
Aku cemburu..
Tiba-tiba aku jadi cemburu. Aku ingin senyummu hanya untukku dan tawamu hanya karenaku.
Maaf, aku telah merusak suasana indah yang baru saja tercipta.
-Gilang-
🌿🌿🌿
Gilang diam, menatap air hujan yang begitu lebat turun ke permukaan. Gilang merasa tak senang, membuat dirinya langsung menghentikan mobilnya tiba-tiba.
"Teleponan kok lama banget." Gerutu Gilang dan sengaja dibuat sejelas mungkin.
Maura menyipitkan pandangannya ke arah Gilang, Maura merasa gilang sedang menyindirnya.
"Rian, nanti kutelepon lagi ya. Signal di sini buruk." Ucap Maura sambil menatap Gilang kembali.
"Buruk.. maksudmu aku.' Ucap Gilang tiba-tiba setelah Maura menghentikan pembicaraan dirinya dengan Rian.
"Aku enggak bilang gitu."
"Ngapain Rian telepon kamu?"
"Ihhhh.. kepo." Jawab Maura dan memancing emosi Gilang kembali.
Gilang menghela nafasnya, berusaha tetap tenang menghadapi Maura.
"Kenapa berhenti sih?"
"Karena kamu sedang menelepon."
"Loh.. apa hubungannya?" Tanya Maura bingung.
"Berisik, mengganggu konsentrasiku."
"Isshhhh..., aneh." Gerutu Maura namun terdengar jelas.
Maura tak habis fikir, sebelumnnya Gilang tampak baik-baik saja. Kenapa sekarang jadi pemarah. Cepat sekali perasaannya berubah.
Merekapun melanjutkan perjalanan kembali. Sesekali Gilang melirik ke arah Maura yang tetap terdiam. Melihat Maura yang tengah sibuk dengan handphonenya. Ada rasa khawatir yang muncul tiba-tiba dihati Gilang, khawatir Maura akan menghubungi Rian dan melanjutkan pembicaran dirinya dengan Rian kembali.
🌿🌿🌿
Hujan... masih saja turun, Maura menatap keluar dan termenung. Menatap melalui jendela kecil yang mengarah ke depan jalan apartemen ini berada.
Maura menghela nafasnya, memangku dagunya dengan telapak tangannya. Kesibukkan di luar sudah mulai berkurang. Sepertinya semua orang sedang bersembunyi seperti dirinya di dalam apartemen malam ini. Dinginnya udara dan hembusan angin yang kencang, membuat mereka tak melakukan banyak kegiatan di luar.
"Kamu sedang lihat apa?" Tanya Gilang dan berdiri dekat dengan Maura.
"Hujan.." Jawab Maura dan tetap memandang ke arah luar.
"Aku ada tugas untukmu." Ucap Gilang lagi dan membuat Maura langsung menatapnya.
__ADS_1
"Tugas apa?" Tanya Maura dengan kening yang mengkerut tampak bingung mendengarnya.
"Kamu harus bisa memakaikan dasi untukku."
"Kamukan pandai memakai dasi sendiri, kenapa mesti aku."
"Untuk apa aku punya asisten, kalau mesti aku juga yang mengerjakan."
"Ishh... nyebelin." Gerutu Maura.
"Cepat pakaikan." Ucap Gilang lagi sambil menyerahkan sebuah dasi kepada Maura
Dasi merah marun, sebuah dasi yang pernah Maura pilihkan untuk Gilang waktu itu. Gilang masih menyimpannya. Untuk pertama kalinya Gilang setuju dengan pilihan Maura.
"Oke..oke..." Ucap Maura.
Maurapun bangun dari duduknya, memegang dasi dan bersiap-siap memakaikan dasi itu untuk Gilang.
"Mendekatlah." Pinta Maura.
Deg.. Jantung Gilang berdetak kencang. Maura memintanya untuk mendekat ke arahnya. Gilangpun menurut saat itu dan membuat dirinya terdiam dan terus menatap Maura dengan dekat.
"Aku lupa lagi, gimana caranya waktu itu?" Tanya Maura dan saat dasi itu sudah melingkar di leher Gilang.
"Lang.." Ucap Maura lagi, namun kali ini pandangan Maura ke arah Gilang yang memang lebih tinggi dari dirinya.
Deg.. kali ini jantung Maura berdetak kencang. Melihat Gilang tengah menatapnya.
"Aku bantu.." Ucap Gilang dan mengangkat kedua tangannya dan memegang tangan Maura saat itu.
"Duh.. kenapa jadi deg..degkan begini." Bisik Maura sendiri.
"Sudah kau ingat?" Tanya Gilang tiba-tiba.
"Coba kamu yang melakukannya sekarang." Pintanya kemudian.
Fikiran Maura kacau, ia tak dapat mengingat apapun. Gilang membuatnya dirinya tak fokus.
"Maura.." Panggil Gilang.
"Iya.. iya.., aku lakukan." Jawab Maura dan tampak terkejut.
Maura berusaha mengulang kembali apa yang sudah diajarkan Gilang padanya tadi. Namun tetap belum berhasil.
"Huh.. kamu ini. Aku punya cara lain, kamu tunggu di sini." Ucap Gilang lagi dan berlalu pergi meninggalkan Maura sendiri.
"Hufttt.. akhirnya Gilang pergi." Bisik Maura dan menjatuhkan tubuhnya ke kursi kembali.
Maura menghela nafasnya, menenangkan hati dan fikirannya, jantung Maura masih saja berdetak begitu kencang. Keberadaan Gilang yang begitu dekat tadi membuatnya tak bisa melakukan apapun.
Beberapa menit kemudian Gilang kembali, Maurapun langsung berdiri. Namun dia terdiam dan menatap bingung dengan apa yang digenggang Gilang saat itu.
"Guling." Gumamnya.
__ADS_1
"Kita latihan lagi, anggap saja guling ini adalah diriku." Ucapnya.
Maura rasanya ingin tertawa saat itu, mencoba menahannya namun Gilang menyadarinya.
"Kenapa kamu tertawa."
"Aku hanya sedang membayangkan bahwa guling itu dirimu Lang." Jawab Maura dan tersenyum saat mengatakannya.
"Kita latihan di sofa." Ajak Gilang dan menarik tangan Maura begitu saja, tak mempedulikan apa yang barusan Maura katakan padanya.
Gilang meletakkan guling itu tepat di atas sofa dan Maura duduk tepat di hadapan guling itu. Gilangpun duduk tepat di belakang Maura. Dekat.. begitu dekat.., tak ada jarak dikeduanya. Bahkan Gilang seperti memeluk tubuh Maura. Gilang memegang tangan Maura, menggerakan ke arah Guling di hadapannya.
Maura diam, jantungnya kembali berdetak kencang. Keberadan Gilang di belakang tubuhnya membuatnya menjadi patung seketika.
"Aku sudah mengubah posisiku sekarang." Ucap Gilang, namun terdengar berbisik tepat di telinga Maura. Membuat seluruh tubuh Maura bergetar.
"Ini sangat mudah, kamu hanya perlu melakukan ini." Ucap Gilang lagi dan tersenyum kemudian.
Maura tak berkutik sedikitpun. Biasanya Maura akan protes atau marah. Namun kali ini, Maura menjadi wanita yang penurut.
Gilang merasakan kehangatan saat itu, kenyamanan kembali hadir saat dirinya bersama Maura. Aroma tubuh Maura tercium begitu dekat, aroma bunga yang membuat Gilang ingin terus memeluknya.
Maurapun merasakan hal yang sama, kehangatan dan kenyamanan yang Gilang berikan saat ini, membuat Maura ingin terus berada dipelukan Gilang. Namun...
Klek..
Pintu terbuka tanpa disadari Gilang dan Maura. Mereka begitu menikmati suasana saat itu. Sampai tak menyadari bahwa seseorang telah hadir dan menatap kebersamaan mereka.
.
.
.
.
Ada yang kepergok😅, jadi.. siapa yang datang, kenapa bisa masuk?, mungkin Gilang lupa mengunci pintu. Mungkin sajakan?😁
Tinggalkan jejaknya dan likenya ya kak.
Di jadikan Favorite trus kasih Rate yang banyak. Supaya tambah semangat up nya.
💪😊
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Mau likenya ya kak 😊
Mau ratenya juga ya kak😇
di Vote Alhamdulilah😁
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉
__ADS_1
Terima kasih yang sudah Vote😘, yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini😊