran dan juga ketenangan pagi itu.
"Ternyata benar yang dikata gadis ini udara pagi ini memang segar dan setelah melakukan sholat aku pun merasa tenang"batin Aris.
Aris pun nampak melihat sekeliling rumah nya dia nampak melamun akan masa kecilnya di rumah itu."Rumah ini masih sama tapi kenangan itulah yang tak pernah aku inginkan.Semua pun masih sama hanya aku yang tak bisa berdamai dengan kenangan itu."Pikir Aris saat melamun tentang masa suramnya di rumah keluarganya.
"Tuan..masih mau disini atau kita berkeliling lagi"Tanya Kikan yang tak di respon oleh Aris.
__ADS_1
"Tuan" panggil Kikan kembali dengan menyentuh pundak Aris.
"Iya" jawab Aris yang tersadar dari lamunannya.
"Bagaiman jika kita berlatih berjalan di taman belakang"usul Kikan.
"Baiklah"
Kikan yang mendapatkan jawaban yang singkat-singkat dari Aris pun nampak heran."Kenapa lagi dengan manusia satu ini"pikir Kikan.
"Tuan tunggu disini dulu ya saya ambilkan tongkat tuan dulu"pamit Kikan yang meninggal kan Aris di taman belakang.Aris pun mengangguk saja mendengarkan Kikan.
Saat Kikan pergi mengambil tongkat,Aris yang saat itu sendirian nampak begitu ingin untuk berdiri dia pun berusaha mencari benda yang kuat untuk bisa dia perpegangan.Tapi karena kakinya yang belum begitu kuat dia pun terjatuh saat akan berdiri.Saat yang bersamaan Kikan nampak datang dari mengambil tongkat pun di buat kaget melihat Aris.
"Tuan Aris"teriak Kikan.
Semua yang mendengar pun mencari keberadaan keduanya.Kikan yang melihat Aris juga segera menghampiri Aris untuk membantunya kembali ke kursi roda.
"Tuan mari saya bantu" ucap Kikan membantu Aris.
"Lepas ,kau lihat bukan untuk berdiri saja aku tidak bisa dan kau lihat sekarang pun aku harus kau bantu untuk kembali di kursi sialan ini"ucap kesal Aris terhadap dirinya.
"Ku bilang lepas"ucap Aris dengan suara tingginya.
Kikan yang melihat Aris begitu putus asa pun menjadi kesal di buatnya.
"Tuan apa dengan anda marah bisa membuat anda jalan?Apa dengan melampiaskan kemarahan pada orang lain anda bisa bangkit lagi hah" ucap emosi Kikan."Anda itu gampang sekali putus asa apa anda tidak melihat mereka yang disana pun juga merasa sedih seperti anda.Kenapa tak ada sedikitpun rasa ingin bangkit dengan melihat mereka?Keluarga anda juga ingin anda berjuang bukan malah seperti ini"ucap Kikan kembali dengan suara lantang dan menunjuk semua keluarga Aris yang saat itu berada disana.Setelah meluapkan kekesalan Kikan pun memaksa Aris untuk kembali ke kursinya.
"Mari tuan saya bantu dan jangan protes"ucap Kikan saat membantu Aris yang saat itu juga akan protes dengan yang dilakukan Kikan.
Semua keluarga Aris bukan bermaksud hanya melihat saja tapi mereka diam karena permintaan papa Wijaya saat itu yang menghentikan semua untuk membantu Aris.
"Stop tunggu disini aku yakin Kikan bisa mengatasi Aris "ucap penuh yakin papa Aris
"Tapi pah"ucap Sherly yang tak ingin diam saja.
"Sudah kau lihat saja" jawab papa Aris menghentikan Sherly.
__ADS_1
"Benar kata papa mu Sher tunggu sebentar"ucap nenek Puspa
Dan benar saja setelah berdebat tadi Aris pun nampak diam dan menurut pada Kikan.
"Sudah ayo kita kembali,Aris sudah di jinak kan oleh pawangnya"ucap nenek Puspa dengan tersenyum.
"Nenek pikir kak Aris hewan apa pakai pawang segala"protes Sherly mendengar ucapan Sang nenek.
"Kau ini banyak protes" ucap nenek Puspa kembali.Sedangkan pak Wijaya yang melihat pun hanya menggelengkan kepalanya.
Dalam hati pak Wijaya begitu kagum dengan Kikan "Benar kata mama,Kikan memang pawang untuk Aris.Sejak Kikan merawat Aris anak itu menjadi lebih tenang dan bisa di kendalikan"Batin pak Wijaya.
Nenek Puspa pun juga berfikir bahwa benar dengan keputusan yang di ambil untuk sang cucu."Sepertinya rencana ku untuk mendekatkan mereka akan berjalan mulu"pikir nenek Puspa dengan tersenyum.
"Nenek kenapa senyum-senyum begitu"tanya Sherli yang melihat sang nenek aneh l.
"Tidak kenapa-kenapa"jawab sang nenek yang berlalu pergi ke meja makan.
Ketika di taman nampak Aris dan Kikan seperti canggung.Kikan yang merasa tidak enak pun jadi serba salah karena emosi dia pun memarahi tuan mudanya."Aduh Kikan kau ini kenapa jadi emosi sih gimana kalau di pecat udah tahu bos mu ini aneh"rutuk Kikan pada kecerobohannya.
"Gadis ini berani juga terhadap ku"pikir Aris.
"Tuan"panggil Kikan memecahkan keheningan.
"Hmm kenapa mau marah lagi"tanya Aris kesal
"Tidak tuan saya ...saya mau minta maaf karena tadi .." ucap Kikan yang di potong Aris
"Sudahlah aku mau ke kamar sekarang"potong Aris.
"Ba..baik tuan"jawab gugup Kikan.
Kikan pun mengantar Aris kembali ke kamar setelah keluar dari kamar Aris Kikan pun bersyukur karena tidak di pecat."Untung gak di pecat dirimu Kikan"pikir Kikan.
Hari itu pun berjalan seperti biasa untuk Kikan.Karena Aris ternyata masih tetap sama suka marah kepada dirinya meski tak sesering beberapa waktu lalu.
***
__ADS_1
Jangan lupa like,komen dan Rate bintangnya supaya aku semangat nulisnya.Dukungan teman-teman sangat berarti untuk support aku menulis😉
Matur Suwun teman"