Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Sesuap Nasi Goreng


__ADS_3

Seharusnya aku tak menunjukkan perasaanku terlalu dalam padanya. Membuat suasana bersamanya menjadi tidak menyenangkan. Biarkan hubunganku tetap terlihat seperti awal bertemu, antara asisten dan bosnya.


-Maura-


🌿🌿🌿


Maura mengaduk-ngaduk nasi goreng yang dibuatnya. Nafsu makanya hilang dalam sekejap. Pandangannya lurus ke arah nasi goreng. Namun fikirannya terbang entah kemana.


Ia mengaduk kembali, suara sendok dan piring saling bertemu dan terdengar dengan jelas. Sesekali Maura menyuap nasi goreng itu ke mulutnya dan terdiam lagi.


Tak berapa lama kemudian, sosok Gilang keluar dari kamarnya, ia melihat sosok Maura yang tengah asyik menikmati nasi goreng saat itu. Perlahan Gilang menghampirinya dan duduk di depan Maura sekarang.


"Kenapa kamu enggak kasih tahu aku, kalau sudah jadi?" Tanya Gilang sedikit kesal.


Maura masih diam, tak berkomentar sedikitpun dan membuat Gilang bingung menatapnya.


"Aku pulang setelah ini ya." Pinta Maura tiba-tiba dan tak menjawab apa yang diucapkan Gilang barusan.


"Ok.. aku antar."


"Enggak usah, aku pulang sendiri aja." Jawab Maura dan mengarahkan pandangannya ke bawah kembali.


Gilang terus berfikir, apa yang sebenarnya terjadi, saat dirinya tak ada di sampingnya. Kenapa Maura cepat sekali merubah ekspresinya.


"Masakanmu enak." Puji Gilang, berharap Maura merespon lebih ucapannya itu.


"Terima kasih." Jawab Maura datar.


"Ada kuliah hari ini?" Tanya Gilang terus.


"Enggak." Jawab Maura dan masih terdengar datar.


"Hemm.. Kamu kenapa sih Ra?" Gilangpun kesal mendengarnya, sambil meletakkan sendok dan garpu di atas piringnya.


"Loh.. kenapa apanya?" Tanya Maura lagi dan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Gilang dengan sendok dan garpu miliknya.


"Ah.. sudahlah.., cepat habiskan makananmu. Aku antar kamu pulang setelah itu."


Pagi itu Maura masih terganggu dengan apa yang tak sengaja didengarnya. Hanya karena satu kata.. membuat suasana menjadi sangat tidak menyenangkan.


Maura sadar dengan kesalahan yang dibuatnya. Seharusnya dia tidak terlalu menunjukkannya. Ini tidak akan berpengaruh juga pada Gilang.


"Maaf." Ucap Maura akhirnya dan pandangan menghadap ke bawah lagi


"Enggak tulus." Jawab Gilang dan masih terlihat kesal.


Maura tampak terkejut saat itu. Ini seperti pernah terjadi sebelumnya. Yah.. saat itu Gilang yang mencoba meminta maaf padanya. Gilang mengobati tangan Maura dan membuat Maura diam dalam sekejap.


Maura berfikir, apa yang bisa dilakukan dirinya. Supaya ini terlihat tulus di mata Gilang. Sampai akhirnya Maura melakukan sesuatu yang berhasil membuat Gilang terkejut dengan hati yang makin tak menentu.

__ADS_1


Maura merebut sendok yang sedang di genggam Gilang saat itu. Sendok yang sejak tadi hanya Gilang benturkan ke piring. Gilang tidak meneruskan makannya. Melihat hal itu, Maurapun berinisiatif untuk mengambil sesendok penuh nasi goreng milik Gilang dan mengarahkannya ke mulut Gilang.


"Buku mulutmu." Pinta Maura dan membuat Gilang makin terkejut dibuatnya.


"Ayolah Lang, buka mulutmu. Aku minta maaf, jangan salahkah nasi gorengnya. Kamu harus menghabiskannya." Pinta Maura lagi.


Gilangpun membuka mulutnya perlahan, dia memakannya. Terlihat senyum Maura saat itu. Maura tampak senang sekarang. Dengan Gilang mau membuka mulutnya, dengan berarti Gilang sudah memaafkannya.


"Ayo.. aaa lagi."


"Tidak.. tidak.. aku makan sendiri saja. Kamu habiskan punyamu." Jawab Gilang akhirnya.


"Oke.." Jawab Maura dengan tersenyum kembali menatap Gilang.


Dengan jantung yang makin berdebar kencang, karena tindakan Maura. Gilang berusaha tetap tenang menghabiskan nasi goreng miliknya. Gilang tak pernah berfikir bahwa Maura akan menyuapi dirinya. Maura selalu bisa membuat Gilang terkejut begitupun Gilang pada Maura.


Setelah menyelesaikan makannya, Maurapun merapikan semuanya. Sedangkan Gilang menunggu sambil menatap punggung Maura saat itu.


🌿🌿🌿


"Kita sudah sampai." Ucap Gilang.


"Makasih ya."


Maura melepaskan sabuk pengaman saat itu. Memastikan barang-barangnya lengkap terbawa semua. Buku yang pernah tertinggal di mobil Gilang, tak luput dari pandangannya. Ia membawanya juga. Kali ini ia tak melupakannya.


Maura terdiam sekarang, menatap Gilang yang sudah berada di sampingnya. Apa yang mau dilakukan Gilang sekarang, tak biasanya dia turun dari mobinya seperti ini.


"Kenapa?" Tanya Maura.


"Aku antar ke dalam."


"Hah.. enggak perlu." Ucap Maura kaget.


"Loh.. kenapa?"


"Enggak apa-apa, bukannya kamu ada kelas hari ini. Nanti kamu terlambat." Ucap Maura sambil menarik tangan Gilang membawanya menuju pintu mobil dan membukakannya.


"Akukan perlu tau, tempat tinggal asistenku."


"Iya.. nanti saja. Lihat sudah jam berapa ini." Bujuk Maura lagi dan sedikit memaksa.


Bisa kacau kalau seorang Gilang masuk mengantarnya ke dalam. Ini kostnan wanita, ibu kost di sini sangat keras sekali melarang lelaki masuk, kecuali saudara.


Gilang menghela nafasnya saat itu. Gilang tau bahwa Maura sedang mencoba menghalangi dirinya.


"Ok.." Aku akan menjemputmu setelah ini.


"Hah.. kita mau pergi lagi?" Tanya Maura memastikan.

__ADS_1


"Ya.. ingat ini bukan hari liburmu." Ucap Gilang dan kemudian masuk ke dalam mobil akhirnya.


Menatap kepergiannya.. Maura terdiam. Melangkah perlahan masuk ke dalam kostannya. Setidaknya Maura sudah berhasil menghalangi Gilang untuk masuk ke dalam.


Ia berjalan menyusuri halaman depan kostan tempatnya tinggalnya. Tak jauh dari gerbang depan ada sebuah rumah yang cukup besar. Rumah itu adalah rumah pemilik kostan ini. Setelah melewati rumah itu, Maura baru bisa masuk menuju kamar kostannya berada, persis di belakang rumah pemilik kostan ini.


Ada beberapa kamar yang tersusun memanjang dan saling berhadapan. Seperti sebuah kontrakan namun berukuran lebih kecil.


Maura melangkah lebih ke dalam lagi. Kamar kostannya berada tepat di pojok sebelah kanan tepat dirinya berdiri. Ia membuka pintu kamarnya perlahan. Melepas sepatunya dan masuk ke dalam.


"Hufftt.."


Maura merebahkan tubuhnya, rasanya hari ini terasa berat. Maura teringat kembali saat dirinya bersama Gilang tadi.


"Kenapa aku berinisiatif untuk menyuapininya." Ucap Maura tiba-tiba.


Maura berfikir kembali, membayangkan dan membandingakan dirinya dengan Laras..


"Ahh... aku memang tak secantik Laras." Ucap Maura kembali.


.


.


.


.


.


Akhirnya mereka makan nasi goreng juga😂


Tinggalkan jejaknya dan likenya ya kak.


Di jadikan Favorite trus kasih Rate yang banyak. Supaya tambah semangat up nya.


💪😊


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Mau likenya ya kak 😊


Mau ratenya juga ya kak😇


di Vote Alhamdulilah😁


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉


Terima kasih yang sudah Vote😘, yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini😊

__ADS_1


__ADS_2