
Tolong jangan membuatku menjadi ragu, aku sudah bertekad akan melupakanmu, tidak akan mengganggumu seperti yang kujanjikan waktu itu.
Mulai sekarang menjauhlah dari diriku.
-Vaya-
🌿🌿🌿
Maura telah sampai akhirnya, mengunjungi orang tuanya saat siang menjelang sore tiba. Di tatap perlahan sekelilingnya. Sebuah ayunan menarik perhatiannya saat itu. Sejenak ia mengingat masa lalunya.
Maura kembali melangkah, lebih ke dalam. Menuju sebuah pintu yang sudah beberapa minggu ini tak tersentuh olehnya. Perlahan ia tatap lagi sekelilingnya. Tanaman bunga masih terawat dengan baik, bahkan ada kupu-kupu cantik hinggap di salah satu bunga yang tengah bermekaran.
"Klek.." Membuka perlahan, memanggil seorang wanita yang menantinya datang kembali.
"Ibu.. bu.." Panggil Maura sambil terus melangkah.
"Hemm.. pasti ibu di dapur." Gumanya sendiri.
Meletakan tas kecil yang ia bawa sejak tadi di salah satu sofa berwarna hitam. Wajahnya tersenyum, rasanya ia ingin mengejutkan kedatangannya untuk sang ibu.
Namun niatnya tak terjadi, Maura hanya mampu memanggil sang ibu perlahan, yang saat ini sedang membelakangi dirinya.
"Bu.." Panggil Maura.
"Loh.. kamu sudah datang, kamu bilang baru bisa sore atau malam ini." Ucap sang ibu dan tampak terkejut menatapnya.
"Memangnya enggak boleh datang lebih awal." Ucap Maura dan perlahan menghampiri sang ibu.
"Ibu enggak bilang gitu, gimana perjalanan ke sini, lancar?"
"Lancar bu."
"Gimana kuliah kamu?"
"Lancar juga bu."
"Yasudah kamu istirahat dulu saja."
"Maura enggak boleh bantu ibu?"
"Bukannya enggak boleh, tapi pasti kamu lelah, masih ada bibi yang bantu ibu. Nurut ya anak cantik."
Maura tersenyum mendengarnya, ibunya masih selalu saja memuji dirinya dengan sebutan cantik. Maurapun akhirnya pergi meninggalkan ibunya dan melangkah menuju kamarnya.
Naik perlahan menyusuri anak tangga, menuju sebuah kamar lalu membuka pintu dan membaringkan tubuhnya segera. Menghela nafasnya kemudian.
"Aku lupa mengabari Gilang." Gumam Maura.
Bangkit dari tidurnya, dan duduk kembali. Diraih handphone miliknya, dan dihubungi Gilang segera. Tapi tak ada balasan apapun dari Gilang.
"Hemm.. ku kirim pesan saja." Gumam Maura kembali.
Hanya satu kalimat yang tertulis, dan Maura langsung mengirimnya.
Aku sudah sampai.
Membaringkan tubuhnya kembali, terdiam, menanti balasan dari Gilang namun lelah menghampiri. Akhirnya Maura tertidur begitu saja.
.
.
.
.
Vaya melangkah bersama Raka, menghabiskan waktu bersama. Menonton film dan kemudian menenangkan suara perut mereka dan kemudian memutuskan untuk kembali.
"Inget dengan reaksi Rian tadi?" Tanya Raka di saat langkahnya menuju pintu keluar Mall ini berada.
__ADS_1
"Kenapa dengan reaksinya?" Tanya Vaya dan mulai berfikir.
"Cemburu Va, masa enggak liat."
"Enggak mungkin seperti itu."
"Menurutku dia cemburu, percaya deh."
"Ih.. sesat percaya sama kamu."
Raka tertawa mendengarnya, dan masih terus melangkah bersama, namun terhenti saat mereka menyadari ada sosok lain yang memperhatikan mereka.
Hanya beberapa meter dari mereka berdiri sekarang, namun berhasil membuat Vaya maupun Raka terdiam seperti patung.
"Wih.. disusulin."
"Kebetulan." Jawab Vaya cepat dengan suara pelan.
"Aku update status kencan kita di whatsapp."
"Hah.."
"Pasti dia sudah melihatnya, makanya dia sekarang di sini."
"Ngaco." Protes Vaya.
"Pasti dia cemburu."
Vaya terdiam akhirnya, mulutnya seperti terkunci saat sosok Rian sudah berdiri di hadapannya dan begitu dekat saat ini.
"Kalian di sini?"
"Ya.. baru saja selesai nonton." Jawab Raka cepat.
"Owh.., sudah mau balik sekarang?"
"Ya.. Oh iya, Aku ada janji Va, enggak bisa ngantar balik."
"Eh.. jangan gitu, sudah malam. Gimana kalau balik bareng Rian aja?"
"Oh.. enggak usah, pasti Rian juga masih ada urusan disinikan." Ucap Vaya dan berharap Rian menjawab Iya saat itu.
"Tidak, aku bisa mengantarmu pulang."
"Nah, thank you bro, sorry enggak bisa lama-lama, duluan ya." Ucap Raka akhirnya dan entah kenapa Vaya merasa Raka pergi melangkah begitu cepat.
Vaya menyadari, bahwa ini hanya sebuah alasan yang dibuat Raka untuknya. Vayapun menyadari bahwa ia sudah berjanji untuk tidak mengganggu Rian lagi. Tapi kenapa Rian harus berkata seperti itu, membuat Vaya menjadi bingung harus bersikap seperti apa nantinya.
"Yuk.." Ajak Rian mulai melangkah dan diikuti Vaya kemudian.
"Kalian habis nonton film apa?"
"Drama komedi."
"Oh.., sudah makan?"
"Sudah." Jawab Vaya singkat.
"Kamu berkencan dengan Raka?"
"Ku rasa ini bukan urusanmu."
"Kamu marah denganku?"
"Tidak. Hemm.. mungkin baiknya aku naek taksi saja."
"Tidak, aku antar kamu."
"Tolong jangan baik padaku, dan bantu aku menepati janjiku itu."
__ADS_1
"Tapi bukan berarti kamu menghindariku Va."
"Mungkin ini caranya."
"Tidak, ini salah."
"Terserah kamu." Ucap Vaya dan mencoba melangkah pergi akhirnya.
Rian menahannya, meraih pergelangan tangan Vaya dengan cepat. Menghentikan langkah Vaya segera.
"Aku antar, sekali ini saja. Setelah itu terserah kamu." Ucap Rian dan terdengar memohon.
Rian menyadari satu hal, hati seseorang terluka karenanya. Namun pengakuan Vaya membuat hatinya terganggu.
.
.
.
.
Menatap langit kamar begitu lama, teringat saat dirinya bersama Rian tadi. Memang tak banyak yang dibicarakan. Namun berhasil membuat keduanya berfikir cukup lama.
"Maafkan aku, dan tolong jangan berubah." Ucap Rian.
Vaya diam tak berkata apapun, sampai akhirnya Vaya berhasil sampai di rumah dengan Rian mengantarnya hingga depan pintu rumah Vaya saat itu.
"Terima kasih." Ucap Vaya sebelum dirinya benar-benar pergi meninggalkan Rian sendiri.
Sekarang Rian yang diam, ia tak tahu harus berkata apa lagi, harus bersikap seperti apa pada Vaya. Penyesalan seperti menghampirinya saat ini.
Kembali menatap langit-langit kamarnya malam itu.
"Aku yang telah menciumnya tiba-tiba, aku juga juga yang mencintainya tanpa berharap dia mencintaiku." Ucap Vaya sendiri.
"Seharusnya aku bisa bersikap biasa, tidak berubah di hadapannya." Ucapnya lagi dan kemudian berfikir kembali.
"Lalu bagaimana caranya bersikap biasa?, Ahhh..." Teriak Vaya akhirnya dan langsung menarik bantal dan menutupi wajahnya sendiri.
Vaya menghela nafasnya kemudian dan menarik bantal yang menutupi wajahnya tadi. Rasanya terlalu malu saat mengungkapkan perasaan yang jelas tidak akan termiliki. Rasanya menyakitkan juga jika harus memendamnya.
Ini sudah terjadi, mencoba menerima tanpa harus menghindari. Vayapun tak ingin berubah, namun bagaimana dengan hatinya jika tetap harus bertemu dan bertemu.
.
.
.
.
Semangat Vaya💪💪💪
Sebelum lanjut, minta Votenya ya 👉👈
Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi 💪😊
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Jangan lupa likenya ya kak 😊
ratenya juga ya kak😇
dikasih hadiah juga boleh😊
di Vote Alhamdulilah😁
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉
__ADS_1
Terima kasih yang sudah Vote😘, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini😊.