
Aku ingin kau bercerita, apapun itu. Sedih senang aku ingin mendengarnya.
Aku ingin membuatmu tenang, aku ingin bisa membantumu. Aku ingin bahagia dia saat kau juga bahagia.
-Maura-
πΏπΏπΏ
Sepanjang jalan terasa hening, tak ada yang mau memulai percakapan. Sekalinya percakapan terjadi hanya sebuah jawaban singkat antara ya atau tidak yang terucap dari mulut Vaya. Sampai akhirnya, Rian berhasil mengantar Vaya.
"Terima kasih." Ucap Vaya dan dengan cepat melepas sabuk pengaman saat itu.
Vaya membuka pintu mobil kemudian dan melangkah keluar. Rasanya ingin berlari cepat meninggalkan Rian. Benar saja Vaya melangkah sangat cepat, seakan berlari, namun terhenti saat Rian memanggil namanya.
Rian memanggil namanya berkali-kali, dia melangkah mendekat. Sekarang sudah berada di hadapan Vaya kembali.
"Buka yang kamu beli ketinggalan." Ucap Rian dan meraih pergelangan tangan Vaya dan kemudian meletakan buku-buku yang dibeli Vaya tadi di jemari Vaya saat itu. Sehingga Vaya sudah menggenggamnya sekarang.
"Terima kasih."
"Aku pulang." Ucap Rian meminta izin kemudian.
"Ya.. hati-hati." Jawab Vaya, rasanya tak berani menatap Rian saat itu.
Rian melangkah perlahan, sangat perlahan. Beberapa kali ia menghadap ke belakang, memastikan bahwa Vaya masih melihatnya. Sedangkan Vaya mencoba memberanikan diri melihat kepergian Rian saat itu. Sampai akhirnya Rian benar-benar pergi dan Vaya memutuskan untuk masuk ke rumah kemudian.
Membuka dan menutup pintu dengan cepat dan kemudian bersandar di baliknya. Matanya terpejam, tangannya menyentuh dadanya seakan mencoba menenangkan dirinya saat itu. Mengambil nafas secara teratur.
"Vaya, kenapa?" Ucap seseorang tiba-tiba, mengagetkan dirinya.
"Oh, enggak apa-apa, Mah." Ucap Vaya cepat dan kemudian berlari, menuju kamarnya.
.
.
.
.
Rian sedang mengemudi saat ini, tapi pikirannya terbang kembali, saat Vaya masih disampingnya tadi. Entah apa yang telah memberanikan dirinya untuk mencium Vaya saat itu.
Vaya tak menolaknya, Vaya tak marah padanya. Bahkan Vaya terlihat gugup tadi.
"Vaya." Ucap Rian menyebut nama Vaya.
Entah apa yang terjadi dengan perasaanya saat ini. Sejujurnya ia senang melihat Vaya tak menolaknya tadi. Bahkan Rian tertawa saat melihat kecanggungan diantara mereka. Vaya pun tampak lucu saat kegugupan menghampirinya.
"Apa aku benar-benar sudah melupakan Maura?" Tanya Rian sendiri dan tampak mengelus keningnya saat itu dan melanjutkan kembali perjalanannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan tiba-tiba yang sangat sulit dipahami dirinya.
.
.
__ADS_1
.
.
Auuuuuu.." Teriak Maura saat Gilang menyentuh kakinya.
Maura dan Gilang telah sampai di apartemennya kembali. Sepanjang jalan Rian tetap menggendong Maura dan tak mau menuruti permintaan Maura untuk mengizinkannya berjalan sendiri.
Maura sudah berada di atas kasur saat ini, dengan Gilang yang sudah duduk di sampingnya dan tengah menyentuh kakinya.
"Kamu berteriak kencang sekali." Ucap Gilang karena terkejut mendengar teriakan Maura saat itu.
"Sakit Lang."
"Kenapa bisa terjatuh si Ra."
"Mana ku tahu, memangnya harus izin dulu kalau mau jatuh."
"Ya, enggak seperti itu." Ucap Gilang dan kali ini menyentuh rambut Maura dan mengacaknya.
"Lang.. kenapa kamu mengacak-acak rambutku."
"Memangnya Rian saja yang bisa." Ucap Gilang dan kali ini Maura tersenyum karena sadar betul bahwa Gilang tengah cemburu kembali.
"Jangan diacak-acak, cukup kamu usap seperti ini." Pinta Maura dengan tangan Gilang yang sudah di genggamnya dan mengarahkannya menuju kepala Maura. Gilang tersenyum saat itu, begitu pun dengan Maura.
"Aku ingin hal lain."
"Aku ingin ini." Ucap Gilang dengan jari menuju bibir Maura.
"Aku sedang sakit.." Jawab Maura gugup.
"Yang sakit kakimu."
Gilang pun mendekatkan wajahnya ke wajah Maura, ditatapnya begitu dekat. Diusapnya kemudian, beberapa helai rambut yang tampak tak beraturan di rapikan nya dari wajah Maura. Gilang tersenyum sedangkan Maura merasa gugup dengan jantung yang berdetak sangat cepat.
"Aku merindukanmu, rasanya aku masih sangat merindukan mu."
"Aku kan sudah kembali."Jawab Maura dan tampak sekali terlihat gugup, apalagi wajah Gilang yang begitu dekat menatap dirinya.
Kedua tangan Gilang seakan mengapit tubuh Maura, membuatnya tak dapat bergerak kemana pun.
"Aku sudah bicara dengan ke dua orang tuaku." Ucap Gilang lagi.
"Lalu."
"Mereka ingin mengenalmu."
"Aku jadi deg..deg.. kan." Ucap Maura dan disambut dengan tawa Gilang.
"Jangan khawatir, ada aku Ra." Ucap Gilang menenangkan.
Ada rasa tenang di hati Maura saat mendengarnya. Maura tersenyum dan kemudian meletakkan ke-dua tangannya di leher Gilang seakan menggantung.
__ADS_1
Tiba-tiba ada suara lain yang terdengar, suara getaran handphone dan itu milik Gilang.
"Handphone mu." Ucap Maura dan melepaskan ke dua tangannya itu.
Gilang pun bangkit, tak lagi menatap wajah Maura begitu dekat. Mencoba meraih handphone miliknya yang ia letakkan di saku celananya.
Masih duduk di samping Maura namun dirinya fokus berbicara saat itu.
"Ada apa?" Tanya Gilang pada seseorang di balik telephone.
"Aku tidak bisa, maaf." Ucap Gilang dan kali ini menatap Maura kembali yang masih berbaring di sampingnya.
"Dia sudah melakukan kesalahan yang fatal, maaf aku tidak bisa membantu." Jawab Gilang lagi dan menimbulkan pertanyaan di hati Maura yang sejak tadi mendengar pembicaraan Gilang saat itu.
Gilang mematikan handphonenya. Sempat terdiam dan kemudian bangkit dari duduknya.
"Aku ambilkan mu minum." Ucapnya dan berlalu pergi.
Aneh, apa yang telah terjadi, kenapa suasana hatinya berubah dengan cepat. Gilang tadi tidak seperti ini, sikapnya berubah saat telephone itu hadir.
Beberapa menit kemudian Gilang kembali, dengan segelas air putih di genggamannya. Lalu memberikannya pada Maura. Maura pun bangkit dari tidurnya dan duduk kemudian. Maura meminumnya sambil memperhatikan wajah Gilang yang tampak bingung.
"Kamu kenapa?" Tanya Maura mencoba membantu kegusaran yang tenang dirasakan Gilang.
"Tidak ada, kamu istirahatlah." Pinta Gilang dengan senyum di wajahnya.
"Enggak mau cerita, yasudah.." Ucap Maura lalu meletakan gelas yang digenggamnya di atas meja tepat di samping kasurnya berada. Maura menjatuhkan kembali dirinya di atas kasur, mencoba tertidur dan menghadap ke arah lain, tidak menghadap Gilang.
Gilang ikut menjatuhkan dirinya, ikut berbaring bersama Maura, bahkan ia memeluk tubuh Maura saat itu.
Gilang hanya diam, tak bersuara.. seakan tertidur. Maura hanya dapat mendengar hembusan nafasnya. Dengan tangan yang sudah setengah lingkaran di pinggang Maura saat ini.
.
.
.
.
Semangat... semangat... semangat...πͺπͺπͺ
Sebelum lanjut, minta Votenya ya ππ
Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Giftnya Alhamdulillah, Supaya tambah semangat up lagi πͺπ
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sanaπ (Alhamdulillah udah tamat)
Cerpenku juga menunggu kehadiran kalianπ€π€π€, tinggal klik di profilku.
__ADS_1