
Aku harus mengatakan yang sebenarnya, tapi kenapa sulit sekali. Aku sangat takut.. takut jika kamu membenciku dan mengakhiri semuanya.
-Maura-
🌿🌿🌿
Maura mengusap kepalanya berkali-kali, menggigit kukunya berulang kali. Rasa panik dan terkejut atas tindakan Rian padanya tadi masih sangat dirasakannya hingga saat ini.
"Aku harus bilang apa ke Gilang." Bisiknya sendiri.
Maura merasa bersalah sekarang, seharusnya dia tak mengizinkan Rian masuk tadi. Tapi semua sudah terjadi, Ya.. waktu Gilang masih menemui Laras, Maura sangat kecewa. Tapi sekarang, Maura yang telah membuat Gilang kecewa.
Sakit kepala Maura memikirkan itu semua, mencari solusi dari permasalahan yang tengah dihadapinya saat ini. Tak sanggup membayangkan apa yang terjadi nanti jika Gilang tahu bahwa Rian telah mencium bibirnya.
"Drrtttttt..."
Handphone Maura bergetar, ia begitu terkejut dan takut bahwa Gilang yang menghubunginya saat ini. Namun ternyata nama Rian yang tertulis pada layar handphone miliknya.
"Ishhhh.. kenapa dia yang nelepon." Gerutu Maura kesal.
Maura membiarkannya, tak mengakat panggilan itu, selanjutnya berdering kembali. Nama Vaya yang tertera sekarang.
"Vaya pasti bersamanya saat ini." Ucapnya sendiri dan tak mengangkatnya juga.
Maura hanya memandang ke arah kaca mobil yang tengah ditumpanginya, dengan jari-jari kuku menempel di bibirnya. Terus membiarkan handphonenya berdering tiada henti. Sampai akhirnya sunyi sendiri, meninggalkan kegelisahan di benak Maura.
"Maafkan aku Lang." Bisiknya lagi.
.
.
.
.
Rian berlari, mengejar Vaya yang sedang mencari Maura. Mengatur nafasnya saat dirinya telah sampai di hadapan Vaya.
"Kamu menemukannya."
"Tidak.., Maura sudah naik taksi barusan."
"Biar aku hubungi dia." Pinta Rian dengan wajah yang sulit diartikan oleh Vaya.
Vaya memandangnya diam-diam, melihat Rian yang tengah sibuk menghubungi Maura berkali-kali.
"Kenapa harus Maura?" Bisik Vaya sendiri.
"Tolong bantu aku hubungi Maura Va, dia enggak mau mengangkat telephonku." Pinta Rian.
Vaya mengganguk, entah kenapa dia menuruti kata Rian barusan, menghubungi Maura seperti apa yang diminta Rian padanya. Hasilnya sama, Maura juga tak mau mengangkat panggilan Vaya.
"Dia enggak mau ngangkat panggilanku juga." Ucap Vaya sambil memandang wajah Rian kembali.
"Ya.."
"Kenapa kamu melakukan itu, bagaimana kalau Gilang tau masalah ini?" Ucap Vaya dan kali ini terlihat kesal.
"Aku akan tanggung jawab."
"Ah.. keras kepala sekali sih, sejak awal aku sudah memperingatimu." Ucap Vaya lagi dan mencoba melangkah pergi meninggalkan Rian akhirnya.
"Kamu mau ke mana Va?"
"Ke kampus, mungkin Maura sedang menuju ke sana." Jawab Vaya yang terus melangkah pergi meninggalkan Rian seorang diri.
.
.
.
.
Siang menjelang sore hari tiba, Gilang tampak tergesa merapikan barang miiliknya. Dihubungi Maura berulang kali, namun tetap tak bisa dihubungi. Kali ini Gilang mencoba menghubungi Vaya.
"Va.. Maura bersamamu?"
__ADS_1
"Ah.. iya ta..di." Jawab Vaya berbohong.
"Kenapa handphonenya tidak bisa dihubungi."
"Oh.. mungkin lowbet." Jawab Vaya cepat.
"Apa yang terjadi Va?, Aku tau kamu berbohong."
"Itu.." Jawab Vaya dan terpotong oleh Rian, Rian langsung meraih handphone milik Vaya dan mulai ikut berbicara.
"Lang." Panggil Rian.
"Apa yang sudah terjadi tadi, katakan." Pinta Gilang dan terdengar cukup kencang.
"Enggak terjadi apa-apa Lang." Teriak Vaya dan mencoba merebut kembali handphone miliknya.
"Lang, aku menyukai Maura, aku menginginkannya."
"Rian.." Teriak Vaya akhirnya dan kali ini Vaya berhasil merebut kembali handphonenya, mematikan segera pembicaraan yang terjadi.
"Kamu ini kenapa sih?, Kamu berkata seperti itu sama juga kamu menyakiti Maura."
"Maura sudah berjanji padaku."
"Berjanji apa?"
"Kamu akan tau nanti." Ucap Rian dan melangkah pergi meninggalkan kebingungan yang baru saja terjadi.
.
.
.
.
Maura sudah cukup lelah, mengunjungi satu toko ke toko lainnya. Tak ada yang dibeli, hanya menyentuhnya lalu pergi. Mencari kesibukan, mencoba menghilangkan bayangan Rian pagi tadi.
"Ahhhh.." Teriak Maura sendiri.
"Kenapa aku harus menghindari semua orang." Gerutunya.
Kembali melangkah, kali ini tujuannya ada tempat makan untuk mengobati rasa perih yang sudah sangat dirasakannya. Ini sudah sangat terlambat untuk sebuah makan siang.
Masuk kembali ke sebuah ruang, cukup sepi dan terlihat nyaman. Mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut, mencari tempat yang bisa membuat dirinya merasa tenang.
Ya.. sebuah kursi kayu di ujung ruangan menjadi pilihannya saat ini. Kembali melangkah, lalu duduk dan memesan beberapa menu untuk dirinya sendiri.
Disaat sendiri, disaat itulah Maura membayangkan reaksi Gilang padanya nanti. Air mata tanpa disadarinya menetes begitu saja. Maura langsung menghapusnya. Memandang layar handphonenya, ada rasa ingin menghubungi Gilang saat ini.
Dilepasnya handphone miliknya kemudian, Diurungkan niatnya itu.
"Tidak aku belum siap." Gumamnya.
Tanpa disadari Maura, terdengar gesekan kursi yang berada di hadapannya. Seorang pria sudah duduk dan tersenyum persis di depannya.
"Kamu."
"Lagi ada masalah?"
"Bukan urusanmu."
"Bertengkar dengan Gilang?"
"Dilarang kepo, oke."
"Oke..oke.."
"Ngapain di sini?" Tanya Maura
"Menunggu."
"Laras?"
"Yup, betul."
"Cari tempat lain."
__ADS_1
"Aku mau putus dengannya."
Maura yang sejak tadi tak memandangnya, kali ini terkejut mendengar ucapan pria ini, ya.. Bian yang ada di hadapannya saat ini.
"Kamu enggak bertanya, kenapa?"
"Kenapa aku harus bertanya seperti itu, aku enggak kepo seperti kamu."
"Hahahaha..." Bian tertawa mendengarnya
"Kamu harus hati-hati."
"Kenapa memangnya?"
"Mungkin saja Laras dan Gilang kembali bersama." Ucap Bian dan kali ini membuat Maura terkejut lagi.
"Ya, mungkin saja." Jawab Maura pasrah dengan hati yang terasa sakit saat mengatakannya.
"Lihat di sana, apa kataku tadi." Ucap Bian lagi sambil menunjuk seseorang yang baru saja hadir dan sedang berdiri di pintu masuk.
Maura terkejut dan terdiam, terlihat sosok Laras di sana, namun yang lebih mengejutkan adalah sosok Gilang juga berada di sana.
Maura langsung bangkit dari duduknya. Meraih tas dan handphonenya. Meninggalkan Bian yang terkejut melihat sikap Maura barusan.
Melangkah menuju kasir dan membayarnya.
"Serahkan makanannya nanti ke pria yang diujung sana ya mbak." Pinta Maura saat seluruh pesanannya sudah terbayar.
Membalikkan tubuhnya, hendak pergi lagi. Namun tertahan saat sosok Gilang sudah berada di hadapannya.
"Ra.."
"Lang.., Maaf aku pergi duluan, kalian bersenang-senanglah." Pinta Maura dan mencoba meninggalkan Gilang.
Gilang meraih tangan Maura dengan cepat. Menahannya untuk pergi.
"Aku ikut kamu." Ucap Gilang dan kali ini Gilang menarik tangan Maura, seperti menuntunya menuju pintu keluar.
Maura menurut, membiarkan tangannya terus di genggaman Gilang, hingga akhirnya mereka sudah sampai di dalam mobil. Maura terdiam pandangannya tak berani menatap Gilang.
"Kamu kenapa Ra?"
"Enggak apa-apa, aku mau pulang saja." Pinta Maura.
Sesuatu telah terjadi dengan Maura, itu yang ada di fikiran Gilang saat ini. Kali ini Maura terlihat berbeda dan begitu pendiam, padahal ia telah melihat Gilang datang bersama Laras.
"Oke, kita pulang." Ucap Gilang akhirnya menuruti pinta Maura.
Sore itu sangat terasa sunyi. Pandangan Maura menjauh dari sosok Gilang. Tak ada percakapan yang terjadi sepanjang jalan.
Gilang berusaha bersikap tenang, mencoba memahami Maura. Walau dirinya begitu khawatir dan rasa penasaran yang sudah sangat membukit.
.
.
.
.
Jujur aja Maura, itu lebih baik😙. Author semangatin aja ya💪💪💪
Sebelum lanjut, minta Votenya ya 👉👈
Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi 💪😊
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Jangan lupa likenya ya kak 😊
ratenya juga ya kak😇
dikasih hadiah juga boleh😊
di Vote Alhamdulilah😁
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉
__ADS_1
Terima kasih yang sudah Vote😘, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini😊.